Bermain di klub sebesar Paris Saint-Germain enak sekali. Sejak klub tersebut diakuisisi Nasser Al-Khelaifi, juara liga domestik adalah sebuah keniscayaan. Kemungkinan sang pemain mengangkat trofi Ligue 1 adalah 99 persen.
Sebab, PSG adalah raksasanya di Liga Prancis. Hari ini, klub-klub Prancis lainnya masih belum sanggup merusak dominasi Les Parisiens. Kalaupun bisa juara, paling dikasih kesempatan satu musim doang. Musim berikutnya PSG lagi yang juara.
Namun, entah apa sebabnya, klub yang digdaya di level domestik itu tak pernah sanggup meraih trofi Eropa. Coba kalian ingat sendiri, apa pernah PSG juara UEFA Conference League? Di kompetisi kasta ketiga Eropa saja, PSG belum pernah menjuarainya. Apalagi di Europa League.
PSG sejauh ini, karena dia adalah raksasa Liga Prancis yang selalu bertengger di peringkat tiga besar, sudah pasti bakal bermain di Liga Champions. Namun, begitulah PSG. Les Parisiens di Liga Champions tak ubahnya seperti Timnas Indonesia di Piala AFF. Paling mentok sampai final, itu pun tinggal menunggu kalahnya saja.
Maka, tak perlu kaget kalau ada pemain yang menjuarai kompetisi Eropa setelah ia hengkang dari PSG. Nah berikut ini adalah pemain yang mengambil keputusan tepat untuk pergi dari PSG, karena setelah tidak di sana mereka justru menjuarai kompetisi Eropa.
Daftar Isi
Zlatan Ibrahimovic (Europa League 2016-17)
Keputusan untuk meninggalkan Paris Saint-Germain pada musim 2016-17 adalah keputusan yang tidak akan pernah disesali seorang Zlatan Ibrahimovic. Sekalipun ia pada saat itu, pindah ke Manchester United dengan status bebas transfer. Bahkan boleh jadi Ibra juga berpikiran kenapa nggak dari dulu dirinya pergi dari PSG.
Ibra awalnya memang direkrut PSG pada tahun 2012. Les Parisiens membeli Zlatan dari AC Milan dengan banderol sekitar Rp365 miliar waktu itu. Tentu maksud pembelian Ibra adalah agar PSG bisa meraih titel Eropa.
PSG betul-betul menaruh harapan besar pada Ibra agar dirinya bisa membantu Les Parisiens mewujudkan hal tersebut. Namun, coba kamu bayangkan saja, bagaimana bisa Ibra menanggung harapan PSG agar meraih titel Eropa, sedangkan PSG sendiri memang sudah ditakdirkan tak juara Eropa?
Yap, itu bukan pepesan kosong. Ibra selama memperkuat PSG tak pernah sekalipun meraih trofi kompetisi Eropa. Europa League sekalipun. Memang, Ibra berhasil mengantarkan PSG masuk Liga Champions. Namun dari empat kali percobaan, Ibra hanya bisa membantu PSG sampai ke perempatfinal.
Kegagalan di kompetisi Eropa tak terjadi, ketika Ibra memperkuat Manchester United musim 2016-17. Walaupun bukan di Liga Champions, pada waktu itu, Ibra kembali bisa mengangkat trofi kompetisi Eropa, setelah Setan Merah menaklukkan Ajax di final Europa League.
Ibrahimovic with the Europa League trophy in Stockholm following the Final win over Ajax, May 2017. pic.twitter.com/N8qAJbqixc
— Manchester United Snapshot (@ManUtdSnapshot) June 25, 2020
David Luiz (Europa League 2018-17)
Uang lebih tinggi dari prestasi. Barangkali adagium itu cocok untuk menggambarkan transfer David Luiz dari Chelsea ke Paris Saint-Germain. Pemain berambut kribo itu sebenarnya sudah berhasil meraih trofi Eropa, sejak berseragam The Blues tahun 2011.
Tak tanggung-tanggung, itu adalah trofi Liga Champions Eropa (2012) dan Liga Eropa (2013). Namun sayang, klausul senilai Rp860 miliar membuatnya harus pergi dari Chelsea, dan merapat ke Les Parisiens. David Luiz yang memilih seragam PSG, membuatnya harus menanggung konsekuensi untuk tidak mendapatkan satu pun trofi Eropa.
Dan sekali lagi, itu bukan bualan bocah SD. Dua musim berseragam PSG, dua musim itu pula David Luiz gagal di Liga Champions. Jangankan juara atau sampai final, David Luiz sangat apes karena pas dia masuk, dua kali PSG gagal lolos ke semifinal.
Ibarat dewi penolong yang ingin mewujudkan seorang bocah agar juara Eropa lagi, Chelsea datang untuk membeli lagi David Luiz dari PSG. Tapi dengan nilai klausul yang jauh lebih murah. Chelsea menebus kembali David Luiz dengan harga sekitar Rp608 miliar pada musim 2016-17.
2012 – Champions League
2013 & 2019 – Europa LeagueDavid Luiz & Gary Cahill love a European trophy 🏆 pic.twitter.com/6IsrbMxzY9
— 🅳🆈🅻 (@ChelseaDyl) May 30, 2019
Ia bertahan cukup lama di Chelsea. Dan pada musim 2018-19, impian David Luiz untuk meraih lagi titel Eropa terwujud. Chelsea pada musim itu berhasil menjuarai Europa League dengan menghabisi Arsenal di final.
Thiago Silva (Champions League 2020-21)
Selain David Luiz, satu nama lain yang pindah dari PSG ke Chelsea, yang juga bisa meraih trofi Eropa setelah hengkang dari PSG adalah Thiago Silva. Nah, bedanya kalau Thiago Silva memang baru meraih trofi Eropa setelah ia angkat kaki dari PSG.
Awalnya, punggawa Timnas Brazil itu direkrut PSG pada tahun 2012 dari AC Milan, dengan banderol lumayan mahal waktu itu, yakni Rp730 miliar. Tentu PSG memboyongnya dengan harapan bisa memperkuat lini pertahanan, untuk kemudian menyabet gelar juara yang mereka idam-idamkan.
2020 ➡️ 2021
A year ago, Thomas Tuchel and Thiago Silva suffered Champions League final heartbreak with PSG.
Redemption 🏆#UCLfinal pic.twitter.com/iO5lVPRX0k
— Football on BT Sport (@btsportfootball) May 29, 2021
Sayangnya, delapan musim membela PSG, Thiago Silva tak mendapat satu pun trofi Eropa. Paling baik, Thiago hanya bisa membawa PSG ke final Liga Champions. Selang beberapa hari setelah final yang penuh kekecewaan itu, Thiago Silva dijual ke Chelsea dengan status bebas transfer.
Waktu itu, selain Thiago Silva, Thomas Tuchel juga turut ke Chelsea. Dan betapa tak menyangkanya, Silva bisa meraih trofi Liga Champions musim 2020-21 bersama The Blues. Sesuatu yang terasa sangat sulit ketika ia berseragam PSG. Oh iya, ia juga meraih trofi Piala Super Eropa.
Kingsley Coman (Champions League 2019-20)
Apa yang diinginkan seorang bocah kecil yang bermain di akademi sebuah klub raksasa? Menoreh prestasi? Tentu. Bahkan kalau bisa bukan hanya kompetisi di ranah domestik, tapi juga kompetisi di ranah kontinental. Sayangnya, nasib Kingsley Coman tak seindah itu.
Ia yang memulai karier di PSG Youth. Kemudian naik level ke PSG U-17 dan U-19, Coman punya kesempatan untuk membela skuad utama PSG. Mirisnya, ia hanya sebentar di sana.
Hanya semusim Coman bermain untuk tim utama PSG. Belum sempat merasakan juara Eropa bersama PSG, ia malah dijual ke Juventus dengan status bebas transfer. Lalu, Juventus justru meminjamkannya pada musim 2015-16 ke Bayern Munchen.
Kelak, bersama The Bavarians lah, Kingsley Coman mulai memanen trofi, termasuk Liga Champions Eropa. Jadi ceritanya begini. Pada musim 2019-20, Bayern Munchen melaju mulus ke final. Mereka akan bertemu Paris Saint-Germain era Thomas Tuchel.
Pada laga itu, Coman turun sebagai line-up. Dan di laga itu, Coman berhasil membuat seluruh fans PSG, bahkan mungkin Nasser Al-Khelaifi menyesal tujuh turunan. Coman yang mantan PSG, dibesarkan dan didik di sana, justru merusak satu-satunya kesempatan PSG untuk meraih trofi Eropa, lewat golnya di menit 59.
Kevin Trapp (Europa League 2021-22)
Bagi Kevin Trapp masa depan yang penuh sinar keemas-emasan datang, ketika ia dilirik PSG dari Eintracht Frankfurt. Dengan biaya Rp165 miliar, ia datang ke PSG pada musim 2015-16.
Mirisnya, PSG hanya mewah di tampilannya saja, tidak pada kualitas dan nasibnya. Tiga musim berseragam PSG, Trapp gagal meraih trofi Eropa, walau ia bisa mengunci trofi domestik tiga kali.
Alih-alih trofi Eropa, Trapp justru mendapat pengalaman pahit selama berseragam PSG. Ia yang turut membawa PSG ke babak 16 besar Liga Champions musim 2016-17, mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari pemain Barcelona. Saat itu, gawangnya kebobolan enam gol dari pemain Barca.
How MASSIVE was Kevin Trapp tonight! 👏 pic.twitter.com/wqwMUVZ2xt
— Europa League Champion 2022 (@eintracht_us) May 18, 2022
Setelah itu Trapp kerap bolak-balik dipinjam Frankfurt. Hingga pada musim 2019-20, Frankfurt sungguh-sunggu memulangkan Trapp dari PSG. Dan seperti apa yang kita ketahui, ia menggamit trofi Europa League bersama Frankfurt.
Kevin Gameiro (Europa League)
Dari daftar pemain sebelumnya, Kevin Gameiro ini adalah yang paling canggih nasibnya. Ia awalnya ditebus PSG dari FC Lorient dengan banderol Rp191 miliar tahun 2011. Gameiro menjalani kehidupannya bersama Les Parisiens selama dua musim.
Tentu saja ia pernah menjuarai Ligue 1 musim 2012-13. Namun, selama dua musimnya bersama PSG, Gameiro tak pernah sekalipun mencicipi rasanya juara Eropa. Bersama PSG, Gameiro paling-paling mencapai perempatfinal Liga Champions pada musim 2012-13.
Namun, semua berubah ketika Sevilla membelinya pada tahun 2013. Perjalanan di Spanyol pun dimulai, dan bersama Los Palanganas lah, Gameiro mulai memungut trofi Eropa. Tercatat ia sudah tiga kali juara Europa League bersama Sevilla.
Breaking:Sevilla Beat Liverpool 3-1 to Win Europa League for 3rd-Straight Year;Kevin Gameiro 46′,Coke 2nd-Half Brace pic.twitter.com/JGtoml5O5l
— AC Adams (@ACAdams80) May 18, 2016
Gelar itu ia raih secara beruntun dari tahun 2014, 2015, dan 2016. Gameiro lantas pindah ke Atletico Madrid tahun 2016. Penampilannya yang luar biasa membuat Los Rojiblancos tertarik untuk mendatangkannya, meski harus mengeluarkan uang Rp500 miliar lebih.
Bersama Atletico Madrid, ia kembali menjuarai Liga Eropa pada musim 2017-18. Coba kamu bayangkan kalau ia tidak pergi dari PSG, apa bisa ia meraih trofi yang bahkan hanya kasta kedua di Eropa itu?
https://youtu.be/3RkrwjMc9i4
Sumber referensi: Skorid, Sportingnews, BR, Transfermarkt


