Liverpool baru saja memastikan juara Premier League. Fans masih merasakan nuansa riang gembira. Tapi bagai geledek di tengah keindahan pelangi, Trent Alexander-Arnold membuat pengumuman yang menyayat hati. Pemilik nomor punggung 66 ini mengabaikan semua bentuk protes dan juga harapan dari para kopites.
Trent sebenarnya masih dielukan untuk terus berada di Anfield. Meneruskan mimpi-mimpi besar yang lain, yang sudah dimenangkan dari usahanya sejak masih bocah di akademi. Tapi setelah 20 tahun berseragam Liverpool, Trent memilih untuk pamit undur diri dan mengganti seragam merah sakral kota musik itu dengan balutan putih jersey Real Madrid.
Fans yang kecewa berat pun tak butuh semua alasan dan penjelasan dari mulut Trent. Dari amarah yang membuncah, vonis pun dilayangkan. Trent dicap sebagai pengkhianat. The Reds sendiri baru saja sukses melewati masa transisi. Tapi mengapa Trent begitu tega kepada klub yang dia sebut sebagai cinta pertamanya itu?
Daftar Isi
Bab 1: Awal Kisah Sang Bocah Pinggiran Kota
Tokoh utama kita kali ini lahir pada 7 Oktober 1998. Dan sejak bocah, Trent Alexander-Arnold sudah menunjukan obsesi besarnya terhadap Liverpool. Trent sungguh beruntung karena ditakdirkan tinggal di West Derby. Dan rumahnya yang terletak di pinggir kota hanya sepelemparan batu dari Melwood. Di kompleks latihan Liverpool yang legendaris itu, cinta Trent kepada The Reds tumbuh.
Tak perlu doktrin dan ikut-ikutan orang lain, pilihan Trent untuk mencantolkan dirinya kepada Liverpool adalah keinginan yang turun dari mata ke hati. Trent dan dua saudara laki-lakinya, Tyler dan Marcel, kerap ribut-ribut ala bocah. Tapi untuk urusan Liverpool, ketiga kakak beradik itu kompak bukan main.
Dalam esai pribadinya di The Players’ Tribune, Trent mengisahkan setiap harinya, mereka mengintip para pemain The Reds berlatih. Trent and brothers berdiri di atas tempat sampah atau memanjat melalui pagar untuk mencoba melihat Steven Gerrard dan kawan-kawan menyiapkan diri sebelum bertanding. Di momen itu jugalah, mereka berkhayal pada suatu kelak bisa seperti para idola mereka.
Momen lain yang paling membekas di ingatan Trent adalah saat orang tuanya membelikan tiket perempat final Liga Champions musim 2004/05. Saat itu Liverpool menghadapi Juventus di Anfield yang memerah. Biasanya, Trent dan Tyler tidak pernah berhenti berbicara saat anthem UCL ditayangkan di TV. Namun, saat itu mereka terdiam takjub dan merinding mendengar The Kop bernyanyi, “You’ll Never Walk Alone.”
Beberapa bulan setelah itu, Trent bersama keluarga kecilnya, menonton lewat televisi partai final UCL antara Liverpool vs AC Milan. Trent kembali dibuat merinding saat melihat tim kesayangannya bisa comeback heroik. Tak cukup menyaksikan Miracle of Istanbul di layar kaca, Trent kecil hanyut dalam lautan masa kota Liverpool saat parade juara. Alhasil, momen itu semakin memperkuat tekad Trent, bahwa kelak suatu hari nanti ia bisa mengenakan seragam The Reds. Trent juga ingin berdiri di atas bus parade juara dalam balutan jersey bertuliskan nama nya sendiri.
Bab 2: Struggling di Akademi Hingga Debut di Tim Senior
Perjalanannya menggapai impian itu terbentang luas pada usia 6 tahun, ketika Trent mendapat kesempatan emas saat Liverpool mengadakan kamp sepak bola musim panas untuk bocah-bocah SD. Dan di antara ratusan siswa Matthew’s Catholic Primary School, Trent terpilih untuk bergabung dalam pelatihan lanjutan.
Perjuangannya di akademi pun dimulai. Namun, usaha Trent untuk terus menimba ilmu di akademi bukanlah instan. Ia harus bersaing dan mengasah visi bermainnya agar tak kalah dengan ratusan bakat hebat lain yang siap menggilas.
Bahkan sebelum akhirnya menemukan peran idealnya sebagai bek kanan, pelatih akademi memindahkannya ke berbagai posisi, termasuk gelandang, winger, dan bek tengah. Perubahan ini sempat membuat Trent kecil frustrasi dan bingung tentang perannya.
Selain itu, dibanding pemain lain, tubuh Trent tergolong kurus dan kurang kuat di awal remajanya. Ia sempat kewalahan bersaing secara fisik dengan pemain lain, apalagi ketika menghadapi lawan yang lebih besar dan lebih cepat. Trent juga sempat mengalami beberapa cedera ringan yang mengganggu semangat berlatihnya.
Selain itu, karena berasal dari Kota Liverpool dan tumbuh sebagai fans klub, Trent merasa tekanan lebih besar untuk tampil sempurna. Ia mengaku sering merasa stres saat tidak tampil bagus karena merasa mengecewakan banyak orang di sekitarnya, termasuk keluarganya yang banyak berkorban demi karier Trent.
Namun, Trent bersyukur karena selain punya keluarga biologis, banyak sosok yang membantunya berkembang pesat. Antara lain ada Alex Inglethorpe, kepala akademi Liverpool yang sangat mempercayai potensi Trent dan mengawalnya secara dekat selama masa pembinaan di akademi. Pep Lijnders, pelatihnya di akademi juga ikut membantunya.
Berbekal kerja keras dan bimbingan merekalah, Trent akhirnya mulai mencuat ke permukaan dan bersinar di akademi. Dirinya bahkan dipercaya sebagai kapten tim U-16 dan level U-18. Sampai akhirnya, pada 2016 saat masih berusia 18 tahun, Trent debut untuk tim senior.
Tak tanggung-tanggung, Trent diberi kesempatan oleh Jurgen Klopp di laga derby melawan Tottenham Hotspur. Klopp pun langsung jatuh hati melihat gaya mainnya yang agresif dan distribusi bola kelas elite. Meski begitu Trent masih bolak-balik bermain di Premier League 2 bersama tim U-21. Di musim tersebut Trent baru mencatatkan 7 caps bersama tim senior Liverpool.
Barulah pada musim 2017/18, Trent mulai rutin tampil di skuad utama. Bukan cuma di Premier League tapi di semua kompetisi termasuk Liga Champions. Perlahan namun pasti, pos bek sayap kanan jadi milik Trent. Dari musim ke musim, performa pesepakbola yang dulu punya rambut gimbal ini semakin mempesona.
Permainan Trent terlalu bagus sehingga sangat sayang untuk di bangku cadangkan. Tak ada ruang sedikitpun bagi Jurgen Klopp untuk ragu akan kemampuan dan konsistensi Trent. Buktinya, dalam satu musim Trent pernah dimainkan dalam semua pertandingan Premier League. Di era pelatih asal Jerman itu, menjadi sebuah hal ganjil kalau Trent tidak dimainkan apalagi sampai tak masuk skuad.
Di bawah Klopp yang terus bereksperimen, Trent mengalami evolusi peran. Sebenarnya saat masih di akademi Trent juga bermain multi posisi. Namun di level senior, eksperimen itu menemukan bentuknya yang lebih ideal. Di beberapa laga, Trent kerap masuk ke tengah sebagai playmaker tambahan. Sang pemain pun mengaku tak masalah dan malah enjoy dengan tugas tambahan yang diberikan oleh Klopp itu.
Bab 3 : Momen Ikonik dan Mimpi yang Terwujud
Lewat performa apiknya, Trent membantu Liverpool meraih kemenangan demi kemenangan. Trent sepenuhnya menyadari, hanya dengan cara itu, gelar demi gelar bisa diraih. Tapi proses menuju gelar itulah yang sama sekali tak mudah dan sederhana. Di usianya yang baru 19 tahun Trent berjuang mati-matian meraih trofi perdananya untuk The Reds. Ketika musim itu, Trent membawa Liverpool melangkah ke final Liga Champions 2018.
Tapi di partai puncak yang Liverpool hadapi bukan sembarang lawan. Tak lain adalah Real Madrid. Pada akhirnya Liverpool harus mengakui kekalahan dengan skor 1-3. Trent hanya bisa sedih sekaligus iri pada skuad Los Blancos yang mengangkat trofi kuping gajah tersebut.
Namun secara khusus performa Trent di partai final itu patut dipuji lantaran sukses membuat Cristiano Ronaldo tak mencetak gol. Di laga krusial itu, Trent menunjukkan ketangguhan luar biasa untuk pemain seusianya.
Meski begitu, tahun 2018 tetap jadi tahun yang pedih, lantaran impian Trent mempersembahkan mahkota UCL untuk kota kesayangannya kandas. Tapi Trent tak patah semangat. Ia pun terus mempertebal tekad dan usahanya. Terbukti, setahun setelah momen pahit itu, Liverpool yang sudah hafal jalan menuju puncak, kembali menapaki partai final UCL. Dan sepanjang jalan perjuangan, Trent kembali jadi salah satu aktor penting.
Salah satu momen ikonik Trent di Liga Champions 2019 itu terjadi pada leg kedua semifinal. Ketika itu Liverpool harus mengejar agregat tiga gol dari Barcelona. Di Anfield yang sesak oleh harapan, perlahan namun pasti, pasukan Jurgen Klopp mampu menyamakan agregat jadi 3-3. Dan memasuki sepuluh menit terakhir, Liverpool mendapat sepak pojok. Dan lihatlah betapa briliannya seorang Trent Alexander Arnold.
Itu adalah momen yang mendefinisikan Trent sebagai seorang yang cerdas, berani, dan visioner. Berkat assist ikonik Trent ini, Liverpool mencatat comeback terbesar dalam sejarah semifinal Liga Champions.
Setelah keajaiban melawan Barcelona, Liverpool akhirnya menaklukkan Tottenham 2-0 di partai puncak. Trent menjadi pemain inti sepanjang turnamen paling bergengsi di Eropa itu, ia mengemas 4 assist dan menjadi pemain termuda dalam sejarah yang memenangi partai final UCL. Impian Trent semasa masih bocah enam tahun itu pun terwujud. Dari yang semula berada di jalanan melihat dengan mata terpana, berbelas tahun kemudian berada di bus khusus, dengan mata yang berbinar dan senyum tak henti-henti mengembang sambil mengangkat dan mencium trofi Liga Champions.
Liga Champions memang diraih. Namun, trofi Premier League gagal digenggam karena Liverpool kalah satu poin dari Manchester City. Meski secara pencapaian, musim itu Trent berhasil menorehkan 12 assist. Meski gagal meraih Liga Inggris, paling tidak, Trent membantu Liverpool mendekat pada trofi bermahkota itu.
Trofi yang pada akhirnya berhasil direngkuh juga di musim berikutnya. Setelah menanti 30 tahun lamanya, gelar Liga Inggris akhirnya jatuh ke pelukan Liverpool. Di balik kisah sukses itu, ada peran Trent. Saat itu tidak ada fullback segacor Trent di muka bumi ini.
Bayangkan saja, seorang bek kanan bermain di 38 pertandingan alias semua laga di Premier League dengan 4 gol dan 13 assist. Alhasil, musim luar biasa bagi Trent bersama Liverpool tersebut adalah definisi utuh dari usaha tak menghianati hasil.
Bab 4: Naik Turun Performa dan El Real yang Menggoda
Trent yang tengah berbunga-bunga pun dengan penuh keyakinan berucap bakal selamanya di Liverpool. Menjadi legenda, memenangi lebih banyak trofi, serta jadi kapten untuk The Reds. Namun, setelah mencapai puncak dan mengumbar janji besar, Trent dan kolega ternyata harus naik turun lembah.
Musim-musim berikutnya menjadi ujian berat. Di musim 2020/21, berderet-deret cedera menghampiri Trent, mulai dari gangguan otot, cedera betis, hingga hamstring. Riwayat cedera ini juga banyak dialami rekan-rekan Trent. Alhasil krisis lini belakang dan kelelahan mental menghantui Liverpool. The Reds tak meraih satu pun trofi di musim ini, dan Trent mulai dikritik karena beberapa kali bapuk dalam bertahan.
Kritikan tak membuat Trent tenggelam. Dan sebagai seorang petarung sejati, Trent tahu caranya untuk bangkit dengan cepat. Dari musim tanpa trofi, di musim 2021/22 Liverpool nyaris meraih quadruple. Trent kembali tampil luar biasa, seolah menjawab semua keraguan. Namun, trofi Liga Champions kedua dan Premier League kedua yang diimpikan kembali luput dari genggaman. Tapi Trent masih bisa membawa Liverpool memenangkan Carabao Cup dan FA Cup. Di musim itu, Trent menggemas 19 assist dan 2 gol.
Melihat kontribusi cemerlang tersebut, Liverpool tak ragu memperpanjang kontrak Trent hingga 2025. Dalam wawancara setelah penandatanganan, Trent menyiratkan ingin terus menjadi bagian dari era keemasan yang berkelanjutan. Namun, semakin sering Trent mengucap hal-hal manis, semakin besar pula ujian itu datang.
Mulai musim 2022/23, Liverpool mengalami stagnasi. The Reds kembali terlihat kelelahan, lini tengah menua, dan taktik Klopp dinilai butuh penyegaran. Kritikus juga kembali mempertanyakan kemampuan bertahan Trent, sementara Real Madrid diam-diam mulai mengamati.
Kabar ketertarikan Los Blancos mulai muncul pada akhir musim 2022/23, saat kontrak Trent tinggal dua tahun. Banyak yang menganggap itu hanya rumor biasa. Tapi ketika musim 2023/24 berjalan dan Liverpool masih kesulitan konsisten di liga maupun Eropa, kabar itu berubah menjadi sinyal serius.
Isu kepindahan Trent ke Real Madrid memuncak di musim 2024/2025. Los Blancos butuh bek sayap kanan baru untuk menggantikan posisi Dani Carvajal yang sudah mulai uzur. Saat desas-desus ini semakin kencang, Trent tutup mulut dan justru pelatih anyar Liverpool, Arne Slot yang coba bersilat lidah.
Juru taktik asal Belanda itu tak bisa menyangkal kalau Los Blancos memang lagi ngebet-ngebetnya memboyong Trent. Namun Arne Slot menyebut kalau Trent masih berkomitmen untuk terus di Anfield.
Manajemen Liverpool sendiri bukan tanpa upaya, mereka disebut telah menawarkan perpanjangan kontrak jangka panjang dengan bayaran fantastis. Namun tanda-tanda kegamangan mulai terlihat lantaran Trent tak kunjung membubuhkan tanda tangan. Padahal kontrak Trent di Anfield sudah memasuki tahun terakhir. Tampaknya godaan Real Madrid lebih dari sekadar soal uang atau gelar atau status legenda.
Bab 5: Trent Pergi, Anfield Dikhianati, Tak Ada Kata Maaf
Di tengah simpang siur itu, suara-suara kekecewaan dari fans mulai nyaring terdengar. Saat rumor masih menggantung, sebagian fans fanatik bahkan ada yang membakar jersey bernomor 66 milik Trent. Lalu mural Trent di sisi kota yang dipersembahkan oleh fans sebagai penghormatan, kabarnya juga telah dihapus dan diganti dengan wajah Conor Bradley, bek muda yang meski bukan asli Liverpool tapi tumbuh di akademi kota itu.
Bahkan kabar lainnya, fans meminta agar Trent tak lagi dimainkan di laga-laga terakhir musim 2024/25. Puncaknya, saat pengumuman resmi tersiar, amarah itu berubah menjadi penghakiman massal. Banyak yang mengungkit ucapan-ucapan lama Trent yang menyatakan ingin bertahan selamanya di Liverpool, menjadi kapten, pensiun di Anfield sebagai legenda.
Seakan tahu gelombang kecewa akan datang dari fans, Trent merilis video dan surat terbuka di sosial media. Ia meminta maaf. Ia bilang, keputusannya sulit. Trent berusaha menjelaskan bahwa keputusan ini adalah bagian dari perkembangan dirinya, dari mimpi besar lainnya sebagai pesepakbola yang ingin merasakan tantangan baru. Tapi bagi banyak fans, tak ada tantangan yang lebih besar dari membela kota kelahiranmu sepanjang hayat.
Lagi pula bukan permintaan maaf dan alasan perpisahan yang ingin didengar fans, melainkan kesetiaan. Penjelasaan Trent itu justru menjadi luka yang terlalu dalam untuk bisa dijahit. Yang membuat luka itu semakin ngilu adalah fakta kalau kepergian Trent tak menghasilkan satu sen pun untuk klub.
