Laga hidup dan mati wajib dihadapi Werder Bremen di pekan terakhir Bundesliga musim 2020/2021. Di pekan ke-34, mereka wajib menang atas tamunya, Borussia Monchengladbach. Sebab, hasil imbang apalagi kalah akan memuluskan jalan mereka untuk turun kasta ke divisi 2.
Benar saja, Werder Bremen yang bertanding di hadapan 100 penonton yang hadir di Weserstadion tumbang dari sang tamu dengan skor 2-4. Gol Milot Rashica dan Niklas Fullkrug di 10 menit jelang akhir laga tak cukup untuk mengejar defisit gol. Dengan hasil itu, Bremen dipastikan terdegradasi dari Bundesliga.
⏱️ 90′ Full time
We are defeated 4-2. SV #Werder will play in the Bundesliga 2 next season.
⚽ 2-4 #svwbmg pic.twitter.com/cpQJBDeTYu
— SV Werder Bremen EN (@werderbremen_en) May 22, 2021
Sebuah hasil yang tentu sangat menyedihkan. Bremen hanya mampu mengumpulkan 31 poin dari 34 laga. Mereka hanya menang 7 kali, imbang 10 kali, dan menelan 17 kekalahan. Bremen juga jadi tim ketiga dengan jumlah kebobolan terbanyak. Gawang Jiri Pavlenka sudah kebobolan 57 gol.
Dengan hasil itu, skuad asuhan Florian Kohfeldt terjerembab ke posisi 17 klasemen Bundesliga. Mereka jadi tim kedua yang secara otomatis turun kasta musim ini bersama Schalke. Sungguh ironis mengingat kedua tim tersebut adalah klub legendaris dengan basis fans yang besar di Jerman.
OFFICIAL: Werder Bremen have been relegated from the Bundesliga for the first time since 1980.
Their 41 consecutive seasons in the top flight comes to an end. pic.twitter.com/lUzkUP2gG8
— Squawka News (@SquawkaNews) May 22, 2021
Lalu, apa penyebab jatuhnya Werder Bremen ke divisi dua Liga Jerman?
Daftar Isi
Performa Selalu Menurun Jelang Akhir Musim
Sejatinya, masalah internal dan finansial Bremen tidak separah Schalke. Mereka juga tidak mendadak jatuh seperti rivalnya itu. Namun, setidaknya selama 2 musim terakhir, Bremen selalu punya kebiasaan yang sama. Yakni kehabisan tenaga jelang akhir kompetisi.
Penurunan performa dari klub berjuluk The Green Whites itu sudah terjadi sejak musim lalu. Di musim 2019/2020, Bremen nyaris turun kasta. Sejak paruh kedua liga, Bremen sudah terjerembab di zona degradasi. Mereka sulit untuk menyelamatkan diri.
Namun untungnya, di pekan terakhir, rival mereka di zona degradasi, Fortuna Dusseldorf menelan kekalahan 3-0 sementara Bremen menang telak 6-1. Hasil itu membuat mereka mampu mengumpulkan 31 poin, hasil dari 8 kemenangan, 7 kali imbang, dan 19 kekalahan. Poin tersebut sudah cukup untuk melangkahi Dusseldorf dengan jarak 1 poin untuk finish di posisi 16 klasemen Bundesliga.
Werder Bremen kemudian menghadapi laga hidup mati di babak playoff relegasi melawan peringkat tiga 2.Bundesliga (baca: Bundesliga Two), FC Heidenheim. Beruntungnya, di laga playoff, Bremen lagi-lagi ditolong dewi fortuna. Di leg pertama, Bremen yang bertindak sebagai tuan rumah berhasil menahan Heidenheim dengan skor 0-0. Di leg kedua, Bremen yang bertandang ke markas Heidenheim sukses menaham tuan rumah 2-2. The Green Whites akhirnya keluar sebagai pemenang berkat agresivitas gol tandang dan tak jadi turun kasta.
Werder Bremen boss Florian Kohfeldt has been named Germany’s Coach of the Year for 2018 🏆
👉 https://t.co/1CMNhWTYAm pic.twitter.com/nwcZ5WHXkJ
— Bundesliga English (@Bundesliga_EN) March 29, 2019
Meski nyaris terdegradasi musim lalu, Werder Bremen masih memilih setia dengan pelatih mereka, Florian Kohfeldt. Kohfeldt yeng menjadi pelatih sejak pertengahan musim 2017/2018 membawa klub bercorak hijau putih itu memulai musim ini dengan cukup aman. Bremen duduk stabil di papan tengah hingga pertengahan musim. Namun, lagi-lagi petaka datang jelang akhir musim.
Dalam 10 laga terakhir Bundesliga musim ini, pasukan Florian Kohfeldt gagal memetik satupun kemenangan dan hanya mampu memetik 1 hasil imbang dan menelan 9 kekalahan. Bahkan sejak pertengahan Maret hingga akhir Mei, Bremen menelan 7 kekalahan beruntun. Alhasil, posisi Bremen yang sebenarnya cukup aman di posisi 11 klasemen di pekan ke-20 langsung turun tajam ke zona degradasi akibat kekalahan beruntun tersebut. Meski begitu, posisi Florian Kohfeldt masih juga dipertahankan.
Kohfledt baru dipecat jelang laga hidup mati di pekan terakhir. Kala itu, posisi Bremen sudah diujung tanduk. Mereka menjadi pesakitan di posisi 16 klasemen dan wajib menang di laga terakhir sembari berharap rivalnya di zona degradasi gagal menang. Sayang, Thomas Schaaf yang ditunjuk sebagai juru selamat gagal membawa Bremen bertahan di Bundesliga.
BREAKING
Werder Bremen have been relegated from the Bundesliga for the second time in club history. pic.twitter.com/O2Ol7KsKzu
— DW Sports (@dw_sports) May 22, 2021
Tak Punya Penyerang Tajam
Jumlah kebobolan yang banyak dalam 2 musim terakhir jadi bukti gagalnya Florian Kohfledt meracik strategi. Namun, bukan hanya pertahanan saja yang buruk. Lini serang Bremen juga bisa dibilang sangat tumpul.
Musim ini saja, top skor Werder Bremen di Bundesliga adalah Josh Sargent dan Kevin Mohwald yang hanya mampu mengemas 5 gol saja. Total, Bremen hanya mampu menghasilkan 36 gol dalam 34 laga. Tak punya striker tajam dan sulit mencetak gol itulah yang menyulitkan langkah Bremen di laga-laga krusial musim ini.
“Saat ini sulit untuk mengatakan apa pun. Kami tidak berhasil melakukan apa yang ingin kami lakukan. Kami melewatkan kesempatan besar untuk menyamakan kedudukan, yang kami butuhkan. Kami terlambat melawan,” kata Thomas Schaaf dikutip dari worldsoccertalk.com.
Krisis Finansial yang Menggerogoti Werder Bremen
Akan tetapi, performa yang buruk di atas lapangan bukan satu-satunya sebab Bremen mengalami kriris. Di luar lapangan, Bremen tengah kesulitan secara finansial, khususnya sejak pandemi Covid-19 datang di pertengahan tahun lalu.
Sejak akhir musim lalu, manajemen klub sudah memproyeksikan kerugian bila laga masih juga digelar tanpa penonton. Total, kerugian hingga 40 hingga 45 juta euro di akhir musim ini sudah diperkirakan sejak pandemi datang tahun lalu. Mengutip dari The Guardian, Bremen diperkirakan masih terlilit utang sebesar 75 juta euro.
Meminjam dana sebesar itu terpaksa dilakukan manajemen untuk menyelamatkan klub dari kriris. Pasalnya, prospek sponsor Werder Bremen sejak pandemi lalu sangat buruk. Banyak perusahaan termasuk sponsor yang menghentikan suplai dana kepada klub akibat krisis keuangan yang sama-sama diderita.
Selain itu, Bremen juga terancam melakukan pembayaran kembali ke berbagai sponsor akibat gagalnya kesepakatan kontrak setelah pertandingan kandang yang terpaksa digelar tanpa penonton. Ditambah lagi, mereka sulit menggaet sponsor anyar selama semusim terakhir. Imbasnya, penghematan terjadi dan Bremen harus siap menjual bintangnya untuk menyehatkan kondisi finansial klub.
Milot Rashica could be available for £13m and Aston Villa have reportedly made contact with Werder Bremen ✍️ [Kicker]
He’s entering the final year of his contract & whilst he wasn’t spectacular in a terrible Bremen side this season, he’d be a steal at that price IMO! ✅ #avfc pic.twitter.com/LUncf6Hym4
— Total Villa (@Total_Villa) May 27, 2021
Prestasi dan Bintang Bremen di Masa Lalu
Sejatinya, dalam sejarah klub yang berdiri sejak 1899 itu, Bremen bukanlah tim kaya raya. Mereka tak pernah mengeluarkan biaya besar untuk merekrut pemain. Meski begitu, keuangan mereka sehat-sehat saja. Buktinya, The Green Whites mampu bertahan di Bundesliga selama 41 tahun terakhir.
Terdegradasi musim ini menjadi kali pertama untuk Bremen turun kasta dari Bundesliga sejak 1980. Selama itu, The Green Whites berhasil meraih 3 trofi Bundesliga, 5 trofi DFB-Pokal, 1 trofi DFL-Ligapokal, dan 3 trofi DFL-Supercup. Sementara di kancah Eropa, Bremen mampu menjuarai Piala Intertoto 1998 dan Piala Winners 1992.
Once upon a time in Weser Stadium.
Come back soon to Bundesliga, Sportverein Werder Bremen! pic.twitter.com/IVAJoB2aTN
— Jerry Arvino. (@jerryarvino) May 22, 2021
Yang paling berkesan tentu musim 2003/2004. Werder Bremen berhasil meraih double winners. Mereka menjuarai Bundesliga dan DFB-Pokal. Kala itu, Bremen punya trio paling berbahaya di Jerman dalam diri Johan Micoud, Ivan Klasnic, dan Ailton. Dengan trio tersebut, Bremen melangkahi Bayern Munchen dan jadi tim paling produktif dengan 79 gol. Johan Micoud menyumbang 10 gol, Ivan Klasnic 13 gol, dan Ailton keluar sebagai top skor Bundesliga dengan torehan 28 gol.
Pencapaian Ailton yang menjadi top skor dengan seragam Werder Bremen mampu disamai oleh Miroslav Klose di musim 2005/2006. Saat itu, Klose mampu mencetak 25 gol untuk membawa Bremen finish sebagai runner-up. Selain mereka, masih banyak pesepak bola yang pernah mengukir prestasi di Bremen. Beberapa bintang sepak bola dunia bahkan mengawali karier impresifnya bersama Bremen.
Miroslav Klose of #Werder Bremen .. 2005-2006 #Bundesliga top scorer with 25 goals. #SVW #GERmany #GER pic.twitter.com/2ewaiJEfek
— Classic Football (@classic1863) June 9, 2016
Sebut saja Diego Ribas dan Mesut Ozil. Keduanya pernah bahu membahu membawa Bremen ke partai final Piala UEFA 2009. Di musim itu, Diego mampu mencetak 21 gol dan jadi top skor kedua tim setelah legenda Bremen lainnya, Claudio Pizarro. Sementara Mesut Ozil menjadi top asis dengan sumbangan 15 asis. Di musim tersebut, trio Diego, Ozil, dan Pizarro juga sukses membawa Werder Bremen menjuarai DFB-Pokal.
#FlashBackFriday – Mesut Ozil and Diego Ribas in those Wereder Bremen days 😁
(📸 Bongarts) pic.twitter.com/irw39UvwQi
— Football Fans Tribe 🇳🇬 ⚽ (@FansTribeHQ) August 21, 2020
Throwback to a young Mesut Ozil with the DFB Pokal after scoring the winning goal for Werder Bremen! ❤️#arsenal #football #ozil pic.twitter.com/yWWHJVF9zs
— Arsenal News Channel (@Arsenalnewschan) April 20, 2020
Sungguh memori yang indah untuk dikenang para pendukung Werder Bremen. Kini, kenyataan pahit mau tak mau mesti mereka terima. Terdegradasi tak hanya membuat sedih para pemain dan staff klub, tapi juga memicu kemarahan para pendukung Bremen.
Die Stimmung vor dem Stadion wird zunehmend ungemütlicher. Fans sind sauer, wollen die Mannschaft sehen und brüllen: „Baumann raus!“ Polizei ist verstärkt im Einsatz. #Werder pic.twitter.com/djV1RQqJBl
— BILD Werder Bremen (@BILD_Werder) May 22, 2021
Menurut kabar, ratusan bahkan ribuan pendukung telah menunggu para pemain keluar dari stadion usai pertandingan pekan terakhir. Belajar dari kasus pendukung Schalke, pihak kepolisian sudah lebih dulu disiagakan sementara para punggawa Werder Bremen terpaksa lewat pintu belakang untuk menghindari konfrontasi.
Semoga lekas pulih dan kembali ke Bundesliga, Werder Bremen!
***
Sumber Referensi: Bundesliga, Worldsoccertalk, DetikSport, World-today-news, The Guardian


