Sosok pelatih Ralf Rangnick yang dikagumi banyak orang dengan gaya bermainnya yang khas dan mendapat julukan sebagai “bapaknya gegenpressing” tampaknya tidak luput dari kontroversi. Rangnick ternyata punya masalah lain sebelum ia datang ke Old Trafford.
Rangnick sebelumnya pernah menjadi salah seorang yang ditunjuk sebagai direktur teknik di klub Rusia Lokomotiv Moscow. Ia didaulat memimpin proyek klub itu demi mempertahankan prestasi. Namun apa yang terjadi, Rangnick dianggap melakukan dosa-dosa di klub Rusia tersebut, lantas apa saja dosa Rangnick?
Finally a new job for Ralf Rangnick: The former Red Bull Global Sports Director is set to become new sporting director of Lokomotiv Moscow, @sportexpress report. Deal could be done within next few days. The 63-year-old visited Moscow derby v Spartak in April #Rangnick #RedBull https://t.co/XgVKJSi5Nv
— Bundesliga Latest (@BL_LatestNews) July 1, 2021
Merombak Staf Dan Pelatih
Sejak datang pada pada Juli 2021 di Lokomotiv Moscow, Rangnick langsung merombak beberapa staf dan manajer sebelumnya. Rangnick langsung memberhentikan pelatih Marko Nikolic yang notabene berhasil mengantarkan Lokomotiv Moscow ke Europa League musim sebelumnya usai berada di peringkat empat besar musim 2020/21. Sekaligus Nikolic juga mengantarkan Lokomotiv Moscow sebagai juara Piala Liga Rusia di musim yang sama.
Nikolic dianggap Rangnick tidak sesuai dengan visi jangka panjangnya di Moskow. Gaya permainan yang cenderung pragmatis dinilai tidak cocok bagi Rangnick. Meskipun tercatat Nikolic merupakan seorang pekerja keras bagi publik Lokomotiv Moscow.
DEMITIDO| Agora é oficial, Marko Nikolic não é mais treinador do Lokomotiv.
Desde o início sabíamos que esse era o desejo de Ralf Rangnick, agora o mesmo irá colocar alguém de sua confiança. pic.twitter.com/ktFF4uahhw
— Rússia Futebol Brasil ⚽ (@RussiaFutebolBR) October 5, 2021
Rangnick juga melakukan penunjukan direktur teknik muda yang baru berusia 26 tahun, Thomas Zorn asal Jerman, meski memiliki track record buruk selama berada di Spartak Moscow. Rangnick juga merombak susunan staf dan manajemen Lokomotiv Moscow. Ia membawa rekan-rekannya sesama Jerman yang sudah ia kenal dan tentu satu visi dengannya untuk duduk di jajaran staf kepelatihan Lokomotiv Moscow.
⚡️ Томас Цорн назначен спортивным директором ФК «Локомотив»
➡️ https://t.co/8lzurbQw0o pic.twitter.com/0GOr9ZDsrr
— «Локомотив» (@fclokomotiv) November 29, 2021
Ditambah penunjukan pelatih baru Markus Gisdol yang juga merupakan orang Jerman menunjukan beberapa hal yang dianggap sebagai nepotisme. Markus Gisdol dianggap sebagai bonekanya Rangnick karena dengan adanya beberapa staf yang dibawa Rangnick serta datangnya Gisdol membuat Rangnick bisa secara leluasa memainkan perannya dalam hal bisnis perekrutan pemain maupun intervensi strategi di lapangan.
🤝 Lokomotiv reached an agreement with Markus Gisdol
In the near future, a well-known German specialist will take the position of head coach
➡️ https://t.co/Whisuo4RsW pic.twitter.com/Znu9547rA3
— FC Lokomotiv Moscow (@fclokomotiv_eng) October 10, 2021
Mantan presiden Lokomotiv Nikolay Naumov mengkritik penunjukan Gisdol tersebut, dengan mengatakan: “Gisdol bukan pelatih, melainkan sekretaris. Rangnick tidak membutuhkan seseorang seperti Jose Mourinho atau Roberto Mancini, melainkan seorang pria yang akan mengikuti instruksinya.
“Rangnick datang ke klub hanya dengan satu tujuan yakni mengubah Lokomotiv menjadi bisnis jual beli pemain. Hasil tidak penting bagi mereka, dan mereka membutuhkan pelatih anonim yang bersedia menerima gaji bagus dan melakukan apa yang rangnick katakan,” kata Nikolay Naumov.
Hal itu tentu menimbulkan banyak pertanyaan bagi publik Lokomotiv Moscow. Eksodus beberapa orang Jerman yang dibawa Rangnick mungkin awalnya dianggap akan sukses seperti apa yang Rangnick lakukan di klub Red Bull.
Rangnick pun menyebut dengan kehadirannya ingin membuat “Redbull baru di Rusia”. Hal inilah yang kemudian diamini oleh banyak fans yang percaya akan visi itu. Perubahan visi itu tampaknya disertai dengan keputusan kontroversial lainnya dari Rangnick yakni menjual pemain pentingnya.
Transfer Yang Kontroversial
Salah satu pemain penting yang didepak Rangnick adalah gelandang Timnas Polandia, Grzegorz Krychowiak. Hal itu ternyata bertentangan dengan keinginan sang pemain. Dan tidak diketahui juga oleh sang pemain. Pemain internasional Polandia itu dibeli oleh rival Lokomotiv, yakni Krasnodar, dengan harga hanya 2,5 juta pounds (Rp46 Miliar) pada awal Agustus 2021, dan mampu tampil gemilang bersama klub barunya.
Grzegorz Krychowiak na wylocie z Lokomotivu?! Według Nobla Arustamyana Ralf Rangnick robi porządki w szatni. Niestety jednym z piłkarzy, który ma pożegnać się z Lokomotivem jest Krychowiak. pic.twitter.com/rsMD1MCwiN
— NOWOŚCI ZE ŚWIATA PIŁKI (@FUTBOLNEWS24H) July 28, 2021
Daftar rekrutan musim panas Rangnick cenderung gagal, termasuk gelandang Prancis, Alexis Beka Beka dari klub Ligue 2, Caen dan pemain sayap Belanda, Gyrano Kerk dari Utrecht, keduanya masing-masing berharga 6 juta pounds (Rp112 Miliar )
Lokomotiv Moscow have signed Alexis Beka Beka from Caen on a 5-year deal. pic.twitter.com/OSRGvmUVi7
— Football24/7 (@foet247europa) August 23, 2021
Lokomotiv juga membayar pemain dari sang rival CSKA Moscow yakni gelandang yang belum terbukti, Konstantin Maradishvili dan Nair Tiknizyan, Kemudian ada Tin Jedvaj mantan wonderkid Bayer Leverkusen. Banyak pakar berkomentar bahwa strategi Rangnick di pasar transfer dinilai terlalu mahal dan berisiko.
Pasalnya, Rangnick ketika itu menghabiskan dana hampir 30 juta pounds (Rp487 miliar) untuk belanja. Uang yang cukup besar bagi transfer klub-klub di Liga Rusia. Mengingat kondisi waktu itu Lokomotiv Moscow sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja secara keuangan. Laporan neraca keuangan mereka sedang merah.
Sudah merombak secara besar-besaran ketika tiba di Moskow. Rangnick seakan mau menjawabnya dengan berbagai rentetan pertandingan dengan hasil nyata. Pertandingan-pertandingan sudah dilakoni di beberapa pekan di Liga Rusia. Namun, hasil positif itu tak kunjung datang. Bahkan sempat beredar kabar bahwa klub Inggris Manchester United menginginkan Rangnick sebagai manajernya pada November 2021.
Kontrak Yang Tidak Jelas Dan Pergi
Kontrak Rangnick pun cenderung tak jelas, bahkan ada yang menyebut tidak ada tertulis resmi apa pun dalam pembukuan kontrak di Lokomotiv Moscow, melainkan hanya tertulis melalui agensi bisnisnya. Meskipun begitu, secara pengakuan klub Rangnick sudah dikontrak dari awal Juli 2021 sampai Juli 2024 artinya durasi 3 tahun kontrak harus dijalani Rangnick di Lokomotiv Moscow.
Akan tetapi, akhirnya Rangnick benar-benar meninggalkan Moscow yang ia janjikan akan dibangun sebagai proyek besar sebagai “Red Bull-nya Rusia”. Ia lebih memilih gaji yang tiga kali lipat lebih banyak yang ditawarkan oleh MU untuk menjadi manajer pada akhir November 2021.
Atas hal itu tampaknya Moscow menelan pil pahit dari Rangnick. Ia selama bersama Lokomotiv Moscow sebagai direktur teknik olahraga dan pengembangan. Meninggalkan prestasi yang belum tampak nyata. Proses yang masih dibangun ternyata dikhianati oleh dirinya sendiri.
Kini, Rangnick telah dianggap sebagai penipu bagi publik Lokomotiv Moscow. Ia meninggalkan Lokomotiv Moscow yang sampai sekarang masih tercecer di peringkat ketujuh Liga Premier Rusia hingga pekan ke 20. Jauh dari performa Lokomotiv Moscow musim lalu yang berlomba mengisi tempat di papan atas Liga Rusia.
Турнирная таблица #ТинькоффРПЛ #прямосейчас pic.twitter.com/GgG8YxvRbB
— Тинькофф Российская Премьер-Лига (@premierliga) March 14, 2022
Akan tetapi seiring dianggapnya Rangnick sebagai sang perusak Lokomotiv Moscow. Tentu ada juga pikiran bahwa apa yang dibawa Rangnick itu adalah suatu perubahan radikal di sebuah klub yang harus memakan waktu lama untuk memetik hasil, bukan instan.
Sehingga apa pun yang dilakukan Rangnick selama lima bulan dari Juli hingga November 2021 belum bisa dinilai. Meskipun secara etika dengan kaburnya Rangnick secara sepihak ke MU merupakan sebuah bentuk lari dari tanggung jawab.
“The biggest fraud in Russian football history” 😳
After dismantling a Lokomotiv Moscow team that finished third and qualified for the Europa league, Ralf Rangnick left his former side 11 points behind league leaders Zenit 😬
— GOAL News (@GoalNews) December 4, 2021
Sumber Referensi : thesun, goal.com, irishmirror, panditfootball, transfermarket


