Tak ada yang menyangka Ajax Amsterdam akan tersingkir cepat di babak gugur Liga Champions Eropa. Bagaimana tidak, Ajax yang menjadi satu-satunya wakil Eredivisie Belanda di Liga Champions musim ini tampil begitu superior sepanjang babak grup. Tergabung di Grup C bersama Sporting Lisbon, Borussia Dortmund, dan Besiktas, Ajax bahkan tak tersentuh kekalahan.
Ajax Amsterdam Superior di Babak Grup Liga Champions 2022
Di pertandingan pertama saja, pasukan Erik Ten Hag langsung membantai juara Liga Portugal musim lalu, Sporting Lisbon di kandangnya sendiri dengan skor telak 5-1. Di pertandingan kedua, Ajax kembali meraih kemenangan meyakinkan atas juara Liga Turki, Besiktas dengan skor 2-0.
Sébastien Haller scored four times as Ajax registered a convincing 5-1 win over Sporting Lisbon in Group C! 😲🤯#ucl #championsleague #Ajax #SportingPortugal #uefachampions pic.twitter.com/7i8soRXDBD
— Sportskeeda Football (@skworldfootball) September 15, 2021
Wakil Bundesliga Jerman, Borussia Dortmund jadi korban Ajax berikutnya. Tak tanggung-tanggung, Dusan Tadic dan kolega berhasil mencukur Dortmund dengan skor telak 4-0.
Laju Ajax kemudian makin tak terhenti di 3 pertandingan terakhir babak grup. Mereka kembali menundukkan Dortmund dengan skor 3-1, kemudian menang tipis 2-1 atas Besiktas, dan menang 4-2 atas Sporting Lisbon di pertandingan terakhir babak grup.
Rangkaian hasil tersebut mengantar anak asuh Erik Ten Hag memuncaki klasemen Grup C dengan poin sempurna, 18. Superioritas Ajax juga sangat terlihat di catatan gol mereka. Lini depan Ajax berhasil menjaringkan 20 gol, sementara lini belakang mereka hanya kemasukan 5 gol dalam 6 pertandingan.
Group C final standings:
1️⃣ Ajax – 18 pts (QF)
2️⃣ Sporting CP – 9 pts (QF)
3️⃣ Dortmund – 9 pts (UEL spot)
4️⃣ Besiktas – 0 pts#UCL pic.twitter.com/V2DCPDs3Sr— Football Zone (@FTBLZone_) December 7, 2021
Selain itu, langkah Ajax Amsterdam di babak grup makin spesial berkat catatan individu striker andalan mereka, Sébastien Haller. 10 gol yang ia cetak sepanjang babak grup sempat mengantarnya memuncaki daftar top skor sementara Liga Champions Eropa.
Selalu mencetak gol di 6 pertandingan babak grup, Haller berhasil menyamai catatan Cristiano Ronaldo di musim 2017/2018. Quattrick yang ia cetak saat Ajax menang 5-1 atas Sporting Lisbon membuat striker Pantai Gading itu juga menjadi pemain kedua setelah Marco van Basten yang berhasil mencetak 4 gol di laga debutnya di Liga Champions.
Selain Sébastien Haller, penampilan Antony juga berhasil mencuri perhatian. Winger 22 tahun asal Brasil itu tampil menawan dan membantu Ajax dengan sumbangan 5 asisnya.
Berkat penampilan apik para pemainnya dan performa menawan yang mereka tampilkan sepanjang babak grup, Ajax kemudian digadang-gadang sebagai tim kuda hitam yang siap memperebutkan trofi Liga Champions musim ini.
Antiklimaks Ajax di Liga Champions: Superior di Babak Grup, Inferior di Babak 16 Besar
Sayangnya, catatan mentereng sepanjang babak grup itu gagal Ajax teruskan di babak gugur. Dipertemukan dengan rivalnya dari Portugal, Benfica di babak 16 besar, Ajax yang sebelumnya tak pernah kalah justru tampil inferior.
Bertandang ke kandang Benfica di leg pertama, Ajax sebenarnya nyaris menang. Pasukan Erik ten Hag bahkan 2 kali unggul terlebih dahulu lewat gol Dušan Tadić dan Sébastien Haller. Sayangnya keunggulan tersebut 2 kali sirna akibat gol bunuh diri Haller di menit ke-26 dan sebuah error fatal yang dilakukan kiper Ajax, Remko Pasveer yang berujung gol Roman Yaremchuk di menit ke-72.
An important time for Roman Yaremchuk to get just his second #UCL goal… 😅
It’s currently 2-2 between Benfica and Ajax – will we get a winner? 🤔#UCL pic.twitter.com/fwlD5GR5WR
— Football on BT Sport (@btsportfootball) February 23, 2022
Membawa modal 2 gol ke leg kedua yang digelar di kandang sendiri, Ajax sebenarnya punya peluang lebih besar ketimbang Benfica. Apalagi, mereka juga mendapat dukungan dari 50 ribu lebih suporternya yang memenuhi Johan Cruyff Arena.
Dari catatan statistik di laga leg kedua, pasukan Erik ten Hag sebenarnya juga berhasil tampil lebih mendominasi ketimbang sang tamu. de Godenzonen berhasil memenangi penguasaan bola sebesar 66%. Mereka juga berhasil melepas 16 tembakan ke arah gawang Benfica.
Akan tetapi, dominasi tersebut tak membuahkan hasil. Tak ada satupun sepakan pemain Ajax yang berhasil membobol gawang Odysseas Vlachodimos. Malahan, Benfica yang nyaris terus dikepung sepanjang laga berhasil memanfaatkan satu peluang emasnya menjadi gol kemenangan.
Berawal dari eksekusi tendangan bebas Alex Grimaldo di menit ke-77, Darwin Núñez berhasil menceploskan bola ke gawang Ajax dengan sundulan kepalanya. Gol tersebut tak lepas dari kesalahan Andre Onana yang salah mengambil keputusan saat akan menghalau umpan Alex Grimaldo.
#ÚLTIMAHORA | El uruguayo Darwin Núñez (min.77), con la colaboración del portero Onana, mete al Benfica en el bombo del viernes y deja fuera al Ajax. #UCL
𝟎-𝟏. (𝐆𝐥𝐨𝐛𝐚𝐥 𝟐-𝟑)
📸 Maurice Van Steen pic.twitter.com/fhkLHC9zBL
— EFE Deportes (@EFEdeportes) March 15, 2022
Skor 1-0 untuk kemenangan Benfica bertahan hingga peluit akhir. Hasil tersebut membuat agregat menjadi 3-2 untuk kemenangan Benfica sekaligus menghentikan langkah Ajax Amsterdam di babak 16 besar Liga Champions.
“Kami menghentikan semua upaya mereka untuk melakukan serangan balik dan kemudian kami kalah dari tendangan bebas … Kami tidak pantas kalah. Kami adalah tim yang lebih baik, tetapi di Eropa ini juga tentang bola mati dan serangan balik. Maka momen seperti itu bisa berakibat fatal,” ujar Dusan Tadic dikutip dari The Guardian.
Para pemain Ajax memang wajib kecewa. Pasalnya, walaupun mampu tampil dominan dalam 2 leg, mereka mesti mengakui kemenangan Benfica. Apalagi, jika ditilik lebih dalam, 3 gol yang bersarang ke gawang Ajax semuanya selalu berawal dari kesalahan individu pemainnya yang berujung petaka.
Selain itu, menurut penuturan Erik ten Hag, salah satu penyebab timnya gagal menang dan melaju ke babak 8 besar adalah kurangnya kreativitas di lini depan.
