Pada 4 Januari kemarin, Davy Pröpper membuat sebuah keputusan mengejutkan ketika dirinya memutuskan pensiun dari dunia sepak bola. Mungkin hal tersebut terdengar biasa, sebab cepat atau lambat seorang pemain pasti akan gantung sepatu. Apalagi, nama Davy Pröpper mungkin terdengar cukup asing bagi sebagian penikmat sepak bola.
Akan tetapi, pandangan kita terhadap mantan gelandang Brighton ini mungkin akan berubah ketika kita mendengar alasan di balik dirinya pensiun. Sebab, Davy Pröpper memutuskan untuk mengakhiri karier profesionalnya saat usianya belum genap 31 tahun.
“Ketika saya di luar negeri, saya secara bertahap kehilangan kesenangan dalam sepak bola. Sulit bagi saya untuk menjalankan disiplin yang diperlukan untuk menampilkan yang terbaik dan hidup saya diatur oleh jadwal sepak bola yang padat. Dan krisis virus corona dan kurangnya kunjungan dari kerabat dan teman juga tidak membantu saya,” ujar Davy Pröpper dikutip dari The Guardian.
🚨 Former Brighton midfielder Davy Propper has announced his retirement from football, aged 30.
🇳🇱 Pröpper played 107 times for #BHAFC over a four-year period — he joined in the summer that Albion got promotion to the Premier League.
🙌 All the best for the future, Davy! pic.twitter.com/rrPXF4qrDg
— Seagulls Central (@SeagullsCentral) January 4, 2022
Sebelum memutuskan pensiun, performa Davy Pröpper memang terus menurun, khususnya saat ia masih berseragam Brighton. Hingga akhirnya pada musim panas kemarin ia memutuskan pulang ke PSV dengan harapan mampu mengembalikan kesenangannya dalam bermain sepak bola.
Sayangnya, Davy Pröpper sudah merasa benar-benar kehilangan passion-nya di sepak bola. Ia sudah “tak merasa nyaman di dunia sepak bola” dan menyatakan “tak ingin menjadi bagian dari sepak bola lagi.”
Alasan dan penyebab Davy Pröpper gantung sepatu tentu membuat siapa saja yang mendengarnya patut berempati. Kasus ini juga jadi bukti bahwa para pesepak bola yang biasa kita lihat begitu hebat di atas lapangan itu juga seorang manusia biasa yang bisa mengalami stress, meskipun selama ini pekerjaannya terlihat menyenangkan dan menggiurkan.
Apalagi, jika mundur ke belakang, kasus ini bukanlah yang pertama terjadi di dunia sepak bola. Hampir serupa dengan Davy Pröpper, pada 2020 lalu, Andre Schurrle juga memutuskan gantung sepatu saat usianya baru 29 tahun. Penggawa timnas Jerman di Piala Dunia 2014 itu diduga stress dan mengaku kesepian serta sudah kehilangan gairah di sepak bola.
“Keputusan ini telah matang dalam diri saya untuk waktu yang lama. Saya tidak ingin bermain sepak bola lagi. Saya benar-benar selesai,” kata Schurrle.
Stress atau bahkan depresi sudah beberapa kali menjadi alasan dan penyebab seorang pemain bola mengalami penurunan performa. Ironisnya, beberapa dari mereka yang tidak mampu mengatasi masalah tersebut hingga kemudian berakhir dengan pensiun secara tragis. Masalahnya, belakangan ini masalah tersebut semakin banyak kita jumpai.
Andre Schurrle has announced retirement Football at the age of 29. pic.twitter.com/fXhwnC7IEf
— Football Factly (@FootballFactly) July 17, 2020
Stress dan Depresi pada Pesepak Bola
Mengutip dari alodokter.com, stress adalah reaksi tubuh yang muncul saat seseorang menghadapi ancaman, tekanan, atau suatu perubahan. Pemicunya beragam, mulai dari tekanan batin, tekanan pekerjaan, hingga penyakit. Bila berkepanjangan, stress dapat mengganggu kesehatan fisik dan melemahkan daya tahan tubuh.
Masih dari sumber yang sama, depresi adalah gangguan mood yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan rasa tidak peduli. Seseorang dinyatakan mengalami depresi jika sudah mengalami gejala-gejala seperti merasa sedih, putus harapan, atau tidak berharga 2 minggu berturut-turut. Bila tak ditangani, depresi bisa mengganggu produktifitas kerja, gangguan hubungan sosial, hingga yang terparah muncul keinginan bunuh diri.
Ada beberapa penyebab stress atau depresi yang kerap dialami pesepak bola. Namun, secara umum, penyebabnya dibagi ke dalam 2 faktor, yakni faktor eksternal seperti lingkungan, tekanan untuk tampil bagus, hingga keluarga dan jadwal yang terlalu padat, serta faktor internal, seperti emosi, ekspektasi yang berlebih, hingga harapan yang tidak tercapai.
Olahraga, seperti sepak bola sejatinya punya tujuan membantu memerangi stress. Namun, di sisi lain justru kerap jadi penyebab stress bahkan bisa berujung depresi. Pesepak bola yang menjadikan olahraga ini sebagai profesi adalah pihak yang paling terancam. Ini juga jadi bukti bahwa meski sepak bola menawarkan gaji dan exposure yang menggiurkan, tetapi hal tersebut tak bisa menghindarkan mereka dari ancaman masalah kesehatan mental.
Dari kasus Davy Pröpper, kita tahu bahwa jadwal sepak bola yang padat begitu menyiksa para pemain. Hal ini seharusnya jadi pertimbangan FIFA dan setiap federasi agar semakin memperhatikan kesehatan fisik dan mental para pemain. Bukannya malah membuat wacana Piala Dunia 2 tahun sekali atau mengubah format turnamen maupun kompetisi mayor menjadi lebih banyak pertandingan demi meraup keuntungan.
Memang, di tengah sepak bola yang kini sudah jadi sebuah industri, tingkat stress dan depresi di kalangan pesepak bola semakin meningkat. Dari kasus Andre Schurrle kita bisa memahami bahwa ekspektasi dan tuntutan untuk selalu tampil baik serta kritikan yang menghujani pemain bisa menjadi senjata yang membunuh karier seorang pemain.
Stress atau depresi memang bisa menjadi momok yang menakutkan bagi siapa saja, tak terkecuali pemain bola. Sebab, siapa saja punya kerentanan untuk menderita depresi. Lagipula, terlepas dari aksinya di atas lapangan hijau dan kehidupan pribadi yang mereka tampilkan di media sosial, pada akhirnya, para pesepak bola itu tetaplah seorang manusia biasa.
Lalu, bagaimana cara para pesepak bola itu mengatasi masalah ini?
Belajar Mengelola Stress dari Kasus Aaron Lennon
Kita bisa sedikit belajar dari kasus Aaron Lennon. Ya, penggawa Burnley itu diketahui pernah mengalami depresi, bahkan pada 30 April 2017, Lennon pernah ditahan di bawah Undang-Undang Kesehatan Mental Inggris.
Everton’s Aaron Lennon has been detained under the Mental Health Act following concerns over his welfare.
Wishing him a speedy recovery. 🙏 pic.twitter.com/OJIDwfoaA8
— SPORF (@Sporf) May 2, 2017
Menurut keterangan polisi, kondisi keselamatan Lennon saat itu sudah memprihatinkan. Polisi yang mendapat laporan masyarakat mendapati Lennon dalam kondisi sangat tertekan hingga harus dibawa ke rumah sakit untuk menerima perawatan. Lalu, apa penyebab Aaron Lennon stress hingga menderita depresi?
“Anda mulai mencapai tahap di mana Anda tidak benar-benar merasa seperti pesepak bola. Anda berlatih sepanjang minggu dan Anda tidak terlibat di akhir pekan, maka itu menjadi sulit. Bagi saya, tidak bermain di akhir pekan, Anda pulang bukan sebagai orang yang bahagia dan Anda tidak menikmatinya,” kata Lennon dikutip dari The Sun.
Ya, kesempatan untuk rutin tampil di dalam pertandingan adalah sebuah hal yang sangat penting bagi seorang pemain bola. Meski terlihat simpel, tetapi hal tersebut sangat erat kaitannya dengan kebahagiaan seorang pemain bola. Aaron Lennon juga berbagi tips bagi para rekan sejawatnya agar dapat mengelola stress-nya dengan baik sebelum semuanya menjadi terlambat.
“Saya sudah berbicara dengan beberapa pemain. Mereka ingin tahu apa yang saya alami dan saya memberi mereka beberapa saran. Jika ada yang merasa seperti itu maka mereka pasti harus pergi dan mencari bantuan yang mereka butuhkan,” kata Lennon dikutip dari BBC.
Selain mencari bantuan medis, Aaron Lennon juga mengatasi masalah depresinya dengan membuat sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Ia memutuskan pergi ke tempat lain yang mampu memberinya kebahagian lagi dalam bermain sepak bola dan itu ia temukan di Burnley.
“Pindah ke Burnley adalah salah satu keputusan terbaik yang saya buat untuk sepak bola. Saya menikmati setiap momen sejak saya tiba di sini. Saya berada di tempat yang gelap untuk waktu yang lama dan sekarang saya hanya bangun setiap hari dan bersemangat untuk datang ke pelatihan lagi dan menikmati setiap momennya. Sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata,” kata Lennon dikutip dari The Sun.
📝 DEAL DONE: Burnley have signed Aaron Lennon from Everton for an undisclosed fee. (Source: @BurnleyOfficial) pic.twitter.com/9MvcjDFyuJ
— Transfer News Live (@DeadlineDayLive) January 23, 2018
Dari keputusan yang diambil Aaron Lennon kita belajar bahwa sebuah keputusan untuk hengkang ke tim yang lebih kecil bukan berarti sebuah kekalahan atau sebuah aib. Terkadang, seorang pemain mengambil keputusan tersebut untuk menghindari situasi yang menyiksa dirinya.
Intinya, cara terbaik untuk mengatasi stress dan depresi adalah dengan meminta bantuan kepada profesional. Berada dalam lingkungan yang kondusif dan dikelilingi orang-orang yang suportif juga bisa membantu para pesepak bola dalam mengatasi stress dan depresi.
Akan tetapi, jika cara-cara tersebut belum mampu mengatasi masalah, maka memang cara yang terbaik adalah dengan berhenti dan sejenak menjauh dari sumber stress. Seperti yang dilakukan Davy Pröpper, Andre Schurrle, dan banyak pemain lain yang memutuskan pensiun dengan alasan kesehatan mental. Meski terlihat pilu, keputusan tersebut bisa berarti kemenangan bagi mereka.
Respect! Itulah yang perlu kita jaga dan kita hormati sebagai penikmat sepak bola. Sebab, bagaimanapun juga, para seniman lapangan hijau itu juga manusia biasa yang rentan terhadap ancaman stress dan depresi laiknya orang biasa.
https://youtu.be/Z0_LNvAiR9Y
***
Sumber Referensi: The Guardian, The Sun, Alodokter, BBC, Koran-Jakarta.


