Sejarah Rivalitas Derby London Utara

spot_img

The North London Derby, rivalitas antara Arsenal dan Spurs memang tak seheboh rivalitas duo Manchester maupun rivalitas MU dan Liverpool.

Apalagi akar rivalitas antar keduanya secara geografis awalnya tidak ada hubungannya.
Arsenal sebelumnya berada di London bagian Tenggara, sedangkan Spurs memang asli London Utara.

Jika menilik akar permasalahanya kenapa bisa menjadi rival, tentu ada beberapa penyebab munculnya rivalitas antara Arsenal dan Spurs, terutama jika dibahas dari segi sejarahnya.

Invasi Arsenal Ke London Utara

Perjalanan kisah klub Arsenal pertama kali dimulai di Woolwich, London Bagian Tenggara. Didirikan pada tahun 1886 oleh para pekerja pabrik meriam dengan nama The Royal Arsenal.

Pada tahun 1891, Royal Arsenal menjadi klub London pertama yang menjadi profesional, dan pada tahun 1904, klub tersebut telah mencapai Divisi Utama.

Namun, kesulitan keuangan dan persaingan berdampak pada klub ini, sehingga muncul isu memindahkan lokasi klub demi memperbaiki masalah keuangan mereka.

Mereka akhirnya pindah ke Highbury di London Utara dekat Distrik Harringay (Spurs) pada 1913. Adalah Sir Henry Norris yang disebut sebagai yang bertanggung jawab atas lahirnya rivalitas ini. Sebab dialah orang yang memindahkan Arsenal ke London Utara.

Stadion The Gunners, Highbury ketika itu digunakan oleh pemerintah sebagai pusat Air Raid Precaution (ARP) atau bagian dari pencegahan serangan melalui udara ketika perang dunia waktu itu. Highbury ketika itu luluh lantak terkena bom. Kemudian Arsenal harus pergi mencari stadion lain untuk berlatih dan bermain, dan di mana lagi selain di White Hart Lane, stadion klub tetangga dekat Tottenham Hotspur.

Sebagai tanda niat baik, Spurs membiarkan Arsenal berbagi stadion kesayangan mereka.
Sampai pada tahun 1914, ketika di sebuah pertandingan amal untuk memberikan bantuan perang, Arsenal membuat tuan rumah kecewa dengan membantai Spurs 5-1 di White Hart Lane. Ini adalah kemarahan pertama Spurs yang menjadi penyebab rivalitas terjadi.

Spurs Degradasi, Arsenal Promosi

Pada saat itu, Arsenal adalah klub divisi dua, sedangkan Tottenham berada di papan atas. Namun, performa Spurs di papan atas tidak berlangsung lama, dan harus terdegradasi setelah di akhir musim finish di peringkat 20 akibat performa buruknya.

Ketika itu, pada 1914, muncul isu adanya rencana untuk menambah jumlah klub divisi utama dari 20 tim menjadi 22 tim, dan Tottenham berharap untuk tetap bertahan di divisi utama meskipun finish di urutan ke-20 pada musim sebelumnya.

Entah bagaimana musim itu, tiba-tiba Arsenal berhasil masuk promosi ke divisi utama ketika mereka hanya mampu finish di peringkat ke 6 divisi 2 kala itu. Sedangkan Spurs akhirnya terdegradasi ke divisi dua.

Ada desas-desus dan tuduhan bahwa Ketua Arsenal, Sir Henry Norris telah menggunakan transaksi curang untuk mendapatkan jatah promosi.

Tak butuh waktu lama bagi Spurs, mereka promosi kembali ke divisi pertama pada tahun 1921 dan segera membalaskan dendamnya pada tetangga “berisik” Arsenal.

Pertandingan Rasa “Derby” Pertama Kali.

15 Januari 1921 di Stadion White Hart Lane menjadi pertemuan pertama rasa “derby” tersaji antar keduanya. Pertemuan yang menunjukan dendam dan kekejaman. Sebab, permainan antara kedua kesebelasan berjalan dengan keras. Ditambah muncul bentrokan antara kedua pendukungnya. FA mengancam keduanya bermain tanpa penonton pada laga berikutnya. Spurs menang 2-1 atas Arsenal ketika itu.

Persaingan mungkin menjadi lebih intens setelah itu, namun Tottenham menghabiskan sebagian besar waktu antara tahun 1928 dan 1950 di divisi kedua. Selama waktu itu, Arsenal menjadi lebih terkenal di sepak bola Inggris dengan enam gelar liga. Sementara Spurs masih nihil gelar.

Tottenham kembali promosi ke Liga Utama pada tahun 1950, dan bertahan sampai sekarang. Sementara, Arsenal tentu saja tidak pernah terdegradasi sejak awal promosi pada 1914.

Persaingan Prestasi

Persaingan memperebutkan berbagai prestasi pun terjadi antara kedua klub tersebut. Penggemar Arsenal sangat suka mengingatkan dengan nada mengejek sang rival Tottenham, bahwa sejak 50 tahun penyelenggaraan liga, Arsenal telah memenangkan enam di antaranya.

Alih-alih membalas, karena memang tidak mampu, pendukung Tottenham mencari pelipur lara. Beruntung akhirnya Tottenham mampu meraih Piala FA. Iya, walaupun itu belum cukup untuk menandingi gelar liga yang dimiliki Arsenal.

Lalu, ketika Tottenham mengalahkan Arsenal di semifinal Piala FA 1991, penggemar Spurs memutuskan untuk merayakannya dengan menyebut 14 April sebagai Hari St. Hotspur.

Penggemar Arsenal juga tidak mau kalah, sejak itu mereka merayakan apa yang mereka sebut dengan Hari St. Totteringham yang disebut sebagai hari ketika Tottenham secara matematis tidak dapat lagi mengejar mereka di liga. Singkatnya, peringkat Arsenal lebih tinggi dari Spurs.

Perayaan Hari St. Totteringham hampir setiap tahun dilaksanakan, apalagi sejak Arsene Wenger mengambil alih Meriam London. Ya maklumi saja, ketika itu Arsenal sedang moncer-moncernya. Sedangkan Spurs hanya bisa eksis di papan tengah liga.

Lalu, sejak munculnya Liga Champions, Arsenal juga berhasil lolos ke kompetisi setiap musimnya di bawah asuhan Wenger, bahkan mencapai final di Paris pada tahun 2006. Sementara Tottenham? Tak satu pun pernah mencapai Liga Champions kala itu. Mungkin itu menjadi hal yang menyesakan bagi para penggemar Tottenham secara prestasi.

Kebencian dari Bursa Transfer Pemain

Karena persaingan yang ketat antara kedua klub, sampai soal transfer saja dianggap sebagai aib. Memang ada beberapa pemain yang pernah bermain untuk keduanya selama karier mereka seperti Sol Campbell, Emmanuel Adebayor, sampai dengan William Gallas.

Mengenai itu, ada satu cerita yang menarik dari sosok Patrick Vieira. Kedatangan Vieira di Arsenal ketika itu terkendala soal bahasa Inggris. Ian Wright, mantan pemain Arsenal, menceritakan ketika Vieira belajar bahasa Inggris untuk pertama kalinya.

Wright menceritakan bagaimana sempat mengajarkan bahasa Inggris pertama kepada Vieira. Akan tetapi, pembelajaran itu justru membuat perseteruan Arsenal dengan Tottenham memanas. “Yang pertama kami ajarkan kepadanya adalah kata “Tottenham sialan,” kata Wright.

Kemudian ada cerita viral, pemain paling terkenal dan kontroversial ketika itu adalah Sol Campbell, yang meninggalkan Tottenham pada musim panas 2001 dengan status bebas transfer, dan bergabung dengan klub rival Arsenal. Dia adalah kapten Tottenham pada saat itu, dan kepindahannya tidak disukai oleh para penggemar Spurs.

Terlebih, Campbell mengklaim telah meninggalkan Tottenham demi bisa memenangkan trofi. Dan bersama Arsenal, hal itu pun terwujud. Dua gelar liga dan dua Piala FA yang dia menangkan bersama Arsenal membenarkan keputusan kepindahannya itu.

Dari beberapa kisah sejarah dua klub london utara tersebut, tampaknya menunjukkan bahwa Arsenal sebagai klub pendatang di London Utara lebih dominan dari Tottenham Hotspur, klub penghuni asli London Utara, baik secara gelar maupun prestasi lainnya.

Namun, seiring waktu berjalan, meski terbilang pelan, Spurs berubah dengan performa yang makin meningkat. Bahkan Spurs pernah menjadi finalis Liga Champions di tahun 2018 melawan Liverpool. Meskipun Spurs gagal menjadi juara, setidaknya pernah mencicipi apa yang pernah dicicipi Arsenal.

 

Sumber Referensi : mylondon, worldsoccer, sportco

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru