Chelsea vs Liverpool: Adu Kuat “High Press” dan “Man Marking”

spot_img

Chelsea harus puas memetik hasil imbang 2-2 kala menjamu Liverpool di Stamford Bridge di hari Minggu 2 Januari 2022. Tertinggal lebih dahulu di 30 menit babak pertama melalui gol Sadio Mane dan Mohamed Salah, The Blues membalas lewat tendangan voli Mateo Kovacic dan gol Christian Pulisic di penghujung babak pertama.

Anak asuh Thomas Tuchel datang tanpa diperkuat duo penyerang, Timo Werner dan Romelu Lukaku. Pun tim lawan, tidak dapat memainkan Joel Matip, Alisson Becker, Roberto Firmino, bahkan sang pelatih, Jurgen Klopp karena positif Covid-19.

Kedua tim tampil ngotot sedari peluit dibunyikan karena sehari sebelumnya pemuncak klasemen Manchester City berhasil mengandaskan perlawanan Arsenal 2-1. Hasil imbang keduanya pun membuka jalan untuk memperlebar 11 poin antara The Citizen dengan peringkat kedua di papan klasemen.

Pelatih Chelsea, Thomas Tuchel menurunkan formasi 3-4-2-1. Memainkan tiga bek Antonio Rudiger, Thiago Silva dan Trevoh Chalobah. Wing back dipercayakan pada duo Spanyol, César Azpilicueta dan Marcos Alonso. Chelsea jelas memanfaatkan sisi tepi kanan maupun kiri sebagai motor serangan untuk  sirkulasi bola silang yang dinamis.

Sedangkan The Reds menggunakan formasi  4-3-3 yang berubah jadi 3-4-3 saat posisi menyerang dan menciptakan situasi overload di tepi kanan dan kiri oleh Trent Alexander-Arnold dan Kostas Tsimikas.

Thomas Tuchel sadar tim tamu memiliki garis pertahanan tinggi. Jadi ia melakukan overload sisi tepi untuk menargetkan ruang di belakang lini belakang. Sehingga dalam pertandingan tersebut pemain belakang mereka sering melakukan langsung untuk diterima bek sayap.

Trio bek Chelsea pun dalam catatan whoscored, mencatatkan passing success dengan prosentase 79-89 persen dengan memunculkan nama Thiago Silva yang melakukan 21 kali passing long ball.  

Selain terlibat aktif dalam membangun serangan sejak awal. Kemampuan untuk melakoni duel 1v1 mereka cukup berhasil menyulitkan trio Sadio Mane, Mohamed Salah dan Diogo Jota.

Kemampuan untuk bertahan tergambar dalam heatmaps. Di mana ada penyerang Liverpool, akan ada pemain belakang Chelsea yang menghadang sebagai bentuk man marking.

Kebobolan Dulu, Membalas Kemudian

Liverpool unggul terlebih dahulu melalui gol yang dicetak oleh Sadio Mane. Berawal dari sirkulasi yang dilakukan oleh Konate, Johan Henderson dan Trent Alexander-Arnold. Pergerakan dua pemain Inggris itu berhasil memancing Mateo Kovacic dan Marcos Alonso untuk melakukan press.

Melebarnya jarak gelandang Chelsea Mateo Kovacic dan N’golo Kante dimanfaatkan Diogo Jota untuk menerima umpan Konate lalu melakukan through pass ke arah Sadio Mane yang dijaga oleh Chalobah.  

Trevoh Chalobah gagal melakukan clearance. Bentuk pertahanan yang sudah tereliminasi dan Azpilicueta jauh dari area pertahanan memudahkan Mane langsung berhadapan dengan penjaga gawang, Mendy untuk mencetak gol.

 

Keberhasilan The Reds mengeliminasi kerapatan double pivot, Kovacic dan Kante menjadi salah satu kunci di laga tersebut. Sebelum penyerang Liverpool berhadapan dengan pemain belakang Chelsea, Kante melakukan press agar sirkulasi bola tidak diarahkan ke depan melainkan ke sisi kiri atau kanan, atau kadang kembali menuju bek Liverpool.

Unggul satu gol atas tuan rumah tidak lantas mengendurkan serangan. Salah mencetak gol kedua usai mengeliminasi sisi kiri pertahanan Chelsea. Ia lepas dari pertahanan Rudiger setelah memberi umpan ke Fabinho.

Bola lantas diberikan kepada Alexander-Arnold untuk dikonversi menjadi umpan kunci  mengeliminasi defensive shape Chelsea yang belum terbentuk karena Marcos Alonso dan  Antonio Rudiger masih sejajar dengan Kovacic.

Usaha Marcos Alonso melakukan trackback menutup peluang umpan dan tembakan terlambat. Salah yang sudah berhadapan dengan penjaga gawang memilih menceploskan bola ke gawang ke timbang melakukan cut back. 2-0, The Reds unggul atas The Blues.

 

Enggan malu di hadapan publik sendiri, Chelsea memperkecil gol kedudukan melalui tendangan voli Mateo Kovacic di menit 42. Berawal dari tendangan bebas dilakukan oleh Marcos Alonso. Kiper Liverpool melakukan tinjuan yang menyebabkan bola liar melaju ke tengah.

Di depan kotak penalti, Kovacic melakukan tendangan voli dengan ciamik. Pertama, saat melakukan tendangan tidak ada gangguan dari pemain Liverpool. Kedua, akurasi tendangan ke pojok kiri yang menyulitkan penjaga gawang.

Sebelum turun minum, Chelsea berhasil menyamakan kedudukan setelah Christian Pulisic mengkonversi umpan N’golo Kante. Gol itu berawal dari transisi bertahan ke menyerang The Blues. Saat Antonio Rudiger memenangi duel dengan Salah, bola mengarah ke Kante. Bentuk pertahanan The Reds yang belum tertata kembali, memudahkan pria asal Prancis melakukan umpan yang menyebabkan terjadi 2v3 di area pertahanan Liverpool.

Usai menerima umpan, Christian Pulisic memiliki dua opsi. Pertama, melakukan tendangan langsung ke gawang Caoimhín Kelleher. Kedua, melakukan cut back ke arah Masson Mount. Pilihan jatuh pada opsi pertama dan menjadi gol terakhir di laga tersebut.

Adu Lapangan Tengah

Liverpool menghadapi tekanan Chelsea yang agresif sepanjang pertandingan. Tuan rumah menggunakan strategi man-marking untuk mematahkan proses serangan.

Saat Liverpol melakukan build up, tiga pemain depan Masson Mount, Havertz dan Pulisic melakukan block press terhadap Konate, Van Dijk dan Kelleher sebagai penjaga gawang. Umpan yang dilepaskan berupa long ball pada kedua bek yang beroperasi di tepi kanan maupun kiri, Tsimikas dan Alexander Arnold.

Bagi Liverpool Fabinho menjadi kunci. Untuk membangun serangan Fabinho memiliki kemampuan bertahan, membaca ruang, dan mengalirkan bola secara dinamis.

Progresi umpan ke lini depan untuk mengeliminasi pertahanan Chelsea yang meninggalkan 3v3 di belakang. Hal itu terjadi saat pria Brazil tidak mendapat penjagaan untuk mengalirkan bola ke Alexander Arnold sebelum mengumpan ke Salah.

Di klub tuan rumah ada Mateo Kovacic yang berhasil menjadi pembeda. Tugas menjadi double pivot bersama N’golo Kante cukup berhasil. Ia membuntuti Johan Henderson di area pertahanan dan melakukan umpan untuk mengalihkan serangan dari tepi kanan ke kiri.

Double pivot yang digunakan oleh Thomas Tuchel berhasil teruji karena sistem group press yang digunakan oleh Johan Henderson, Milner, dan Jota masih mampu memberikan ruang Kovacic untuk melakukan 104 sentuhan sepanjang 90 menit.

Kedua tim sama-sama mengusung high press, sehingga saban kehilangan bola Chelsea maupun Liverpool akan segera mungkin merebut ataupun melakukan pelanggaran ringan.

Skor 2-2 hasil yang cukup adil bagi keduanya. Nun jauh di sana, Manchester City tersenyum bahagia.

 

Referensi: Football Made Simple, Coaches Voice, Savage Football, Who Scored, Holding Midfield

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru