Pentingnya International Transfer Certificate dalam Transfer Pemain

spot_img

Beberapa tahun yang lalu kita digemparkan oleh pergerakan PSG di bursa transfer musim panas 2017 dengan berusaha mendatangkan bintang Brazil, Neymar Jr. PSG berniat menebusnya seharga 222 juta euro atau sekitar Rp 3,5 triliun yang ditetapkan FC Barcelona.

Di balik harga fantastis yang digelontorkan oleh PSG, ada permasalahan yang sempat menghambat proses perpindahan sang bintang ke Paris, apalagi kalau bukan soal International Transfer Certificate (ITC). Masalah ini muncul ketika Federasi Sepak Bola Perancis (FFF) mengaku belum menerima ITC dari pihak Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF).

Hal itu setali tiga uang dengan yang dialami alumni tim PON Papua, Samuel Balisna yang batal gabung Lampang FC, klub di kasta kedua Liga Thailand. Salah satu penyebab batalnya Samuel untuk berlaga di Thailand diduga karena telatnya beberapa dokumen penting penunjang proses transfer pemain yang didalamnya juga termasuk International Transfer Certificate (ITC).

Tampaknya International Transfer Certificate ini sangatlah penting. Tapi apa sih International Transfer Certificate itu? Biar tak terlalu panjang kita sebut saja ITC. ITC menjadi persyaratan mutlak untuk pemain pendatang baru di sebuah kompetisi domestik.

Bahkan tanpa adanya ITC pemain dan klub yang bersangkutan dalam proses transfer bisa berakhir di meja hijau jika memainkan pemain yang tidak sah, dan masih berurusan dengan si mantan klub sebab ITC-nya masih bermasalah. Nggak enak kan kalau berhubungan sama orang yang masih terjebak dengan masa lalunya?

Apa sih International Transfer Certificate itu?

Sementara, untuk bisa bermain di klub luar negeri seorang pemain sepak bola akan berpindah dari satu negara ke negara lain dengan proses transfer. Mereka harus mengawali dengan proses International Transfer Certificate Request agar transfer dapat didaftarkan di negara klub baru mereka.

Proses itu terjadi dari mantan federasi sepak bola nasional, di mana pemain menyerahkan ITC kepada federasi sepak bola nasional negara tujuan si pemain. Selain untuk salinan data, proses ini juga bertujuan untuk melindungi klub dan pemain yang terlibat proses transfer dan untuk menanamkan kerangka yang terorganisir guna mengawasi perpindahan pemain di seluruh dunia.

ITC diperlukan ketika pemain sudah berusia 18 tahun ke atas dan yang akan bermain di luar negeri, atau pemain asing yang akan bermain di kompetisi domestik. Nah, FIFA mewajibkan federasi harus menerbitkan ITC melalui Transfer Matching System (TMS) agar prosedur ITC dan TMS berjalan seiringan. Jika tidak demikian bisa jadi ITC tidak diakui.

Singkatnya, ITC adalah dokumen yang menandakan bahwa pemain tersebut sudah putus hubungan dengan klub lamanya. Dokumen ini menjadi syarat wajib bagi sebuah klub apabila hendak mendaftarkan pemainnya dalam suatu kompetisi baru bagi pemain tersebut.

Muncul Istilah TMS, Apa Hubunganya Dengan ITC?

Divisi Legal & Compliance FIFA berambisi untuk membuat bursa transfer sepak bola lebih baik dan rapi, divisi ini berkontribusi terhadap pertumbuhan dan peningkatan sistem jual beli pemain dengan menyederhanakan dan memberikan standarisasi proses transfer, peraturan, dan teknologi.

Maka dari itu FIFA membuat Transfer Matching System. TMS adalah sebuah sistem online yang memudahkan klub sepak bola dalam melakukan proses transfer pemain internasional yang melibatkan dua klub berbeda negara agar lebih cepat, mudah, dan transparan.

Lalu apa hubunganya dengan ITC? Sebagai contoh dari kasus Samuel Balinsa yang gagal bermain untuk Lampang FC. Sebelumnya, Samuel sudah menyepakati kontrak secara personal dengan pihak klub Lampang FC. Ia sepakat untuk memperkuat Lampang FC di gelaran Thai League 2 pada musim 2022.

Sayangnya, ketika Samuel sudah siap menyambut karier barunya di Thailand, ekspektasi itu terpatahkan akibat ITC dari PSSI tak kunjung keluar. Federasi pun menjadi sasaran para netizen yang menganggap mereka lambat dalam mengeluarkan ITC.

