Benua Afrika selain menyimpan talenta yang luar biasa di dunia sepak bola, juga memiliki hal-hal unik yang boleh jadi tidak dipunyai benua lainnya. Ajang Piala Afrika 2021 saja sudah menunjukkan betapa Benua Afrika punya kekhasan sendiri. Mulai dari pemain, model jersey, ilmu hitam, dan lain sebagainya.
Di Benua Afrika juga terdapat negara-negara yang namanya cukup unik. Bahkan ada tiga negara yang sama-sama memakai nama Guinea. Dan uniknya lagi, ketiga negara Guinea itu lolos ke putaran final Piala Afrika 2021.
Mereka adalah Guinea, Guinea-Bissau, dan Guinea Khatulistiwa atau Equatorial. Yang lebih hebatnya lagi, ketiga negara Guinea itu mampu tampil apik di Piala Afrika 2021. Misalnya, Guinea dan Guinea Khatulistiwa yang justru bisa lolos ke fase gugur, di saat tim besar seperti Aljazair, Ghana, dan Nigeria terhempas dari Piala Afrika 2021.
Artinya, negara-negara Guinea telah berkembang dalam dunia sepak bola. Bukan tidak mungkin kalau negara-negara Guinea mampu menjadi ancaman serius tim-tim kuat. Well, apa yang membuat tiga negara Guinea itu berkembang? Dan bagaimana kisahnya?
Guinea
Yang pertama adalah Republik Guinea. Sebuah negara yang terletak di Afrika Bagian Barat. Guinea sering disebut juga dengan Guinea-Conakry, karena ibukotanya yakni Conakry.
Dulu Guinea disebut dengan Guinea Prancis. Sebab negara tersebut dulu merupakan bekas koloni Prancis. Guinea merdeka dari Perancis pada tanggal 2 Oktober 1958 dan bahasa resmi mereka adalah Bahasa Prancis.
TODAY: 1958-the African nation of Guinea gained their independence from France. #history pic.twitter.com/J1p1FWNO9n
— Joe Madison (@MadisonSiriusXM) October 2, 2017
Timnas Guinea mempunyai sejarah cukup bagus di perhelatan Piala Afrika mereka mampu menembus perempat final dalam tiga kali edisi beruntun 2004, 2006, 2008, dan bahkan di tahun 2015 mereka mampu mencapai perempat final.
Akan tetapi, pada edisi setelah 2015 Guinea di banned alias tidak boleh menyelenggarakan atau bermain sepak bola oleh Federasi Sepakbola Afrika (CAF), karena wabah ebola yang merebak melanda Guinea.
Sampai pada helatan Piala Afrika tahun 2019, mereka akhirnya mampu tampil kembali dan langkahnya terhenti sampai babak 16 besar setelah takluk dari juara tahun itu Aljazair.
Saat ini di Piala afrika 2021, Guinea memiliki tim sepak bola yang cukup diperhitungkan. Salah satu ukurannya tentu saja karena Guinea bisa lolos ke putaran final Piala Afrika 2021 tahun ini. Guinea berada di Grup B bersama Senegal, Malawi dan Zimbabwe.
Lolosnya Guinea ke Piala Afrika 2021 tidak lepas dari pemain bintang mereka yang kini merumput di Liverpool, Naby Keita. Kemudian juga peran dari pemain bintang Guinea lainnya seperti Ilaix Moriba dari RB Leipzig, dan Amadou Diawara dari AS Roma.
📍AFCON 2021 – Round of 16
Guinea🇬🇳 vs Gambia🇬🇲
Guinea🇬🇳 XI : Keita – Sow, M. Camara, Conté – Cissé, Moriba, A. Camara, Diawara, Konaté – Bayo, Kanté.
Naby Keita suspended for two consecutive 🟨cards#TotalEnergiesAFCON2021 #TeamGuinea #TeamGambia pic.twitter.com/42roucKWUl
— Aimé Atti (@CesaireAtti) January 24, 2022
Pada pemeringkatan FIFA, tim berjuluk Syli Nationale ini cukup bagus dengan bertengger di peringkat ke-81 per tahun 2021. Dengan modal rangking itu, dan ditambah para pemain bintang, Guinea yakin bisa tampil maksimal di AFCON 2021.
Sayangnya, hal itu harus diganggu oleh krisis kudeta militer di Guinea beberapa waktu belakangan. Kondisi kudeta di Kota Conakry itu bahkan dulu sempat mengganggu Guinea ketika laga melawan Maroko di Pra Piala Dunia 2022. Timnas Guinea bahkan diancam oleh tokoh kudeta militer mereka, Mamady Doumbouya.
Doumbouya yang menjadi presiden interim Guinea menuntut agar Timnas Guinea bisa menjuarai Piala Afrika 2021. Jika gagal, uang yang dipakai Timnas Guinea untuk Piala Afrika 2021 harus dikembalikan ke pemerintah.
— Owuraku Ampofo (@_owurakuampofo) January 24, 2022
Dengan kekuatan dan modal rangking FIFA yang bagus, Guinea memang lolos dari jeratan fase grup. Hanya saja, tekanan memang tidak bisa bohong. Guinea gagal melaju ke perempat final usai kandas dari Gambia lewat skor 1-0.
Guinea-Bissau
Guinea punya tetangga yang sama-sama berada di Afrika Bagian Barat, namanya Guinea-Bissau. Kata “Bissau” sengaja disematkan agar tidak tertukar dengan Guinea. Bissau sendiri merupakan ibu kota Guinea-Bissau.
Melihat sejarahnya, Guinea-Bissau adalah bekas koloni Portugis, jadi wajar saja kalau kebanyakan warga setempat memakai Bahasa Portugis. Guinea-Bissau memerdekakan diri dari cengkraman Portugis pada 24 September 1973. Guinea-Bissau sendiri menjalani debutnya di Piala Afrika pada tahun 2017 di Gabon.
Sejak saat itu, Guinea-Bissau selalu lolos ke Piala Afrika, seperti pada tahun 2019 di Mesir. Sudah dua kali Guinea-Bissau tampil di perhelatan akbar Benua Afrika itu, dan hasilnya selalu nihil. Mereka selalu gagal keluar dari fase grup.
Di tahun 2021 juga begitu. Guinea-Bissau yang kembali tampil di Piala Afrika tak mampu berbuat banyak dengan lagi-lagi tidak lolos dari fase grup. Padahal di edisi Piala Afrika 2021, Guinea-Bissau memiliki pemain-pemain yang tampil di Eropa.
Misalnya, Judilson Mamadu Tuncará Gomes alias Pele yang memperkuat AS Monaco. Mama Balde yang bermain di Troyes, dan Moreto Cassama yang bermain untuk Stade Reims.
#TeamGuineaBissau AFCON Facts
🇬🇼Guinea-Bissau have played the AFCON tournament only twice before and are yet to make it past the group stages.
At #AFCON2021 they drew 1-1 with Sudan 🇸🇩 and lost 1-0 to Egypt.
This is their 1st meeting with Nigeria in the history of the AFCON. pic.twitter.com/KH777ciOto
— #AFCON2021🌍🏆 (@alimo_philip) January 19, 2022
Guinea-Bissau juga sesungguhnya memiliki seorang wonderkid yang bermain untuk tim asal Catalan, Barcelona, Ansu Fati. Namun, Ansu Fati memilih menjadi warga negara Spanyol melalui proses naturalisasi.
Guinea Khatulistiwa
Jika Guinea dijajah Prancis dan Guinea-Bissau adalah bekas jajahan Portugis, uniknya Guinea Khatulistiwa atau Equatorial justru adalah bekas koloni Spanyol. Guinea Khatulistiwa bebas dari cengkraman Spanyol pada 12 Oktober 1968. Sesuai namanya, Guinea Khatulistiwa ini memang letaknya dekat dengan garis khatulistiwa.
Nah, debut Guinea Khatulistiwa di Piala Afrika adalah pada tahun 2012 yang kebetulan digelar di rumah sendiri dan Gabon. Guinea Khatulistiwa pun bisa tampil begitu menawan kala itu dengan lolos ke babak perempat final, sebelum akhirnya dikandaskan sang runner-up Piala Afrika 2021, Pantai Gading.
Pada Piala Afrika 2015, Guinea Khatulistiwa kembali menjadi tuan rumah setelah sebelumnya Maroko mengundurkan diri menjadi tuan rumah karena wabah ebola ketika itu.
Dan iya, Guinea Khatulistiwa pun tampil sangat-sangat ciamik sebagai tim kejutan. Entah sebuah keajaiban atau apa, mereka berhasil menjajaki semifinal untuk pertama kalinya dalam sejarah Guinea Khatulistiwa itu sendiri. Ironisnya, di partai semifinal Guinea Khatulistiwa dihempaskan Ghana, dan gagal merebut tempat ketiga usai takluk atas Kongo. Meski begitu ini adalah catatan terbaik Guinea Khatulistiwa.
✅ Scored a 90+ goal
✅ Sealed qualification for his teamEmilio Nsue sends Equatorial Guinea to the #TotalAFCON for the first time since 2015. 🇬🇶👏#TotalAFCONQ2021 pic.twitter.com/VEbMOHeFmy
— #TotalEnergiesAFCON2021 🏆 (@CAF_Online) March 25, 2021
Pada Piala Afrika 2021, Guinea Khatulistiwa kembali mengejutkan semua orang. Mereka yang berada di Grup E yang berisi kekuatan Afrika seperti Pantai Gading, Aljazair, dan Sierra Leone justru mampu lolos ke 16 besar usai menjadi runner-up grup. Hebatnya lagi Guinea Khatulistiwa mampu memutus rentetan rekor tak terkalahkan Aljazair dengan skor 1-0.
Algeria were on a 35-game unbeaten run. The world record is 37.
Equatorial Guinea just pulled off one of the biggest upsets in Afcon history against the defending champions 🤯 pic.twitter.com/7o6njfxOcm
— GOAL (@goal) January 16, 2022
Hal itu seperti sebuah keajaiban karena Guinea Khatulistiwa bukanlah tim yang memiliki pemain yang bermain di klub elit Eropa. Kebanyakan justru pemain-pemain yang bermain di kasta kedua. Sebut saja seperti Jose Machin yang bermain di AC Monza Serie B Italia, Pablo Ganet yang bermain di Murcia Divisi 2 Liga Spanyol, atau Santiago Eneme yang bermain di Nantes B Divisi 2 Liga Prancis.
Meski berbeda-beda yang menjajah, dari segi sejarah, penamaan “Guinea” sebetulnya diawali dari Bahasa Portugis, “Guiné” yang digunakan sebagai panggilan untuk orang-orang berkulit hitam di wilayah itu. Nah, dari segi prestasi, utamanya di Piala Afrika, ketiga negara Guinea mungkin masih cukup tertinggal.
Meski begitu, lolosnya ketiga negara Guinea pada Piala Afrika 2021 secara bersama-sama tetaplah menjadi suatu yang langka. Terlebih sebelum AFCON 2021 digelar, nasib ketiga negara Guinea memang berbeda.
Lolosnya ketiga negara bernama Guinea itu bisa menjadi parameter bahwa performa ketiga negara tersebut mengalami peningkatan signifikan. Bukan tidak mungkin di event Piala Afrika selanjutnya mereka tetap mampu lolos kembali secara bersama, dan mampu berprestasi lebih baik.
https://youtu.be/UIJ4GeWss_U
Sumber Referensi : face2faceafrica, howtheyplay, sportsbrief


