Transfer Paling Flop dalam 10 Tahun Terakhir

spot_img

Kalau di dunia fashion atau otomotif, harga akan berbanding lurus dengan kualitas. Namun, di dunia sepakbola, berbanding terbalik. Label harga bukan jaminan performa. Terlalu banyak kisah di mana pemain datang dengan harga selangit, dipuja sebelum menendang bola, tapi akhirnya tenggelam dalam sorakan kecewa. 

Klub menggelontorkan jutaan euro demi satu nama besar, berharap bisa jadi solusi instan. Sialnya, mereka lupa bahwa sepakbola asli tak semudah di video game. Di dunia nyata, pemain butuh waktu untuk menyesuaikan diri, tekanan pun datang tanpa henti, dan tidak semua pemain bisa menari dalam sorotan. 

Dari keresahan itu, kali ini Starting Eleven merangkum pemain-pemain mahal yang berakhir flop di liga-liga top Eropa dalam sepuluh tahun terakhir. Siapa saja mereka?

Nicolas Pepe 

Nama pertama yang muncul dalam daftar adalah Nicolas Pepe. Saat Arsenal memboyong Nicolas Pépé dari Lille dengan mahar fantastis sekitar 80 juta euro pada musim panas 2019, banyak yang percaya ini adalah awal dari era baru. Bagaimana tidak? Winger cepat asal Pantai Gading itu baru saja membukukan 22 gol dan 11 assist di Ligue 1.

Tapi yang datang bukan keajaiban, melainkan kebingungan. Di bawah asuhan Unai Emery, Pépé tampak seperti pemain yang kehilangan arah. Ia punya kecepatan, teknik, dan kaki kiri mematikan, tapi sering salah ambil keputusan. Ia hanya mencetak 5 gol di Premier League musim 2019/20. Pepe sebetulnya bukan pemain yang sepenuhnya buruk. Tapi performanya tak pernah mencapai level 80 juta euro.

Arthur Melo 

Masih dari bandrol harga yang sama, ada Arthur Melo yang pindah dari Barcelona ke Juventus pada 2020. Arthur digadang-gadang sebagai penerus tradisi gelandang elegan Brazil yang sukses di Serie A. Dia berteknik tinggi, tenang saat membawa bola, dan bisa jadi pengatur tempo permainan. Namun, kenyataannya fans cuma dibuat kebanyakan menghayal. 

Di awal kedatangannya, Arthur tak pernah benar-benar menyatu dengan sistem permainan Juventus. Apalagi saat Andrea Pirlo menjadi pelatih. Ia terlalu lambat untuk transisi vertikal ala Serie A, dan kurang kreatif saat diminta mendistribusikan bola. Lalu badai cedera datang. Musim demi musim, kebugarannya seperti teka-teki tanpa solusi. Saat dipinjamkan ke Liverpool atau Girona, Arthur tak kunjung menemukan performa terbaiknya.

Harry Maguire 

Yang satu ini mungkin bisa diperdebatkan. Dalam dua musim terakhir, Harry Maguire memang menunjukan perkembangan performa yang signifikan. Dirinya lebih konsisten dan jarang salah mengambil keputusan. Namun, di tahun-tahun awalnya berseragam Manchester United, Maguire adalah aib Kota Manchester.

Ditebus dengan 87 juta euro dari Leicester City, Maguire jadi bek termahal di dunia tahun 2019. Mengalahkan rekor Virgil van Dijk. Tapi perjalanan Maguire di Manchester tak pernah semulus harga yang dibayar untuknya.

Alih-alih jadi pahlawan, Maguire perlahan berubah menjadi badut. Kesalahan-kesalahan individual, positioning yang buruk, pergerakan yang kaku, hingga ekspresi wajahnya saat kehilangan bola, semuanya menjadi bahan empuk bagi media. Ia bukan hanya dikritik, tapi juga dijadikan meme.

Neymar

Sedikit lebih mahal, ada Neymar yang dibeli Al-Hilal dari PSG dengan mahar 90 juta euro. Keberadaan Neymar di Arab Saudi seperti sebuah deklarasi kekuatan baru Al-Hilal. Dengan gaji selangit dan fasilitas kelas wahid, Neymar harusnya berhutang budi pada Al-Hilal. Tapi kenyataannya Neymar tidak menampilkan performa yang diinginkan oleh klub.

Berharap bisa menonton sepakbola indah khas samba, publik Arab Saudi justru tak disuguhi apa-apa. Ya gimana, Neymar terlalu sering cedera. Baru main beberapa pertandingan, Neymar langsung kena cedera ACL Oktober 2023. Cedera didapat pas bela Brazil.

Kasus ini makin bikin Al-Hilal merugi. Jarang main, Neymar kehilangan banyak momentum untuk bersinar. Alhasil, klub Arab Saudi itu membiarkan Neymar kembali ke Santos pada 2025. 

Randal Kolo Muani

Memasuki musim panas 2023, Paris Saint-Germain kembali membuat gebrakan. Setelah kepergian Lionel Messi dan Neymar, klub ibukota Prancis bergerak cepat membangun era baru. Jargonnya lebih muda, lebih “Prancis”. Salah satu potongan puzzle utamanya adalah Randal Kolo Muani, striker potensial yang bersinar di Eintracht Frankfurt.

Diboyong dengan harga sekitar 95 juta euro, Kolo Muani diharapkan menjadi tandem ideal bagi Kylian Mbappé. Sayangnya, Kolo Muani justru jadi potongan puzzle yang salah. Mau diputar berkali-kali pun tetap nggak pas sama sistem permainan Luis Enrique. Kepercayaan diri yang anjlok pun membuatnya sulit berkembang. Setelah kepergian Kylian Mbappe, sang pemain pun tak kunjung mendapat tempat di skuad utama dan justru dipinjamkan ke Juve.

Antony

Dengan harga yang sama, ada Antony yang ditebus Manchester United dari Ajax Amsterdam tahun 2022. Sebelum Antony menginjakan kaki di Old Trafford, sudah muncul firasat buruk di lingkungan para pengamat bola. Harga 95 juta euro untuk pemain yang baru nyeplok di Eredivisie dirasa terlalu berlebihan.

Dirinya tak datang dengan mengemas 30 gol atau memenangkan banyak penghargaan individu. Dan benar saja, ketika tampil di sepakbola Inggris, Antony ternyata cuma mas-mas Brazil biasa. Doyan nyekill sih, tapi tidak pada tempatnya. Selalu improvisasi tanpa efisiensi. Kisah Antony di MU lebih pantas disebut drama kelam daripada kisah kejayaan. Kini, namanya sudah tersingkir dari skuad utama. Ruben Amorim sudah membiarkannya pergi.

Eden Hazard

Menyentuh 100 juta euro, ada transfer Eden Hazard dari Chelsea ke Real Madrid. Kita semua tahu, Hazard adalah salah satu talenta paling spesial di muka bumi ini. Semasa masih berseragam Chelsea, Hazard bukan sekadar bintang, melainkan penari utama di panggung Premier League.

Roda kehidupan Hazard pun berputar saat dirinya memutuskan untuk hengkang ke Madrid. Hazard mendarat di Santiago Bernabéu sebagai pewaris tahta Cristiano Ronaldo. Tetapi, predikat itu tampaknya terlalu berat baginya. Seberat beban tubuhnya. Selain badannya yang semakin gempal, Hazard juga terus bergelut dengan cedera. 

Dari mulai otot, pergelangan kaki, tulang kering, semuanya. Seakan tubuhnya tak lagi sanggup menari di atas rumput. Yang lebih parah, saat pulih pun performa Hazard tak pernah kembali ke bentuk terbaiknya. Ia tampak lambat dan kehilangan ledakan. Hingga akhirnya ia memutuskan pensiun dini pada tahun 2023.

Ousmane Dembele 

Selain Harry Maguire nama Ousmane Dembele juga masih bisa diperdebatkan. Sebab, dirinya saat ini jadi striker terbaik yang dimiliki PSG. Ia tajam, cepat, dan haus akan prestasi. Setelah mengantarkan PSG meraih treble winner, Dembele bahkan jadi salah satu yang dijagokan meraih Ballon d’Or tahun 2025. Tapi, yang akan kita bicarakan bukan masa-masa indahnya bersama PSG, melainkan saat di Barcelona. 

Didatangkan dengan mahar tinggi, yakni 105 juta euro, Dembele kesulitan untuk terus fit. Hanya beberapa pertandingan awal, Dembélé sudah mengalami cedera hamstring parah yang membuatnya absen berbulan-bulan. Setelah itu, cedera lain pun mengikuti. Dari otot, paha belakang, sampai lutut, nyaris tak ada musim yang ia lewati tanpa masuk ruang perawatan. Total, ia melewati 15 cedera dalam kurun waktu enam musim.

Romelu Lukaku

Di harga yang lebih mahal, ada transfer Romelu Lukaku dari Inter Milan ke Chelsea. Ini transfer yang cukup aneh dan terkesan dipaksakan. Sudah tahu Lukaku nggak cocok di Chelsea dan sempat gagal di MU, tapi kenapa masih tetap didatangkan pas tahu dia moncer di Inter, dengan harga 113 juta euro pula? Nggak masuk akal. Dan benar saja, Lukaku yang datang tahun 2021 tampak terisolasi. 

Ia lambat dalam kombinasi dan tak nyambung dengan skema permainan Thomas Tuchel. Belum genap setengah musim, bara api semakin menyala ketika Lukaku berbicara blak-blakan ke media Italia. Ia mengungkap rasa rindunya pada Inter dan betapa ia tak nyaman dengan taktik Chelsea. Dengan hanya mencetak 8 gol di Premier League, Lukaku akhirnya kembali ke Inter semusim berikutnya.

Antoine Griezmann 

Terakhir ada Antoine Griezmann yang dihargai 120 juta euro oleh Barcelona pada tahun 2019. Sang pemain hanya bertahan selama dua musim dari ikatan kontrak lima tahun sebelum kembali ke Atletico sebagai pemain pinjaman. Ironisnya, pada tahun 2023 Atletico hanya membayarnya sekitar 22 juta euro saja. Barca rugi hampir 100 juta euro dari transfer ini.

Selain rugi secara finansial, Barca juga dibuat patah ekspektasinya. Griezmann gagal nyetel dengan skema permainan La Blaugrana. Ia mencetak 35 gol dari 105 pertandingan. Tak buruk amat memang, tapi jauh dari apa yang seharusnya didapat dengan harga 120 juta euro. Setelah kembali ke Atleti, Griezmann justru kembali bersinar. 

Kisah Griezmann di Barcelona bisa jadi pembelajaran bagaimana pemain top bisa meredup bukan karena kualitas, tapi karena kehilangan habitat. Sang pemain tidak bermain buruk. Ia hanya berada di klub yang salah.

___

Sumber: BBC, 90min, The Athletic, TNT Sport

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru