Meski Sudah Tua, Bonucci & Chiellini Bisa Jadi Duo Bek Terkokoh Di EURO 2020

spot_img

Timnas Italia menampilkan permainan yang sangat menghibur pada gelaran Piala Eropa 2020 kemarin. Leonardo Spinazzola, yang meski pada akhirnya harus mengakhiri turnamen lebih cepat karena cedera, berhasil menunjukkan kemampuannya sebagai seorang full back handal. Tak hanya lihai dalam bertahan, beberapa akselerasinya sepanjang laga juga berhasil membuat serangan Italia kian garang.

Kemudian ada Lorenzo Insigne dan juga Federico Chiesa, yang juga menunjukkan performa gemilang sepanjang gelaran. Satu yang tak boleh tertinggal adalah tentang bagaimana pertunjukkan menyenangkan Marco Verratti di lini tengah. Pemain Paris Saint Germain itu berhasil memotong segala serangan sekaligus menjadi penghubung yang baik antara lini belakang dan lini depan.

Namun, dibalik kegemilangan timnas Italia di gelaran Euro 2020, mereka juga harus berterima kasih kepada dua sosok berpengalaman yang menjaga lini pertahanan.

Adalah Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini.

Dua pemain yang memang sudah ahli dalam memahat tembok di lini pertahanan itu berhasil menjaga wilayah Italia tetap aman. Tak ada serangan berarti atau bahkan ledakan yang sampai menghancurkan aset berharga mereka. Sepanjang gelaran Euro, Italia hanya kebobolan sebanyak empat kali dari tujuh pertandingan.

Berkat kontribusi yang salah satunya diciptakan oleh duet Bonucci dan Chiellini itu pula, Italia berhasil ciptakan 291 ball recoveries, 19 blok, dan 90 sapuan bersih.

Dalam pertandingan pembuka melawan Turki, dimana skuad asuhan Roberto Mancini berhasil menang dengan skor 3-0, Chiellini dan Bonucci berhasil tampil kalem dengan menunjukkan sejumlah tekel penting. Kemudian yang tak kalah menarik adalah tentang bagaimana duet Bonucci dan Chiellini berhasil meredam serangan yang dilakukan para pemain Belgia.

Di babak perempat final, pertahanan Italia menampilkan sebuah pertunjukkan berkelas dengan hanya kebobolan satu gol saja. Itu pun hasil dari tendangan 12 pas. Duet Bonucci dan Chiellini di jantung pertahanan Italia sukses meredam agresivitas lini serangan Belgia yang dikomandoi Romelu Lukaku. Menurut catatan whoscored, Bonucci mampu membuat satu tekel sukses, memenangi dua duel udara, dan akurasi umpannya mencapai 90 persen. Sementara itu, Chiellini sukses memenangi dua duel udara dengan akurasi umpan sebesar 88 persen.

Berkat penampilan gemilang duet tersebut di laga melawan Belgia, eks bintang Jerman, Bastian Schweinsteiger, sampai mengatakan bila Bonucci dan Chiellini adalah duet bek terbaik di dunia saat ini.

Berlanjut ke laga semifinal, Bonucci dan Chiellini juga berhasil memaksa pertandingan diselesaikan melalui babak adu penalti, hingga akhirnya Italia lah yang berhasil lolos ke final. Luis Enrique, selaku pelatih Spanyol, mengakui bila duet Bonucci dan Chiellini menjadi kunci dari keberhasilan Italia. Bahkan dia sudah menyadari itu sebelum laga dimulai.

Buktinya, di laga tersebut dia memilih untuk memainkan skema false nine, dengan memilih Ferran Torres untuk mengisi peran, ketimbang memasukkan Alvaro Morata sejak awal sebagai striker murni.

Menurut catatan Squawka, Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini menjadi duet bek tengah yang tidak pernah ‘dikolongi’ alias tidak pernah dilewati dribble lawan sepanjang Euro 2020.

Di laga final melawan Inggris yang begitu ketat, Chiellini bahkan berhasil memenangi sembilan kali duel, tujuh kali memenangi perebutan bola di udara, dan tiga kali memotong umpan lawan. Di sisi lain, Bonucci mampu catatkan sebanyak enam kali sukses recoveries dan dua kali melakukan tekel.

Bahkan, Leonardo Bonucci berhasil menjadi salah satu pahlawan Italia dengan mampu menjebol gawang Jordan Pickford. Penggawa Juventus itu memanfaatkan kemelut yang berada di depan gawang Inggris. Dirinya yang berdiri bebas langsung menghampiri bola dan menyundul bola hingga Pickford gagal mengantisipasinya.

Dengan gol yang dicetak Bonucci, Italia berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 untuk kemudian melanjutkan laga sampai ke babak adu penalti.

Sejauh ini, Bonucci dan Chiellini sama-sama sudah mencapai 100 penampilan bersama Timnas Italia. Keduanya juga bermain bareng di Juventus yang mana sukses membentuk chemistry di antara mereka yang sudah tak perlu dipertanyakan lagi.

Menurut catatan The Analyst, sejak kalah dari Swedia di tahun 2017 silam, Italia belum pernah menelan kekalahan lagi ketika memainkan Bonucci dan Chiellini dalam satu pertandingan yang sama. Catatan itu benar-benar membuktikan bahwa duet tersebut sangatlah istimewa. Bahkan banyak yang mengatakan bila hubungan antar keduanya lebih dari sekadar rekan satu tim.

“Aku mengenal Bonucci lebih dalam daripada aku mengenal istriku sendiri,” celetuk Chiellini dalam sebuah kesempatan.

Performa Mentereng Bonucci dan Chiellini Secara Keseluruhan di Euro 2020

Meski sudah tergolong tua, dimana Bonucci berusia 34 tahun dan Chiellini 36 tahun, secara keseluruhan mereka tetap mampu catatkan performa gemilang di ajang Piala Eropa kemarin.

Chiellini berhasil mencatat 2,2 sapuan, 0,6 blok, 1,1 tekel, dan 3,3 umpan panjang per sembilan puluh menit. Sementara Bonucci sukses catatkan 0,5 sapuan, 0,5 blok, 0,3 tekel, dan 6,2 umpan panjang per sembilan puluh menit.

Bonucci dan Chiellini memang telah tunjukkan performa individu yang apik.

Chiellini yang meski sudah memasuki usia lebih dari 35 tahun tetap mampu menggunakan kecerdasannya untuk menghalau serangan lawan. Dia unggul dalam duel udara, memblokir tembakan, hingga melakukan tekel sempurna di waktu yang tepat. Sundulan menjadi salah satu kemampuan terbaik yang dimiliki Chiellini. Dia berhasil menyapu bola dengan sundulan yang jumlahnya dua kali lipat dari yang dilakukan Bonucci.

Pergerakannya yang cenderung berada di sisi kiri pertahanan juga tak jarang membuatnya melaju hingga melebihi garis tengah. Lebih lanjut, Chiellini yang merupakan tipe bek yang membutuhkan kontak fisik untuk menghalau serangan lawan juga telah banyak menelan “korban”. Bentuk tubuhnya yang tinggi besar sulit untuk dihentikan.

Dalam hal ini, selain sundulan, kekuatan fisik yang dimiliki juga membantunya untuk kembali mencapai level tertinggi.

Hal ini bisa dibuktikan ketika pada tahun 2019, dia sempat mengalami cedera parah dan memaksanya untuk absen selama enam bulan lamanya. Namun Chiellini yang punya semangat juang tinggi serta punya ketahanan fisik mumpuni, mampu bangkit dan mencapai level yang lebih tinggi.

Berbekal catatan 25 pertandingan bersama Juventus musim lalu, Chiellini datang ke turnamen Piala Eropa dengan ban kapten yang melingkar di lengan kirinya.

Dia yang masih memiliki motivasi tinggi untuk meraih prestasi lalu menjadikan ajang Piala Eropa 2020 kemarin sebagai momen kebangkitan untuk kembali naik ke panggung tertinggi. Berhasil menjadi andalan sepanjang turnamen, Chiellini sempat absen pada laga penutup fase grup kontra Wales dan babak 16 besar melawan Austria karena cedera. Usai pulih, Chiellini, seperti yang sudah diduga, selalu bermain penuh pada tiga pertandingan berikutnya.

Bahkan, ia melewati laga 120 menit ketika Italia bersua Spanyol di semifinal dan Inggris pada partai final.

Dia yang sudah melakoni debut bersama timnas Italia pada tahun 2004 pun berhasil menebus kegagalan di tahun 2012 lalu dengan sebuah gelar juara di tahun ini.

Sementara Bonucci, duet terbaiknya sepanjang karir itu berhasil membuktikan diri sebagai bek yang lebih modern. Seperti yang dikatakan Barzagli dan juga pelatih Pep Guardiola, Bonucci memiliki pergerakan yang lebih efisien. Dia menunjukkan bagaimana seorang bek mampu meredam serangan lawan dengan bersih, namun tetap pada sasaran.

Bonucci memang mencatatkan lebih sedikit tekel dari Chiellini. Namun, dia memiliki jangkauan menyerang yang lebih baik. Dia tercatat telah melakukan rata-rata sebanyak 15 kali membawa bola dalam sebuah pertandingan.

Melalui umpan-umpan briliannya, Bonucci juga berhasil mengatasi ketatnya penjagaan tim lawan di lini tengah. Dirinya memiliki akurasi umpan direct mumpuni, dimana dia punya kelebihan saat memberikan umpan langsung kepada rekan yang berada di depan, baik long pass ke arah gawang maupun di sisi sayap. Tercatat, Bonucci telah melakukan sebanyak 42 operan ke sepertiga akhir lapangan sepanjang turnamen.

Bonucci memiliki segala aspek sebagai seorang bek tengah, yakni bertahan yang kuat, penguasaan bola, dan mental yang kukuh saat mendapatkan tekanan.

Namun meski memiliki karakter yang berbeda dari Chiellini, Bonucci mengaku tetap nyaman ketika diduetkan dengan sosok yang dua tahun lebih tua darinya itu.

Lantas bagaimana kedua pemain tersebut kemudian bisa menjadi klop, khususnya pada gelaran Piala Eropa 2020 kemarin?

Kunci Keberhasilan Bonucci dan Chiellini

Ketika sudah tampil dalam lebih dari 300 pertandingan secara bersama-sama, tidak sulit rasanya untuk memahami satu sama lain. Menurut Chiellini yang berbicara kepada Sky Sport, mereka saling mengeluarkan kemampuan terbaik untuk menghindari kebobolan.

Chiellini sadar betul bila dia memiliki karakter yang berbeda dari Bonucci. Tapi justru perbedaan itulah yang pada akhirnya menghasilkan kombinasi terbaik.

“Setiap orang memiliki peran dan karakteristik,”

“Leo (Bonucci) dan aku berbeda dan kami mencoba memanfaatkan kualitas kami dengan cara terbaik.”

Menurut Chiellini, selain berusaha untuk mengeluarkan kemampuan terbaik, keduanya juga saling memahami dan mencoba melengkapi. Ketika satu pemain keluar untuk memblokir tembakan, maka pemain lain akan tetap berada di belakang untuk menyapu atau memblokir opsi operan yang kemungkinan dilakukan pemain lawan.

Lalu ketika yang satu membawa bola ke depan, maka satu yang lain akan tetap berada di belakang untuk menghentikan serangan lawan bila bola hilang dari penguasaan.

Sebagai penutup dari narasi dua bek terhebat dunia saat ini, perkataan Jose Mourinho mungkin bisa mewakili seluruhnya. Pria yang kini kembali ke Italia untuk tangani AS Roma itu berujar,

“Bonucci dan Chiellini harus pergi ke perguruan tinggi untuk memberi pelajaran tentang bagaimana cara menjadi bek tengah.”

Sumber referensi: nytimes, kompas, news-block, sport detik

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru