Ketika Pjanic Berguru pada Juninho Pernambucano

spot_img

Miralem Pjanic dianggap gagal total di Barcelona. Ia tidak bisa menyesuaikan diri dengan pola permainan khas Barca, dan Pjanic dianggap tak bisa membaur dengan pemain-pemain lainnya.

Ronald Koeman yang kala itu masih menukangi Barca, sempat memberikan kesempatan Pjanic untuk beradaptasi, tapi hasilnya nihil. Ia hanya bertahan semusim bersama La Blaugrana dan akhirnya ia menjalani proses peminjaman ke Besiktas pada awal musim ini.

Perjalanan karier Pjanic sebenarnya cukup apik, khususnya pada masa-masa dia bermain di Italia. Dia direkrut AS Roma dari Lyon pada tahun 2011. Nah, di Lyon inilah Pjanic ditempa dan dipoles hingga menjadi Pjanic yang kita kenal sekarang. 

Menariknya, di Lyon Pjanic di mentori langsung oleh maestro lapangan tengah, Juninho Pernambucano. Lantas bagaimana kisah kebersamaan murid dan guru ini?

Pjanic Dihadapkan Dengan Pilihan Sulit

Miralem Pjanic merupakan produk asli klub Prancis FC Metz. Setelah 7 tahun menimba ilmu di FC Schifflange 95, pemain berzodiak Aries tersebut memutuskan untuk melanjutkan karirnya bersama akademi FC Metz Prancis pada 2004.

Berkat penampilan impresifnya bersama FC Metz junior, setelah beberapa tahun menimba ilmu, akhirnya Pjanic didaftarkan masuk ke tim senior Metz pada 2007 oleh sang juru taktik FC Metz kala itu, Francis De Taddeo. Pjanic melakoni debutnya saat melawan Paris Saint-Germain pada Agustus 2007.

Meski akhirnya Metz tetap harus terdegradasi ke Ligue 2, penampilan impresif sepanjang musim pemain Bosnia ini sukses membuatnya masuk daftar nominasi pemain muda terbaik Ligue 1. Pjanic yang bisa dibilang masih sangat muda bahkan mencatatkan empat gol dari 38 penampilan

Atas raihan tersebut, banyak klub yang ingin meminangnya, Namun raksasa Prancis, Lyon yang akhirnya sukses mendapatkan jasanya pada tahun 2008.

Lyon Pilihan yang Tepat

Sebelum memilih Lyon, Pjanic sebenarnya dihadapkan banyak pilihan sulit. Bagaimana tidak? Klub-klub seperti Real Madrid, Barcelona, Arsenal, Chelsea, Bayern Munchen, Juventus, duo Milan, hingga Olympique Marseille dikabarkan tertarik memboyongnya dari FC Metz.

Namun, keputusan Pjanic untuk memilih Lyon dan mengabaikan tawaran-tawaran menggiurkan dari klub-klub top Eropa, adalah keputusan yang tak pantas untuk disesali. Di Lyon, ia mendapatkan mentor spesial, yakni Juninho Pernambucano. Keduanya sama-sama berposisi sebagai gelandang serang. Juninho sendiri saat itu merupakan ikon dari Les Gones.

Kita ketahui Juninho Pernambucano memang tidak memiliki kecepatan tinggi, tak memiliki skill olah bola yang memukau setiap mata, namun ia memiliki satu senjata mematikan bernama tendangan bebas.

Kita sebagai penikmat sepak bola tak bisa menolak fakta bahwa Juninho bisa melakukan tendangan bebas dari mana saja dengan sama baiknya. Mengeksekusi tendangan bebas bagaikan sarapan baginya.

Juninho Mentor yang Sempurna Bagi Pjanic

Sejak bergabung dengan Lyon, Pjanic mulai belajar banyak hal bersama sang mentor, Juninho. Kemampuan Juninho pun kemudian banyak terserap pada permainan Pjanic. Jadi tak heran apabila gaya dan visi misi bermain Miralem Pjanic tak beda jauh dari sosok Juninho Pernambucano. 

Pjanic pun tak lupa untuk meminta Juninho sesekali mengajarkan bagaimana melakukan jurus rahasianya yaitu tendangan bebas yang luar biasa itu. Kemampuan mengeksekusi tendangan bebas tak didapatkan Pjanic begitu saja. Semua ada prosesnya.

Satu tahun Pjanic di Lyon dan bermain bersama pemain yang diakui sebagai master urusan tendangan bebas, bisa dibilang sebagai periode yang sangat menentukan. Dari sang ahli tersebut, Pjanic menyerap ilmu yang sangat berharga.

Sementara awal musim yang cukup sulit bagi Pjanic lantaran ia jarang mendapat menit bermain. Ia hanya bermain sebagai starter sebanyak lima kali. Oleh karena itu, Pjanic pun mempersiapkan diri dengan memanfaatkan waktu luang setelah latihan untuk menghabiskan waktu lebih banyak bersama Juninho. Ia pun mengasah akurasi tendangan bebasnya ditemani Juninho. 

Juninho pun kagum ketika melihat Pjanic yang berusaha keras untuk mencapai level yang ia inginkan. Juninho pun sempat mengatakan bahwa mengulangi hal yang sama adalah hal yang paling penting untuk menjadi seorang eksekutor tendangan bebas yang handal. Mungkin melelahkan dan membosankan, tapi itu adalah hal terpenting

Pjanic memang hanya setahun bersama Juninho, karena Juninho hengkang dari Lyon pada 2009. Juninho bermasalah dengan pemilik Lyon, Jean-Michel Aulas. Kontraknya yang masih tersisa satu tahun diputus, kemudian Juninho memilih klub asal Qatar, Al-Gharafa, sebagai pelabuhan berikutnya.

Namun itu sudah cukup bagi Miralem Pjanic untuk menimba ilmu dari sang maestro tendangan bebas.

Tongkat Estafet

Berakhirnya era dominasi Juninho di lini tengah Lyon yang sudah berlangsung kurang lebih delapan musim. Hal ini menjadi awal mekarnya Pjanic bersama Lyon. 

Jika di Manchester United ada nomor 7 dan di Timnas Argentina ada nomor 10 yang memiliki makna khusus dan selalu dikeramatkan. Maka hal yang sama juga terjadi pada nomor punggung 8 Olympique Lyonnais. 

Selepas kepergian Juninho, nomor 8 Lyon pun kosong. Setelah meminta izin dari sang empunya nomor, Pjanic dengan percaya diri mengambil nomor punggung delapan tersebut demi melanjutkan trah Juninho Pernambucano di Lyon.

Setelah itu, Pjanic mulai memamerkan kemampuan tendangan bebasnya yang ia pelajari selama satu musim bersama Juninho. Bahkan gol pertamanya untuk Lyon pun Pjanic ciptakan lewat tendangan bebas saat Lyon bertemu Anderlecht di ajang Liga Champions 2009/10.

Namun, ada yang berbeda dari teknik tendangan bebas milik Pjanic. Ia lebih flamboyan dengan mengutamakan akurasi daripada power untuk menaklukan penjaga gawang tim lawan. Sedangkan Juninho lebih sering menggunakan teknik knuckle ball.

Sukses di Liga Italia

Sialnya, musim 2010/11, Claude Puel selaku manajer Lyon saat itu malah mendatangkan Yoann Gourcuff, yang mana ia merupakan pemain yang berposisi sama dengan Pjanic.

Karena Puel lebih senang memasang Gourcuff ketimbang dirinya, Pjanic pun sadar bahwa ia mulai tersisih. Pada awal musim 2011/12 tawaran dari klub ibukota Italia, AS Roma pun datang. Pjanic tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menjajal tantangan baru di negeri pizza tersebut.

Bersama Roma, Pjanic semakin memamerkan kelihaiannya dalam mengeksekusi bola mati. Bahkan pada 2015, sang guru, Juninho, tak sungkan untuk mengatakan bahwa Pjanic merupakan eksekutor tendangan bebas terbaik yang pernah ia lihat. 

Kecemerlangan Pjanic berlanjut, setelah kurang lebih lima tahun membela Roma, Pjanic diboyong Juventus ke Turin. Bersama Juventus ia menuai banyak pujian dan penghargaan. Pjanic mengantongi tujuh trofi selama berseragam hitam putih khas si Nyonya Tua.

Sumber: Planetfootball, Panditfootball, Just Football, Outside of The Boot

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru