Turnamen akbar seantero Amerika Selatan telah resmi digulirkan. Setelah sempat terjadi banyak masalah, kompetisi itu akhirnya resmi digelar pada tahun ini. Brasil yang menjadi tuan rumah difavoritkan sebagai peraih gelar juara. Akan tetapi, rival abadi mereka, Argentina, tidak tinggal diam begitu saja. Meski dalam beberapa tahun lamanya mereka selalu gagal naik ke panggung juara, selalu ada hasrat luar biasa ketika tampil di ajang bergengsi ini.
Argentina, masih diisi oleh nama-nama hebat untuk arungi kompetisi ini. Pelatih Lionel Scaloni memanggil 28 pemain untuk taklukkan Copa America setelah mereka terakhir kali melakukannya pada 1993. Franco Armani di bawah mistar, Nicolas Otamendi, Nicolas Tagliafico, sampai Lisandro Martínez di barisan belakang, Angel Di Maria, Rodrigo De Paul, hingga Leandro Paredes di lini tengah, dipimpin oleh dua nama berkelas macam Sergio Aguero dan Lionel Messi.
Argentina’s 🇦🇷 squad for the Copa America. #CopaAmerica2021 pic.twitter.com/HcnXIGbkU7
— RouteOneFootball (@Route1futbol) June 10, 2021
Khusus Lionel Messi, penggawa FC Barcelona itu punya misi pribadi untuk bisa taklukkan trofi di level Internasional. Seperti diketahui, selain berhasil memenangkan trofi Olimpiade 2008, dia tidak mampu lagi berikan apapun untuk timnas Argentina, termasuk ketika dia gagal di partai final Piala Dunia tahun 2014.
Nama Lionel Messi dalam beberapa tahun belakangan lebih sering terkena kritik ketimbang pujian melimpah. Hal tersebut memang terasa wajar. Pasalnya, ketika tampil bersama FC Barcelona, Messi belum lagi mampu memberi trofi bergengsi semacam Liga Champions Eropa sejak terakhir kali dia lakukan pada tahun 2015. Maka ketika dia kini dituntut untuk tampil sempurna di ajang Copa America, situasi pemain kelahiran Rosario itu layaknya ikan yang baru saja diangkat dari penggorengan namun langsung dilalap oleh kobaran api yang sangat besar.
Situasi semakin rumit ketika tahu bahwa dirinya selalu gagal bersaing di ajang Copa America. Bahkan ketika itu terjadi di partai final sekalipun. Ya, kita semua menjadi saksi dari rentetan kegagalan Lionel Messi bersama timnas Argentina. Selain gelaran Piala Dunia 2006, Piala Dunia 2010, Piala Dunia 2014, dan terakhir Piala Dunia 2018, dia juga belum mampu tunjukkan taji ketika tampil di benuanya sendiri.
Is messi 2014 the biggest carry job every seen on the international stage???
Dragged a below average Argentina the whole way to a World Cup final pic.twitter.com/XD2Z3Zn1Kn— Stephen (@HavertzHive29) June 14, 2021
Daftar Kegagalan Lionel Messi di Ajang Copa America
Copa America 2007 menjadi ajang pertama baginya untuk tampil di kompetisi terbesar Amerika Selatan. Dia saat itu sudah menjadi andalan timnas Argentina, menyusul performa gemilangnya bersama FC Barcelona. Ketika itu dia selalu turun dalam enam laga dan berhasil mencetak dua gol. Namun ketika bertemu timnas Brasil di partai puncak, Tim Tango harus takluk secara telak dengan skor 3-0.
🌎🏆 Messi in Copa America
🗓️ 2007
6 games
2G 1A
Final
Best Young Player🗓️ 2011
4 games
0G 3A
Quarters (pens)
2 MOTM🗓️ 2015
6 games
1G 3A
Final (pens)
MVP, 4 MOTM🗓️ 2016
5 games
5G 4A
Final (pens)
3 MOTM🗓️ 2019
6 games
1G 1A
Semis
1 MOTM📊 Total
27 games
9G 12A
16 MOTM pic.twitter.com/ED2zmvCQKC— MessivsRonaldo.app (@mvsrapp) June 14, 2021
Kegagalan berikutnya terjadi pada tahun 2011 ketika timnas Argentina bertindak sebagai tuan rumah. Meski Messi diprediksi bakal tampil mengesankan, bayang-bayang kegagalan masih jelas terasa dalam setiap derap langkahnya.
Messi tampil mengecewakan. La Pulga hanya mencetak satu gol dalam laga adu penalti di babak perempat final kontra Uruguay. Itu pun harus membuatnya pulang lebih cepat setelah Argentina kalah dengan skor 4-5.
Yang tak kalah mengecewakan adalah ketika di ikut tampil di ajang Copa America tahun 2015 silam. Seharusnya, tahun tersebut bisa dijadikan sebagai momen pelampiasan bagi Lionel Messi setelah dia gagal membawa trofi Piala Dunia setahun sebelumnya. Namun di pertandingan pembuka melawan Paraguay, Argentina malah hanya bermain imbang 2-2. Beruntung, langkah selanjutnya berbuah manis. Di partai perempat final, mereka berhasil mengalahkan Paraguay dengan skor telak 6-1. Sayangnya, di partai puncak mereka harus mengakui kehebatan Chile, dimana Argentina kalah dalam drama adu penalti dengan skor 4-1.
6- Seis de los jugadores titulares de Chile esta tarde ante Argentina también jugaron en la final de la Copa América 2015: Claudio Bravo, Mauricio Isla, Gary Medel, Charles Aránguiz, Arturo Vidal y Eduardo Vargas. Legado. pic.twitter.com/1B3zQml4Rx
— OptaJavier (@OptaJavier) June 14, 2021
Setahun berselang, Dewi Fortuna masih belum juga berpihak kepada Messi dan kawan-kawan. Di partai final Copa America Centenario 2016 yang berlangsung di Amerika Serikat, lagi-lagi, mereka harus menelan kekalahan dari timnas Chile dalam drama adu penalti. La Roja menyingkirkan Argentina di final melalui adu penalti dengan skor 4-2 setelah kedua tim bermain tanpa gol hingga extra time.
Kekalahan tersebut menjadi yang menyayat hati bagi Messi hingga dirinya tak mampu membendung derasnya air mata.
Terbaru, usai pergi dari turnamen Piala Dunia 2018 dengan tangan hampa, Messi kembali gagal meraih asa di turnamen Copa America tahun 2019. Negara yang beribukota di Buenos Aires itu kalah di semifinal atas tuan rumah Brasil dengan skor 2-0. Mereka memang berhasil meraih peringkat ketiga setelah kandaskan perlawanan Chili dengan skor 2-1. Akan tetapi, tidak adanya gelar juara jelas menjadi penyesalan mendalam untuk kesekian kalinya.
🇦🇷 Lionel Messi has only scored 1 goal from open play in his last 16 competitive games for Argentina.
🔘 16 games
⚽ 4 goals (3 penalties)
🅰️ 3 assists(2018 World Cup, 2019 Copa América, World Cup qualifying for 2022)#EliminatoriasSudamericanas pic.twitter.com/hQg24B37Yt
— JG Fútbol (@JGFutbol10) June 9, 2021
Apalagi, di pertandingan tersebut Messi harus mengakhiri pertandingan lebih cepat setelah mendapat kartu merah, akibat sengaja mendorong Medel meski bola sudah meninggalkan lapangan.
Kesempatan Terakhir Bagi Messi
Ajang Copa America pada tahun ini pun lantas disebut sebagai yang terakhir bagi Lionel Messi. Wajar saja, Messi kini sudah berusia 33 tahun. Usia yang jelas sudah tidak muda lagi bagi seorang pesepakbola profesional.
Rasa penasaran terus menghantui dirinya. Memang benar bila dia telah memberikan sebanyak 30 trofi untuk FC Barcelona. Namun bila tidak mampu memberi satu pun gelar untuk timnas Argentina, apa artinya?
Sekali lagi, Messi tak punya banyak waktu untuk membuat Argentina bangga. Meski diprediksi dia masih punya satu kesempatan lagi di ajang Piala Dunia 2022, namun di ajang Copa America, dia benar-benar tak bisa bernafas lebih panjang. Apalagi kekuatan negara-negara dari selatan Amerika sama sekali tidak bisa diremehkan.
Lionel Messi 🇦🇷 gives Argentina the lead against Chile from a free-kick. 🎯 #CopaAmerica2021 pic.twitter.com/XzTSrLPZQ6
— RouteOneFootball (@Route1futbol) June 14, 2021
Mengomentari peluangnya untuk bisa memberikan trofi bagi timnas Argentina di ajang ini, Messi hanya bisa berharap yang terbaik.
“Ini adalah kompetisi teramat sangat istimewa bagi tim nasional. Kami sangat ingin menangi kejuaraan ini,”
“Aku sangat antusias, ingin tampil baik di sana. Aku rasa kami sudah tampil bagus di Copa America terakhir. Tapi tentu saja kami tidak boleh puas dengan itu dan ingin lebih baik lagi,” ucap Messi.
Pelatih Lionel Scaloni pun mencoba untuk terus mendukung Messi dengan mengatakan bahwa dia tidak sendiri di timnas Argentina. Ada banyak pemain dan juga pihak lainnya yang siap mewujudkan mimpinya bersama Argentina.
Peluang Timnas Argentina
Apa yang menjadi ambisi Lionel Messi memang sangat bisa dipahami. Sebab, dia yang meski berhasil berjaya bersama Barcelona belum pernah sekalipun memberi trofi Copa America atau bahkan Piala Dunia. Dia yang terus disandingkan dengan sosok Diego Maradona pun lantas harus menanggung beban yang luar biasa berat.
Beruntung, dalam edisi Copa America tahun ini, Argentina punya deretan skuad yang terbilang mumpuni. Seperti yang sudah disinggung di awal, ada nama Angel Di Maria, Lautaro Martinez, Rodrigo De Paul, sampai Sergio Aguero dan Lionel Messi itu sendiri.
Di bawah Scaloni, skema 4-3-3 masih menjadi yang terbaik bagi keseluruhan skuad Argentina. Meski tergolong luar biasa ketika memakai skema tersebut, Argentina harus tetap waspada dengan beberapa kelemahan serta fakta bahwa mereka masuk ke dalam grup yang penuh dengan kekuatan mengejutkan, seperti Chili, Paraguay, Uruguay, hingga Bolivia.
Argentina’s journey in #CopaAmerica2021 starts tonight vs Chile . Vamos Argentina 🇦🇷 , Good Luck Messi and Aguero and to the whole team !!! We have to do it ! #ArgentinavsChile pic.twitter.com/w9rOZF5ngg
— Samanway Ghose (@SamanwayGhose) June 14, 2021
Meski persaingan akan tergolong ketat, Argentina diyakini bisa masuk ke dalam dua besar. Selanjutnya, bila mereka memang berhasil masuk ke fase gugur dan bisa mengalahkan Brasil atau bahkan Chili, maka itu bisa menjadi jalan mulus timnas Argentina untuk bisa meraih gelar juara.
Kira-kira, mampukah Lionel Messi membawa timnas Argentina meraih gelar juara Copa America yang mungkin jadi edisi terakhirnya?
Sumber referensi: planetfootball, bolabob, indosport


