Bukan FIFA namanya kalau nggak pandai bikin geger. Setelah mendesain jeda babak di laga final Piala Dunia 2026 menjadi acara mini konser layaknya halftime Super Bowl dengan menggandeng band ternama asal Inggris, Coldplay, baru-baru ini induk organisasi sepak bola dunia itu menyampaikan wacana untuk menambah lagi peserta Piala Dunia.
Ya, mulai edisi 2030 yang akan datang, jumlah tim yang berlaga di Piala Dunia akan bertambah gemuk dari edisi-edisi sebelumnya. Bayangkan, akan ada 64 peserta di Piala Dunia 2030 nanti. Gila nggak tuh?
Jelas ide tersebut berpotensi menyulut huru-hara. Banyak yang berpendapat kalau penambahan kuota peserta sangat rawan disalahgunakan oleh segelintir oknum petinggi, dan menimbulkan mudharat bagi seluruh insan sepak bola dunia. FIFA harus siap-siap dibanjiri kecaman akan hal ini.
Lantas, siapa figur yang menyodorkan usulan ini? Apakah Indonesia dengan roadmap PSSI Vision 2045 yang baru saja diumumkan akan diuntungkan seandainya FIFA jadi memperbanyak peserta mulai 2030? Mari kita bahas bersama.
Namun sebelumnya, kalian bisa klik tombol subscribe dan nyalakan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan konten terbaru dari Starting Eleven.
Dari 48 menjadi 64 tim
Melonjaknya peserta dari yang awalnya 32 menjadi 48 pada Piala Dunia 2026 sepertinya bukan yang terakhir. Menurut The Guardian, seorang juru bicara FIFA membenarkan bahwa internal mereka sedang menggodok rencana untuk menambah lagi jumlah peserta turnamen prestisius antar negara-negara di dunia. Dari 48 di 2026 berkembang menjadi 64 di 2030. Jumlah tersebut setara dengan seperempat dari keseluruhan anggota FIFA.
Usulan ini muncul secara spontan dalam forum rapat dewan FIFA secara virtual pada 5 Maret 2025. Dalang di balik gagasan tersebut adalah Ignacio Alonso, anggota dewan FIFA sekaligus presiden Asosiasi Sepak Bola Uruguay. Ignacio diberitakan menyampaikan proposal yang sudah disiapkan dalam bahasa Inggris menjelang sesi penutup rapat dewan.
🚨🏆 𝐁𝐑𝐄𝐀𝐊𝐈𝐍𝐆 | FIFA will consider expanding the World Cup to 64 teams for the 2030 tournament, reports @guardian_sport. 🌍
Reminder: Morocco, Portugal, Spain will host this tournament. Argentina, Paraguay & Uruguay will have centenary matches to open the tournament. pic.twitter.com/sgYhIsmLBl
— EuroFoot (@eurofootcom) March 7, 2025
Alasan yang mendasari Ignacio kepikiran untuk menambahkan peserta adalah hajatan akbar Piala Dunia 2030 yang diadakan di 6 negara, termasuk Uruguay menjadi momen perayaan centenario alias 100 tahun Piala Dunia. Oleh karena itu, dengan jumlah tim yang lebih banyak dari 2026 akan memeriahkan jalannya turnamen.
Sontak saja, rencana Ignacio mengguncang seisi forum. Tiga orang narasumber dari The Associated Press mengatakan bahwa anggota dewan lain yang hadir terlihat tercengang dan terdiam. Dalam keheningan forum, gagasan tersebut rupanya diterima oleh pimpinan rapat. Dalihnya karena FIFA memiliki kewajiban untuk mengkaji lebih intens setiap usulan dari salah satu anggota dewannya.
Selang beberapa jam setelah rapat rampung, muncul pernyataan dari Presiden Gianni Infantino. Pria botak asal Swiss pengganti Sepp Blatter ini mengaku ia dan timnya setuju untuk mengeksplorasi gagasan tersebut lebih jauh. Bagi Infantino, buah pemikiran Ignacio selaras dengan upayanya untuk memperluas jangkauan sepak bola ke banyak negara sejak ia terpilih sebagai presiden FIFA pada tahun 2016.
Punya dua sisi yang berbeda
Seperti mata koin yang punya dua sisi yang berbeda, gagasan penambahan peserta ini pasti akan disikapi dengan dua cara yang juga berlainan. Infantino berpendapat kalau perubahan jumlah peserta menjadi 64 tim akan menghasilkan lebih banyak revenue dan memberi lebih banyak tim kesempatan untuk lolos dan tampil di pesta akbar. Ia juga berucap bahwa dengan perluasan kuota tim sama artinya dengan meningkatkan pengembangan sepak bola global.
Gagasan penambahan sepertinya akan disambut baik oleh pejabat konfederasi AFC dari Asia, CAF dari Afrika, dan OFC dari Oseania. Pasalnya, ketiga zona itu dapat mengikutsertakan lebih banyak perwakilan di perlombaan Piala Dunia 2030. Sebagai contoh, untuk Piala Dunia 2026 kuota yang diterima AFC sebanyak 8 negara, CAF sebanyak 9 negara, dan OFC hanya 1 negara saja.
Sekarang kita mulai ke sisi hitamnya. Pertama, meningkatnya jumlah tim yang dapat tiket ke putaran final membuat sistem kualifikasi menjadi tidak menarik bahkan terancam tidak perlu diadakan. Seperti contoh yang dialami oleh CONMEBOL di Amerika Selatan.
Saat ini CONMEBOL dapat jatah 6 negara yang lolos langsung ke Piala Dunia 2026. Dengan adanya penambahan jumlah tim di 2030, kesepuluh peserta CONMEBOL dapat garansi untuk mejeng di event 4 tahunan. Terus, kalau semuanya dapat slot, ngapain masih ada babak kualifikasi?
Melansir dari SkyNews, Kepala Eksekutif Asosiasi Sepak Bola Mark Bullingham mengatakan, memang masih banyak negara yang belum pernah tampil di Piala Dunia dan ingin sekali mendapatkan kesempatan berharga itu. Namun, FIFA perlu untuk mempertimbangkan lagi wacana penambahan itu agar turnamen berjalan dengan seimbang.
🚨🏆 OFFICIAL: Spain, Portugal and Morocco will host the centenary edition of the World Cup in 2030.
Argentina, Uruguay and Paraguay will also be ‘centenary hosts’. pic.twitter.com/MZcXry94ZR
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) December 11, 2024
Kedua, kalau kita bicara tentang Piala Dunia pasti salah satu yang dibayangkan adalah negara yang menjadi tuan rumah. Khusus untuk edisi 2030; Spanyol, Portugal, dan Maroko akan bertindak sebagai tuan rumah bersama. Belum lagi ketambahan trio Argentina, Uruguay, dan Paraguay yang akan mengadakan tiga laga pembuka untuk perayaan 100 tahun sejak Piala Dunia yang pertama. Itu artinya ada total 6 negara yang bertindak sebagai host.
Adanya penambahan 16 tim lagi dari edisi 2026 akan menciptakan tantangan logistik yang begitu substansial bagi tuan rumah. Mereka harus menyediakan lebih banyak lagi kebutuhan dan fasilitas publik untuk melayani tamu yang datang berjibun. Itu disebabkan oleh durasi turnamen yang mungkin akan berlangsung setidaknya selama enam minggu. Bisa dibayangkan bagaimana puyengnya para panpel negara-negara host.
Peluang timnas dengan Vision 2045
Entah kebetulan atau tidak, munculnya ide penambahan peserta Piala Dunia mulai 2030 bersamaan dengan diumumkannya sebuah roadmap yang diberi nama PSSI Vision 2045 Saat rapat kerja bersama Komisi X DPR di Jakarta 5 Maret 2025, Ketum Erick Thohir menyampaikan bahwa federasi telah menyiapkan sebuah visi untuk mendukung kemajuan sepak bola Indonesia. Dalam waktu dekat, PSSI akan menyerahkan blue print dari roadmap tersebut kepada FIFA.
Rencana strategis PSSI dalam upaya mencapai ranking 45 di tahun 2045.
Timnas putra ditargetkan untuk lolos Piala Dunia U-17 tahun 2031, lolos Piala Dunia U-20 tahun 2033, lolos Olimpiade tahun 2036, dan lolos Piala Dunia 2038.
Sedangkan timnas putri ditargetkan untuk lolos… pic.twitter.com/4VVK9TWCsv
— Jebreeetmedia (@jebreeetmedia) March 5, 2025
Isi dari PSSI Vision tersebut adalah target yang harus dicapai oleh PSSI untuk menyongsong Indonesia Emas 2045 sekaligus era kejayaan skuad Garuda. Untuk mencapai fase emas, PSSI membaginya menjadi 3 tahapan. Fase pertama, yaitu tahap pengembangan yang direncanakan dalam kurun waktu lima tahun dari 2023-2028. Lalu, di fase kedua yaitu pada 2028-2034, disiapkan sebagai fase stabilitas. Terakhir, fase ketiga, yaitu 2034-2045, menjadi fase golden era.
Khusus untuk timnas senior pria, Erick menargetkan supaya skuad merah-putih bisa gabung sebagai salah satu wakil Asia di Piala Dunia 2038. Bila itu tercapai, maka timnas sudah mencapai masa emas yang next level.
Nah, dengan adanya ide penambahan jumlah tim mulai Piala Dunia 2030, timnas Indonesia berpeluang untuk mejeng sebagai peserta jika ide tersebut jadi disahkan FIFA. Jadi, walaupun gagal lolos ke Piala Dunia 2026, Indonesia masih bisa berpeluang lolos di edisi-edisi berikutnya imbas dari kuota Asia yang bertambah. Kalau Indonesia bisa lolos di satu edisi saja, maka Vision 2045 sukses besar.