“Permainan posisi kami sangat bagus. Kami sangat bagus saat menguasai bola. Hanya kreativitas yang kurang. Sangat pahit jika kehilangan satu konsentrasi dan Anda tersingkir,” kata Ten Hag dikutip dari uefa.com.
Selain kurangnya kreativitas, Erik ten Hag juga mengakui bahwa salah satu penyebab kekalahan timnya adalah karena ia terlambat melakukan pergantian pemain.
“Saya masih mengharapkan momen ajaib, dari Berghuis atau Antony. Kami mendominasi pertandingan, jadi tidak ada alasan untuk mengubah keadaan, tapi itu tidak kunjung terjadi,” ujar Ten Hag dikutip dari Okezone.
Kekalahan atas Benfica di kandang sendiri semakin menambah panjang daftar rekor buruk Ajax di Johan Cruyff Arena. Sejak 1996, Ajax belum pernah memenangkan pertandingan kandang di babak gugur Liga Champions. Sejauh ini, mereka punya rekor 4 kali seri dan 5 kali kalah.
9 – Ajax have failed to win their last nine home games in the knock-out stage of the Champions League (L5 D4). Fright. #UCL pic.twitter.com/sE8AFHQH22
— OptaJohan (@OptaJohan) March 15, 2022
Tersingkir! Ajax Kembali Puasa Gelar Liga Champions
Yang jauh lebih penting, kekalahan atas Benfica memastikan Ajax tersingkir dari Liga Champions Eropa musim ini. Sebuah hasil yang tentu sangat mengejutkan. Bagaimana tidak, de Godenzonen justru tampil antiklimaks di babak gugur setelah tampil begitu superior di babak grup.
Lebih menyakitkannya lagi, Ajax tersingkir di awal babak gugur setelah membuat catatan yang impresif. Ajax jadi satu dari tiga tim yang berhasil memenangkan seluruh pertandingan penyisihan babak grup Liga Champions musim ini, bersama dengan Liverpool dan Bayern Munchen.
Sementara itu, Sebastien Haller yang selalu berhasil mencetak gol di 7 pertandingan berturut-turut menjadi pemain pertama dan tercepat untuk mencapai 11 gol dalam sejarah Liga Champions. Bisa dibilang kalau Ajax Amsterdam tersingkir dengan gaya.
Ajax have been knocked out of the Champions League, but what a campaign from Sébastien Haller:
8 matches
11 goals, 1 assist
24 shots, 15 on target.Only 5 players in #UCL history have scored more than 11 goals in a single Champions League campaign.#Haller #Ajax #AJABEN pic.twitter.com/DA2zSbiY37
— Inside Football Podcast (@inside_fballpod) March 16, 2022
Namun, semua kembali lagi, catatan menawan itu tak ada artinya. Sebab, pada akhirnya Ajax Amsterdam mesti angkat koper dari Liga Champions dan menambah masa puasa gelarnya di kompetisi Eropa.
Ajax terakhir kali merengkuh trofi di kejuaraan Eropa pada musim 1994/1995. Kala itu, tim muda Ajax yang dilatih Louis van Gaal berhasil mengawinkan Piala Interkontinental, Piala Super Eropa, dan Liga Champions Eropa.
Kini, dengan tersingkirnya mereka dari Liga Champions musim ini, peluang Ajax Amsterdam untuk mengakhiri puasa gelar sekaligus menambah koleksi trofi “Si Kuping Besar” menjadi sirna. Ajax mau tak mau mesti mencoba lagi di musim depan.
Menilik dari skuad yang mereka miliki, Ajax masih patut diperhitungkan di Eropa. Namun, itu berlaku jika skuad mereka tak dipreteli lawan-lawannya seperti yang sudah kerap terjadi di musim-musim sebelumnya.
Selamat mencoba lagi musim depan, Ajax!
***
Sumber Referensi: Transfermarkt, UEFA, SkySports, The Guardian, Goal, Okezone.


