Kisah dan Sejarah Unik Dibalik Julukan Semifinalis Euro 2020

spot_img

Ajang Euro 2020 telah menyelesaikan babak semifinal. 2 tim pemenang memastikan diri melaju ke partai final, sementara 2 tim yang kalah harus rela angkat koper. Meski babak semifinal sudah selesai digelar dengan Inggris dan Italia keluar sebagai pemenangnya, tetapi ada kisah menarik dari para semifinalis yang sayang bila dilewatkan.

Seperti yang kita ketahui, 4 tim yang lolos ke partai semifinal adalah Italia, Spanyol, Inggris, dan Denmark. Keempatnya punya sejarah panjang dalam persepak bolaan dunia, khususnya di Eropa. Selain punya sejarah yang unik, mereka juga punya julukan khas yang punya asal-usul unik dan berbeda satu sama lain.

 

Italia – Gli Azzurri

Yang pertama adalah Italia. Negara tersebut punya bendera nasional yang terdiri dari 3 warna, hijau, putih, dan merah. Lazimnya, corak jersey tim nasional sepak bola sebuah negara juga tak jauh dari warna bendera nasional negara tersebut. Begitu pula dengan julukan tim tersebut.

Namun Italia berbeda. Seperti yang kita tahu, jersey utama timnas Italia berwarna biru. Padahal warna tersebut takada dalam bendera mereka. Begitu pula dengan julukan mereka, ‘Gli Azzurri’. Bila diterjemahkan secara sederhana memiliki arti ‘The Blues’ atau ‘Si Biru’. Sebuah julukan yang kurang menakutkan bila diartikan secara langsung. Lalu, dari mana pula asal warna biru itu?

Untuk mengetahuinya, kita perlu mundur ke awal abad 20 dimana negara Italia masih berbentuk monarki yang dipimpin oleh seorang raja atau ratu. Keluarga kerajaan yang dulu memerintah Italia pada saat itu adalah ‘House of Savoy’ atau ‘Wangsa Savoy’ atau dikenal juga sebagai ‘Casa Savoia’ di Italia.

Wangsa Savoy termasuk keluarga kerajaan tertua di dunia. Keluarga kerajaan tersebut adalah yang memimpin unifikasi atau penyatuan Italia pada 1860. Mereka memimpin Italia hingga akhir perang dunia kedua pada 1946.

Warna resmi dari Wangsa Savoy adalah biru. Warna keluarga kerajaan itulah yang diadopsi timnas Italia sejak 1910. Warna biru atau ‘Azzurri’ itu melambangkan persatuan dan terus dipakai hingga sekarang meski Wangsa Savoy sudah tidak memimpin Italia setelah negara tersebut menjadi republik pasca terjadinya referendum.

Meski terkesan biasa, namun makna ‘Gli Azzurri’ sebenarnya sangat mendalam dan penuh dengan sejarah. Italia adalah Azzurri dan kata Azzurri itulah yang mampu menyulut api gairah para pendukung timnas Italia. Jangan sekali-kali mempermainkan kata tersebut, sebab Azzurri bukan sekadar punya arti biru, tetapi juga punya makna persatuan bagi bangsa Italia. Itulah sebabanya timnas Italia tak punya julukan lain selain ‘Gli Azzurri’.

 

Spanyol – La Furia Roja

Kasus timnas Italia dengan julukan ‘Gli Azzurri’ kontras dengan julukan lawannya di semifinal, Spanyol. Seperti yang kita ketahui, timnas Spanyol punya julukan ‘La Furia Roja’ atau ‘The Red Fury’ yang berarti ‘kemarahan si merah’.

Julukan tersebut terinspirasi dari tragedi ‘Sack of Antwerp’ atau yang juga dikenal sebagai ‘Spanish Fury’. Sebuah tragedi kelam pada Oktober 1576 di mana pasukan tentara pemberontak dari Spanyol menjarah, menghancurkan, dan membakar kota Antwerp di Belgia. Tragedi penjarahan tersebut berlangsung selama 3 hari dan menewaskan ribuan penduduk kota.

Namun dalam sumber yang lain, julukan ‘La Furia Roja’ terinspirasi dari seorang Jose Maria Belauste, pemain timnas Spanyol di Olimpiade Musim Panas 1920. Di pertandingan melawan Swedia, Belauste dilaporkan meneriaki kepada rekan setimnya Sabino Bilbao sebelum mencetak gol penyama kedudukan.

Ia berteriak, “Kirimkan saya bola itu, Sabino, saya akan menghancurkan mereka!”. Keesokan harinya, sebuah surat kabar Belanda mengeluarkan tajuk yang berjudul: “La furia espanola” atau “The Spanish Fury” yang merujuk pada gaya dan cara bermain Belauste di laga tersebut.

Selain julukan ‘La Furia Roja’, julukan lain yang paling terkenal dari timnas Spanyol adalah ‘La Roja’. ‘La Roja’ menjadi julukan yang paling sering disuarakan pendukung Spanyol. ‘La Roja’ berarti ‘si merah’. Bagi mereka, merah adalah lambang gairah, kekuatan, dan kemarahan Spanyol.

Di Indonesia, timnas Spanyol juga sering dijuluki Tim Matador yang merujuk pada festival adu banteng atau pertunjukan pertarungan manusia melawan banteng. Meski matador terkesan keras dan brutal, tetapi dalam budaya Spanyol, matador adalah sebuah warisan budaya yang penting di negara tersebut.

Selain itu, julukan matador dalam timnas Spanyol digunakan untuk menggambarkan gaya sepak bola Spanyol yang penuh gairah dan romantis. Sungguh tidak disangka bukan?

