Persija Jakarta nyaris memutus tren unbeaten Arema FC di gelaran BRI Liga 1. Namun, gol susah payah Marko Simic di babak pertama, hanya mampu bertahan sampai menit ke-56. Sebab semenit berselang, Carlos Fortes menyelamatkan Arema FC dari kekalahan.
Sang kapten sekaligus full back andalan Arema, Johan Farizi sanggup memanfaatkan kesalahan fatal pemain belakang Persija, untuk langsung mengirim umpan akurat ke Fortes.
Rohit Chand yang dekat dengan Fortes tak kuasa memutus umpan tersebut. Fortes mengontrol bola untuk mencetak gol ke gawang Adixi Lenzivio lewat tendangan salto. Gol itu menyelamatkan muka Arema FC.
Hasil imbang kontra Persija pada 5 Februari itu, menggenapi rekor unbeaten Arema di 20 pertandingan terakhir. Sekaligus mengokohkan kesaktian Arema FC. Kehebatan Arema sampai pertandingan lawan Persija belum ada obatnya.
Klub-klub besar di BRI Liga 1, juga semuanya angkat tangan. Persib Bandung sudah lebih dulu dihajar Arema. Bhayangkara dengan Paul Munster-nya juga menelan kekalahan atas Singo Edan. Sementara Bali United, Persebaya, dan PSIS hanya diberi sedekah satu poin.
Terhitung sejak BRI Liga 1 digelar sampai 5 Februari, Arema FC baru sekali menelan kekalahan, ketika Singo Edan takluk 1-2 atas PSS Sleman di pertandingan ketiga. Hal itu jelas bikin penasaran, kini mengapa Arema FC masih sulit dikalahkan?
Daftar Isi
Kepercayaan Diri Almeida
Sebelum menjawab pertanyaan tadi, perlu diingat bahwa Arema FC bukanlah klub kemarin sore. Singo Edan sudah banyak makan asam garam kompetisi dalam negeri. Kemarin saja, sebelum liga dimulai, Arema FC gagal total di Piala Menpora 2021.
Dari tiga pertandingan di Grup A Piala Menpora, Arema hanya meraih satu poin. Raihan itu membuat Singo Edan berada di posisi juru kunci, dan memaksa mereka mandi lebih cepat di Piala Menpora 2021.
Namun, penampilan buruk tak mau dilanjutkan Arema. Dan benar saja, usai Piala Menpora tuntas, manajemen Arema melakukan perombakan di sana-sini.
Arema mulai tak mau membuang duit percuma untuk memperpanjang kontrak pemain mubazir, seperti Caio Ruan dan Bruno Smith. Selain merombak skuad, Arema juga bergerak cepat mencari pelatih baru. Muncul nama Eduardo Arroja Almeida.
Arema FC resmi mengontrak Eduardo Almeida sebagai pelatih kepala musim 2021
Pelatih asal Portugal ini akan tiba di Indonesia pada pertengahan Mei 2021
Lakukan pekerjaan terbaikmu coach pic.twitter.com/5DuT7ACXCt
— Ongisnade (@OngisnadeNet) May 3, 2021
Pelatih berpaspor Portugal itu dipercaya manajemen untuk mendongkrak performa Singo Edan, sekaligus bersaing dengan klub-klub “siluman”.
Penunjukkan Almeida awalnya penuh rasa pesimistis, walaupun ia bukan orang baru di sepak bola dalam negeri. Akan tetapi, reputasinya selama melatih tim sebelumnya, Semen Padang tak cukup mengilap.
Kabau Sirah hanya sanggup menang 5 kali, imbang 5 kali, dan kalah 6 kali saat dilatih Almeida. Menurut data dari Transfermarkt, poin per game Almeida di Semen Padang hanya 1,25.
Hal itu langsung terbukti di tiga laga perdana Arema di BRI Liga 1. Singo Edan gagal memetik satu pun kemenangan. Tulisan Zain di TheFlanker pun menyebut, Almeida sampai mendapat tekanan dan sinyal pemecatan pun muncul.
Beruntungnya, Almeida punya stok kepercayaan diri yang berlimpah. Ia tak menganggap itu sebagai tekanan. Di sinilah titik poinnya. Bekerja secara profesional dan penuh kepercayaan diri, jelas akan memudahkan segalanya.
Apalagi manajemen Arema FC juga masih percaya terhadap Almeida. Kepercayaan diri Almeida, plus manajemen Arema yang turut memercayainya adalah ramuan mujarab untuk meningkatkan performa Arema FC.
Kepercayaan itu langsung terjawab lewat penampilan mengesankan Arema usai kalah di pertandingan ketiga. Dari situ, Arema melaju mulus tanpa sekalipun mengecap pahitnya kekalahan.
Percaya diri dan kepercayaan penuh yang Almeida terima dari manajemen Arema, jelas membuat kualitas dirinya makin canggih. Poin per game Almeida pun meningkat menjadi 2,09 selama menukangi Singo Edan.
Kedalaman Skuad
Terlalu rendah hati rasanya kalau hanya karena kepercayaan pelatih dan manajemen yang membuat Arema sulit dikalahkan. Apalagi Arema ini termasuk salah satu Big Six di BRI Liga 1 yang memiliki kedalaman skuad.
Lini tengah, belakang, depan, bahkan kiper pun semua lengkap. Kita tentu sepakat kalau Carlos Fortes menjadi tumpuan Arema di depan, tapi Almeida masih punya pemain lain.
Opsinya masih ada tiga pemain depan level Tim Nasional seperti Dedik Setiawan, Kushedya Hari Yudo, dan Muhammad Rafli. Perkara kualitas mencetak golnya tak lebih baik dari Fortes, itu bisa diurus belakangan.
Di lini tengah, Almeida tinggal milih karena semua punya kualitas. Seperti Rizky Dwi, Ridwan Tawainella, Renshi Yamaguchi, Sandi Darma Sute, Jayus Hariono, dan silakan Aremania menyebutkan sisanya.
Untuk mendukung skemanya yang cenderung bertahan, Almeida punya banyak opsi di lini belakang. Bagas Adi, Sergio Silva, Hanif Sjahbandi, Fabiano Beltrame, Achmad Figo, sampai sang kapten, Johan Farizi kerap diandalkan Almeida.
Almeida juga nggak bakal pusing andai kiper andalannya, Adilson Maringa tak dapat bermain. Sebab, Arema masih punya cadangan kiper lokal seperti Teguh Amiruddin. Statistik Teguh juga lumayan sebagai pengganti Maringa.
Resmi: Welcome sam Teguh Amiruddin 🦁 pic.twitter.com/bi2gMlYLmX
— Yusuf (@YusufEkodono6) January 21, 2020
Sampai laga melawan Persija, meski hanya memiliki 4 caps, Teguh sudah melakukan 12 kali penyelamatan. Artinya, rata-rata Teguh paling sedikit melakukan 3 save dalam satu pertandingan.
Pertahanan Kokoh dan Solid
Kinerja bagus kiper Arema tentu saja makin mengokohkan pertahanan mereka. Maringa sendiri sudah melakukan 48 penyelamatan dari 20 caps bersama Arema sejak BRI Liga 1 2021/22 bergulir.
Teguh yang menjadi pengganti Adilson Maringa pun kemampuannya tak jauh berbeda. Dengan begitu, dari segi kiper, Almeida masih cukup aman. Terutama untuk skema bertahan miliknya.
Mengingat Almeida adalah tipe pelatih yang menyukai pola bertahan ketat, dengan 4-4-2. Ia selalu menjaga kedalaman agar Arema tak mudah dibobol, sambil tetap mencari celah untuk melakukan serangan balik cepat.
Untuk memuluskan jalan ke situ, Almeida pun memiliki materi pemain belakang yang bisa membuat lawan frustasi. Bukan cuma ketika menyerang, tapi juga saat terkena terkaman balik Singo Edan.
Bagas Adi dan Sergio Silva selama ini menjadi andalan Almeida di posisi bek tengah. Keduanya rajin melakukan intersep. Sergio memiliki rata-rata intersep 5,24 dari 21 caps di BRI Liga 1 musim ini, sedangkan Bagas mempunyai rata-rata intersep 2,91 dari 22 caps.
“Untuk pemain lokal hanya Bagas Adi saja yang keluar dan bergabung ke Arema FC, sisanya tidak ada lagi,” kata Manajer Bhayangkara FC
Welcome home @bagasadingrh pic.twitter.com/gG2Y52ksjJ
— Ongisnade (@OngisnadeNet) December 27, 2019
Pertahanan Arema tidak hanya kokoh, tapi juga solid. Selain membendung serangan, sektor belakang ini juga turut aktif membantu serangan, terutama dua full back mereka.
Kita sulit memprediksi siapa yang bakal dijadikan full back oleh Almeida. Kadang Diego Michiels, Hanif Sjahbandi, Johan Farizi, atau yang lainnya. Kendati demikian, perannya jelas: bertahan dan aktif ketika transisi menyerang.
Dari sekian pilihan full back itu, yang menonjol tentu saja sang kapten, Johan Farizi. Ia beberapa kali ditempatkan di full back kiri, terutama ketika Almeida menerapkan skema 4-3-3 belakangan ini.
Dalam skema 4-3-3, Johan Farizi ini lebih sering aktif melakukan overlap. Ia melakukan intersep untuk kemudian merangsek dari sisi lapangan, sebelum akhirnya mengirim umpan.
Tak ayal kalau ia membubuhkan dua gol dan satu assist dari 23 caps. Farizi juga mencatat rata-rata intersep 3,57 dari 23 penampilannya itu.
Peran Fortes
Soal penyerangan, peran Fortes yang paling menonjol di skuad Arema. Tanpa Fortes, Arema mungkin akan kesulitan ketika menyerang.
Pria yang pernah satu tim dengan Bruno Fernandes di Timnas Portugal U-20 itu, belakangan ini tengah mengganas. Ia kerap kali jadi penentu kemenangan maupun penyelamat Arema.
Carlos Fortes nih dahsyat. Datang ke Arema FC bukan dg reputasi pemain subur. Koleksi gol di klub sebelumnya jarang dua digit. Dan, di musim pertama bersama Arema, dia udah cetak 12 gol dan 3 assist sejauh ini. Gak rugi pernah satu tim dg Bruno Fernandes di Portugal U-20. pic.twitter.com/R2QopHpdQz
— Ilhamzada (@iIhamzada) February 5, 2022
Sampai 5 Februari, Carlos Fortes sudah menyumbang 12 gol dan 2 assist. Jumlah tersebut bakal bertambah, apalagi Fortes selalu menjadi pilihan utama saat pemain level Timnas seperti Dedik masih belum tahu caranya mencetak gol.
Carlos Fortes yang ulet menjelma sebagai predator paling berbahaya dari Arema. Ia tak pernah capek untuk memburu bola, mencari ruang, dan memberikan keleluasaan bagi rekannya untuk mengirim umpan saat menyerang.
Ia bisa jadi lebih ganas kalau Arema memiliki pemain nomor 10 yang bagus. Namun kenyataannya, tanpa itu pun Fortes tetap trengginas dan Arema masih sulit dikalahkan.
https://youtu.be/bRlMuI2y96Q
Sumber referensi: theflanker.id, lapangbola.com, transfermarkt.co.id, Twitter Ilhamzada


