Nuno Espirito dan Hasrat Tottenham Hotspur Keluar dari Zona Medioker

spot_img

Ejekan spursy sangat melekat pada Tottenham Hotspur. Tim ini boleh jadi dibentuk menjadi tim medioker. Lantaran Spurs sudah tak pernah menjuarai turnamen mayor sejak kurang lebih seabad yang lalu. Kata spursy bahkan masuk ke dalam entri Urban Dictionary, yang artinya ‘secara konsisten dan pasti gagal memenuhi ekspektasi’.

Benar sekali, Spurs boleh dibilang menjadi satu-satunya tim di Liga Inggris yang bakal menjuarai lomba paling mengecewakan. Satu-satunya prestasi yang mampu diraih tim London Utara adalah menjadi “kandidat juara”. Spurs selalu gagal di partai-partai menentukan. Tim-tim besar sampai tim yang nggak besar-besar amat berkali-kali membuat The Lilywhites konsisten dengan gelar “kandidat juara”.

Satu-satunya prestasi Spurs dan berhasil mengukir tinta emas dalam sejarah tim, adalah kala di bawah asuhan Mauricio Pochettino. Spurs berhasil lolos ke partai final, setelah comeback dengan epik saat menghadapi Ajax di semifinal. Tapi Spurs justru bermain antiklimaks di final, dan dua gol dari kaki Mo Salah dan Origi menyudahi perlawan Spurs atas Liverpool.

Sebetulnya, kedatangan Jose Mourinho sepeninggal Pochettino bikin fans punya harapan yang tinggi. Bahwa tim itu akan sukses ditangan eks pelatih Real Madrid. Tapi pada kenyataannya, kecemerlangan Mou belum cukup membuat Spurs keluar dari zona medioker. The Lilywhites konsisten berada pada jalur “nyaris juara”.

Rekor buruk Spurs berlanjut. 14 Januari 2021, Spurs ditahan imbang Fulham 1-1. Dan pada 31 Januari 2021, Spurs justru tersungkur 0-1 di hadapan Brighton. Spurs semakin mematenkan gelar medioker saat kalah di partai final Carabao Cup dari Manchester City, April lalu. Gol Laporte berhasil membuat The Lilywhites yang kala itu dilatih Ryan Mason, tersungkur untuk kesekian kalinya di partai final.

Lalu pada 1 Juli 2021, chairman Spurs, Daniel Lavy mengumumkan Nuno Espirito Santo menjadi pelatih Spurs. Pelatih 47 tahun asal Portugal itu telah meneken kontrak hingga 2023 mendatang. Nuno adalah pilihan yang tak terduga, setelah nama-nama kaliber Gennaro Gattuso, Antonio Conte, Julen Lopetegui, hingga Paulo Fonseca jadi usulan. Tampaknya, eks pelatih Wolverhampton itu lebih memikat hati Levy ketimbang empat nama di atas.


“Merupakan suatu kesenangan yang luar biasa berada di sini,” kata Nuno sambil tersenyum, seperti dikutip laman resmi Tottenham Hotspur.

Sebagai seorang yang tentu tak hanya ahli dalam berbisnis, Daniel Levy pastilah tahu apa yang dibutuhkan klub, dan kenapa Nuno yang menjadi pilihan. Sejak menukangi Wolves dari tahun 2017, Nuno berhasil memenangkan gelar Championship di musim pertamanya. Nuno pulalah yang membuat Wolves selalu finis di posisi tujuh. Kendati ia gagal di tahun keempat karena hanya membawa Wolves finis di peringkat 13.

Bagaikan menemukan uang di saku celana, kedatangan Nuno sedikit memperpanjang umur Spurs di EPL, dan memunculkan kembali harapan dari para fans. Apalagi Daniel Levy yakin betul kalau Nuno cocok dengan DNA klub.

“Memiliki skuat seperti Tottenham, Anda hanya dapat memiliki satu DNA, Anda hanya dapat berpikir satu arah. Kami harus menikmati permainan, kami harus memainkan permainan. Ketika Anda memiliki skuat berkualitas, pemain berbakat seperti yang kami miliki, DNA-nya adalah untuk membuat para penggemar bangga, membuat mereka menikmati menonton,” kata dia.

Akan tetapi, Starting Eleven cenderung tak yakin kalau Nuno Espirito Santo mampu mendongkrak performa Spurs. Sekarang begini saja, bagaimana mungkin Spurs yang finis di posisi tujuh musim ini, justru merekrut pelatih yang notabene hanya mampu membawa timnya finis di bawah The Lilywhites?

Ya mungkin saja yang dilihat hanya perjalanannya. Nuno memang memiliki rekam jejak yang bagus. Ia berhasil mengangkat Wolves menjadi tim yang bukan hanya penghias EPL. Hanya saja sebuah klub yang berencana pengin lebih baik di musim depan, tentu akan mencari yang lebih baik. Lha ini Spurs malah men-downgrade dirinya sendiri.

Jika tujuannya untuk sekadar meraih trofi, mungkin Nuno Espirito ini cocok. Tentu saja bukan trofi Liga Inggris, tapi turnamen pra-musim. Spurs cukup jago di turnamen pra-musim. Terakhir, Spurs memenangi Barclays Asia Trophy tahun 2009 di Cina.

Sebetulnya nggak mau terlalu menyepelekan kemampuan Nuno. Namun teringat perkataan Sir Alex Ferguson: “Kawan, ini Tottenham.” yang melegenda itu. Spurs tetaplah spursy, dan reputasinya sebagai tim medioker seakan terkunci.

Jose Mourinho yang sukses mengangkat derajat Inter Milan dengan meraih treble bersejarah pun tak sanggup mempersembahkan trofi mayor buat Spurs. Apalagi Nuno Espirito yang tak lebih dari sebatas “junior”-nya Mou. Mungkin apa yang dimaksud kecocokan DNA Nuno dan Spurs itu bukanlah DNA untuk membuat penggemar bangga, tapi DNA untuk membikin fans kecewa.

Nuno Espirito bisa saja membawa Tottenham keluar dari zona medioker. Tapi sayangnya Spurs itu sudah terlalu spursy. Jalan keluarnya ya Nuno harus membuktikan kalau Spurs bisa juara, tak cukup sampai di final. Besar kemungkinan Nuno akan menerapkan formasi 3-4-3 seperti saat ia mendongkrak performa Wolves naik ke kasta tertinggi EPL.

Nuno bisa saja memasang Toby Alderweireld, Joe Rodon, dan Davinson Sanchez di lini belakang. Sedangkan untuk lini tengah, Nuno bisa jadi akan memasang dua wingback. Matt Doherty, pemain yang pernah bekerja sama dengannya saat di Wolves bisa menjadi pilihan untuk posisi wingback kanan, sedangkan di sebelah kiri, Nuno bisa saja mempercayakan Sergio Reguilon atau Ben Davis.

Sementara untuk posisi dua gelandang di tengah, Nuno punya banyak pilihan. Tenguy Ndombele, Giovani Lo Celso, dan Pierre-Emile Hojbjerg. Di lini tengah, Nuno bisa memasang Son Heung-Min di sayap kiri dan Lucas Moura di seberangnya, dan untuk strikernya, nama yang tak boleh ketinggalan, Harry Kane.

Jika rumor Kane bakal hengkang itu benar adanya, Nuno bisa mengantisipasi dengan memanggil eks anak asuhnya di Wolves untuk menggantikan posisi Kane. Adama Traore dan Raul Jimenez bisa jadi pilihan. Adama punya kecepatan yang luar biasa, drible yang baik, dan tubuh kokoh. Sementara Raul Jimenez punya catatan baik di Wolves. Ia berhasil mengemas 48  gol dari 110 laga.

Patut diamati bisakah Nuno keluarkan Spurs dari julukan spursy?

Sumber referensi: tottenhamhotspur.com, theathletic.com, panditfootball.com, mojok.co.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru