Tua-tua keladi, makin tua, makin jadi. Mungkin peribahasa ini yang cocok disematkan pada para pemain yang telat panas, dan malah mencapai top perform di usia 30 tahun.
Contohnya saja Zlatan Ibrahimovic. Ia termasuk pemain yang makin tua makin jadi. Meski ia sudah berpengalaman di berbagai klub Eropa, namun performa menakjubkan selama empat musim bersama PSG tak pernah terlupakan.
Zlatan, bergabung dengan PSG beberapa bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-31 pada tahun 2012. Selama berseragam PSG ia mencatatkan 156 gol dari 180 pertandingan. Itu angka yang fantastis untuk pemain yang sudah berkepala tiga.
Meski tak meraih trofi Liga Champions, ia berhasil meraih belasan trofi dan berbagai penghargaan individu bersama PSG. Nah, di dunia sepak bola tentu tak hanya Ibra yang bernasib demikian. Lantas, siapa lagi pemain yang gacor setelah berusia 30 tahun?
Daftar Isi
Antonio Di Natale
Pemain yang telat panas pertama adalah Antonio Di Natale. Di Natale menginjak usia 30 di tahun 2007. Sebelumnya ia tak pernah mencetak lebih dari 20 gol selama karirnya.
Namun, di usianya yang menginjak 32 tahun ia berhasil mencetak 29 gol di Serie A pada musim 2009/10. Praktis publik Italia terheran-heran, ke mana saja Di Natale selama ini? Dengan catatan 29 gol, Di Natale keluar sebagai top skor Serie A di akhir musim.
Before turning 30, Antonio Di Natale had scored 47 Serie A goals.
Between the ages of 31 and 36, he scored 120 Serie A goals.
The former Udinese hero turns 43 today, and we’d still give him a game tbh.pic.twitter.com/167je5d7fN
— Planet Football (@planetfutebol) October 13, 2020
Setelah musim yang luar biasa itu, Di Natale tampil konsisten dengan selalu mencetak 20 gol lebih setiap musimnya. Ia mencetak 28 gol di musim 2010/11, 23 gol di musim 2011/12 dan 23 gol di musim 2012/13.
Meski tak mendapat satu gelar pun bersama Udinese, namun dengan performa yang konsisten itu, Di Natale sempat meraih dua kali pencetak gol terbanyak pada musim 2009/10 dan 2010/11 serta pemain terbaik Italia di tahun 2010.
Jamie Vardy
Selanjutnya ada pemain Leicester City, Jamie Vardy. Vardy bisa dibilang telat muncul di Liga Inggris. Ia baru bermain di kasta tertinggi sepak bola Inggris di usia 28 tahun. Di tahun pertamanya Vardy kurang bersinar, namun jagad sepak bola tak akan percaya apa yang terjadi musim berikutnya.
Tak disangka, Jamie Vardy langsung gacor dengan mencetak 24 gol dan berhasil mengantarkan Leicester menjuarai Liga Inggris di musim 2015/16. Di musim yang sama, Vardy juga keluar sebagai Player of The Year Liga Inggris
Setelah musim yang luar biasa bersama Leicester, Vardy tampil nyaman di Liga Inggris, Vardy menjadi penantang serius bagi striker-striker sekelas Harry Kane atau Sergio Aguero.
Di usianya yang ke 30 tahun, Vardy baru merasakan mentas di Piala Dunia. Bahkan saat usianya sudah mencapai 33 tahun, Vardy malah meraih golden boot dengan 23 gol pada musim 2019/20. Mengalahkan Aubameyang dan Mohamed Salah.
Fabio Cannavaro
Mungkin sedikit aneh jika Fabio Cannavaro masuk dalam daftar pemain yang mencapai performa terbaik di usia 30 tahun. Namun nyatanya demikian.
Setelah tergabung dalam tim Parma yang menjuarai Coppa Italia musim 2000/01 di usia 25 tahun, Cannavaro tak pernah memenangkan satu trofi berharga lagi selama karirnya. sebelum akhirnya tahun 2006 jadi tahun yang luar biasa bagi Cannavaro.
Di usianya yang ke 32 tahun, Ia mengakhiri puasa gelarnya dengan menyabet trofi Piala Dunia 2006 di Jerman. Tak sampai di situ, kapten Timnas Italia itu juga menambahkan Penghargaan Pemain Terbaik Dunia versi FIFA dan penghargaan Ballon d’Or di tahun yang sama.
#OnThisDay – 2006, Peristiwa langka dunia sepakbola. Seorang PEMAIN BERTAHAN meraih Ballon d’Or. Fabio Cannavaro. pic.twitter.com/Pc3xawERYl
— SuporterFC (@SuporterFC) November 27, 2015
Setelah tahun yang luar biasa itu, Cannavaro memutuskan untuk meninggalkan Juventus dan bergabung dengan Real Madrid. Bersama Los Blancos, Cannavaro malah justru makin banyak trofi termasuk dua gelar Liga Spanyol di musim 2006/07 dan 2007/08.
Fabio Quagliarella
Selanjutnya ada Fabio Quagliarella. Banyak yang mengira bahwa karirnya bakal menurun ketika meninggalkan Juventus dan memilih untuk membela tim-tim medioker seperti Torino dan dilanjut ke Sampdoria.
Quagliarella memang banjir gelar ketika berseragam Juventus. Namun, ia hanya striker pelengkap dan selalu bermain di bawah bayang-bayang Alessandro Matri dan Alessandro Del Piero.
Performa terbaik Quagliarella malah datang saat usianya sudah menginjak 33 tahun, saat ia memutuskan untuk kembali memperkuat Sampdoria, klub masa mudanya. Bersama Sampdoria, Quagliarella membuktikan bahwa ia belum habis.
Kandidat Goal of The Year nih
Goal Fabio Quagliarella saat Sampdoria menghajar Napoli
Credit: @ESPNFC pic.twitter.com/ZZhSS86RAh
— Solo Thok (@SoloThok) September 3, 2018
Fabio Quagliarella, telah mencetak lebih dari 90 gol untuk periode keduanya di klub papan tengah itu. Bahkan Quagliarella sempat meraih Golden Boot Serie A musim 2018/19 dengan 26 golnya ketika usianya sudah 35 tahun.
Robert Lewandowski
Penyerang Bayern Munchen, Robert Lewandowski dikenal sebagai pencetak gol ulung. Namun, sejak berusia 30 tahun, entah bagaimana ia telah membuka dimensi baru dalam permainannya. Dia tampak bersemangat untuk menjadi lebih baik setiap harinya.
Sejak berusia 30 tahun, pemain internasional Polandia itu tampil makin gacor. Ia telah mencetak lebih dari 190 gol di semua kompetisi untuk Bayern Munchen.
Semakin tua malah Lewy malah semakin banyak memecahkan rekor. Dalam musim 2019/20, Lewandowski mencetak 55 gol di Bundesliga, DFB Pokal, dan Liga Champions.
Gol-golnya membantu Bayern meraih treble dan pemain yang juga aktif bermain Tiktok itu menjadi pemain pertama setelah Johan Cruyff yang meraih penghargaan pencetak gol terbanyak di ketiga kompetisi sekaligus.
Terlebih, sejak berusia 30 tahun ia memperoleh penghargaan bergengsi sebagai pemain terbaik dunia versi FIFA dua tahun berturut-turut. Dan untuk musim ini ia dijagokan dalam perebutan trofi Ballon d’Or 2022.
Karim Benzema
Real Madrid mendatangkan Karim Benzema dari Lyon pada musim panas 2009. Benzema datang di tahun yang sama dengan Cristiano Ronaldo. Hal ini memaksa wak haji untuk bermain lebih kreatif dan bekerja lembur untuk menciptakan ruang bagi Ronaldo.
Setelah hampir satu dekade Benzema bermain di bawah bayang-bayang Ronaldo, ajang pembuktian pun tiba ketika Ronaldo memutuskan hengkang pada 2018, Benzema akhirnya mengisi posisi pencetak gol utama Real Madrid.
Praktis, sejak musim 2018/19, ketika usia Benzema sudah 30 tahun, ia tampil lepas dan mengukuhkan diri sebagai salah satu striker hebat di Liga top Eropa. Benzema konsisten mencetak lebih dari 25 gol selama empat musim beruntun.
Musim ini saja ia sudah mencetak 38 gol dari 38 pertandingan di semua kompetisi. Terakhir, empat golnya ke gawang Chelsea berhasil mengantarkan Real Madrid lolos ke babak semifinal Liga Champions 2021/22
Luka Modric
Yang terakhir datang dari pemain Real Madrid lainnya, Luka Modric. Faktanya, Modric yang sudah berusia 36 tahun, menjadi salah satu pemain tertua yang ada di skuad El Real musim ini.
Luka Modric reminded everyone why he’s the only player not named Messi or Ronaldo to win the Ballon d’Or in the last 13 years 🏆 pic.twitter.com/p0QsPKN98E
— ESPN FC (@ESPNFC) April 13, 2022
Semenjak bergabung dengan Real Madrid pada tahun 2012 silam, Modric telah membangun reputasi sebagai salah satu gelandang terbaik di dunia. Sejak menginjak usia 30 tahun, Modric telah memenangkan tiga trofi Liga Champions berturut-turut, dua gelar La Liga. Modric juga meraih Ballon d’Or saat usianya 33 tahun.
Ballon d’Or Luka Modric cukup menarik. Pasalnya ia menjadi “manusia” pertama setelah Ricardo Kaka di tahun 2007 yang berhasil mengalahkan dominasi dua GOAT Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi dalam perebutan penghargaan individu paling berharga itu.
https://youtu.be/dHlttunUiIg
Sumber: Four Four Two, Sportskeeda, Planet Football, Transfermarkt