Eitss.. jangan salah paham dulu, gagalnya Samuel Balinsa untuk bermain di Thailand bukan salah PSSI sepenuhnya. Karena ITC baru akan dikeluarkan oleh PSSI apabila pihak dari Lampang FC terlebih dahulu menyelesaikan tetek-bengek pada TMS ke federasi sepak bola Thailand, dan hasilnya diberikan kepada asosiasi sepak bola Indonesia (PSSI).

Berarti dalam hal ini, sebenarnya PSSI tidak salah, karena PSSI tidak pernah menerima TMS atas nama Samuel Balinsa dari pihak Lampang FC hingga tanggal 7 Januari 2022 lalu atau batas akhir pendaftaran pemain di Liga Dua Thailand.

Beda kasus dengan yang dialami Neymar pada tahun 2017 silam. Asosiasi sepak bola Perancis belum menerima ITC dari asosiasi sepak bola Spanyol dikarenakan Barcelona masih menduga bahwa ketika PSG menebus klausul pembelian Neymar, mereka melanggar peraturan Financial Fair Play (FFP). Namun, akhirnya PSG punya trik tersendiri dalam mengelabui peraturan FFP dan transfer penyerang Brazil tersebut terealisasi.

Negara Serba Longgar

Selain kasus Samuel Balinsa dan Neymar di atas, masalah terlambatnya penerbitan ITC juga pernah dialami oleh Irfan Bachdim saat proses transfernya ke Chonburi pada 2013 silam, dan Ezequiel Ndouassel di putaran kedua Liga 1 tahun 2017.

Pada kasus Irfan Bachdim, Persema menilai Irfan tidak menunjukkan itikad baik saat hendak berpisah dengan klub dan mengklaim sang pemain masih terikat kontrak di Malang. Pada akhirnya persoalan ini teratasi lewat uluran tangan FIFA yang menerbitkan langsung ITC Irfan sehingga ia bisa merampungkan kepindahannya ke Chonburi.

Beda halnya dengan kasus Ezequiel Ndouassel yang justru sudah sempat dimainkan oleh Persib Bandung selaku klubnya saat itu. Akhirnya, Arema selaku lawan Persib mengajukan keberatan kepada PT. LIB dan menuntut dengan alasan bahwa Ezequiel Ndouassel belum memiliki ITC.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Ezechiel Ndouasel (@ndouaselezechiel)

Lantas PT. LIB merespon dengan surat pernyataan yang berisi tentang permohonan maaf atas keterlambatan memberi tahu “kebijakan anyar” yang dikeluarkan oleh PSSI terkait regulasi penggunaan pemain asing di putaran kedua Liga 1.

Bahwa untuk pemain yang sedang diproses ITC-nya melalui TMS akan mendapat pengesahan sementara dan dapat dimainkan sesuai ketentuan yang diatur oleh PSSI. Klub akan mendapat kelonggaran waktu hingga satu bulan untuk mengeluarkan ITC milik pemain. Nah, apabila sampai waktu yang sudah ditentukan ITC tak kunjung terbit, maka pemain akan diberlakukan permanent suspension.

Sebetulnya ada hal-hal yang dilarang dalam penerbitan ITC, seperti asosiasi lama tidak berhak menerbitkan ITC jika ada sengketa kontraktual antara klub lama dan pemain profesional dimaksud. Dalam kasus seperti ini, si pemain, klub lama dan/atau klub baru berhak mengajukan klaim kepada FIFA, sesuai dengan ketentuan pasal 22.

FIFA kemudian akan memberikan keputusan tentang penerbitan ITC dan tentang sanksi keolahragaan dalam tempo 60 hari. Dalam kasus apa pun, keputusan tentang sanksi keolahragaan akan diambil sebelum penerbitan ITC. Penerbitan ITC harus bebas dari kecurigaan adanya pelanggaran kontrak. FIFA bisa mengambil tindakan profesional dalam situasi tertentu.

Begitulah pentingnya ITC dalam transfer pemain, terutama transfer internasional. Tapi namanya juga peraturan pasti tak semuanya bersifat mutlak, FIFA juga memberikan beberapa kelonggaran. Nah, kalau PSSI yang ngasih kelonggaran bagi klub peserta Liga 1 sih udah biasa ya.

https://youtu.be/UOFe6NTGwMM

Sumber: FIFA, IndoSport, Goal, Footballvictoria

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru