Gelar Juara Inter Milan yang Ditelan Krisis Keuangan

spot_img

Kompetisi Serie A musim lalu telah resmi menyambut juara baru dalam diri Inter Milan. Klub asuhan Antonio Conte mampu mengandaskan perlawanan Juventus yang dalam nyaris sepuluh tahun lamanya berhasil kuasai kompetisi tertinggi Italia.

Apa yang dicapai Inter ketika itu jelas menjadi sesuatu yang sangat menggembirakan. Terlebih, gelar juara terakhir yang diraih Inter terjadi dalam sepuluh tahun sebelumnya.

Namun ternyata, keluar sebagai juara Serie A bagi Inter Milan hanya menjadi kenikmatan sesaat. Dikala pelatih Antonio Conte dikabarkan baru ingin meminta manajemen untuk menyuntikkan dana guna memperkuat skuad yang ada, pria asal Italia itu tiba-tiba mengumumkan kabar pengunduran dirinya dari klub.

Semua tentu bertanya, ada apa dengan Inter? Ternyata, Conte merasa tidak sejalan dengan rencana klub yang justru ingin menjual sejumlah pemain Inter Milan. Hal itu dilakukan untuk menutup masalah keuangan di era pandemi. Sejatinya Conte tak benar-benar keberatan akan hal itu. Namun masalahnya, manajemen memilih pemain yang justru menjadi andalan sang allenatore musim lalu.

Dalam hal ini, manajemen seolah menggerogoti kekuatannya sendiri dengan menjual beberapa pemain penting!

Pertama tentu Achraf Hakimi. Pemain yang berposisi sebagai bek sayap itu telah menunjukkan performa luar biasa pada musim lalu. Catatan gol dan assist nya sama-sama hebat. Namun, Inter tampak tidak memiliki solusi lain. Harga Hakimi sedang naik-naiknya. Praktis mereka menaruh nama eks bintang Borussia Dortmund tersebut dalam daftar jual, dengan nama Paris Saint Germain menjadi peminat paling serius.

Baru semusim berseragam Inter Milan, Hakimi resmi dilepas ke PSG dengan nilai sebesar 60 juta euro atau setara lebih dari 1 triliun rupiah. Dana tersebut tentu digunakan untuk meringankan beban keuangan yang tengah dialami klub.

Nama selanjutnya, yang benar-benar membuat para penggemar Inter Milan kesal, adalah Romelu Lukaku. Menjadi sebuah kabar yang mengejutkan bila pada akhirnya Lukaku putuskan pergi tinggalkan Inter Milan. Bintang asal Belgia tersebut memiliki dua musim yang sangat luar biasa di Inter. Selain mampu persembahkan gelar, Lukaku juga mampu mencetak banyak sekali gol dan selalu menjadi andalan di lini depan.

Lebih lagi, eks pemain Manchester United tersebut sempat menyatakan bahwa dirinya akan bertahan di Inter Milan.

Namun, jurnalis kenamaan asal Italia, Fabrizio Romano, telah berkicau bahwa Lukaku telah menyepakati kontrak untuk gabung Chelsea dengan biaya sebesar 115 juta euro atau setara 1,9 triliun rupiah.

Penjualan ini lagi-lagi terjadi karena Inter Milan memang membutuhkan banyak dana untuk menstabilkan keuangan klub.

Salah Suning?

Biang dari masalah yang tengah terjadi di kubu Inter saat ini banyak dikerucutkan pada sang pemilik klub, Suning Group. Mereka dinilai tak becus dalam mengelola tim dengan apa yang menimpa Inter saat ini.

Sejumlah pihak yang masuk ke dalam jajaran manajemen Inter saat ini mengatakan bila sejatinya Suning hadir di tim dengan penuh antusias. Tepat pada 2016 lalu, Suning telah mengucurkan dana sekitar 270 juta euro atau setara 4,5 triliun rupiah untuk Inter.

Dengan gelontoran dana sebesar itu tentu klub termasuk penggemar menyambutnya dengan sangat baik. Meski beberapa kali melakukan transfer yang dianggap aneh, perlahan tapi pasti, Suning berhasil membuktikan kapasitasnya. Ada kemajuan secara teratur yang diperlihatkan Inter dalam beberapa tahun berikutnya. Hal ini salah satunya bisa dilihat dari konsistensi La Beneamata yang kembali bersaing di papan atas klasemen.

Dengan mulai stabilnya kekuatan klub, pemain menjanjikan mulai berdatangan, termasuk Romelu Lukaku, Lautaro Martinez, Stefan de Vrij, sampai pada penunjukan pelatih Antonio Conte.

Hasil yang paling terlihat dari keseriusan manajemen dalam membangun tim tentu satu trofi Serie A yang berhasil dipersembahkan.

Namun, di tengah proses pembangunan yang masih terus dilakukan, pandemi yang tiba-tiba datang melanda dunia langsung menghantam beberapa sektor, tak terkecuali bisnis Suning Group yang mengalami masalah. Tekanan bertambah usai pemerintah China melarang perusahaan disana berinvestasi besar ke luar negeri.

Masalah yang dialami Suning sudah temui salah satu puncaknya ketika klub Cina, Jiangsu Suning, resmi bubar meski baru saja memenangkan gelar liga. Malah, gaji staf dan pemain dilaporkan belum terbayar selama delapan bulan lamanya.

Perlahan, permasalahan di China mulai merambat ke Inter, dimana klub yang sebelumnya banyak mendapatkan pundi-pundi dari penjualan tiket stadion, kini hanya mengandalkan hadiah kompetisi hingga hak siar, yang dianggap tidak mampu menutup biaya operasional klub.

Di tengah krisis keuangan yang terjadi, Suning masih terus bertahan untuk memegang saham mayoritas Inter Milan. Sebetulnya hal ini sah-sah saja dilakukan, mengingat dari segi bisnis, mereka tentu menginginkan imbalan setimpal dengan apa yang sebelumnya telah mereka keluarkan.

Suning mulai memaksa manajemen mengurangi gaji staf hingga pemain, dan juga meminimalisir pengeluaran yang salah satunya tentu datang dari pembelian pemain. Cara lain yang dilakukan adalah mereka mengusahakan bantuan dari Oaktree Capital sebesar 275 juta euro atau setara 4,6 triliun rupiah, dengan catatan Suning harus mampu mengembalikannya dengan bunga dalam waktu tiga tahun.

Bila tidak terbayar, maka otomatis saham mayoritas klub akan berpindah tangan ke Oaktree Capital, yang nantinya bakal jadi pemilik baru.

Satu hal yang perlu diingat adalah, Suning kudu menyadari bila klub harus segera diselamatkan. Apalagi sudah banyak penggemar yang tampak muak dengan “menyerang” pemilik klub melalui media sosial. Selain itu, orang-orang yang selalu setia mendukung klub itu juga sudah melakukan berbagai bentuk protes terhadap aktivitas transfer klub yang melepas sejumlah pemain pilar.

Menanggapi permasalahan ini, CEO Beppe Marotta telah memberikan pendapatnya tentang sifat sepak bola modern dari perspektif keuangan. Dia mengatakan bila Suning telah mengupayakan banyak hal untuk lepas dari jeratan ini.

Pandemi memang menyebabkan semuanya jadi lebih rumit. Marotta sendiri, dengan banyak pengalaman di belakangnya, telah menyatakan kesiapannya untuk menghadapi tantangan baru demi menyelamatkan klub.

Apapun keputusan yang nantinya diambil, beberapa pihak terkait sangat berharap bila itu akan saling menguntungkan. Bila Suning dipaksa untuk melepas saham mayoritas klub, tentunya klub juga ingin pemilik barunya punya keseriusan dalam membangun tim. Tidak cuma yang bermodalkan dana besar meski itu sangat dibutuhkan, apalagi mereka yang sampai berniat untuk mengambil keuntungan pribadi dari klub setiap tahunnya.

Sumber referensi: the sport grail, fandom id, bola, sempre inter

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru