Setiap event akbar sepak bola sudah tentu akan menciptakan euforia yang luar biasa. Tidak peduli itu di level regional semacam AFF atau di level dunia seperti Piala Dunia. Namun, untuk menggelar event semegah EURO misalnya, nggak semudah apa yang tampak di permukaan.
Pihak penyelenggara, yang utama dan paling utama, mesti mencari sumber dana. Biaya adalah elemen penting di setiap gelaran akbar sepak bola. Maka dari itu, mencari sponsor adalah hal yang mutlak. Mirip-mirip seperti organisasi mahasiswa yang kalau mau mengadakan acara harus cari sponsor dulu.
Nah, kita mungkin tidak akan menyaksikan pembantaian Timnas Indonesia atas Thailand di Piala AFF 2020, jika tak ada yang mau menjadi sponsor, termasuk Suzuki. Bayangkan saja kalau brand perusahaan beer, Tiger berhenti mensponsori Piala AFF, dan panitia tidak mendapat sponsor!
Tentu rakyat Indonesia jadi tak perlu berharap di final segala. Lha bagaimana ya, dari sekian kompetisi antarnegara, hanya Piala AFF saja yang kemungkinan bisa dijuarai Timnas Indonesia. Itu pun masih sebatas kemungkinan.
Seandainya tidak ada event akbar, sepak bola jadi kurang menarik. Misalnya, jika di Eropa hanya ada liga-liga domestik, tentu atmosfer sepak bola Eropa tak semeriah hari ini. Apalagi liga-liga di Eropa yang punya sensasi dan atmosfer bisa dihitung jari, dan sisanya liga petani. Maka dari itu hadirlah Liga Champions dan Liga Eropa.
Coba saja kalau brand sekelas Mastercard, Heineken, Adidas, sampai Sony tidak mensponsori kompetisi akbar tersebut? Pihak UEFA tidak mungkin mendapat cuan banyak, dan ujungnya UCL dan UEL boleh jadi tidak mungkin ada. Pertanyaannya, mengapa brand-brand kenamaan mau mensponsori event akbar? Seberapa menggiurkan event akbar sepak bola bagi sponsor?
Atensi
Jika seorang Direktur Badan Pengatur Divisi Pemasaran FIFA, Thierry Weil mengatakan “Sponsor tidak hanya menawarkan dukungan finansial, tapi juga dukungan logistik di lapangan”, itu artinya banyak dana yang harus dikeluarkan oleh sponsor.
Maka, ada sesuatu yang benar-benar membuat sponsor tergiur untuk mensponsori sebuah event sepak bola. Yup, salah satunya adalah atensi.
Kita mungkin sepakat untuk mengiyakan bahwa pertandingan FC Barcelona apa pun itu sekarang sudah tidak menarik. Namun, kalau pertandingan sepak bola itu sendiri masih menjadi daya pikat yang luar biasa di seluruh dunia. Orang bilang sepak bola adalah olahraga sejagat.
Hal itu bukan sekadar adagium. Karena memang, kompetisi-kompetisi sepak bola apa pun itu levelnya selalu menarik atensi. Ambil contoh Piala Eropa atau EURO.
Meskipun EURO dihelat terpusat di Benua Eropa saja, namun bisa menarik atensi penggemar sepak bola di seluruh dunia. Seluruh pemberitaan olahraga di dunia sudah pasti akan meliput, atau minimal membuat laporan tentang EURO. Demam EURO pun akan melanda di seluruh dunia.
#Euro2020
Supporters cheer before the UEFA EURO 2020 semi-final football match between England and Denmark.#ENGDEN #AFP pic.twitter.com/fuvDVGIGIY— AFP Photo (@AFPphoto) July 7, 2021
Seberapa kuat sih EURO menarik atensi? Kita bisa menengok bagaimana EURO 2020 kemarin saja, yang sudah disaksikan sekitar 5,2 miliar manusia di seluruh dunia. Jumlah tersebut nyaris mendekati total populasi penduduk di dunia tahun 2020 yang mencapai 7,7 miliar jiwa.
Sedangkan kompetisi elit seperti Liga Champions Eropa mampu menyedot 380-400 juta penonton di seluruh dunia. Sekitar 2,8 juta orang menonton pertandingan Indonesia kontra Vietnam di Piala AFF 2020 di kanal YouTube. Atensi inilah yang dijual pihak penyelenggara kepada sponsor.
Meningkatkan Penjenamaan Brand
Atensi sebanyak itu sudah pasti menggiurkan bagi brand-brand kawakan di seluruh dunia. Event akbar sepak bola adalah pasar menjanjikan brand-brand tersebut. Dengan mensponsori ajang bergengsi, tentu bisa meningkatkan brand awareness sekaligus memperkuat market share domestik.
Intinya, brand tersebut jadi makin dikenal luas. Dengan mensponsori sebuah kompetisi sepak bola yang waktunya tentatif, akan membuat penonton sepak bola tidak sadar kalau setiap pertandingan memuat promosi. Walaupun kelihatannya tanpa iklan yang tiba-tiba muncul di lapangan seperti di Liga Indonesia.
Beating Thailand in the AFF Suzuki Cup Final ain’t for everyone @PSSI pic.twitter.com/bHZZUZuYFA
— fir! (@gipsyfir) December 29, 2021
Misalnya saja Piala AFF. Suzuki sebagai sponsor utama jelas akan mengikuti penyebutan ajang bergengsi se-Asia Tenggara tersebut di beragam media. Ingat AFF, otomatis ingat Suzuki. Begitu kira-kira.
Lalu, di Piala AFF juga ada sponsor lain, seperti Oppo. Kamu tentu tahu dong bahwa man of the match setiap pertandingan di Piala AFF 2020 akan mendapat smartphone Oppo? Oppo memang menjadi sponsor khusus untuk man of the match di Piala AFF 2020.
Dari situ brand awareness dari Oppo sendiri bisa meningkat. Buktinya, data yang dihimpun dari Google, kata kunci “Oppo A95” yang menjadi hadiah bagi man of the match sudah dicari sebanyak 9900 pencarian selama sebulan terakhir. Jumlah itu meningkat 18 persen lebih dari bulan sebelumnya. Padahal Oppo A95 sendiri baru dirilis November 2021 kemarin.
Selamat Ricky Kambuaya terpilih menjadi Man of the Match pada pertandingan perdana kontra Kamboja! 🎉
Tetap fokus matangkan persiapan untuk laga selanjutnya! 👊🇮🇩#KitaGaruda #MeraihImpian #EmergingStrongerTogether #TimnasDay pic.twitter.com/icEb9a4NGC
— PSSI (@PSSI) December 9, 2021
Betapa event-event besar dalam sepak bola, apa pun levelnya, pasti meningkatkan image para sponsor. Hal itu seolah senada dengan apa yang dikatakan Head of Brand Development and Marketing Research PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), Harold Donnel sejak 2018 lalu.
“Setiap kali penyelenggaraan (AFF) kita review. Tapi sejauh ini AFF memberi dampak yang sangat baik secara brand image kepada Suzuki,” katanya seperti dikutip Sindonews.
Karena jaminan itu pula, Alipay, mobile payment dari Tiongkok yang masih di bawah naungan Alibaba Group Holding mau bekerjasama dengan UEFA. Alipay menjadi official digital payment seluruh turnamen Tim Nasional yang digelar UEFA, termasuk EURO dari 2018-2026.
Banyak Keuntungan
Atensi dan jaminan image saja masih belum cukup untuk sebuah brand mau menggelontorkan dana. Senjata yang selalu dipakai penyelenggara event besar sepak bola adalah ihwal keuntungan. Kompetisi besar tentu menjamin keuntungan yang besar pula bagi sponsor.
Senjata itulah yang bikin Piala Dunia tak mungkin kehilangan sponsor, kecuali seluruh brand di dunia gulung tikar. Mari mengambil contoh di Piala Dunia 2014 di Brazil.
Coca Cola, Sony, Hyundai, Adidas, Emirates, Visa, dan mitra-mitra lainnya setidaknya menghabiskan total 730 juta US Dollar atau sekitar Rp 10,4 triliun untuk mendapat hak istimewa sebagai sponsor di Piala Dunia 2014. Dari situ keuntungan yang didapat sekitar 22 sponsor Piala Dunia 2014 adalah 1,4 miliar US Dollar atau Rp 19,9 triliun.
Serie completa Coca-Cola Fifa World Cup 2014
#cocacola #cocacolahbc #greattaste #tastethefeeling #natale #limitededition #originalcocacola #originaltaste #italia #italy #worldcup2014 #lattine pic.twitter.com/tf5z2DfsAY
— Memorabilia club 3.0 (@Memorabiliaital) March 23, 2021
Di luar Piala Dunia, misalnya di level klub keuntungan sponsor juga tak kalah banyak, bahkan jauh lebih banyak dari yang dikeluarkan. Semisal, UniCredit yang menjalin kerjasama dengan UEFA sepanjang 2015-2018 telah balik modal sebesar 225 persen. Itu setelah menjadi sponsorship selama lima musim di kompetisi top Eropa, seperti UEFA Champions League, UEFA Europa League, sampai Piala Super Eropa.
Event-event akbar sepak bola memang sangat menggiurkan bagi sponsor. Penyelenggara tidak perlu membanting harga diri seperti pencari donatur pembangunan tempat ibadah. Sebab tanpa dicari pun, sponsor sudah pasti bakal datang sendiri.
Sumber referensi: promoovertime.com, myfootballfacts.com, uefa.com, artsandculture.google.com, sindonews.com, Instagram Box2BoxBola