Trent pergi secara cuma-cuma. Ia tak meninggalkan sesuatu untuk rumah yang sudah membesarkannya selama 20 tahun. Di era ketika setiap pound sangat berarti untuk proses regenerasi, kehilangan pemain sekelas Trent secara gratis jelas terasa pahit.
Trent tidak pergi dengan hormat. Ia tidak pamit dengan jujur. Ia menunggu sampai kontraknya habis, lalu melambaikan tangan seolah semua yang ditinggalkan tidak punya harga. Ada fans yang merasa terpukul karena ditinggalkan di saat klub butuh transisi besar pasca-kepergian Klopp. Lebih jauh, ada juga yang tak ragu menggaungkan kalau Trent merupakan pengkhianat. Dan tak ada pengkhianatan yang lebih ngilu ketimbang yang dilakukan oleh orang terdekat.
Trent memilih Real Madrid, klub yang berulang kali menghancurkan Liverpool di Liga Champions. Klub yang menjadikan trofi sebagai alat cuci dosa, yang membangun kejayaan bukan dari peluh, tapi dari cek kosong dan bujuk rayu agen. Fans pun merasa telah membesarkan seorang pahlawan yang salah, yang kepergiannya meninggalkan reruntuhan emosi yang tak bisa ditambal oleh kata-kata manis atau nostalgia kejayaan.
Dulu fans menyebut namanya dengan bangga. Kini, sebagian besar ingin melupakannya. Dulu Trent adalah simbol harapan, bukti bahwa bocah asli kota alias akamsi bisa jadi pangeran bahkan raja di tempat sendiri. Tapi semenjak keputusan itu dibuat, di mata sebagian fans, Trent bukan lagi ikon. Dia hanya satu dari banyak wajah yang menjual jiwanya demi kemewahan El Real.
Trent pada akhirnya tidak memilih seperti Steven Gerrard. Ia juga menjadi bukti bahwa darah lokal pun bisa begitu tega. Para fans mungkin tidak akan menghapus kontribusinya. Tapi lebih tepat untuk menguburnya dalam-dalam. Karena di Liverpool, legenda tidak diukur dari berapa assist yang kau buat, tapi dari berapa banyak luka yang kau tanggung bersama. Trent tak menanggung luka apa pun. Dia pergi sebelum badai benar-benar datang.
Bab 6: Penutup dan Refleksi
Namun beriringan dengan rasa kecewa itu, terdapat juga pertanyaan yang lebih sunyi, lebih dalam, dan lebih manusiawi. Pertanyaan yang muncul bukan dari kemarahan, tetapi dari keheningan setelah amarah reda. Apakah meninggalkan rumah sama artinya dengan melupakan asal-usul? Apakah keputusan untuk pergi selalu harus diterjemahkan sebagai bentuk pengkhianatan?
Mungkin tidak. Mungkin, bagi Trent, ini bukan tentang lari dari tanggung jawab, tapi tentang mengejar versi dirinya yang belum sempat ia temui di Anfield. Mungkin, ada bagian dari dirinya yang ingin tahu bagaimana rasanya berdiri tanpa tumpuan sejarah, bagaimana rasanya bermain tanpa bayang-bayang Gerrard, Carragher, dan warisan merah yang begitu membebani. Mungkin, ia ingin membuktikan bahwa darah Merseyside tak harus tinggal selamanya untuk tetap mengalir di dada.
Fans mungkin marah, tapi waktu toh punya cara sendiri untuk menyaring emosi. Mungkin ketika semua riuh telah reda, ketika Anfield kembali sunyi dan The Kop hanya tinggal gumam nostalgia, akan ada ruang untuk melihat Trent secara lebih utuh dan lebih manusiawi. Bahwa di balik status pemain idola, ia tetap seorang anak muda yang harus membuat pilihan. Bahwa di balik lencana klub yang ia kenakan selama bertahun-tahun, ada jiwa yang mendamba petualangan baru, meski resikonya adalah kehilangan cinta pertama.
Mungkin, pada akhirnya nanti, ketika kerutan telah tumbuh di wajah para pendukung, dan nama-nama baru sudah menggantikan perannya di lapangan, Anfield akan belajar untuk memaafkan. Tidak dalam bentuk selebrasi besar atau sambutan meriah, tapi dalam bentuk kenangan yang tidak lagi dibalut dendam.


