Udah Nggak Ketolong! Saatnya Ruben Amorim Dipecat dari Manchester United?

spot_img

Begitu peluit panjang dibunyikan, Stadion Blundell Park yang sederhana seketika berubah menjadi lautan manusia. Ribuan suporter Grimsby Town, yang sejak awal hanya berani bermimpi, mulai hidup di mimpi itu. Bukan, Grimsby sedang tidak merayakan promosi ke Premier League. Aksi meriah itu muncul secara naluriah setelah mengalahkan Manchester United di ajang Carabao Cup.

Sinar lampu stadion memantul pada bendera hitam-putih yang dikibarkan penuh kebanggaan, sementara chant khas Grimsby menggema semakin keras. Di tengah kerumunan, kita bisa melihat bagaimana Bruno Fernandes sedang berusaha menenangkan Bryan Mbeumo yang tampaknya menangisi sepakan penaltinya.

Lucunya, Ruben Amorim justru tak menampakkan batang hidungnya di situasi itu. Dalam wawancara seusai laga, ia mengaku tak menonton babak adu penalti. Ia merasa hasilnya tak akan berpengaruh banyak pada situasi tim. Ini adalah sikap seorang pengecut. Amorim langsung digoreng oleh media. Kata mereka, pelatih asal Portugal itu layak untuk dipecat! 

Digoreng Media

Tak butuh waktu lama untuk membuat Ruben Amorim menjadi buah bibir seantero negeri. Media-media kaliber ESPN, Sky Sport, Daily Mail hingga Detiksport semuanya membahas pelatih asal Portugal itu. Topik beritanya kurang lebih sama. Ruben Amorim adalah sosok yang layak untuk dikambinghitamkan atas situasi ini.

Beberapa dari mereka menyorot permintaan maaf Ruben Amorim atas kekalahan ini. Tapi The Sun justru mengartikannya sebagai tanda bahwa Ruben telah kehilangan kendali atas ruang ganti. Sementara yang lain menyebut kekalahan ini sebagai “malam paling memalukan dalam sejarah modern Manchester United”. Ya gimana lagi? MU dikalahin sama klub antah berantah. Publik Indonesia mungkin lebih kenal Grind Boys daripada Grimbsby.

Para pundit pun berkelakar kalau Amorim gagal membawa identitas permainan. Sedangkan di media sosial, tagar #AmorimOut sempat trending. Dalam kultur sepakbola Inggris yang kejam, satu hasil buruk melawan tim divisi empat bisa menghapus seluruh optimisme awal musim. Apalagi kalau tim yang kalah itu adalah Manchester United, si media darling.

Kolot Soal Taktik

Hasil negatif di markas Grimsby Town adalah puncak gunung es dari permasalahan Ruben Amorim di Manchester United. Ini adalah klimaks setelah masalah-masalah lain yang terus dimaklumi. Padahal sudah cukup dijadikan alasan memecat sang pelatih. Kenapa?

Yang pertama karena taktik. Ruben Amorim tuh kayak ABG yang lagi nyari jati diri. Kebanyakan ngasih makan ego daripada berpikir realistis. Amorim datang ke Manchester dengan label “si jenius dari Sporting” yang katanya punya filosofi modern dan sistem 3-4-3 yang bikin lawan sekaliber Manchester City kelabakan.

Tapi ketika dibawa ke Premier League? Gatot, alias gagal total. Yang kelabakan malah pemain Setan Merah sendiri. Bukannya jadi tim yang menyajikan sepakbola atraktif nan efektif, permainan United sering kelihatan membingungkan, setengah matang, dan tanpa identitas jelas. Build up dari bawah, tapi pas udah sampe depan malah bingung. Pemain bingung, yang nonton pun ikutan bingung.

Kalau di Portugal ia bisa disebut inovatif, di Inggris justru keliatan kayak coba-coba resep masakan baru tapi lupa baca takarannya. Jadi si jadi, tapi nggak karuan rasanya. Sama kayak gaya main MU. Nggak karuan. Yang bikin sebel, Amorim tetap kekeh mempertahankan skema permainan itu.

Udah tau skemanya nggak cocok, tapi tetep dipaksain. Amorim musti ingat. Sesuatu yang dipaksakan akan berakhir tidak baik. Seharusnya, ketika skema andalan tak sesuai, Amorim bisa mengandalkan sepakbola pragmatis. Lebih adaptif dan efektif untuk pemain-pemain Manchester United yang dikenal punya IQ jongkok.

Terlalu Banyak Mengorbankan Pemain

Kekolotan Ruben Amorim akan taktik dan skema permainannya membawa dampak buruk bagi pemain-pemain yang tak masuk dalam rencananya. Kalau yang dibuang cuman Tyrell Malacia atau Jadon Sancho sih tak apa ya. Ini Amorim cukup berani. Di luar nama itu, nama-nama yang musim-musim sebelumnya jadi andalan juga perlahan disingkirkan.

Sejak awal, ia sudah menekankan bahwa hanya pemain dengan komitmen 100% yang layak bertahan. Dari mulai Antony, Rasmus Hojlund, hingga sang legenda, Marcus Rashford. Amorim benar-benar tega dalam memperlakukan pemain-pemain ini. Baginya, lebih baik bekerja dengan skuad yang lebih ramping tapi sesuai dengan apa yang ia mau, ketimbang mempertahankan bintang yang justru merusak komposisi permainan.

Yang terbaru, Ruben Amorim dikabarkan sedang berusaha menyingkirkan Alejandro Garnacho dan Kobbie Mainoo. Kedua pemain adalah hasil akademi Manchester United. Membuang mereka sama halnya dengan menghilangkan tradisi klub yang selalu memberikan peran vital kepada pemain lulusan akademi di setiap musimnya.

Untuk mewujudkan tim yang diidam-idamkan Ruben, klub memutuskan untuk tetap berinvestasi besar di tengah kondisi klub yang sedang ngirit. Pemain-pemain mahal macam Matheus Cunha, Bryan Mbeumo, hingga Benjamin Sesko pun didatangkan. Namun, hilal kesuksesan belum terlihat. 

Butuh apalagi? Adaptasi? Sudah tak ada waktu untuk adaptasi. Lihat tuh bagaimana Viktor Gyokeres dan Tijjani Reijnders. Meski berstatus pemain baru di klubnya masing-masing, mereka langsung nyetel. Karena pada dasarnya kalau yang didatangkan adalah pemain yang diminta oleh pelatih, sudah pasti gampang untuk memasukan mereka dalam skema. Tak sepatutnya Manchester United berada di situasi seperti ini.

Bermasalah Soal Konsistensi

Ngomong-ngomong soal hasil buruk, Manchester United era Ruben Amorim ini bener-bener ampas. Kalau kita cari statistik performa United, Ruben tak pernah membawa tim menang dua kali beruntun di Premier League. Kemenangan beruntun yang diraih pasti di dua kompetisi yang berbeda. Misal abis menang di Europa League, mereka menang di Premier League.

Tapi nggak pernah tuh menang dua kali secara beruntun. Itu artinya, Amorim kesulitan untuk menjaga konsistensi performa tim. United di bawah Ruben Amorim sering terlihat seperti tim yang mudah kehilangan fokus. Setan Merah bisa tampil beringas di satu laga menghadapi Manchester City, lalu jeblok tak berdaya melawan tim kecil di pekan berikutnya.

Kekalahan dari Grimsby Town adalah contoh yang terpampang nyata. Sebuah pertandingan yang seharusnya jadi ajang pemanasan justru berubah jadi bencana sejarah. Dilansir ESPN, kekalahan ini merupakan kekalahan pertama United dalam pertandingan Carabao Cup melawan tim divisi empat.

Di babak pertama, mental para pemain rapuh. Gampang panik ketika ditekan lawan yang notabene berasal dari divisi bawah. Padahal Grimsby bukan level United. Ini jelas menunjukan bahwa Ruben tak mampu mendongkrak mental tim usai tim tuan rumah mencetak gol cepat di babak pertama. Miskin taktik, nggak solutif juga di ruang ganti. Ngapain masih dipertahankan?

Krisis Kepercayaan dan Momentum

Kabarnya, kepercayaan fans kepada Ruben Amorim pun mulai luntur. Para fans merasa proyek yang dicanangkan oleh Ruben adalah omong kosong belaka. Proyek Amorim tidak berjalan ke arah yang dijanjikan. Padahal saat pertama datang, fans sempat memberi harapan besar. Amorim dipuji sebagai “pelatih muda visioner” yang bisa membawa filosofi segar ke Old Trafford. 

Tapi seiring berjalannya waktu, permainan United tetap tidak stabil. Di media sosial, kekecewaan suporter makin lantang. Tagar #AmorimOut sempat trending. Bagi pendukung setia United yang terbiasa menuntut standar tinggi, kehilangan kesabaran pada Amorim rasanya hanya soal waktu.

Sama halnya dengan kesabaran fans, pemecatan Ruben Amorim tampaknya hanya menunggu waktu. Musim Premier League itu ibarat lari maraton. Momentum adalah bahan bakar utamanya. Jika tren seperti ini berlanjut, United bisa terjebak dalam lingkaran setannya sendiri. Gagal bangkit di laga berikutnya, kehilangan poin beruntun di liga, hingga akhirnya gagal lolos ke kompetisi Eropa dan ngejogrok lagi di papan bawah.

Maka dari itu, pemecatan Amorim di awal musim justru bisa jadi solusi kebangkitan Manchester United. Logikanya sederhana. Semakin lama ia bertahan dengan performa yang tak kunjung membaik, semakin dalam pula United terjebak dalam krisis. Manajemen harus bertindak cepat. Yang jadi masalah, siapa yang cocok untuk menggantikan Amorim? Gareth Southgate? Zinedine Zidane? Atau Indra Sjafri aja sekalian?

Sumber: The Athletic, ESPN, The Sun, Sky Sport

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru