Penampilan mengesankan diperlihatkan Beckham Putra Nugraha. Pemain muda Persib Bandung itu mencetak brace ke gawang Bali United. Tak cukup hanya satu, Beckham mencetak dua gol perdana di saat Persib Bandung ditahan imbang Bali United di lanjutan BRI Liga 1 musim 2021/22.
Pemain 19 tahun itu hanya contoh kecil pemain muda berbakat yang mengarungi BRI Liga 1. Banyak klub-klub di Indonesia yang bahkan kini diperkuat oleh para pemain muda. Bali United punya Komang Tri Arta, bek yang masih 19 tahun; dan Kadek Dimas seorang striker muda yang siap menjadi pelapis Ilija Spasojevic atau Stefano Lilipaly.
PSIS Semarang yang kini performanya sedang naik daun itu juga tak bisa lepas dari peran pemain muda, seperti Alfeandra Dewangga (20 tahun), Damas Damar (20 tahun), sampai Pratama Arhan (19 tahun). Persija Jakarta juga tak kekurangan pemain muda yang dibawa ke BRI Liga 1.
Waiting is over, PSIS Semarang reach agreement with Alfeandra Dewangga. Indonesia U19 National Team defender became the first PSIS Semarang signing to be announced this season. 💙🔥#WelcomeDewa19 #PSIS #YohIsoYoh pic.twitter.com/jKRdt5ovZz
— PSIS (@psisfcofficial) January 15, 2020
Macan Kemayoran kini diperkuat pemain muda seperti Alfrianto Nico (18), Salman Alfarid (19), Braif Fatari (19), sampai Taufik Hidayat (21). Barito Putera apalagi. Selain wingback muda andalan Timnas Indonesia, Bagas Kaffa, Barito juga diperkuat Lutfi Kamal (23), Rafi Syarahil (20), sampai Muhammad Riyandi (21). Masih kurang?
Persikabo 1973 atau TIRA Persikabo juga tak kalah dihuni pemain muda. Nama-nama seperti Hanis Saghara (21), Firza Andika (22), sampai Andre Oktaviansyah (18) ikut memperkuat Laskar Padjajaran. Kita juga bisa menambahkan nama Fajar Fathurahman (19) dan Komang Teguh (19) di skuad Borneo FC. Tentu kalau dirunut masih banyak lagi, dan bisa pembahasannya habis hanya untuk menyebut satu-satu pemain muda yang berlaga di Liga Indonesia.
Pagi Ini, Pemain Muda Borneo FC Jalani Latih Tanding Dengan Tim Lokal Jogja Untuk Mendapat Tambahan Jam Bermain. MANYALA 🔥#BorneoFC #SMR pic.twitter.com/SgK6ywySNP
— Borneo FC Samarinda (@BorneoSMR) June 12, 2021
Banjirnya pemain-pemain muda yang tampil di Liga Indonesia selain membuat kompetisi jadi lebih menarik, juga ini menjadi semacam penanda kalau sepak bola Indonesia akan menuju yang lebih baik. Nggak usah lah kalian tanya “Memangnya dulu nggak baik?”. Kita tak usah mengingat-ingat masa lalu juga, anggap saja sepak bola Indonesia sedang menapaki jalan mulus yang selama ini tak keurus karena pengurusnya tak becus.
Well, kehadiran pemain-pemain muda di klub-klub Indonesia menimbulkan satu pertanyaan. Dari mana klub-klub tersebut mendapat para pemain muda? Apa startegi yang dipakai? Pertanyaan itu tentu saja muncul karena banyak yang mengira kalau klub-klub di Indonesia masih merusut dari kata profesional.
Dennis Wise, legenda Chelsea sekaligus pernah menjadi direktur teknik Garuda Select mengatakan, pembinaan usia muda di klub-klub Indonesia terkesan buruk. Jika kita prihatin pada kondisi negara, Dennis Wise justru merasa perlu menaruh rasa keprihatinannya pada pembinaan klub-klub di Indonesia. Katanya, hanya ada dua klub yang serius membangun fasilitas akademi dan melakukan perubahan.
Kalau begitu bagaimana caranya klub-klub di Indonesia mendapat pemain muda? Apa mungkin dengan cara menggosok-gosok lampu ajaib kemudian keluar jin dan meminta pemain muda? Ah tentu saja tidak.
Menerapkan Pemandu Bakat atau Scout
Sebetulnya perkembangan klub-klub di Indonesia tak selambat perekonomian dalam negeri. Pun tak selambat apa yang kita pikirkan. Banyak klub yang mulai sadar bahwa pemandu bakat atau scout adalah bagian terpenting kalau ingin menjadi klub sepak bola profesional.
Mungkin sudah banyak yang tahu kalau Persija Jakarta dan Persib Bandung memiliki semacam pemandu bakatnya masing-masing. Maka lebih baik kita tepikan dulu sejenak dua klub itu. Mari kita ambil contoh yang jarang dibahas saja.
Adalah PSIS Semarang yang mulai gencar dengan pemandu bakat. Setelah memiliki PSIS Development, Laskar Mahesa Jenar tampaknya serius untuk melakukan pembinaan usia dini. Keseriusan itu tak sekadar kembang lambe, tapi ditunjukkan dengan dibangunnya pusat pelatihan.
PSIS Development bahkan mengambilalih Stadion Citarum, Semarang untuk menjadikannya pusat pelatihan pengembangan bibit-bibit pemain muda. Targetnya anak-anak usia 6-18 tahun. Tak perlu sampai puluhan tahun untuk melihat hasilnya.
Kini, PSIS Semarang menjadi tim hebat yang dihuni para pemain muda. Laskar Mahesa Jenar bisa melaju hingga partai perempat final di ajang Piala Menpora 2021. Bukan itu saja, para pemain PSIS, khususnya usia muda juga terangkat namanya. Sebutlah sosok Pratama Arhan, Farrel Arya, Eka Febri Yoga, dan tentu saja Alfeandra Dewangga.
A wild opinion, as the emerging our own rising youth exponents is now become a trend, can we go into a campaign with only one or two expatriates or even without them at all.
Discuss 🤔
Source : @psisfcofficial / IG : psisdevelopment pic.twitter.com/iQeErUNlhg— The Daily PSIS 🇬🇧 (@ThePSISEnglish) March 26, 2021
Mengambil dari SSB
Tak semua klub di Indonesia mempunyai scout, maka yang sering dilakukan adalah mencomot pemain-pemain dari Sekolah Sepak bola (SSB) yang ada di Indonesia. Mengingat jumlah SSB di Indonesia sangat menjamur. Catatan tahun 2010 saja jumlah SSB di 33 provinsi mencapai 1978.
Nah, klub dalam negeri acap kali tinggal mencomot para pemain muda dari SSB di tiap-tiap daerah. SSB-SSB di Indonesia hampir tak pernah kehilangan talenta muda. Sebut saja sosok Egy Maulana Vikri dan Muhammad Hargianto yang alumni SKO Ragunan, SSB milik DKI Jakarta.
Jika kamu pernah menonton film “Garuda 19” tentu akrab dengan nama Desa Tulehu. Ya, Tulehu adalah salah satu desa di Ambon yang menghasilkan para talenta-talenta hebat. Hal itu karena di Tulehu tersebar banyak SSB.
Ada empat SSB yang dianggap besar di Tulehu. Keempat SSB itu adalah SSB Tulehu Putra, SSB Hurnala Putra, SSB Maehanu, dan SSB Nusa Ina. Nama-nama seperti Abduh Lestaluhu, Rizki Pellu, sampai Yabes Roni Malaifani lahir dari daerah ini.
L-R Ngurah Nanak (Hindu), Yabes Roni (Christian) and Miftahul Hamdi (Muslim) from Indonesian club Bali United FC, celebrate a goal in their own way… The club posted this pic four years ago, with the caption, “Different beliefs will not prevent us from achieving the same goals.” pic.twitter.com/GIjElTugg3
— George (@VijayIsMyLife) June 11, 2021
Maka dari itu, peran SSB dalam sepak bola Indonesia sangatlah penting. Bahkan kalau ditakar-takar, peran SSB porsinya jauh lebih besar daripada PSSI untuk pengembangan sepak bola di dalam negeri. Ketua Umum Asosiasi Sekolah Sepak bola Indonesia (ASSBI), Taufik Jursal Effendy bahkan menulis, seumpama sepak bola Indonesia ingin bangkit kuncinya ada pada SSB.
Membeli Pemain Muda Asing
Masyarakat Indonesia tentu sangat menyukai mi instan. Nyaris tidak ada satu pun warga +62 yang nggak doyan mi instan. Mi instan malah menjadi salah satu kuliner yang memang sangat nusantara. Pun kalau ada satu cara yang teruji klinis mampu membuat seseorang kaya secara instan, tentu banyak warga Indonesia yang berebut.
Maka bukan mustahil jika Dimas Kanjeng Taat Pribadi memiliki banyak pengikut. Namun pada kenyataannya bukan hanya soal penghidupan dan kuliner saja yang instan. Di ranah sepak bola Indonesia, sesuatu yang instan tentu lebih menggiurkan.
Wajar saja apabila masih banyak klub-klub Indonesia yang menyukai jalur instan. Bahkan hal itu juga diterapkan pada perekrutan pemain muda. Masih banyak klub di Indonesia yang justru membeli pemain muda asing. Mari kita menuju ke contohnya.
Arema FC tahun 2020 telah mengontrak Hugo Guilherme Corre Grillo, pemain 18 tahun asal Brazil. Singo Edan juga merekrut satu lagi pemain Brazil, Pedro Henrique Bartoli yang berusia 19 tahun. Bukan hanya Arema yang mendatangkan pemain muda dari luar.
Pedro Henrique Bartoli Jardim dan Hugo Gilherme Correa Grillo. Dua pemain muda asal Brazil mengikuti latihan Arema. Statusnya masih berlatih bersama. pic.twitter.com/u3KoeWBnc7
— Ongisnade (@OngisnadeNet) August 18, 2020
Madura United juga turut mendatangkan pemain muda dari Brazil, Robert Junior Rodrigues Santos. Persija Jakarta tak mau ketinggalan. Pada 2020, Macan Kemayoran juga mendatangkan dua pemain muda yang baru berumur 19 tahun asal Brazil: Thiago Apolina Pereira dan Maike Henrique Irine De Lima.
Tentu tak masalah bila klub di Indonesia memilih mendatangkan pemain muda dari luar negeri. Namun, jika hal itu diketahui publik mungkin akan menjadi ontran-ontran. Publik boleh jadi akan menyindir klub-klub tersebut karena tak mau, tak becus, atau tak sanggup mendapatkan pemain muda lokal.
Kendati problem sesungguhnya lebih kompleks daripada itu. Klub yang memilih membeli pemain muda dari luar negeri dan mengabaikan potensi lokal seolah alpa terhadap SSB. Padahal SSB kan sudah menjamur. Hal itu juga tak senada dengan sepak bola modern yang mulai menerapkan sistem scouting atau pemandu bakat. Namun, sekali lagi perlu ditekankan, bahwa dari tadi yang kita bahas adalah sepak bola Indonesia.
Sumber referensi: skor.id, bolasport.com, tirto.id, fandom.id, bolanusantara.com, medcom.id, tempo.co.


