Timnas Indonesia dan Kegagalan yang Terus Di-“Pukpuk”

spot_img

Timnas Indonesia mengakhiri Piala AFF dengan hasil imbang di leg kedua kontra Thailand. Jika di leg pertama Thailand unggul cepat, di leg kedua giliran Indonesia yang unggul cepat. Lewat kaki Ricky Kambuaya sebuah tendangan melesat ke gawang Thailand menit ke-7. Siwarak Tedsungnoen tak mampu menahan tendangan itu, dan gol pun tercipta.

Namun, gol Kambuaya itu hanya bertahan hingga babak kedua. Thailand menunjukkan kualitasnya dan berhasil menjebol gawang Indonesia, sampai akhirnya gol Egy Maulana Vikri menyelematkan Indonesia dari kekalahan di leg kedua. Setidaknya, dari hasil itu Indonesia tidak terlalu bersedih di hari pertama Tahun 2022.

Barangkali karena hasil imbang itu pulalah, agregat 6-2 jadi tidak begitu penting untuk disesali. Bahkan, kegagalan Timnas Indonesia meraih Piala AFF lebih enak untuk dilupakan saja. Jika tahun ini gagal, mungkin bisa dicoba di tahun depan, atau tahun depannya, atau tahun depannya lagi, dan seterusnya.

Kalah pun tiada mengapa. Tak mendapat gelar AFF lagi, juga bukan problem yang membuat negara Indonesia hancur. Punggung sepak bola Indonesia toh sudah biasa di-“pukpuk”. Saking terbiasanya, kegagalan selalu dibalas dengan senyuman, meski itu sudah sejak 1996.

Dihantam Kabar Baik Bertubi-tubi

Walaupun kalah di AFF. Sekali lagi, walaupun kalah di Piala AFF, Timnas Indonesia, terutama para punggawanya masih diselimuti kabar baik yang datang bertubi-tubi. Lihatlah! Betapa kegagalan Indonesia di Piala AFF justru diberitakan dengan sangat-sangat positif.

Seolah kegagalan itu memang harus ditutupi rapat-rapat. Dan yang harusnya muncul adalah puja-puji laiknya sedang menyanyikan “Hymne Guru”. Bahwa kegagalan meraih AFF sejak 1996, bukanlah problem. Toh, masih bisa memunculkan kegembiraan.

Misalnya, di AFF 2020, Timnas Indonesia mencatatkan hal-hal mengesankan. Pertama, Indonesia adalah satu-satunya tim yang mampu membobol gawang Thailand dua kali. Kedua, Indonesia juga dinobatkan sebagai tim paling fair play di Piala AFF 2020.

Tak sampai di situ, Witan Sulaeman menjadi yang paling rutin memberi assist di Piala AFF 2020. Masih ada lagi, pemain muda Indonesia, Pratama Arhan juga meraih penghargaan The GOAL NXGN Award for Young Player of the Tournament, atau pemain muda terbaik di turnamen. Selain itu, generasi muda Timnas Indonesia dianggap memunculkan harapan-harapan baru.

Penghargaan-penghargaan tersebut yang entah bagaimana kriterianya, minimal berhasil membunuh kekecewaan masyarakat pada Timnas Indonesia. Atau setidaknya menambah daftar pemakluman atas kekalahan Timnas Indonesia. Nggak apa-apa kalah, yang penting dapat penghargaan, yang penting main bagus, dan yang penting runner-up lagi.

Timnas Indonesia yang Selalu Dipuji

Sekalipun kalah dan gagal membawa trofi Piala AFF untuk kesekian kalinya, Timnas Indonesia selalu ada di hati kecil rakyat Indonesia. Bahkan bagi mereka yang benci PSSI setengah mati. Kalau Timnas Indonesia bermain, sudah, yang muncul hanyalah kecintaan.

Maka, ketika gagal, Timnas Indonesia akan tetap dipuji para penggemarnya. Tanpa perlu diajari pun, rakyat sepertinya sudah tahu cara memuji Timnas Indonesia kendati dalam keterpurukan. Mari kita ambil contoh yang paling umum.

Semua tentu sepakat bahwa Timnas Indonesia di Piala AFF 2020 tampil sangat baik. Optimisme sudah diletuskan ketika Shin Tae-yong ditunjuk sebagai pelatih. Pria Korea yang sukses mempermalukan Joachim Loew itu diyakini bisa membuat Timnas tampil apik.

Nyatanya memang begitu. Timnas Indonesia tampil mengesankan dari awal Piala AFF digelar. Witan cs sukses melibas Kamboja dan Laos yang memang levelnya di bawah Indonesia. Lalu, dengan pertahanan kokoh luar biasa, Vietnam gagal memetik kemenangan atas Indonesia.

Di laga pamungkas di fase grup, Timnas Indonesia membuat optimisme makin meletup-letup usai membantai Malaysia. Namun, di partai semifinal Singapura memperlihatkan bahwa juara AFF itu bukan kaleng-kaleng. Irfan Fandi cs nyaris membuat flyer “FINAL KAMI DATANG” dari Ketum PSSI tak muncul.

Cukup sampai final saja, pujian untuk Timnas Indonesia mengalir seperti Sungai Brantas. Saking derasnya sampai menganggu pendengaran. Dan lihat saja ke mana arus pujian itu akhirnya bermuara. Yup benar, kegagalan.

Hal itu sudah sering terjadi. Puji-pujian terhadap Timnas Indonesia yang berlebih selalu sukses membunuh prestasi Timnas itu sendiri. Tapi ironisnya, kalau tak memuji Timnas, nanti dikatain nggak nasionalis dan nggak ngerti bola.

Kegagalan yang Biasa Saja

Nggak diperhitungkan, tapi bisa masuk final itu sudah baik. Kalimat itu jadi semacam cadangan alibi sebelum Timnas Indonesia bermain di partai final. Paling tidak kalau kalah, pencinta Timnas Indonesia masih punya tabungan alasan untuk memaklumi kekalahan di partai final.

Ketika kekalahan sungguh-sungguh menghampiri Indonesia, hal itu jadi biasa saja. Tidak terlalu terkejut, tidak berlebihan sedih, namun tetap melahirkan kekecewaan. Betapa Indonesia masih membutuhkan extra time hanya untuk meraih Piala AFF.

Hilal kegagalan itu sudah kelihatan sejak Timnas sukses menang di laga-laga penting, seperti saat melawan Malaysia dan Singapura. Terlebih setelah menghadapi dua negara itu, pejabat-pejabat mulai ngerusuhi Timnas Indonesia.

Usai melawan Malaysia, Bupati Blora, Arief Rohman seenaknya video call dengan Pratama Arhan. Bahkan sampai menanyai hal-hal yang harusnya ditanyakan pada anaknya, bukan Arhan. Berpengaruh atau tidak, yang pasti performa Arhan di pertandingan berikutnya agak goyah, dan justru tidak bisa tampil di final leg pertama karena terkena akumulasi kartu.

Di final AFF kali ini memang tak seperti di tahun 2010. Terlepas dari pandemi, para pemain Timnas Indonesia tidak diajak bertemu para politikus dan pejabat. Namun, manusia seperti Ketum PSSI, Iwan Bule meniru cara Bupati Blora untuk numpang tenar.

Beberapa orang kaya dan publik figur sudah keburu pengin memberi bonus ke Timnas Indonesia. Belum lagi jelang final, kelakuan kapten Timnas Indonesia, Asnawi Mangkualam yang harusnya tidak dibahas berlarut-larut justru dibicarakan melulu. Soal mengganggu mental atau tidak, silakan tanya ke Asnawi.

Yang pasti, di leg pertama final, Indonesia dibantai Thailand 0-4. Di laga itu, berkali-kali Asnawi gagal melakukan penetrasi dan over lap. Alih-alih bermain apik di final, Asnawi malah kelabakan dan melakukan beberapa kesalahan fatal.

Ya begitulah. Kegagalan tampaknya sangat akrab dengan Timnas Indonesia. Agar hal tersebut tidak terjadi lagi, obatnya cuma satu: pembenahan sepak bola dalam negeri. Namun, jika kegagalan saja sudah cukup memberi kegembiraan tak terperi, buat apa mencari kemenangan? Seperti itulah sepak bola Indonesia.

Selama tidak serius, selama itu pula kegagalan akan terus di-“pukpuk”. Kita akan dipaksa menonton penyerahan Piala AFF sambil menepuk punggung sepak bola Indonesia, dan bilang “Cep, cep, cep. Tahun depan coba lagi ya”.

Sumber referensi: bolasport.com, kompas.com, bola.com, indosport.com, suara.com

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru