Kontroversi Jakarta International Stadium yang Berdiri Diatas Tangisan

spot_img

Wacana puluhan tahun pun akhirnya terlaksana, stadion bertaraf internasional bernama Jakarta International Stadium atau yang sering kita dengar JIS telah berdiri kokoh nan megah. Stadion ini kabarnya bakal jadi rumah baru bagi klub kebanggaan ibukota, Persija Jakarta.

Sejatinya, Jakarta sudah memiliki stadion GBK. Namun, stadion nasional yang penuh sejarah ini dirasa terlalu sakral untuk dijadikan kandang bagi Macan Kemayoran. Selain itu pembangunan JIS juga sebagai wujud memenuhi janji Anies Baswedan pada Jakmania sewaktu kampanye. Anies Baswedan merasa klub sekelas Persija harusnya punya stadionnya sendiri bukan malah menggunakan stadion nasional (milik pemerintah pusat).

 Pemprov DKI Jakarta menargetkan peresmian stadion akan dilaksanakan pada akhir bulan Desember tahun 2021 kemarin. Namun, nyatanya proses pembangunan agak tersendat karena menghadapi beberapa konflik. Akhirnya, tanggal peresmian Jakarta International Stadium pun terus mundur.

Namun, dibalik kemegahan Jakarta International Stadium, ada cerita panjang dan kesedihan yang mengiringi proses pembangunan stadion yang kabarnya bakal mirip dengan stadion Allianz Arena milik klub raksasa Liga Jerman, Bayern Munchen itu.

Awal Tercetusnya Pembangunan Jakarta International Stadium

Rencananya, stadion berkapasitas 82 ribuan ini bakal jadi ikon baru Kota Jakarta. Bahkan disebut-sebut bakal mengalahkan kemegahan GBK yang kapasitasnya hanya 72 ribuan itu.

Banyak pemberitaan yang menyatakan bahwa Jakarta International Stadium ini adalah sebuah pencapaian dari Gubernur DKI Jakarta saat ini, meskipun nyatanya pernyataan itu tak sepenuhnya benar. Proses pembangunan memang terlaksana di era Anies, namun sebenarnya ada campur tangan dari para pendahulu Anies yang sudah lebih dulu merencanakan pembangunan JIS ini.

Awal tercetusnya ide pembangunan stadion yang diharapkan bakal jadi markas Persija jakarta ini berawal dari era Bang Yos, begitu sapaan akrab dari Sutiyoso. Ia adalah mantan Gubernur DKI Jakarta yang menjabat selama dua periode, yaitu periode 1997 hingga 2007.

 Kala itu, saat menjabat menjadi Gubernur DKI tahun 1997, Bang Yos sudah bermimpi ingin membangun stadion untuk kandang Persija Jakarta. Namun, kurun waktu 1998 hingga awal 2000-an Indonesia sedang dilanda krisis moneter. Hal itulah yang menjadikan rencana dari Bang Yos tak terealisasikan.

Rencana pembangunan pun mulai tersusun kala memasuki era Fauzi Bowo. Bak tongkat estafet, Gubernur yang menggantikan posisi Sutiyoso pada tahun 2007 tersebut melanjutkan asa yang tertunda milik Bang Yos.

Pembangunan Jakarta International Stadium yang Problematik

Semua berawal pada tahun 2008, Kawasan Taman BMW memiliki luas total hingga 66,6 hektar. Kawasan tersebut merupakan aset Pemprov DKI Jakarta yang berasal dari utang penyediaan lahan fasilitas sosial dan fasilitas umum tujuh perusahaan swasta berdasarkan berita acara serah terima pada 8 Juni 2007. Dari 60-an hektar tersebut, akhirnya lahan seluas 26,5 hektar diokupasi.

Dengan bertujuan pembebasan lahan, pada awal Oktober, Pemprov DKI melakukan penggusuran terhadap pemukiman liar yang ada di area Taman BMW. Sekitar dua ratusan gubuk warga akhirnya dirobohkan secara paksa oleh Pemprov DKI. Puing-puing bangunan pun dibakar habis tanpa sisa oleh petugas.

Warga sempat mengajukan usulan bahwa mereka ingin dilakukanya relokasi daripada hanya asal gusur. Dengan kata lain pemerintah menyediakan lahan ganti guna warga setempat untuk memiliki tempat tinggal yang layak. Namun, hasilnya nihil.

Pembangunan dimulai awal tahun 2009, kala itu rencana awal pembangunan stadion hanya akan mencakup 40 ribu bangku penonton. Selain itu, akan dibangun lapangan voli pasir dan sepak bola pasir untuk acara resmi, serta dua lapangan terbuka yang dibangun untuk masyarakat umum.

Rencana yang sudah tersusun rapi kembali menjadi sebatas wacana, kala pembangunan stadion terhambat akibat munculnya konflik sengketa dengan warga yang bernama Donald Guilaime Wolfe. Ia mengklaim bahwa sebagian tanah dari Taman BMW adalah warisan dari keluarganya yang diserobot tanpa ganti rugi dan menjadi Taman BMW. Donald menginginkan ganti rugi dibayar sebelum dimulainya pembangunan stadion.

Sengketa pun tak kunjung rampung, Barulah pada era Jokowi-BTP mengisi kursi kepemimpinan DKI Jakarta, 12,5 hektar bisa dibebaskan dari sengketa. Jokowi kala itu berani menjamin bahwa status sebagian tanah tersebut sudah bukan sengketa lagi, dan apabila ada warga yang merasa dirugikan, silakan mengajukan gugatan ke pengadilan.

 Sisanya? Entah. Tak ada kejelasan dari pihak Pemprov terkait status tanah di luar 12,5 hektar tersebut milik siapa.

Ketika pihak Pemprov merasa sudah tidak ada tanggungan sengketa lagi, mereka melakukan langkah cepat untuk segera membangun stadion yang megah bertaraf internasional. Tapi, baru berjalan beberapa bulan proses pembangunan, datang lagi masalah dari PT. Buana Permata HIjau.

PT. Buana Permata Hijau mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta, mereka mengklaim bahwa tanah itu adalah milik mereka buah dari hibahan PT. Sri Domes pada 26 November 1984 silam. Akhirnya pada Mei 2019 PTUN Jakarta mengabulkan gugatan PT. BPH. Pembangunan yang tadinya sudah sampai tahap peletakan batu pertama pun akhirnya kembali mangkrak.

Mangkrak lagi mangkrak lagi, begitu kira kira keluh kesah para suporter Persija yang menantikan calon rumah baru bagi klub kebanggan mereka nanti.

Pada 30 September 2019, pihak Pemprov DKI tidak terima dan mengajukan banding terhadap putusan PTUN pada Mei tersebut. Hasilnya, PTUN Jakarta mengabulkan banding Pemprov DKI, dan Majelis banding mencabut putusan PTUN Nomor 282/G/2018/PTUN-JKT. PT BPH sempat mengajukan kasasi namun MA menolak pengajuan itu. Perkara Nomor 99 K/TUN/2020 itu diketok dalam sidang pada 9 Maret 2020 lalu.

Proyek JIS ini memperlihatkan bahwa pemerintah sibuk memikirkan sengketa lahan, alih-alih mencarikan relokasi tempat tinggal bagi warga yang terdampak gusuran pembebasan lahan. Apa yang mendasari hal itu? Hanya mereka dan Tuhan yang tahu.

 Well, setelah melewati sekian purnama, status tanah pun jelas dan pembangunan stadion yang sudah lama diimpikan oleh Pemprov DKI pun dilanjutkan tanpa halangan apa pun.

Progres positif terjadi ketika DKI Jakarta sudah memasuki era Anies Baswedan, Pak Gubernur pun sedikit merubah rencana awal pembangunan stadion yang tadinya hanya berkapasitas 40 ribu menjadi dua kali lipatnya yaitu 82 ribu kursi.

Dengan segala lika-liku kontroversinya, sekarang Jakarta International Stadium sudah berdiri nan gagah. Selamat datang! Semoga tak bernasib seperti Stadion Batakan yang entah jadi apa sekarang.

Sumber: Kompas.com, Koranjakarta.Com, Merdeka.com, Pandji Pragiwaksono Youtube Channel

 

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru