Pada pertandingan Liga 1 Indonesia awal September lalu, Persiraja Banda Aceh bertemu dengan PSS Sleman. Dalam laga yang digelar di Stadion Madya itu, terdapat sebuah kejadian yang tidak biasa, yakni keputusan wasit soal gol yang dicetak Irfan Bachdim pada menit ke 30 an.
🚨OFFICIAL! Irfan Bachdim (33/FW) resmi menyudahi kontrak bersama PSS ditengah kompetisi 🇮🇩Liga1 2021/22
Irfan Bachdim sebelumnya didatangkan PSS pada awal musim 2020 dengan catatan 7 kali penampilan serta sumbangan 1 gol di kompetisi resmi. pic.twitter.com/vaUFf59JmA
— #YukVaksinasi 👌 #DukungDariRumah (@Indostransfer) October 7, 2021
Di momen tersebut, Irfan Bachdim berhasil mencetak gol melalui tendangan dari luar kotak penalti. Namun bola yang sebelumnya membentur tiang, kembali memantul keluar hingga membuat wasit sempat tidak mengesahkan gol tersebut.
Akan tetapi, setelah melakukan diskusi dengan asisten, wasit utama kemudian mengubah keputusannya dengan mengesahkan gol yang dicetak oleh Irfan Bachdim.
Melihat fenomena tersebut, sebenarnya apakah boleh wasit mengubah keputusan yang sebelumnya telah dibuat?
Jawabannya adalah boleh. Dalam peraturan nomor 5 soal wasit, dijelaskan bahwa sang pengadil lapangan boleh mengubah peraturannya apabila menyadari bahwa keputusan yang dibuat salah. Kendati demikian, wasit tidak bisa seenaknya mengubah keputusan yang telah dibuat.
Neymar went after the referee 😡 pic.twitter.com/muSl0F0Ccp
— B/R Football (@brfootball) November 12, 2021
Ada aturan yang harus dipatuhi sebelum melakukan hal tersebut. Wasit boleh mengubah keputusan yang dibuat selama permainan belum dimulai kembali, atau laga belum berakhir.
“Wasit hanya dapat mengubah keputusannya apabila menyadari bahwa keputusan yang ditetapkan sebelumnya tidak benar atau menurut pendapatnya, berdasarkan saran asisten wasit atau ofisial keempat keputusan itu perlu diubah, asalkan wasit belum memulai kembali permainan atau belum pertandingan.”
Seperti dalam kasus yang bisa dilihat dari gol Irfan Bachdim, wasit belum sempat melanjutkan permainan meski dirinya sudah memberi pertanda untuk melakukan tendangan sudut. Karena itulah, dia yang kemudian segera sadar akan kesalahannya, langsung berkomunikasi dengan wasit lain dan mengambil keputusan dengan mengesahkan gol pemain PSS Sleman tersebut.
Hal ini akan berbeda ketika wasit sudah melanjutkan permainan dengan membiarkan PSS Sleman melakukan tendangan sudut. Bila begitu, maka wasit sudah tidak bisa mengubah keputusan yang sebelumnya dibuat.
Dalam kasus lain, kita juga kerap melihat seorang kapten dari sebuah tim melakukan protes kepada wasit. Hal ini sangat wajar dilakukan karena protes yang mereka lakukan bisa saja mengubah pikiran wasit untuk meninjau ulang keputusan yang telah dibuat, dengan catatan selama pertandingan belum dilanjutkan.
Ramos slapping Puyol in the face, Messi already on the floor, Carvalho trying to take the red card away from the referee’s hand and you know things are bad when Pepe is the quietest player in the image😂
This was prime El Classico. pic.twitter.com/HshmaOMyLa
— ogao Cyrus (@Ogao19) November 10, 2021
Satu yang perlu diingat, seorang pemain yang melakukan protes tidak boleh melakukannya secara berlebihan. Bila hal itu dilakukan, maka bukannya keputusan yang berubah namun malah dirinya sendiri yang terkena hukuman kartu.
Di momen lain, kita juga sempat melihat protes yang dilakukan Didier Drogba usai menjalani laga kontroversial antara Chelsea melawan Barcelona pada tahun 2009 lalu. Drogba yang melakukan protes tersebut terbilang percuma dan sia-sia.
‘Bottles were flying, tables were smashed, it was really crazy’: John Obi Mikel reveals how Chelsea players lost it in tunnel ‘chaos’ after Didier Drogba’s ‘f***ing disgrace’ referee rant against Barcelona in 2009. pic.twitter.com/QU8ZpbrguD
— Frank Khalid (@FrankKhalidUK) March 23, 2021
Pasalnya pertandingan telah selesai, dan menganut aturan yang diberlakukan, wasit sama sekali tidak bisa mengubah keputusannya.


