Musim ini Chelsea hancur lebur. Bos yang kena sanksi, simpang-siur kepemilikan klub, sampai kondisi psikis skuad. Lengkap sudah penderitaan Chelsea.
Kendati kemungkinan mereka lolos Liga Champions tahun depan masih sangat terbuka. Tapi masalah-masalah sulit membuat skuad asuhan Tuchel sepi trofi di musim ini. Apalagi setelah gagal di dua final.
Daftar Isi
Persiapan dan Awal Pembuktian Tuchel
Hal itu sangat berkebalikan saat Chelsea memulai musim dengan penuh kepercayaan diri. Dengan modal juara bertahan Liga Champions, Thomas Tuchel memikul harapan agar bisa membawa Chelsea juara liga.
Dari awal musim, Tuchel sudah diberikan keleluasaan. Kebijakannya sudah tidak ada lagi yang ganggu. Didukung kekuatan rasa-rasanya bukan tidak mungkin Chelsea bisa bangkit dan meraih titel juara Liga Inggris.
Kasarnya, Tuchel datang di pertengahan musim lalu saja bisa membawa pulang trofi Liga Champions, bagaimana kalau dari awal musim?
3-4-3 Karatan?
Sayangnya, dalam praktiknya, Tuchel minim berinovasi. Ia tetap mempertahankan skema tiga bek yang dianggapnya berhasil di musim lalu. Awalnya sih, berjalan lancar. Namun seiring berkembangnya waktu, strategi itu kelihatan karatnya.
Kekalahan pertama pun tercipta atas City dan Juventus pada September 2021. Akan tetapi, itu dianggap angin lalu bagi Tuchel. Toh, secara keseimbangan, format 3 bek masih berfungsi di partai itu, cuman kalah tipis.
Tuchel’s in-game flexibility proved hugely useful against Barnsley.
Started off in a 343, switched to 4231 and then to the 433 which got us the win.
The amount of versatility in Chelsea’s squad mixed with Tuchel’s tactics flexibility is a match made in heaven… 🔵 🤝 🇩🇪 pic.twitter.com/V7GGOjP4d4
— FutbolChelsea (@FutbolCheIsea) February 11, 2021
Terbukti pasukan Tuchel kembali tancap gas dengan pakem 3 bek-nya itu. Buktinya dari kekalahan itu mereka kembali bangkit tak terkalahkan dalam 12 pertandingan di semua kompetisi, sampai akhirnya terjegal oleh West Ham di Desember 2021.
Dari sini makin terlihat bagaimana pasukan Tuchel mulai terbaca lawan. 3 kali imbang melawan tim medioker macam Wolves, Brighton maupun Everton, membuat Chelsea makin banyak kehilangan poin dari rivalnya, yaitu City dan Liverpool di liga. Dan pakem 3 bek Tuchel pun patut dipertanyakan.
Sampai pada partai melawan Spurs di semifinal Piala Liga. Tuchel mengubahnya menjadi pola 4 bek seperti ia di PSG maupun Dortmund. Hasilnya memuaskan. Mereka menaklukan Spurs dengan pola permainan berbeda. Namun, seketika Tuchel tak terlalu percaya diri, Tuchel merubahnya lagi pada partai melawan City di Etihad dengan 3 bek lagi, Hasilnya kembali minor. Mereka kalah lagi.
Pembuktian pakem 3 bek itu kembali terjadi di FIFA Club World Cup 2022, dengan lawan yang kurang lebih secara kualitas sedikit di bawah Chelsea, seperti Palmeiras dan Al Hilal, Chelsea pun terbukti tak bisa menang besar.
WORLD CHAMPIONS 🌎🏆
Chelsea Football Club defeats Brazilian side Palmeiras in extra time to win its first FIFA Club World Cup!🔵#CFC #ClubWorldCupfinal #ClubWorldCup #ClubWC! pic.twitter.com/4YYTEFp2Vv
— CloudNine Sports (@cloudninesports) February 12, 2022
Bagaimanapun Tuchel tetaplah Tuchel. Tidak bisa ditebak dia akan memainkan pola apa atau siapa yang akan main di pola itu. Meskipun dia terlihat kepala batu terus menggunakan pola pakem yang diyakininya yakni 3 bek.
Toh, dengan itu dia di awal musim ini sudah meraih 2 gelar yakni Super Eropa dan FIFA Club World Cup. Tapi ingat, menang sih menang, tapi inkonsistensi pola pakem 3 bek Tuchel terus menuai pertanyaan.
Performa Pemain
Selain pola pakem, yang menyebabkan Chelsea menurun musim ini adalah inkonsistensi performa pemain. Performa pemain Chelsea musim ini naik turun. Ditambah juga banyak pemain kunci yang cedera.
Reece James and Ben Chilwell have a combined 15 goals + assists in just 21 starts this Premier League season…
Chelsea would have remained in a title race until the end if they both avoided injury, undoubtedly. pic.twitter.com/F98u95Of5T
— LDN (@LDNFootbalI) March 9, 2022
Pemain kunci Chelsea di wingback macam Reece James maupun Ben Chilwell terkena badai cedera cukup lama. Di sektor depan rotasi Werner, Havertz, Lukaku, Ziyech, Pulisic, maupun Mount terlihat kurang padu. Terutama pemain baru yang digadang-gadang seperti Lukaku. Ia sampai sekarang masih hanya mencatatkan 15 gol bagi Chelsea di semua kompetisi.
Chelsea players with 10+ goals this season:
Romelu Lukaku – 15
Mason Mount – 13
Kai Havertz – 13
Timo Werner – 11Chelsea fans, Who do you think should Start upfront against Liverpool in the #FACupFinal ?🤔 pic.twitter.com/vNwaKZIMtW
— Bet9ja (@Bet9jaOfficial) May 14, 2022
Dua pivot andalan Jorginho dan Kante, satu per satu mulai gantian absen. Dan yang menggantikannya seperti Kovacic, Loftus Cheek, belum mampu sebanding. Tiga bek di belakang juga sering mengalami rotasi. Praktis, hanya Rudiger yang selalu jadi andalan.
Performa para pemain yang inkonsisten tersebut murni bukan salah pemain secara pribadi, taktik dari pelatih juga sedikit berpengaruh. Contohnya, Lukaku. Tuchel sering lupa betapa ganasnya seorang Lukaku di Inter dengan bola-bola udara.
Akan tetapi, di Chelsea hal itu jarang dijumpai. Ketika Tuchel lebih sering memainkan bola pendek dengan trough pass dari kaki ke kaki. Potensi terbaik Lukaku pun jarang dimanfaatkan.
Tapi sudahlah, mungkin Tuchel punya resep rahasia lain di balik pola permainannya. Toh, kata fans Chelsea terbukti masih berhasil merebut trofi. Akan tetapi, untuk menjuarai sebuah liga yang memakan waktu panjang, Tuchel lupa bahwa konsistensi itulah yang diperlukan. Dan Chelsea tidak menunjukan itu.
Masalah Internal Klub
Masalah performa pemain yang inkonsisten tampaknya juga bukan satu-satunya masalah yang membuat Chelsea menurun musim ini. Tubuh Chelsea dilandai badai besar di Februari 2022. Chelsea terkena sanksi imbas invasi Rusia ke Ukraina. Imbas dari sang pemilik yang merupakan orang Rusia, Roman Abramovich.
Hal-hal yang berkaitan dengan sanksi Chelsea pun bermunculan. Dari para sponsor yang mulai berpikir untuk memutus kerjasama, tidak boleh melakukan aktivitas transfer, tidak bisa jual merchandise, dan lain sebagainya.
Roman Abramovich’s assets have been frozen by the UK government, meaning he is unable to sell Chelsea.
▪️ Further ticket sales to home and away fans are prohibited
▪️ Season tickets still valid
▪️ No merchandise sales allowed
▪️ No transfers
▪️ No contract renewals pic.twitter.com/igoCglPrAu— B/R Football (@brfootball) March 10, 2022
Menyoal tentang masalah transfer pemain, ketika Chelsea yang tidak dapat melakukan apa-apa untuk memperpanjang maupun mengontrak pemain akibat sanksi itu, membuat para pemain yang sudah habis kontrak macam Rudiger, Alonso, maupun sang kapten Azpilicueta terkatung-katung nasibnya.
Hal ini secara psikologis sedikit berdampak pada performa pemain di lapangan. Sikap pemain Chelsea lainnya yang bertanya-tanya tentang masa depan pun, membuat performanya makin tak menentu karena memikirkan hal itu.
🚨Chelsea cannot offer new contracts or make player transfers for the foreseeable future…
[Via – @martynziegler]
It looks like all players who are out of contract in the summer will not be able to renew!😬 pic.twitter.com/ALCgcyFiP8
— Footy Accumulators (@FootyAccums) March 10, 2022
Sampai pada akhirnya Abramovich pun mengumumkan bahwa ia akan menjual Chelsea dan beberapa penawar pun mulai berdatangan. Dan akhirnya pengusaha asal AS, Todd Boehly yang jadi pemenangnya. Dan era baru Chelsea pun dimulai.
Welcome to Chelsea Todd Boehly 💙 Edit:- @zubindesign pic.twitter.com/GdbliLeGeN
— Frank Khalid (@FrankKhalidUK) May 10, 2022
Gagal Di 2 Final
Di bawah pemilik baru, Chelsea dihadapkan pada kegagalan. Selain partai Home di Liga Inggris melawan Wolves yang berakhir imbang 2-2. Chelsea juga kembali gagal di final. Kali ini gagal meraih trophy di Piala FA.
Sebelumnya mereka juga gagal di periode Februari 2021 di Final Piala Liga. Dan dua final itu adalah melawan satu lawan yang sama, yakni Liverpool. Chelsea dipecundangi Liverpool di dua final musim ini. Dan semuanya lewat adu penalti.
◎ 27th February: Liverpool beat Chelsea 11-10 on penalties in the League Cup Final.
◉ 14th May: Liverpool beat Chelsea 6-5 on penalties to win the FA Cup Final.
A terrible case of Déjà vu for Chelsea fans. 😬 pic.twitter.com/kk9CdkYTqK
— Squawka News (@SquawkaNews) May 14, 2022
Status Chelsea sebagai juara bertahan Liga Champions pun gagal setelah terhenti langkahnya di perempat final oleh Real Madrid. Dan di liga domestik saking sudah lamanya kehilangan poin untuk mengejar City dan Liverpool, membuat Chelsea hopeless dan makin nyaman di posisi ke-3.
Bagi The Blues dengan kedalaman skuad yang kaya, seharusnya mereka bisa bersaing ketat dengan Liverpool atau City di liga, begitupun melangkah jauh di Liga Champions ataupun minimal meraih satu piala domestik musim ini. Namun hasilnya hanya turnamen Piala Dunia Antarklub dan Super Eropa di awal musim.
https://youtu.be/djYd5woXndw
Sumber Referensi : transfermarket, footballlondon, fourfourtwo


