Wonderkid Chelsea Yang Menukar Ketenarannya Demi Uang

spot_img

Pada bursa transfer musim panas 2012, Chelsea yang baru saja mendapatkan Liga Champions pertama mereka mendatangkan dua playmaker muda ke Stamford Bridge. Mereka adalah Oscar dan Kevin De Bruyne. Kita tentu sangat familiar dengan salah satu nama itu, Kevin De Bruyne.

Tapi saat itu tidak ada yang peduli dengan De Bruyne. Ia hanya bocah ingusan dari Belgia yang dibawa ke Chelsea. Saat itu bahkan the blues memutuskan kalau De Bruyne belum cukup bagus untuk Premier League. Chelsea langsung membuangnya untuk dipinjamkan ke klub Jerman, Wolfsburg.

Lain cerita dengan Oscar. Ia adalah sensasi baru saat itu. Chelsea membelinya dari klub Brasil, Internacional dan ia sudah digadang-gadang sebagai the next Kaka. Di Chelsea Oscar menikmati perannya jadi pemain bintang. Kejayaan dan kesuksesan ia dapatkan selama masanya di Premier League. Tapi itu tak berlangsung lama.

Di tengah kepopulerannya, ia mendapat tawaran menggiurkan untuk pindah ke Liga China. Meskipun Oscar tahu resikonya, ia tetap tak bisa menolak tawaran tersebut. Tak lama setelah itu, namanya menghilang dan terlupakan dari dunia sepak bola.

Masa Kecil yang Sulit

Mudah untuk menyimpulkan motivasi Oscar saat itu. Mudah pula untuk mengasumsikan keputusan Oscar dilandasi atas dasar keserakahan. Dan berasumsi kalau Oscar tidak bersyukur dengan gaji jutaan euro di Chelsea, sehingga ia memilih gaji yang lebih besar meskipun bermain di liga China.

Tapi kisahnya tidak sesederhana itu. Ia tumbuh dari lingkungan yang keras. Oscar sudah harus berjuang sejak dirinya masih kecil. Ayah Oscar meninggal dalam kecelakaan lalu lintas saat ia masih berusia 3 tahun. Ibunya, harus menghidupi Oscar bersama dengan dua saudara perempuannya seorang diri.

Dikutip dari Bleacher Reports, Oscar pernah bercerita bagaimana ibunya susah payah membesarkannya seorang diri. Ia berkata meskipun sendirian, ibunya merawat Oscar dan saudara-saudaranya dengan sangat baik.

“Saya kehilangan ayah saat berusia tiga tahun. Itu berat untuk saya. Meskipun saya tidak bisa mengingatnya tapi saya ingin ia berada di sini, melihat saya bermain. Tapi, Ibu saya merawat saya dan adik-adik dengan sangat baik. Di tempat saya tinggal sulit untuk sepasang suami istri menghidupi keluarga. Bayangkan ibu saya menghidupi tiga anak seorang diri”

Meskipun hidup serba kesusahan, ibu Oscar tidak pernah menghalanginya untuk bermain bola. Bakat Oscar sudah terlihat sejak usianya masih 12 tahun. Sampai usianya menginjak 17, ia direkrut oleh klub raksasa Brasil, Sao Paulo. Tapi bakatnya baru terlihat jelas saat ia pindah ke Internacional di tahun 2010, saat usianya 19 tahun.

Disitu bakat Oscar berkembang pesat. Kepopulerannya di sepak bola Brasil mulai menanjak. Ia dikenal sebagai gelandang yang sangat lihai bermain di belakang striker. Di musim pertamanya yaitu 2010/11, ia mencetak 10 gol dan 7 asis dari 26 penampilan di Liga. Di musim itu ia juga membawa Internacional menjuarai Copa Libertadores. Kemudian jadi juara Recopa Sudamericana musim 2011/12.

Kiprah Di Chelsea

Ketenarannya terus memuncak di 2012. Saat itu Oscar mengambil alih jersey nomor 10 timnas U-23 Brasil di Olimpiade London. Padahal saat itu ada bintang lain seperti Alexandre Pato, Hulk, bahkan Neymar yang bisa memakai nomor legendaris tersebut. Tapi Oscar lah yang jadi sorotan utama Brasil.

Setelah Olimpiade 2012, tepatnya awal musim 2012/13 ia tiba di Chelsea dengan harga 25 juta pounds. Chelsea juga membeli pemain muda potensial lainnya, Kevin De Bruyne dari klub Belgia KRC Genk. Tapi tidak ada yang peduli dengan pemain berambut merah itu. Semua mata tertuju pada Oscar yang masih berusia 20 tahun.

Oscar tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi. Ia langsung jadi pemain penting di skuad the blues asuhan Roberto Di Matteo. Ia bahkan mencetak dua gol di pertandingan Liga Champions pertamanya melawan Juventus.

Roberto Di Matteo akhirnya di pecat pada akhir November 2012 karena performa yang buruk. Posisinya digantikan oleh Rafael Benitez. Tapi itu tidak terlalu berpengaruh pada Oscar. Gaya bermainnya yang elegan, inventif, gesit dan cerdik secara teknis membuatnya tetap jadi pilihan utama siapapun pelatihnya.

Di akhir musim debutnya bersama Chelsea itu Oscar mencatatkan 64 pertandingan di semua kompetisi. Ia mencetak 12 gol dan 11 assist termasuk lima gol di Champions League. Sayangnya Chelsea tidak bisa lolos fase grup. Tapi mereka bisa menjuarai Europa League di akhir musim. Oh iya, Oscar juga masuk ke timnas senior Brasil. Mereka dapat Confederation Cup tahun 2013.

Deretan prestasi itu membuatnya berada di puncak ketenaran. Tapi tidak berhenti dari situ, Oscar melanjutkan tren positifnya itu di musim 2013/14. Di musim itu Oscar mengambil peran lebih sentral setelah Juan Mata pergi ke Manchester United di pertengahan musim.

Di bulan November 2014, ia memperpanjang kontraknya di Chelsea selama lima tahun. “Saya senang bisa bermain untuk Chelsea dan hidup di Inggris. Saya menikmati dua tahun saya disini, dan sekarang saya akan bermain untuk lima tahun lagi. Jadi saya sangat senang” Ungkap Oscar saat itu.

Ekspansi Liga China

Oscar menikmati kejayaan di Chelsea. Bersama dengan kembalinya Jose Mourinho di tahun 2013, mereka merebut kembali gelar Premier League di musim 2014/15. Chelsea juga menjuarai EFL Capital One Cup musim itu.

Mou memang punya skuad yang luar biasa di Chelsea. Tapi ia tidak memuji kreativitas Cesc Fabregas, kemampuan mencetak gol Diego Costa, atau kehebatan Thibaut Courtois dalam menghalau bola. Mou malah memberi semua pujian kepada Oscar.

“Oscar adalah pemain terbaik kami. Bukan untuk gol-golnya, tapi kedinamisan dan transisi. Dia selalu tajam dalam melakukan pressing saat kehilangan bola.”

Disaat Oscar dapat semua pujian dari para pecinta sepak bola dunia itulah keputusan berat harus ia ambil. Tepatnya di tahun 2016, tahun dimana China mengekspansi sepak bola mereka. Sebagai perbandingan, yang dilakukan Liga China saat itu persis seperti Arab Saudi yang membeli Cristiano Ronaldo dan bintang Eropa lainnya.

Liga China menyerbu pasar Eropa untuk mencari pemain-pemain terbaik mereka. China menawarkan gaji yang sangat besar agar pemain top Eropa mau bermain di Liga mereka. Di satu saat, Liga Super China bahkan memecahkan tiga rekor transfer dalam 10 hari. Pertama Ramires dari Chelsea, Jackson Martinez dari Atletico Madrid, dan Alex Teixeira dari Shakhtar Donetsk.

Untuk Oscar, mereka tidak main-main. Klub Liga China, Shanghai SIPG siap membuatnya jadi pemain dengan gaji tertinggi di dunia saat itu dengan bayaran 400 ribu pounds per minggu. Lebih tinggi dari gaji Cristiano Ronaldo di Real Madrid yang menerima 365 ribu per minggu.

Dicemooh Karena Pilih Uang

Jadi pemain dengan gaji termahal di dunia adalah pilihan yang sulit untuk ditolak. Tapi ia juga tahu apa konsekuensinya jika pindah ke Liga China. Meskipun begitu, Oscar akhirnya membuat keputusan untuk pindah ke Liga China di bulan Januari 2017. Sebuah langkah yang sangat menggemparkan saat itu.

Manajer Chelsea, Antonio Conte bahkan tidak ragu mengkritik kepergian anak asuhnya itu. Ia berkata kalau Oscar sudah tidak punya gairah bermain bola. Gairahnya sudah tertutupi dengan godaan gaji yang tinggi.

“Yang terpenting bagi kamu adalah semangat untuk sepak bola. Gairah untuk bermain harus jadi yang terdepan dibandingkan uang. Jika anda tidak memiliki gairah maka ini tidak baik” Ucap Conte dikutip dari GOAL.

Pundit dan legenda Liverpool, Jamie Carragher juga tidak mau ketinggalan memberikan kritik. Carragher bahkan berkata kalau pilihan Oscar adalah langkah yang memalukan. Apalagi di usia Oscar yang masih 25 tahun saat itu.

“Ini bukan langkah untuk meningkatkan karirnya. Dia akan berkata kalau Liga China berkembang pesat dan lain-lain. Tapi itu semua omong kosong. Dia hanya pergi karena gajinya besar di sana. Sangat memalukan. Orang-orang biasanya mulai bermain untuk uang di usia pertengahan 30 tahun. Saya bisa mengerti itu. Tapi membuang karir demi uang sangat memalukan.” Ucap Carragher dikutip dari Mirror.

Ingin Bantu Keluarga

Oscar memang tidak pernah menyembunyikan alasan sebenarnya mengapa ia pindah ke Liga China. Oscar secara blak-blakan selalu berkata kalau ini memang tentang gaji yang lebih besar. Selain itu, Oscar memandang kalau dirinya sudah tidak memiliki tempat di skuad Chelsea asuhan Antonio Conte.

Oscar tidak bisa bermain seperti dulu dengan sistem 3-4-3 Conte. Sampai pertengahan musim 2016/17 ia hanya bermain enam kali di semua kompetisi. Lima diantaranya adalah lima laga pertama Premier League

Saat itu memang bukan Shanghai SIPG saja yang tertarik dengan Oscar. Atletico Madrid, Juventus, Inter Milan, dan klub top Eropa lainnya juga ingin memboyong Oscar. Tapi hanya Shanghai lah yang berani menjadikannya sebagai pemain dengan bayaran termahal di dunia.

“China menawarkan kekuatan finansial yang luar biasa. Mereka memberikan tawaran yang tidak mungkin ditolak oleh para pemain” Ungkap Oscar dikutip dari GOAL.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Oscar tumbuh dari masa kecil yang berat. Tapi ia tidak pernah mencari simpati atas masa kecilnya itu. Masa kecil yang serba kekurangan membuat Oscar ingin selalu memprioritaskan keluarganya.

“Setiap orang yang bekerja, Ingin mendapat uang untuk membantu keluarga mereka. Saya berasal dari latar belakang sosial Brasil yang miskin. Kami tidak punya apa-apa. Ini hasil dari kerja keras saya”

Nasib di China

Satu-satunya alasan Oscar memilih pindah ke Liga China memanglah karena uang. Tapi satu-satunya alasan Oscar memilih uang adalah untuk keluarganya. Ia ingin memastikan keluarganya tidak pernah jatuh miskin lagi. Meskipun itu artinya ia harus mengorbankan karirnya. Tapi alasan itu terlalu hina dan memalukan untuk dimengerti banyak orang.

Selain itu, alasan Oscar yakin pindah ke China adalah karena ia tidak berencana menetap di China sampai akhir karirnya. Oscar yakin begitu ia sudah cukup mengumpulkan uang di sana, akan ada banyak klub Eropa yang menginginkannya kembali. Seperti yang dialami Yannick Carrasco dan Paulinho. Mereka bermain di China selama beberapa musim sebelum akhirnya kembali ke Eropa.

Sebenarnya Oscar cukup sukses di China. Ia membawa Shanghai SIPG menjuarai Liga China di musim 2017/18. Kemudian meraih juara Chinese Super Cup di tahun setelahnya. Tapi booming sepak bola China cepat memudar. Apalagi saat pandemi Covid menyerang. Banyak klub di China yang mengalami masalah finansial.

Itu keadaan yang tentu diluar ekspektasi. Tapi hal lain yang tidak Oscar sadari adalah sepak bola Eropa cepat melupakan pemain bintangnya. Di Eropa, pemain-pemain bintang datang dan pergi. Hingga akhirnya keberadaannya sendiri terlupakan. Di musim panas 2023, ia masih berharap ada kesempatan untuk kembali ke Chelsea. Tapi ia sadar usianya sudah lebih dari 30 tahun dan sepertinya impan Oscar mustahil terwujud. Setidaknya Oscar mendapatkan apa yang jadi prioritasnya sejak awal. Nafkah yang cukup untuk keluarganya.

Sumber referensi: Times, B/R, B/R 2, GOAL, 442, Mirror, Talk

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru