Asia sudah menjadi kawasan yang mulai menyebar banyak sekali pemain-pemain kelas dunia. Sudah ada beberapa negara yang rajin mengirimkan putra terbaiknya ke panggung lapangan hijau. Korea dan Jepang misalnya. Dua negara tersebut selalu mengirim pemain bertalenta, yang bahkan sampai ke tim-tim raksasa.
Selain dua negara tersebut, Australia juga tak kalah dalam kirimkan pemain bertalenta. Untuk yang satu ini, semua pasti setuju bila nama Tim Cahill layak ditempatkan di barisan terdepan.
Timothy Filiga Cahill yang lahir pada 6 Desember 1979 merupakan pemain yang memiliki keturunan Irlandia dan Samoa. Maka wajar bila di usia 14 tahun, Cahill pernah tercatat sebagai pemain Samoa U20. Federasi Sepakbola Samoa ketika itu memang begitu tertarik untuk menggaet Cahill. Pasalnya, sang pemain dianggap sangat bertalenta. Mereka bahkan rela memberikan apapun demi bisa memasukkan Cahill dalam daftar pemain mereka.
Namun usia Cahill masih terlalu muda untuk menentukan negara mana yang akan ia bela. Menjelang Piala Dunia 2002, dia juga sempat diberi tawaran oleh timnas Irlandia untuk bergabung dengan mereka. Akan tetapi peraturan FIFA saat itu menjadi kendala baginya.
Setelah badan tertinggi sepak bola dunia itu mulai mengubah peraturan tentang pemain yang tampil di timnas Junior, Cahill malah lebih yakin untuk bergabung dengan timnas Australia. Ia memulai debut dengan timnas Kanguru pada tahun 2004 di laga melawan Afrika Selatan.
Berniat untuk meneruskan karirnya di dunia sepakbola, Inggris menjadi tujuan Cahill saat itu. Dia benar-benar berambisi untuk bisa menimba ilmu di negeri ratu elizabeth.
Akan tetapi, bukan hal mudah bagi Cahill untuk mewujudkan itu semua. Itu karena dia harus menyiapkan banyak dana agar bisa terbang ke Inggris, sedangkan kedua orang tuanya tidak memiliki cukup uang untuk bisa membawa Cahill ke Inggris.
Namun setelah melihat keinginan sang anak yang begitu kuat, ayahnya rela berhutang sebesar 10 ribu pounds atau sekitar 180 juta rupiah untuk membawa putra kebanggaannya itu meraih asa. Millwall menjadi tim yang dibelanya saat itu. Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, Cahill dengan semangat berlatih untuk bisa mendapat kepercayaan pelatih.
Pada akhir tahun 1998, Cahill akhirnya berhasil masuk ke skuad utama tim berjuluk The Lions. Hal itu didapat tentu tak lepas dari kerja kerasnya selama berada di Inggris. Cahill berkeyakinan bahwa ia akan menjadi salah satu pemain hebat. Ditambah dengan motivasi dari kedua orang tuanya yang sudah rela berhutang demi membawanya menuju Eropa.
Bergabung dengan Millwall pun tak ubahnya menjadi sebuah keputusan besar baginya. Dia menjadi andalan tim dalam beberapa musim dan berhasil menyumbangkan piala seperti Football League Second Division. Selain itu, Cahill juga sukses membawa Millwall masuk ke partai final FA Cup musim 2003/04.
Bermain gemilang selama kurang lebih enam tahun, Cahill akhirnya diminati klub yang lebih besar. Menimba ilmu di tim tradisional Inggris dirasa sudah cukup. Dirinya pun menerima tawaran yang saat itu diajukan oleh Everton .
Disinilah namanya melambung tinggi. Kedatangannya disambut bak bintang. Pelatih Everton kala itu, David Moyes, mengatakan kalau ia begitu senang karena bisa dapatkan penyerang sekelas Tim Cahill.
Tak butuh waktu lama bagi Cahill untuk kesankan penggemar. Di musim pertamanya berseragam The Toffees, Cahill langsung bisa nyetel dengan taktik yang diterapkan oleh David Moyes dan keluar sebagai top skor klub dengan raihan 12 gol, serta membawa Everton meraih satu tiket ke kualifikasi Liga Champions.
Sekali lagi, jika bicara tentang Everton, nama Cahill memang begitu bersinar. Everton adalah klub ketika kita menyebut nama Cahill. Meski sempat diragukan oleh para petinggi klub, pemain negeri Kanguru ini berhasil membuktikan kualitas terbaiknya. Salah satunya adalah ketika dirinya masuk ke dalam nominasi Ballon D’or 2006, dan menjadi satu-satunya wakil dari AFC.
Namun begitu, tidak selamanya karir sepak bolanya mulus. Pada musim 2006/07, Cahill pernah menderita cedera parah hingga membuatnya harus absen lama. Kendati demikian, hal tersebut tak serta merta membuat karirnya terganggu. Cahill berhasil bangkit dan bahkan terus membawa Everton menjadi tim yang sangat layak ditakuti.
Melakukan kombinasi dengan pemain-pemain berkelas seperti Yakubu, Victor Anichebe, Louis Saha, Leighton Baines, Joleon Lescott, Phil Neville, Tim Howard, Marouane Fellaini dan Mikel Arteta, Cahill mampu mengamankan predikat Big Five klub berjuluk The Toffees.
Total ada delapan musim yang ia habiskan bersama Everton. Selama itu pula, Cahill telah memberikan banyak sekali kenangan. Ia mencatatkan 226 laga dan 56 gol bagi The Toffees.
Setelah namanya tampak tidak digunakan lagi, Cahill memutuskan untuk pergi dari Inggris. Secara mengejutkan, di bergabung dengan klub asal Amerika, New York Red Bulls. Dia masih berusia 32 tahun saat itu. Usia yang sebenarnya masih bisa digunakan untuk berkarir di Eropa. Namun, Cahill beralasan kalau di ingin mengamankan tempatnya di Australia.
Ya, selain bicara tentang Everton, nama Cahill juga begitu melegenda kala kita menyebut nama Australia. Bersama timnas Australia, berbagai memori indah telah ia ciptakan.
Cahill melakukan debut kompetitifnya untuk Australia di Piala OFC 2004. Dia mampu menyelesaikan kompetisi sebagai pencetak gol terbanyak kedua dengan torehan enam gol. Selain itu, Cahill juga membantu Australia dalam mencapai babak perempat final turnamen sepak bola putra di Olimpiade Musim Panas 2004. Berkat performa gemilangnya, Cahill dinobatkan sebagai Oceania Footballer of the Year untuk tahun 2004.
Berbagai turnamen besar terus dia jalani, hingga sampailah pada ajang Piala Dunia 2006, dimana ia berhasil keluar sebagai pencetak gol pertama Australia di ajang empat tahunan itu. Dia terus dimainkan di seluruh laga yang dijalani Australia selama turnamen. Sayang, Australia harus tersingkir dari Italia setelah kebobolan di menit-menit akhir laga.
Berlanjut ke Piala Dunia 2010, Cahill berhasil mencetak total tiga gol. Raihan itupun lalu menjadi sebuah rekor tersendiri bagi Australia. Kemudian, pada tahun 2014, Cahill resmi membawa timnas Australia tampil di tiga putaran final Piala Dunia secara beruntun. Meski tidak memberikan prestasi yang cukup membanggakan, setidaknya, dia selalu ada dalam setiap perjalanan Australia di panggung dunia.
Puncak dari karirnya di Australia bukan hanya membawa negara tersebut ke ajang Piala Dunia. Lebih dari itu, Cahill menjadi pemain yang sangat berjasa ketika Australia berhasil menjuarai turnamen Piala Asia tahun 2015.
Total, dia mencetak sebanyak tiga gol di turnamen tersebut.
Setelah merasa sudah banyak melakukan perjalanan, Cahill secara resmi mengumumkan akhir kiprahnya di timnas Australia. Hal itu diungkapkan lewat akun Twitter-nya. Dia yang kini berusia 40 tahun itu mengungkapkan kebanggaan luar biasa bisa membela Socceroos.
“Satu hal yang benar-benar akan aku rindukan adalah mencetak gol untuk negaraku di laga-laga besar di hadapan fans Australia,” ujar Cahill (via The Guardian)
Di level klub sendiri, setelah sempat berkelana di Amerika, Cahill juga sempat mencicipi sejumlah nama seperti Shanghai Shenhua dan Melbourne City. Dia bahkan pernah kembali ke Millwall pada tahun 2018.
Pada akhirnya, ia benar-benar putuskan gantung sepatu dari dunia sepak bola ada 2019 lalu.
Tim Cahill akan selalu menjadi sosok panutan bagi para pesepakbola Asia, khususnya Australia. Dia akan selalu menjadi contoh sempurna bagi setiap insan yang tertantang untuk melakukan petualangan ke panggung dunia.


