Udah Jor-joran Klub Ini Justru Alami Musim yang Buruk di Liga Inggris

spot_img

Di bursa transfer, klub Liga Inggris kembali menunjukan kekuatannya. Sebagian bahkan jadi tim yang menghabiskan uang lebih banyak daripada yang lain. Contoh Arsenal yang ingin balas dendam ke Manchester City sudah menghabiskan lebih dari 200 juta euro atau setara Rp3 triliun hanya untuk mendatangkan tiga pemain.

Dengan begitu, ekspektasi fans semakin tinggi pada skuad asuhan Mikel Arteta. Apalagi Meriam London baru saja mengawali rangkaian balas dendamnya setelah menaklukan Manchester City di Community Shield kemarin. 

Tapi tunggu dulu Gooners. Jangan terlena dengan trofi piring itu. Kita semua tahu, jor-joran di bursa transfer dengan mendatangkan pemain-pemain top tak menjadi jaminan juara Liga Inggris. Sudah banyak buktinya. Bahkan Arsenal juga jadi salah satu klub yang merasakan kepahitan itu dan berikut adalah klub yang tampil mengecewakan meski sudah jor-joran di bursa transfer.

Tottenham 2013/14

Pertama adalah Tottenham Hotspur. Klub yang baru ganti pelatih ini memang bukan klub yang selalu memenangkan gelar setiap tahunnya. Tapi klub yang bernuansa putih-putih ini adalah tim langganan Liga Champions dalam beberapa tahun terakhir. 

Namun, sebelum itu mereka pernah mengalami paceklik meski baru saja belanja besar-besaran. Itu terjadi pada musim 2013/14. Mendapat suntikan dana dari penjualan Luka Modric dan Gareth Bale yang kala itu memecahkan rekor sebagai pemain termahal di dunia ketika diboyong Real Madrid, Spurs yang saldonya jebol pun kalap di bursa transfer musim panas tahun 2013.

Spurs jadi lebih konsumtif dari biasanya. Musim panas tersebut Tottenham menghabiskan lebih dari 120 juta euro (Rp2 triliun) untuk mendatangkan tujuh pemain, termasuk Christian Eriksen dari Ajax, Eric Lamela dari AS Roma, dan Roberto Soldado dari Valencia. Pemain yang didatangkan sedang berada di top perform bersama klubnya masing-masing. Jadi mereka dipercaya bisa meningkatkan kualitas skuad Andre Villas Boas.

Memiliki skuad yang fresh, awal musim berjalan dengan baik. Spurs hanya kalah sekali dari Arsenal di lima pertandingan awal musim 2013/14. Tapi kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar. Spurs mulai oleng di pekan-pekan berikutnya. Bahkan setelah kalah dari Newcastle dan dibantai Manchester City 6-0, Spurs sempat terperosok ke urutan sembilan.

Villas-Boas akhirnya dipecat dan digantikan oleh Tim Sherwood saat Spurs tertatih-tatih di papan tengah. Spurs yang diprediksi bakal jadi pesaing gelar hanya finis di urutan keenam. Mungkin satu-satunya hikmah di musim ini adalah Spurs mendapatkan Eriksen yang dengan baik menggantikan peran Modric di musim-musim berikutnya.

Everton 2017/18

Kurang lebih tiga musim kemudian ada Everton yang sebelas dua belas dengan Tottenham Hotspur. The Toffees muncul sebagai klub yang mengejutkan di bursa transfer. Mereka bahkan dianggap tak waras dengan memberikan dana sekitar 140 juta pound atau setara Rp2,3 triliun untuk memperkuat tim asuhan Ronald Koeman.

Ini semua gara-gara kedatangan pebisnis kaya raya dari Iran, Farhad Moshiri pada tahun 2016. Moshiri sendiri bukan orang baru di kancah Premier League. Sebab pria 68 tahun itu sebelumnya pernah memiliki 15% saham di klub Arsenal. Namun, sehari sebelum pembelian saham Everton, Moshiri menjual sahamnya di Arsenal ke pengusaha Rusia, Alisher Usmanov.

Dengan uang segitu, Everton mendatangkan sembilan pemain, termasuk Jordan Pickford dari Sunderland dan Michael Keane dari Burnley, Gylfi Sigurdsson dari Swansea, Theo Walcott dari Arsenal, Davy Klaassen dari Ajax, serta Robert Lewandowski dari Turki, Cenk Tosun. 

Moshiri juga membawa si anak hilang, yakni Wayne Rooney yang sudah kenyang pengalaman di Manchester United demi menarik simpati fans. Dengan materi pemain yang Masya Allah mewahnya itu, Moshiri menargetkan Everton bisa finis enam besar untuk mengamankan kompetisi Eropa. Tapi lagi-lagi uang tak bisa membeli prestasi.

Baru di bulan Oktober, Everton justru terperosok di zona degradasi. Koeman pun akhirnya dipecat dan digantikan oleh Sam Allardyce. Big Sam akhirnya menyelamatkan wajah Everton yang sudah belanja banyak musim tersebut. Sayangnya, The Toffees hanya mampu finis di urutan kedelapan musim 2017/18. 

Fulham 2018/19

Selanjutnya ada Fulham di musim 2018/19. Berstatus sebagai tim promosi, Fulham berusaha menjadi lebih baik. Untuk mempersiapkan musim perdananya, klub asal London itu bahkan menghabiskan lebih dari 100 juta pound atau hampir Rp2 triliun rupiah untuk mendatangkan belasan pemain baru.

Yang didatangkan pun bukan kaleng-kaleng. The Cottagers mendatangkan beberapa nama terkenal termasuk pemenang Piala Dunia 2014, Andre Schurrle dari Borussia Dortmund, Alexander Mitrovic dari Newcastle United, Ryan Babel dari Besiktas dan gelandang incaran Barcelona, Jean Michael Seri.

Tapi kedatangan banyak pemain justru membawa petaka. Banyak pemain yang masih harus beradaptasi dan lambat dalam mencerna skema yang diusung oleh pelatih asal Serbia, Slavisa Jokanovic. Fulham hanya menang sekali dalam sepuluh pertandingan awal.

Kondisi itu telah membawa klub ke lembah degradasi. Pergantian pelatih sempat dilakukan oleh manajemen. Claudio Ranieri yang pernah membawa Leicester City juara Liga Inggris pun dipekerjakan bulan November. Tapi situasi klub memang kurang stabil. Pemain tak termotivasi sehingga hanya mampu finis di urutan ke-19 dan dipaksa kembali turun kasta.

Arsenal 2019/20

Musim 2019/20 Arsenal juga sempat mengalaminya. Setelah dipermalukan oleh Chelsea di final Europa League, pelatih kala itu, Unai Emery memutuskan bahwa skuad The Gunners membutuhkan tambahan amunisi. 

Tampaknya perkataan Emery bukan omong kosong belaka karena di bursa transfer tersebut Meriam London menghabiskan sekitar 140 juta pound atau setara Rp2,7 triliun hanya untuk mendatangkan pemain.

Dengan budget segitu, Unai Emery pun mendatangkan pemain-pemain yang diinginkan. Di sektor sayap, Emery mendatangkan Nicolas Pepe dari Lille. Dia diharapkan bisa jadi pembongkar serangan di sisi kanan. Selain itu, Arsenal juga membajak David Luiz dari Chelsea, mendatangkan Gabriel Martinelli, serta gelandang Real Madrid, Dani Ceballos.

Suntikan dana yang besar tentu mengundang harapan yang sangat besar dari manajemen. Finis di empat besar dan mengamankan satu tiket ke Liga Champions sudah harga mati bagi Emery. Tapi apa daya, konsistensi masih jadi masalah menahun bagi Arsenal. Emery pun dipecat pada bulan November 2019.

Mikel Arteta datang dan membantu tim menjuarai Piala FA. Meski begitu, musim 2019/20 jadi musim yang tak sepatutnya diingat. Karena Arsenal hanya finis di urutan kedelapan klasemen akhir Liga Inggris dan kembali gagal tampil di Liga Champions.

Manchester United 2021/22

Yang terakhir adalah Manchester United. Tim asal Manchester ini memang dikenal kerap menghambur-hamburkan uang tapi minim prestasi. Pemain bintang pun silih berganti, tapi tak ada yang lebih ikonik dari musim 2021/22. Mungkin musim tersebut bukan jadi yang terboros bagi United. Tapi musim tersebut mereka mendatangkan pemain-pemain top di eranya.

Manchester United sangat menarik perhatian di bursa transfer tahun 2021. Karena memulangkan sang super mega bintang, Cristiano Ronaldo dari Juventus. Selain itu, United juga mendatangkan Raphael Varane dari Real Madrid dan Jadon Sancho dari Borussia Dortmund. Untuk mendatangkan mereka bertiga, United menghabiskan lebih dari 140 juta euro (Rp2,3 triliun) 

Kembalinya Ronaldo membuat para penggemar yakin mereka bisa menantang Manchester City untuk merebut gelar. Fans boleh berharap, tapi Ralf Rangnick yang menentukan. United nol trofi dan hanya finis di urutan keenam klasemen akhir Liga Inggris musim 2021/22.

https://youtu.be/TcJwtLYjXzs

Sumber: Planetfootball, Telegraph, The Athletic, Fulhamish

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru