Klub London selatan Crystal Palace di musim ini performanya mengejutkan banyak publik. Meskipun masih duduk di papan 12 klasemen Premier League penampilannya secara permainan jauh berubah.
Di bawah pelatih baru Patrick Vieira dan kebijakan baru pemilik Crystal Palace, klub yang notabene hanya sebagai klub medioker ini perlahan performanya mulai menunjukan perubahan. Berkat terobosan perubahan yang dilakukan Vieira dan manajemen klub musim 2021/2022 ini mulai berdampak nyata bagi Palace.
Daftar Isi
Perubahan Dimulai
Titik awal perubahan Palace terletak pada awal musim ketika klub tidak lagi memperpanjang masa jabatan pelatih kawakan Roy Hodgson. Palace menunjuk pelatih muda Patrick Vieira yang notabene belum berpengalaman melatih klub Premier League. Kariernya di kepelatihan pun tidak terlalu moncer. Ia pernah juga dipecat oleh klub Prancis, Nice pada 2020 lalu.
Crystal Palace set to appoint Patrick Vieira as their new manager, replacing Roy Hodgson [The Athletic] pic.twitter.com/3lheIH7w5i
— GOAL (@goal) June 29, 2021
Manajemen klub di bawah direktur olahraga Dougie Freedman dan ketua klub Steve Parish melakukan terobosan baru dengan proyek investasi yang disodorkan kepada para investor. Investor dari Amerika Serikat, John Textor sepakat untuk berinvestasi di Crystal Palace. Ia rela merogoh koceknya lebih dari 60 juta pounds untuk alokasi pembelian pemain baru di bursa transfer.
Selain itu, pembangunan Palace mulai ditunjang dengan pengembangan infrastruktur pembinaan pemain muda lewat training center yang mulai diperhatikan. Bahkan pelatih Inggris, Gareth Southgate pernah mendatangi dan memujinya langsung training center klub London Selatan tersebut.
🙌 Welcome back, Gareth! #CPFC | @England pic.twitter.com/dKaMs0aRaz
— Crystal Palace F.C. (@CPFC) October 28, 2021
Dana yang digelontorkan investor John Textor tentu dimanfaatkan oleh Dougie Freedman dan Parish yang bekerjasama dengan pelatih baru Vieira untuk beroperasi di bursa transfer. Strategi dan master plan baru dibuat Crystal Palace dalam merekrut pemain.
Akhirnya, datanglah pemain baru yang cenderung masih berusia muda seperti Marc Guehi dan Conor Gallagher dari Chelsea, Joachim Andersen dari Lyon, Odsonne Eduard dari Celtic, dan Michael Olise dari Reading. Palace pun membuang beberapa pemainnya yang dianggap sudah menua seperti Van Aanholt, Townsend, Sakho, McCarthy, maupun Gary Cahill. Hal ini adalah bagian dari regenerasi yang dilakukan Vieira dan Palace.
Crystal Palace had a massive rebuilding test ahead of them, but they’re passing it with flying colors so far.
-Replaced Roy Hodgson with Patrick Vieira
-Gotten high-earning veterans like Mamadou Sakho off the wage bill
-Signed Joachim Andersen, Marc Guehi and Michael Olise pic.twitter.com/NRJ7I8L28F
— Zach Lowy (@ZachLowy) July 28, 2021
Melihat beberapa pemain yang datang, tentu harus juga melihat apa yang diperbuat Vieira dengan taktiknya. Vieira tampaknya menerapkan sepak bola yang berbeda dari pendahulunya Roy Hodgson.
Taktik dan Permainan Vieira
Crystal Palace di bawah Roy Hodgson memang stabil selama beberapa musim terakhir, mereka finish di tempat yang seharusnya, yakni papan tengah klasemen. Prestasinya juga hampir tak ada. Secara permainan pun cenderung membosankan dengan gaya khas ortodoks Inggris, long ball, crossing-crossing dan lebih mengandalkan fisik dari pada sistem dan taktik.
Crystal Palace’s rolling xG data since the start of 19/20 in the Premier League.
🔷 Blue = good
🔶 Orange = badClear progression under Patrick Vieira this season. pic.twitter.com/81mx8xzgiV
— Sporting Life Football & Infogol (@InfogolApp) February 9, 2022
Hal itu yang coba diubah oleh Patrick Vieira. Ia tampaknya lebih berani melakukan perubahan dengan para pemain muda plus strategi yang revolusioner bagi Palace. Ia menerapkan sepak bola atraktif yang menyerang dengan format 4-3-3 dengan mengandalkan possesion dan pressing football.
Dengan materi yang cenderung muda dan masih bertenaga tampaknya hal itu cocok dengan tujuan Vieira. Intensitas pressing tinggi yang dilakukan pemain muda Palace mampu membuat energi baru bagi tim. Kolektivitas tim pun terjaga, di samping kombinasi yang dilakukan dengan skill individu yang dimiliki Zaha atau Eze.
They’ve lost just two games so far this season.
They’ve taken points off Manchester City, Arsenal, West Ham, Tottenham and Leicester.
They are up to ninth place and are now six games unbeaten.
Crystal Palace’s young guns continue to impress under Patrick Vieira. pic.twitter.com/Cfmvk7xxX0
— bet365 (@bet365) November 6, 2021
Awalnya perubahan mendasar Vieira itu tidak berjalan lancar. Palace langsung dilibas Chelsea 3-0 di awal liga. Tapi berjalannya waktu mereka mulai menemukan titik temu permainan yang diinginkan. Kemenangan besar 3-0 atas Spurs dan 2-0 atas Manchester City adalah bukti perubahan gaya dan taktik permainan Palace di bawah Vieira mulai berdampak nyata.
😯Manchester City have failed to score from 33 shots against Crystal Palace this season. The Eagles are the only side to keep a clean sheet home and away to Pep Guardiola’s side in 2021/22 pic.twitter.com/bWmFqIaVMF
— WhoScored.com (@WhoScored) March 23, 2022
Palace secara posisi di klasemen hingga kini Maret 2022 memang hampir sama seperti musim lalu di bawah Hodgson. Namun, perbedaan di lapangan terlihat jelas. Palace lebih banyak menguasai bola di bawah Vieira dan menciptakan lebih banyak peluang yang mengarah ke gol.
Mereka konsisten memainkan umpan pendek dari belakang dan mendapatkan lebih banyak sentuhan bola. Nuansa tim juga telah berubah. Palace mulai menikmati gaya permainan baru Vieira setiap pertandingannya. Terlepas dari hasilnya menang, kalah atau seri.
𝐕𝐢𝐞𝐢𝐫𝐚’𝐬 𝐏𝐚𝐥𝐚𝐜𝐞 𝐓𝐚𝐤𝐢𝐧𝐠 𝐒𝐡𝐚𝐩𝐞 🦅
Patrick Vieira’s changing things at Crystal Palace. After 4 seasons under Roy Hodgson, he was given the job of taking them forward.
Ahead of their derby with Brighton on Monday, @alexkeble looks at how he doing just that.
— The Analyst (@OptaAnalyst) September 24, 2021
10 Laga Hanya Kalah Sekali
Hingga pekan ke-29 Premier League pasukan Vieira kembali menunjukan konsistensinya. Mereka tercatat dalam 10 laga dari awal Februari 2022 hingga akhir Maret 2022 hanya menelan satu kali kekalahan di semua kompetisi. Kekalahan itu didapat saat melawan Chelsea di Februari 2022. Hasil tersebut sangat berdampak positif bagi skuad. Mental dan percaya diri anak-anak muda Palace mampu tumbuh secara signifikan.
Percaya diri Itu terlihat pada laga melawan Manchester City 15 Maret 2022. Mereka mampu menahan imbang sang juara bertahan Premier League tanpa gol. Yang berarti musim ini mereka menang head to head melawan pasukan Pep Guardiola. Mengingat pertemuan pertama Crystal Palace bisa menjungkalkan City 2-0 di Etihad.
Masuk Semifinal Piala FA
Selain itu, di kompetisi Piala FA, kiprah Palace pun terbilang mengejutkan musim ini. Pasukan muda racikan Vieira mampu melaju ke babak semifinal Piala FA musim ini. Mereka menyingkirkan Millwall, Hartlepool, Stoke City dan terakhir melibas Everton 4-0 di perempatfinal.
How does a trip to Wembley sound? #CPFC | #EmiratesFACup pic.twitter.com/kKwEi9D3zb
— Crystal Palace F.C. (@CPFC) March 20, 2022
Ini adalah semifinal Piala FA kelima Palace dalam hampir 120 tahun keberadaan mereka. Hal itu sekaligus mencatatkan prestasi tersendiri bagi Vieira. Palace adalah satu-satunya tim medioker yang lolos ke semifinal Piala FA musim ini. Mereka telah ditunggu Chelsea di Wembley 16 April 2022. Dan jika berhasil melewati Chelsea, mereka akan bertemu pemenang antara Manchester City melawan Liverpool.
3 Pemainnya Dipanggil Timnas Inggris
Setelah mereka melaju ke semifinal Piala FA, jeda internasional pun datang. Timnas Inggris yang sudah dipastikan lolos ke Qatar 2022 melakukan beberapa pertandingan uji coba di akhir Maret 2022.
Beberapa pemain pun dipanggil Gareth Southgate untuk masuk ke Timnas Inggris. Mengejutkannya, ada 3 pemain asuhan Vieira di daftar pemain yang dipanggil itu. Ia adalah Tyrich Mitchell, Conor Gallagher dan Marc Guehi.
Sum this photo up in three words:#CPFC | @England pic.twitter.com/fFTuN1CMzQ
— Crystal Palace F.C. (@CPFC) March 22, 2022
Mitchell yang berposisi sebagai bek kiri diharapkan Southgate bisa menjadi pelapis Luke Shaw yang akhir-akhir ini underperform. Sementara Guehi sebagai center back bisa melapis Maguire yang juga underperform. Sementara Conor Gallagher dengan daya jelajahnya yang tinggi diharapkan mampu menjadi pilihan di lini tengah di samping Henderson maupun Mason Mount.
Dengan berubahnya sistem permainan yang dibuat Vieira, lama kelamaan Crystal Palace berkembang secara mengejutkan musim ini. Dengan materi pemain yang cenderung muda, Palace telah mempunyai plan jangka panjang yang jelas sekarang. Meskipun, musim belum berakhir, bagaimanapun akhir cerita Palace di sisa musim ini, tetapi beberapa aspek dampak nyata perubahan itu sudah bisa dicatat.
Sumber Referensi : theathletic, footballlondon, theanalyst


