Erik Ten Hag bakal melatih Manchester United? Mungkin hal ini akan benar-benar terjadi dalam beberapa hari mendatang. Meski belum ada pengumuman resmi dari pihak klub, kabar Ten Hag bakal ngelatih MU semakin santer terdengar.
Sebelum Ten Hag sedekat ini dengan Manchester United, mayoritas anggota dewan klub lebih memprioritaskan sosok Pochettino ketimbang Ten Hag. Namun, semua berubah setelah kekalahan 3-1 Paris Saint-Germain atas Real Madrid dalam pertandingan babak 16 Liga Champions kemarin.
Tapi tunggu sebentar, sebelum kalian para manchunian mengucapkan selamat datang untuk Ten Hag, apa kalian sudah yakin bahwa Ten Hag lah yang pantas untuk melatih MU? Nah, berikut beberapa alasan mengapa Ten Hag tidak pantas untuk MU.
Daftar Isi
Ten Hag Tak Terbiasa dengan Pemain Bintang
Salah satu alasan mengapa Ten Hag kurang pas menjadi manajer United adalah bagaimana ia membangun kedekatan dengan tiap individu di dalam skuad.
Manajer sepak bola asal Belanda itu bukanlah manajer yang bertipikal bisa membangun kedekatan pribadi dengan individu pemain. Ia lebih peduli dengan permainan tim secara keseluruhan.
Better duos then Bruno x Cristiano Ronaldo.
( Thread ) pic.twitter.com/qIerNzGIZs
— • (@mufcjosiah) March 31, 2022
Terlebih, kondisi materi pemain Ajax sangat berbeda dengan apa yang dimiliki Manchester United. Di Ajax Ten Hag cukup jarang berurusan dengan banyak pemain bintang yang notabene memiliki ego besar, seperti Paul Pogba, Bruno Fernandes, dan Cristiano Ronaldo. Tentu para pemain Manchester United yang terkenal cukup sulit dimengerti bakal menyulitkan Ten Hag.
Apalagi menurut The Sun, mereka melaporkan bahwa skuad Manchester United lebih menginginkan sosok Mauricio Pochettino untuk mengisi kursi kepelatihan ketimbang Ten Hag.
Sedangkan diyakini bahwa Ralf Rangnick lah yang mendorong manajemen United untuk memilih Ten Hag ketimbang Pochettino. Mengingat Rangnick memang menggemari cara kepelatihan Ten Hag.
Riwayat Pelatih Belanda di Liga Inggris
Jika dilihat dari pencapaian Erik Ten Hag di Liga Belanda, memang luar biasa. Ia tak hanya membawa Ajax tampil apik dan meraih trofi domestik. Ten Hag berhasil membangun reputasi klub untuk merajai Eredivisie.
Namun, yang akan dihadapi Ten Hag di MU jauh berbeda. Ia tak lagi bermain di Belanda, melainkan Inggris. Selain sangat kompetitif, beradaptasi dengan tempo permainan dan tekanan di Liga Inggris bukanlah perkara mudah.
Beberapa manajer asing pun kerap menjajal ketatnya kompetisi Liga Inggris. Ada yang bertahan, namun tak sedikit yang akhirnya menyerah dan tersingkirkan. Tak terkecuali para pelatih dari negeri kincir angin.
Misalnya, Frank De Boer yang gagal total bersama Crystal Palace. Ia hanya memainkan lima laga dan hanya mengantongi satu kemenangan sebelum akhirnya dipecat oleh manajemen The Eagles. Bahkan, De Boer sempat dicap sebagai manajer terburuk dalam sejarah Liga Inggris oleh Jose Mourinho.
Ronald Koeman pun demikian. Ia yang tiga tahun melatih Southampton dan Everton tak mencerminkan kejayaannya sewaktu masih bermain. Bahkan ketika di Everton, Koeman hanya menghamburkan uang.
Koeman menghabiskan 150 juta pound atau sekitar Rp2,8 triliun di dua jendela transfernya dan tak menghasilkan apa-apa. Pada Oktober 2017, Everton malah berada di zona degradasi.
Tekanan Dari Fans
Selain riwayat pelatih asal Belanda yang tidak begitu mengkilap di Liga Inggris, Erik Ten Hag sudah barang tentu bakal mendapat tekanan dari para fans Manchester United itu sendiri. Terlebih menurut laporan Fabrizio Romano, kesepakatan Ten Hag dengan United tinggal menunggu hasil pembahasan visi dan misi jangka panjang klub.
Manchester United board are pushing on Erik ten Hag as new manager, as per @MarkOgden_ – agreement not completed yet but talks are ongoing on staff, budget & more 🔴 #MUFC
He’s also approved by Ralf Rangnick and Erik ten Hag priority has always been Man United. Work in progress. pic.twitter.com/QU5FNDdkd3
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) April 6, 2022
Pihak United pun mengindikasikan bakal membangun kembali skuad jika Ten Hag resmi melatih. Pembangunan kembali skuad tentu akan memakan waktu yang bukan sehari dua hari. Sedangkan fans Manchester United terkenal nggak sabaran. Sering mengkritik pemain, pelatih, bahkan manajemen jika dirasa tak memenuhi ekspektasi mereka.
Apalagi persaingan di Liga Inggris telah jauh meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu berarti United harus bekerja ekstra untuk mengejar ketertinggalan. Ditambah dengan rival sekota yang mulai mendominasi liga, kesabaran para fans kepada klub pun semakin menipis sehingga fans ingin melihat hasil positif secara instan.
Harry Maguire
Batu sandungan Ten Hag juga bisa datang dari sektor pemain. Sebagai contoh, bisa saja Ten Hag bakal dihadapkan dengan masalah yang sedang dialami oleh sang kapten, Lord Harry Maguire.
Kita ketahui kepercayaan diri Harry Maguire sangat hancur musim ini. Penyebab utamanya apalagi kalau bukan ejekan dan cemoohan dari fans lantaran mereka harus melihat bek seharga 87 juta euro (Rp1,3 triliun) bermain sangat buruk.
Pilihan Ten Hag cuma dua, memperbaiki moral sang kapten, atau menyingkirkan Maguire dari skuad. Jika Ten Hag mendengarkan saran dari para fans, pasti Ten Hag akan memilih opsi yang kedua.
Hal ini juga berlaku kepada pemain lain yang berstatus Deadwood atau bisa dibilang pemain yang keberadaannya di skuad nggak penting-penting amat.
Ten Hag harus jeli dalam menyortir pemain, karena kedalaman skuad Manchester United tak begitu bagus. Mereka tidak mempunyai pemain cadangan yang sama bagusnya dengan pemain inti.
Sering Terlambat Mengambil Keputusan
Kedalaman skuad yang kurang apik, tentu akan menyulitkan Ten Hag. Ten Hag ini sebelas dua belas sama Ole, ia tidak terlalu proaktif dalam bereaksi terhadap situasi yang terjadi dalam permainan.
Ten Hag kerap memaksakan sebelas pemain inti untuk menunjukan pesonanya di sepanjang 90 menit. Oke, itu memang cukup dan tak masalah untuk membuat Ajax bersaing di Eredivisie, tapi untuk Manchester United yang bertarung di Premier League, Ten Hag mesti sadar diri.
90 minutes in. 0 subs by Ole Gunnar Solskjaer. pic.twitter.com/Zv8P4C3aBX
— SPORTbible (@sportbible) May 26, 2021
Sama halnya dengan Ole, Ten Hag kerap kesulitan dalam melakukan pergantian pemain dan kerap bertindak terlambat untuk menyelamatkan sisa pertandingan.
Hal ini dibuktikan saat Ajax kalah dari Benfica di ajang Liga Champions kemarin. Meskipun Ajax sebenarnya punya peluang lebih besar ketimbang Benfica. Anak asuh Ten Hag terpaksa takluk 1-0 dari tim tamu. Hasil tersebut membuat agregat menjadi 3-2 untuk kemenangan Benfica.
Salah satu penyebab kekalahan tersebut adalah terlambatnya Ten Hag untuk melakukan pergantian pemain. Ten Hag terlalu berharap pada keajaiban yang bakal keluar dari kaki-kaki Antony ataupun Berghuis.
Apabila Ten Hag ingin sukses bersama United, tentunya ia harus mengubah kebiasaan buruknya itu. Sebab jika tidak, sudah jelas bahwa Ten Hag memang tidak pantas untuk melatih Manchester United.
Sumber: Foot The Ball, The Sun, Sportingnews, Sportsfila


