“Kalian tidak akan pernah merasa kalah ketika Roy Keane berada dalam tim. Dia pantang menyerah. Tidak ada pemain lain yang tekadnya melebihi dia. Amarah yang ada pada dirinya benar-benar mempengaruhi tim,”
Ungkapan tersebut hadir langsung dari legenda Manchester United tentang sosok merah menyala di lini tengah United, Roy Keane. Giggs menganggap bila Keane merupakan bentuk dari kobaran semangat Setan Merah. Ketika dia berada dalam tim, sudah bisa dipastikan bahwa lini tengah MU tak akan pernah kehilangan semangat bermain.
Lebih dari itu, Keane mampu mengontrol permainan dan mendominasi tempo. Secara taktis, penempatan posisinya juga sangat baik. Dia hebat ketika harus berduel satu lawan satu.
Banyak orang yang terlahir dengan bakat sepak bola, namun begitu, sedikit yang memiliki keahlian tertentu seperti Roy Keane. Pria kelahiran Cork Irlandia ini merupakan tipe gelandang box-to-box yang begitu ulet. Bakatnya ditemukan oleh Rockmount sebelum akhirnya Cobh Ramblers datang memberi tawaran pada 1989.
Bermain di klub tersebut, Keane selalu kesulitan untuk menembus tim muda Irlandia. Ia dianggap terlalu kecil dan tidak layak masuk ke skuad utama. Namun bukan Roy Keane bila semangat nya tak berkobar. Dia sama sekali tak patah arang dan terus lanjutkan perjalanan. Melalui sebuah tantangan yang tergolong besar, Roy Keane pada akhirnya mulai mendapat kesempatan main secara reguler di klub Cobh Ramblers.
Penampilannya berhasil kesankan pelatih hingga klub sekelas Nottingham Forest mulai meliriknya. Tanpa pikir panjang, Keane yang sudah melakukan pelatihan plus begitu terkesan dengan manajer Brian Clough langsung bergabung dengan Nottingham Forest pada tahun 1990.
Keane tak henti-hentinya berterima kasih kepada Clough karena telah membentuk pribadi yang tegar dalam dirinya. Bahkan, berkat asuhan salah satu manajer terhebat Inggris itu, Keane mampu menembus skuad timnas Irlandia U21. Debutnya dimulai ketika Nottingham Forest bertemu dengan Liverpool. Dari situ, Keane mulai mendapat perhatian serius dari banyak pihak.
Gaya bermainnya berbeda dengan yang lain. Ada banyak hal istimewa yang dimiliki Keane hingga membuat siapapun yang melihatnya terkesima. Keane yang berhasil mencetak gol pertamanya melawan Sheffield United langsung mengklaim tempat utama di Nottingham Forest, dengan menggantikan posisi Steve Hodge.
Pada tahun 1992, mulai banyak Liga Primer Inggris yang tertarik pada jasanya. Salah satunya adalah manajer Blackburn Rovers, Kenny Dalglish. Namun begitu, klub yang dibela tengah membutuhkan bantuannya, setelah mereka terjebak dalam zona degradasi. Menyusul negosiasi panjang, Keane akhirnya memperpanjang kontrak di Nottingham Forest dan memilih untuk menolak tawaran yang diajukan Dalglish.
Akan tetapi, Blackburn yang benar-benar menginginkan Keane tidak tinggal diam. Mereka terus menaikkan tawaran hingga sang pemain mau bergabung. Jadilah dana senilai 4 juta pounds disiapkan The Rovers. Dalam hal ini, Keane sempat goyah dan ingin menerima pinangan Dalglish. Mendengar negosiasi itu, Sir Alex Ferguson yang juga tertarik mendatangkan Keane coba menikung.
Alex Ferguson langsung menelpon Roy Keane untuk mencegah transfernya ke Blackburn. Disaat yang bersamaan, Blackburn belum mampu menuntaskan tawaran yang sebelumnya disepakati. United yang kemudian maju dengan proposal senilai 3,75 juta pounds akhirnya malah sukses membawa Roy Keane ke Old Trafford.
Ketika itu, MU baru saja memenangkan gelar Liga Primer pertama mereka, dengan nama Paul Ince dan Bryan Robson sukses menjalin duet luar biasa di lini tengah Setan Merah. Namun tidak bisa dipungkiri bila Bryan Robson telah memasuki masa senja. Dia mulai sering cedera dan tempatnya memang sudah harus digantikan.
Praktis, kedatangan Keane ke Old Trafford dinilai sangat tepat. Dia segera memantapkan diri untuk masuk ke tim utama dan melanjutkan kejayaan MU di kompetisi Liga Primer Inggris. Benar saja, Keane berhasil meraih gelar Liga Primer pertamanya setelah MU berhasil menjadi juara bertahan. Malah, Keane juga berhasill menyegel trofi Piala FA di musim yang sama.
Disana, dia dipandang sebagai salah satu pemain paling berpengaruh dalam tim. Nyaris tak ada yang menggoyahkan tempatnya. Perangainya kala membawa bola sangatlah luar biasa. Muka garang dan sentuhan kasar menjadi pilihan ketika ia menghadapi lawan. Keane dikenal sebagai sosok yang disiplin. Mantan pemain Manchester United, Darren Fletcher, juga turut memberi kesaksian bagaimana Roy Keane saat menjadi kapten dan mengarahkan para pemain muda.
Menurut Fletcher, Keane selalu meminta para pemain muda untuk datang setengah jam sebelum waktu latihan dimulai. Ketika sudah berada di lapangan, Keane juga tak segan memberi teriakan kasar kepada para pemain muda yang terlihat melakukan kesalahan. Karakternya yang begitu kompetitif dan juga tidak pernah ingin kalah apalagi dilewati lawan, sukses membuatnya menjadi salah satu pemain terbaik Manchester United sepanjang masa.
Menyusul tingkahnya yang juga pandai memimpin rekan-rekan membuat Sir Alex Ferguson tak ragu untuk memberinya ban kapten. Keane ditunjuk sebagai kapten United pada 1997, menggantikan peran Eric Cantona. Sejak saat itu, eksistensinya di lini tengah Old Trafford semakin tidak bisa diganggu gugat. Dia bermain sangat cemerlang dan tidak pernah tergantikan.
Karakternya yang begitu keras pun pada akhirnya meninggalkan kesan yang begitu luar biasa di kubu Setan Merah. Selain Fletcher yang menganggap Keane sangat disiplin, bek kelas dunia bernama Gerard Pique, juga pernah dibuat ketakutan setengah mati oleh Keane.
Pique bercerita bila Keane merupakan sosok mengerikan ketika berada di ruang ganti. Ketika ia bicara, semua harus mendengarkan. Malah, Pique nyaris menjadi bulan-bulanan Keane ketika telepon genggamnya berbunyi di tengah pidato Keane di ruang ganti MU.
Jika ada yang berani melawan, maka nasibnya akan sama dengan Gabriel Heinze. Heinze punya banyak cerita bersama MU. Salah satunya yang paling diingatnya adalah usai Setan Merah kalah 1-4 dari Middlesbrough di ajang Liga Inggris pada 2005. Usai pertandingan berakhir, Heinze menjadi pemain pertama yang meninggalkan lapangan. Setelah itu diikuti oleh Keane yang berjalan di lorong stadion.
“Kami kehilangan satu laga, dan aku pergi ke ruang ganti lebih dulu, kemudian Roy Keane yang kedua. Setelah itu dia bicara sesuatu,”
“Aku tidak paham bahasa Inggris kecuali kata-kata kasar. Lalu, aku mendengar nama ku yang disusul kata f**k off yang datang dari mulut Keane, salah satu pemain terbaik,”
“Aku tahu kalau itu adalah kata-kata buruk, jadi aku melawannya. Aku membalas idola Manchester United yang dicintai semua orang itu dengan mengucapkan: f*ck off you,”
“Lalu, aku tidak ingat apa yang terjadi berikutnya,” ujar Heinze (via sportsjoe)
Setelah sadar, Heinze ternyata ingat kalau dirinya pingsan usai dipukul KO oleh Roy Keane yang memarahinya kala itu.
Namun jangan salah, Keane yang merupakan sosok garang dan tak kenal ampun juga sempat merasa takut ketika berkarir menjadi pemain Manchester United. Ya, Keane merasa takut ketika melihat rekan setimnya saat itu, Eric Cantona, mengamuk usai dipukul dengan pentungan oleh seorang polisi, pasca Setan Merah tersingkir di Liga Champions edisi 1993/94 melawan Galatasaray.
“Di ruang ganti Cantona menggila. Dia bertekad kembali keluar untuk mencari polisi jahat yang memukulnya dengan pentungan,”
“Biasanya aku tidak akan mundur dalam sebuah perkelahian, tetapi bahkan aku tidak berani untuk menghadapi kejadian yang satu ini,” ujar Keane (via sportsjoe).
Setelah menjadi legenda di Manchester United, Keane pergi dari MU pada 2005, usai tersiar kabar bahwa dirinya cekcok dengan manajer Sir Alex Ferguson .
Dia membawa satu Liga Champions Eropa, tujuh trofi Liga Primer Inggris beserta piala domestik lainnya untuk bergabung dengan Celtic sebelum akhirnya pensiun pada tahun 2006.
Sampai saat ini, tepat setelah dia memutuskan pensiun dari dunia sepakbola, MU masih belum menemukan sosok garang seperti Roy Keane. Karakternya akan selalu diingat sebagai warisan hebat yang pernah dimiliki Setan Merah. Amarah serta semangatnya akan selalu tergambar jelas dalam era kejayaan Manchester United di kancah Eropa.


