Makin banyaknya pelatih muda berbakat yang muncul dari Jerman membuat nama Hennes-Weisweiler Academy kembali mencuat. Hennes-Weisweiler Academy atau yang akrab disebut dengan ‘die Akademie’ adalah jawaban dari banyaknya pelatih-pelatih hebat dari Jerman.
Berdiri sejak 1947, Hennes-Weisweiler Academy merupakan sekolah kepelatihan bestandar tinggi di Jerman. Namanya sendiri diambil dari mantan pelatih Jerman tersukses pada masanya, Hans Weisweiler.
It’s not without reason, that the DFB’s coaching academy is named after him.
The man who helped Schäfer, Röhrig, Flohe, Littbarski, Schuster and many, many more.
“Defeats are a serious matter.”
Hennes Weisweiler, you will never be forgotten. pic.twitter.com/5EfRHoV9A0
— 1. FC Cologne (@fckoeln_en) December 4, 2019
Pusat sekolah kepelatihan yang terletak di German Sport University Cologne itu adalah tempat terbaik untuk memperoleh lisensi Pro UEFA. Pasalnya, ‘die Akademie’ dijalankan dengan sangat profesional dan eksklusif.
German Sport University Cologne, on #Flickr https://t.co/PQdL3WZvni #photography #travel #reisen #vacation #wanderlust #Urlaub #travelblog #ttot #photooftheday #photo #adventure #lp #reiseblog #quotes pic.twitter.com/mfKuvXGNzJ
— dronepicr (@dronepicr) April 9, 2018
Dimulai dari pendaftaran yang ketat. Tiap tahunnya, ‘die Akademie’ hanya menerima 24 atau 25 peserta saja. Sebelum terpilih, para calon peserta kursus atau pelamar harus menjalani setidaknya 3 tes terlebih dahulu.
Pertama, pelamar akan diwawancarai dan diberi tes tertulis soal logika sepak bola. Kemudian, pelamar akan menjalani tes praktek berupa simulasi pertandingan dengan beragam situasi. Terakhir, tes ditutup kembali dengan tes tertulis. Semua rangkaian tes tersebut juga diawasi oleh seorang psikolog yang menilai kesiapan mental para pelamar.
Keunikan dari sekolah kepelatihan ini adalah mereka tak hanya menerima peserta yang punya latar belakang sepak bola saja dan tak harus berkewarganegaraan Jerman. Meski begitu, para calon peseta wajib memenuhi syarat administrasi lainnya, yakni sudah memegang Lisensi DFB-A atau lisensi UEFA-A, punya pengalaman melatih minimal 1 tahun, dan menjadi bagian dari klub DFB (asosiasi sepak bola Jerman).
Setelah terpilih, para peserta pelatihan akan menjalani kursus selama 11 bulan atau menempuh studi di ‘die Akademie’ selama 815 jam. Masa studi tersebut jauh di atas ketetapan minimal Lisensi Pro yang ditetapkan UEFA, yakni 240 jam. Hal yang membuat waktu kursus di ‘die Akademie’ lama adalah fokus mereka yang lebih kepada praktek ketimbang teori.
Di samping harus mengikuti 8 kali sesi workshop, para peserta setidaknya harus magang selama 8 pekan di salah satu klub Bundesliga. Sebelum lulus, mereka masih harus membuat makalah tentang filosofi sepak bola mereka. Setelah dinyatakan lulus, para peserta akan mendapat gelar ‘Fußball-Lehrer’ yang artinya ‘Guru Besar Sepak Bola’. Gelar itulah yang jadi syarat untuk bekerja di tiga divisi sepak bola Jerman.
Daftar Isi
Lalu, siapa saja lulusan tersukses dari Hennes-Weisweiler Academy?
Sebelumnya, perlu diketahui bahwa akademi pelatih tersebut sudah berdiri sejak 1947, artinya ada ratusan bahkan mungkin ribuan pelatih lulusan Hennes-Weisweiler Academy. Maka dari itu, starting eleven hanya akan memuat 5 lulusan Hennes-Weisweiler Academy tersukses yang masih aktif hingga sekarang. Siapa saja mereka? Berikut daftarnya.
1. Hansi Flick
Hansi Flick berhasil membuat sensasi di tahun 2020. Menggantikan Niko Kovac di pertengahan musim, Flick mampu memperbaiki performa Bayern Munchen yang naik turun. Perlahan tapi pasti, dia mengantarkan Bayern menjuarai Bundesliga dan DFB-Pokal di akhir musim.
Puncaknya, Hansi Flick secara luar biasa sukses mempersembahkan trofi Liga Champions 2020. Tak cukup sampai di situ, ia kembali mempersembahkan trofi lain, yakni DFL-Supercup, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub. Dengan begitu, ia telah sukses meraih 6 gelar dalam satu musim alias sextuple.
🏆 Bundesliga
🏆 Champions League
🏆 DFB-Pokal
🏆 UEFA Super Cup
🏆 DFL-Supercup
🏆 FIFA Club World CupHansi Flick has won every trophy on offer in the 18 months he was the Bayern Munich head coach.. 👏 pic.twitter.com/6JToG9hztg
— The Sun Football ⚽ (@TheSunFootball) April 27, 2021
Hansi Flick lulus dari Hennes-Weisweiler Academy di tahun 2003 silam. Sebelum bekerja untuk Bayern Munchen, dari tahun 2006 hingga 2014, Hansi Flick bekerja sebagai asisten pelatih di timnas Jerman. Kemudian dari tahun 2014 hingga 2017, ia dipercaya menjadi direktur olahraga di Asosiasi Sepak Bola Jerman usai sukses menjuarai Piala Dunia 2014.
2. Jurgen Klopp
Jurgen Klopp memperoleh gelar ‘Fußball-Lehrer’ di tahun 2004. Di tahun tersebut, ia juga sukses membawa FSV Mainz promosi ke Bundesliga. Sebagai pemain, karier Klopp terbilang biasa saja, namun lain cerita ketika ia mulai merintis karier sebagai pelatih di usia 34 tahun.
Kesuksesan Klopp dimulai saat ia menerima tawaran melatih di Borussia Dortmund pada 2008 silam. Di Dortmund, Klopp memperkenalkan ‘gegenpressing’ yang sukses meruntuhkan dominasi Bayern Munchen kala itu. Bersama Dortmund, Klopp sukses mempersembahkan 2 trofi Bundesliga, 1 trofi DFB-Pokal, 2 trofi DFL-Supercup. dan 1 trofi German Supercup.
Jurgen Klopp kemudian meneruskan kesuksesannya di Liverpool. Menangani The Reds sejak 2015, pelatih yang kini berusia 53 tahun telah mempersembahkan 4 trofi untuk Liverpool. Yang paling dikenang tentu saja juara Premier League musim lalu. Itu merupakan trofi liga pertama buat Liverpool di era Premier League.
—Joined the club in 2015 and promised to bring a trophy back to Anfield
—Won the Champions League, Super Cup and Club World Cup in 2019
—On the brink of the club’s first Premier League title in 30 yearsHappy 53rd birthday to Jurgen Klopp 🔴 pic.twitter.com/sseT8TkQap
— B/R Football (@brfootball) June 16, 2020
Klopp juga sukses membawa Liverpool juara Liga Champions, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub 2019. Rentetan trofi itulah yang mengantarkan Klopp meraih 2 gelar pelatih terbaik FIFA di tahun 2019 dan 2020.
3. Thomas Tuchel
Sama seperti Jurgen Klopp, karier Thomas Tuchel sebagai pemain tidaklah hebat. Bahkan, Tuchel terpaksa pensiun dini di tahun 1998 saat usianya masih 25 tahun akibat cedera lutut parah. Tak lama setelah itu, ia beralih menjadi pelatih tim muda Stuttgart di tahun 2000.
Thomas Tuchel memperoleh gelar ‘Fußball-Lehrer’ di tahun 2006. Saat itu, ia masih menjadi pelatih tim cadangan FC Augsburg. Namun, kesuksesan Tuchel dapatkan saat ia ditunjuk sebagai pengganti Jurgen Klopp di Borussia Dortmund.
Selama 2 tahun di Dortmund, Tuchel sukses mempersembahkan 1 trofi DFB-Pokal di tahun 2017. Setahun berselang, dia ditunjuk sebagai pelatih PSG. Bersama PSG, dia menjuarai Ligue 1 dua musim beruntun dan membawa klub Paris itu ke final Liga Champions 2020.
Since Thomas Tuchel took over at Chelsea:
✅ Into the Premier League top four
✅ Into the UCL semifinals
✅ Into the FA Cup final👏👏👏 pic.twitter.com/z8qWsBHJqD
— ESPN FC (@ESPNFC) April 24, 2021
Sejak Januari lalu, Tuchel menjabat sebagai manajer Chelsea. Ia sukses memperbaiki performa The Blues dan membawa timnya lolos ke partai final Piala FA musim ini. Tak hanya itu, kini Thomas Tuchel juga kembali berpeluang tampil di partai final Liga Champions musim ini apabila sukses membawa Chelsea menang di babak semifinal melawan Real Madrid.
4. Joachim Low
Tak bisa dipungkiri bahwa faktor terbesar berprestasinya timnas jerman di kancah internasional selama 2 dekade terakhir tak lepas dari racikan taktik Joachim Low. Low yang ditunjuk pasca Piala Dunia 2006 itu telah berhasil membawa Jerman jadi kampiun Piala Dunia 2014.
Low merupakan lulusan Hennes-Weisweiler Academy angkatan tahun 2000, satu angkatan dengan Jürgen Klinsmann and Matthias Sammer. Selain Piala Dunia 2014, Low juga sukses membawa Jerman jadi kampiun Piala Konfederasi 2017, runner-up Euro 2008, dan juara 3 Piala Dunia 2010.
▪️ 2014 World Cup winner
▪️ 2017 Confederations Cup winner
▪️ 120-37-31 record
▪️ Record 188 games managed for Germany
▪️ 3 finals and 6 semifinals in 7 international tournaments
▪️ That 7-1 win vs. BrazilJoachim Low has had an incredible 15 years as Germany manager 👏 pic.twitter.com/CJ9uKtHqtL
— B/R Football (@brfootball) March 9, 2021
5. Julian Nagelsmann
Sama seperti mentornya, Julian Nagelsmann juga pensiun dini sebagai pemain seperti halnya Thomas Tuchel. Ia pensiun di usia 20 tahun akibat cedera meniskus parah dan kerusakan tulang rawan. Setelah pensiun pada tahun 2008, dia langsung jadi asisten Thomas Tuchel di Augsburg.
Nagelsmann jadi sensasi kala ditunjuk sebagai pelatih Hoffenheim di bulan Februari 2016. Kala itu usianya masih 28 tahun dan menjadikan Nagelsmann sebagai pelatih termuda di Bundesliga. Nagelsmann yang lulus dari Hennes-Weisweiler Academy di tahun 2014 itu sukses membawa Hoffenheim ke Liga Champions untuk pertama kalinya di musim 2018/2019.
Julian Nagelsmann:
✅youngest manager in Bundesliga history
✅youngest Bundesliga manager to reach the 100 match milestone
✅youngest ever Champions League coach
✅youngest manager in Champions League history to reach the semi-final
Will be Bayern manager at 33. Phenomenon. pic.twitter.com/eQDuAhTtv2
— Football Talent Scout – Jacek Kulig (@FTalentScout) April 28, 2021
Karier Nagelsmann makin naik kala bergabung dengan RB Leipzig di tahun 2019 lalu. Bersama Leipzig, prestasi terbaiknya adalah membawa klub muda tersebut menjadi semifinalis Liga Champions 2020. Dia juga tercatat sebagai pelatih termuda yang sukses menembus babak semifinal Liga Champions.
Terbaru, Nagelsmann telah secara resmi diumumkan sebagai pelatih baru Bayern Munchen musim depan. Dikontrak selama 5 musim, Bayern harus membayar biaya transfer sebesar 25 juta euro kepada RB Leipzig. Hal itu menjadikan Nagelsmann memecahkan rekor transfer pelatih yang sebelumnya dipegang oleh Andre Villas-Boas saat pindah ke Chelsea di tahun 2011 dengan biaya transfer 15 juta euro.
#RBLeipzig boss Julian Nagelsmann will join #BayernMunich on a five-year contract at the end of the season, with the German champions-elect reported to be paying a transfer fee of €25m.#FootballFinance #Bundesliga #SportsBiz pic.twitter.com/40uESQ293w
— Tifosy (@tifosy) April 29, 2021
Itulah 5 pelatih tersukses lulusan Hennes-Weisweiler Academy. Di luar nama-nama tadi, masih ada Jupp Heynckes, Ottmar Hitzfeld, Otto Rehagel, dan Ralf Rangnick yang juga lulusan ‘die Akademie’. Ada pula Roger Schmidt yang kini melatih PSV. Schmidt adalah bukti bahwa ‘die Akademie’ menerima peserta kursus dari berbagai latar belakang. Sebelum lulus dari Hennes-Weisweiler Academy di tahun 2011, Schmidt adalah seorang insinyur mesin di perusahaan otomotif Benteler.
Meski banyak menelurkan pelatih top bergelar ‘Fußball-Lehrer’, tak sedikit pula yang gagal di Hennes-Weisweiler Academy. Kompetitifnya pendidikan di sekolah kepelatihan tersebut jadi sebabnya. Namun, dengan begitu Jerman tak pernah kehabisan pelatih berbakat yang sudah teruji kualitasnya dan siap terjun di lapangan.
***
Sumber Referensi: Pandit Football, Vice, Bundesliga, DW, Goal


