Tak hanya orang-orang dari Timur Tengah, ternyata ada para miliarder asal Asia Tenggara yang juga punya klub-klub sepak bola. Bahkan beberapa klub tersebut merupakan klub top. Pun tak cuma di Eropa ada dari mereka yang punya klub top di luar Eropa.
Beberapa dari mereka mendapatkan respons negatif dari para fans karena aksi-aksi ajaib yang dilakukannya. Tapi tak sedikit pula yang sangat dicintai, baik oleh fans maupun oleh masyarakat di sekitar klubnya. Lantas, siapa para miliarder tersebut?
Daftar Isi
Vincent Tan
Nama pertama datang dari Batu Pahat, Malaysia, Vincent Tan. Ia terkenal sebagai pemilik Cardiff City. Selain Cardiff City, pengusaha asal Malaysia itu juga merupakan pemilik klub asal Bosnia-Herzegovina, FK Sarajevo, dan rival LA Galaxy, LAFC.
Nama Vincent Tan melambung tinggi gara-gara ulahnya mengacak-acak Cardiff City. Ia datang ke Cardiff sejak 2010. Di bawah rezimnya, Cardiff City sebenarnya sempat merasakan promosi ke Premier League. Namun, kegilaannya mengubah identitas Cardiff City membuat dirinya sangat dibenci oleh para fans. Ini menjadi syarat untuk apabila Cardiff mau mendapat 100 juta pounds (Rp 2 triliun) tambahan dari investasinya.
Seenak jidat pria kelahiran 1952 tersebut mengubah warna jersey Cardiff City dari biru menjadi merah. Tak cukup itu saja, logo klub pun digantinya dari burung menjadi naga. Ia berkilah, perubahan yang dilakukannya bertujuan untuk menaikkan branding klub di mata internasional.
Alasan tersebut jelas membuat para fans geram. Seorang asing bisa-bisanya mengubah sebuah tradisi hanya karena dia punya uang. Akhirnya, Vincent Tan pun menyerah. Warna dan logo yang diubahnya pada tahun 2012, dikembalikan seperti sedia kala pada 2015.
Vincent Tan menjadi pemilik FK Sarajevo sejak 2013. Di sana ia cukup diterima. Sebab, dirinya berkontribusi membangun akademi dan pengembangan pemain muda. Bahkan, Vincent Tan juga ikut membantu bencana banjir yang terjadi di sana pada tahun 2014.
Pada tahun 2014, Vincent Tan juga masuk ke LAFC, klub yang juga didirikan di tahun tersebut. Ia menginvestasikan sekitar 700 juta USD (Rp 10,4 triliun) uangnya untuk klub ini. Kepemilikannya pada LAFC ini jugalah yang ternyata membuat Gareth Bale bisa bergabung ke sana. Awalnya, Vincent Tan menawar Bale untuk bergabung dengan Cardiff City, namun Bale lebih tertarik jika dirinya bergabung ke klub kepunyaan Vincent Tan yang lain, yakni LAFC.
Sebenarnya, Vincent Tan juga memiliki klub di Belgia, yakni KV Kortrijk. Namun, seperti yang diwartakan oleh Vocket FC, dirinya melepas klub tersebut ke pengusaha bernama Maciek Kaminski pada 2023. Sebelumnya, Vincent Tan ikut andil dalam perekrutan bakat muda Harimau Malaya, Luqman Hakim, ke klub tersebut.
STATEMENT FROM TAN SRI VINCENT TAN >>> http://t.co/ujml7UMkFL pic.twitter.com/UmtkswrLym
— Cardiff City FC (@CardiffCityFC) January 9, 2015
Peter Lim
Selain Vincent Tan yang kontroversial, juga ada miliarder asal Singapura, Peter Lim. Ia adalah pemilik klub yang bermarkas di Mestalla, Valencia. Ia mengakuisisi Valencia sejak akhir 2014. Peter Lim dianggap sebagai akar dari turunnya prestasi Los Che. Meski pada 2015 saja, ia sudah menggelontorkan 100 juta euro (Rp 1,7 triliun) ke Mestalla.
Sejak 2015/16, performa Valencia cenderung menurun. Tim yang sebelumnya konsisten menjadi pejuang zona Eropa malah sering terseok-seok di papan tengah. Bahkan pada musim 2022/23, Kelelawar Mestalla hampir terdegradasi.
Kebijakannya pun cenderung ngawur. Dirinya pernah menunjuk mantan pemain seperti Gary Neville dan Gennaro Gattuso sebagai pelatih Valencia, yang mana mereka belum benar-benar teruji. Pun dari kebijakan transfer, ia malah membiarkan pemain potensial seperti Ferran Torres dan Goncalo Guedes pergi.
Segala kekacauan yang dilakukannya tersebut jelas membuat para fans murka. Peter Lim didemo besar-besaran. Mereka membentangkan spanduk “Lim Go Home” dan menuntut Peter Lim menjual klub kesayangannya agar segera cabut dari Mestalla.
Yesterday Valencia fans before the match against Girona continued their long and ongoing protest against the owner of the club Peter Lim. 👏🦇pic.twitter.com/oyFmsAo5xq
— LaLigaExtra (@LaLigaExtra) May 20, 2024
Dejphon Chansiri
Dejphon Chansiri adalah miliarder asal Thailand yang menjadi pemilik dari Sheffield Wednesday. Pengusaha makanan kaleng tersebut mengakuisisi salah satu klub sepuh Inggris tersebut pada tahun 2017. Targetnya saat mengakuisisi adalah membawa rival berat Sheffield United tersebut ke Premier League. Warga Thailand tersebut membeli klub sepuh ini hanya seharga 37,5 juta pounds (Rp 763 miliar).
Kenyataannya sejak akuisisi Dejphon, Sheffield Wednesday belum kesampaian masuk ke Premier League. Malahan, mereka beberapa kali dipecundangi oleh sang rival yang menjadi klub yoyo Premier League, Sheffield United. Mereka tetap terseok-seok di kasta bawah.
Fans Sheffield Wednesday menganggap Dejphon sebagai seorang yang arogan. Pada September 2023, BBC memberitakan bahwa Dejphon akan berhenti memberi uang tambahan ke klub. Alasannya ia tak suka dengan perlakuan fans. Terbaru, pada April 2024, videonya mendorong seorang fans menjadi viral dan menambah kebencian para fans kepadanya.
💬#swfc chairman Dejphon Chansiri said: “I am delighted to welcome Jos to Hillsborough. Following an extensive search for the right candidate, I am thoroughly convinced Jos is that man.”
👉https://t.co/m9tkQbnwlD pic.twitter.com/hR7jg12ETR
— Sheffield Wednesday (@swfc) January 6, 2018
Aiyawatt Srivaddhanaprabha
Setelah meninggalnya sang ayah, Vichai Srivaddhanaprabha, pada tahun 2018, Aiyawatt Srivaddhanaprabha bertanggung jawab mengambil alih setir kepemilikan Leicester City. Ia sangat dicintai para fans The Foxes. Sebab, ia tak memandang para fans sebagai mesin uang belaka alih-alih ia menjadikan fans sebagai mitra.
Dirinya sempat beberapa kali terlihat turun ke lapangan menyapa fans, misalnya pada final FA Cup 2021. Selama memegang warisan sang ayah, Aiyawatt relatif tak mendapat banyak perlawanan dari fans. Meskipun Leicester City sempat terdegradasi dan akhirnya naik lagi ke Premier League. Dahulu, sang ayah membeli klub ini seharga 39 juta pounds (Rp 793,5 miliar) pada 2010.
Pada 2018, pemilik Leicester Vichai Srivaddhanaprabha meninggal dalam tragedi helikopter 😢
Anaknya Aiyawatt Srivaddhanaprabha lalu menggantikan posisinya…
Memenangkan trofi #FACup sangat berarti baginya 💙pic.twitter.com/Kz21QjKqdf
— GOAL Indonesia (@GOAL_ID) May 16, 2021
Erick Thohir
Mantan owner FC Internazionale, Erick Thohir, kini menjadi pemilik Oxford United. Dirinya bersama Anindya Bakrie efektif mengambil tanggung jawab asal klub berlogo banteng tersebut sejak 19 September 2022. Saat itu, Oxford masih bermain di League One.
Musim 2023/24, mereka akhirnya mendapat promosi ke Championship. Sebuah kabar gembira yang dinanti para fans. Kini, mereka akan bermain di Championship, kasta kedua Liga Inggris. Artinya, asa sang pemilik untuk bisa membawa klubnya naik ke liga terbaik sedunia selangkah lagi menjadi kenyataan.
Meski tak disebutkan berapa harga pasti yang dikeluarkan untuk membeli klub ini, mereka berdua adalah pemegang 51% saham Oxford United.
Oxford United Akhiri Penantian Panjang 25 Tahun
Oxford United, klub sepak bola milik Anindya Bakrie dan Erick Thohir, meraih tiket promosi ke Divisi Championship Inggris 2024-2025, setelah menang 2-0 atas Bolton Wanderers dalam final playoff League One 2023-2024 di Stadion… pic.twitter.com/WaPTiV6Moc
— Republika.co.id (@republikaonline) May 19, 2024
Hartono Bersaudara
Hartono Bersaudara adalah konglomerat yang musim 2024/25 menggemparkan sepak bola Eropa. Mereka berdua berhasil mentransformasi klub asal Italia, Como 1907, hingga berhasil kembali ke Serie A. Bambang dan Budi Hartono membeli klub yang bermarkas di dekat danau tersebut pada tahun 2019 dengan harga sekitar 850 ribu euro (Rp 14,6 miliar) saja.
Secara perlahan mereka berdua merenovasi Como. Tak hanya secara klub, namun juga secara sosial masyarakat. Mereka mengajak masyarakat untuk menonton ke stadion dan sesekali memberi anak-anak kecil jersey dan tiket gratis. Perlahan, dukungan masyarakat kepada klub menjadi meningkat sehingga moral para pemain juga naik.
Bersama Cesc Fabregas, klub yang dimiliki oleh owner BCA tersebut akhirnya mendapatkan promosi pada musim 2023/24. Kini, mereka kembali ke Serie A dan sedang berusaha bertahan, agar perlahan mereka bisa mengumpulkan kekuatan dan bisa berbicara hingga level Eropa.
“Grazie Hartono”
Fans Como 1907 to Their Owner*Beberapa tahun ke depan, di Italia akan ada nama Santoso. pic.twitter.com/gMFudl8Izd
— Siaran Bola Live (@SiaranBolaLive) April 16, 2024
Santini Group
Pada 2019, Santini Group membeli klub asal Inggris, Tranmere Rovers. Perusahaan tersebut adalah milik 3 bersaudara, yakni Wandi, Lukito, dan Paulus Wanandi. Meskipun mereka hanya bertindak sebagai pemegang saham minoritas, mereka tetap masuk ke jajaran direksi klub. Tak disebutkan secara pasti pula berapa uang yang mereka gelontorkan.
Tranmere Rovers sendiri merupakan klub yang banyak berkutat di League Two. Meskipun begitu, mereka dikenal sebagai klub yang sangat toleran. Setiap hari raya, baik Idulfitri dan Iduladha, klub ini mempersilakan stadionnya digunakan untuk beribadah warga Muslim yang ada di sekitar Birkenhead.
Kemarin klub divisi 4 Liga Inggris, Tranmere Rovers FC, mengadakan sholat Idul Fitri di stadion mereka Prenton Park, di wilayah Merseyside. 🙏
Santini Group milik keluarga Wanandi asal Indonesia, juga memiliki sejumlah saham kepemilikan klub Tranmere Rovers
📷 @TranmereRovers pic.twitter.com/wGqwg0RrUl
— FaktaBola (@FaktaSepakbola) April 22, 2023
https://youtu.be/uaMhMrayrto
Sumber: Transfermarkt, Liga Laga, Sarajevo Times, Vocket FC, IDN Times, BBC, dan Goal