 

Inggris – The Three Lions

Jika Italia dan Spanyol punya julukan yang mirip dengan warna jersey yang mereka pakai, lain ceritanya dengan timnas Inggris. Seperti yang kita ketahui, timnas Inggris dijuluki ‘The Three Lions’ atau tiga singa. Penyebabnya sangat mudah kita ketahui.

Julukan ‘The Three Lions’ merujuk logo FA atau Asosiasi Sepak Bola Inggris yang bergambar tiga ekor singa bertumpuk. Lalu, pertanyaannya, bagaimana asal mula lambang tiga singa bisa dipakai Inggris hingga sekarang?

Berdasarkan sejarahnya, asal mula ‘The Three Lions’ berasal dari era kekuasaan Richard the Lionheart atau Raja Richard I yang berkuasa pada 1189 hingga 1199. Ia menyatukan tiga singa warisan raja-raja sebelumnya dan menjadikannya simbol negara Inggris yang terus digunakan hingga sekarang.

Selain karena sejarahnya, singa juga dianggap sangat merepresentasikan Inggris. Pasalnya, singa melambangkan keberanian, kekuatan, dan martabat. Lambang tersebut kemudian diadopsi sebagai logo FA sejak mereka berdiri pada 1863. Namun, tiga singa baru dipakai timnas Inggris pada saat bertanding melawan Skotlandia pada 1872.

Sejak saat itulah, “The Three Lions” jadi ciri khas yang tak terpisahkan dari sejarah sepak bola Inggris. Meski sempat mengalami perubahan, logo terbaru FA bergambar tiga singa bertumpuk yang berwarna biru dan terdapat 10 aksen mawar tudor di antaranya.

Mawar tudor sendiri merujuk pada Perang Mawar antara keluarga Yorkshire dan Lancashire pada abad ke-15. Adapun alasan adanya 10 buah mawar adalah sebagai lambang pembagian wilayah Inggris. Warisan sejarah itulah yang jadi sebab “The Three Lions” menjadi lambang FA dan menjadi satu-satunya julukan bagi timnas Inggris.

 

Denmark – Danish Dynamite

Kisah unik juga ditorehkan semifinalis Euro 2020 lainnya, Denmark. Timnas Denmark sejatinya punya julukan ‘The Red and White’ yang merujuk pada corak bendera nasional dan jersey utama mereka yang berwarna merah dan putih. Namun tim ini juga kita kenal dengan julukan ‘Danish Dynamite’ atau Tim Dinamit.

Banyak yang mengira kalau julukan ini muncul pasca keikutsertaan Denmark di Piala Eropa 1992. Padahal, julukan tim dinamit sudah ada sejak sebelum mereka menggemparkan Eropa dengan menjadi kampiun Euro 1992.

Sedekade sebelum kemenangan bersejarah itu, timnas Denmark adalah kesebelasan yang sangat ditakuti, baik di Eropa bahkan dunia. Itu terjadi di era pelatih visoner asal Jerman, Sepp Piontek yang menjabat pada 1979 hingga 1990. Pada saat itu, Denmark dikabarkan bermain dengan gaya ultra-menyerang yang sangat menarik dalam sejarah sepak bola.

Di era pertengahan 80an itu, timnas Denmark dihuni banyak pemain kelas dunia, seperti Michael Laudrup, Frank Arnesen, Preben Elkjaer, dan Morten Olsen. Skuad mengerikan itu banyak dibandingkan dengan skuad Belanda asuhan Rinus Michels pada era 70an yang terkenal dengan taktik total football-nya.

Skuad Denmark asuhan Sepp Piontek kala itu berhasil lolos ke Piala Dunia pertamanya di edisi 1986. 2 tahun sebelumnya, tepatnya di ajang Euro 1984, mereka tampil luar biasa selama babak kualifikasi dan lolos ke turnamen internasional pertamanya sejak 1964.

Di Euro 1984, Denmark berhasil mencapai babak semifinal. Di ajang itulah mereka mendapat julukan ‘Danish Dynamite’. Julukan tersebut berasal dari nyanyian para suporter Denmark sendiri. Para pendukung Denmark menyanyikan lagu dukungan di mana dalam salah satu liriknya berbunyi: “they were red, they were white, they were Danish Dynamite.”

Sejak saat itulah timnas Denmark dijuluki ‘Danish Dynamite’ atau tim dinamit. Sayang, di era itu, hasil terbaik tim dinamit hanyalah mencapai 16 besar Piala Dunia 1986 dan menjadi semifinalis Euro 1984.

Julukan tim dinamit sendiri sempat meredup pasca kegagalan mereka lolos ke Piala Dunia 1990 dan terhenti di babak grup Euro 1988. Julukan ‘Danish Dynamite’ kemudian baru bergema kembali saat Denmark menjadi kampiun Piala Eropa 1992. Kala itu, Denmark sejatinya tak lolos babak kualifikasi dan datang sebagai tim pengganti setelah Yugoslavia didiskualifikasi.

Tergabung di grup neraka bersama tuan rumah Swedia, Prancis, dan Inggris, Denmark lolos ke babak gugur Euro 1992 sebagai runner-up. Di fase gugur, mereka menumbangkan Belanda dan secara ajaib berhasil mengalahkan favorit juara Jerman 2-0 di partai final. Sejak saat itulah, julukan tim dinamit terus melekat dan jadi bagian tak terpisahkan dari timnas Denmark.

Itulah kisah dan sejarah unik dibalik julukan para semifinalis di Euro 2020.
***
Sumber Referensi: Gentlemanultra, Tempo, Kompas, The Guardian, BBC, Antwerpendoorgrond, Elmundo.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru