Juventus barangkali jadi tim yang paling problematik musim lalu. Yaaa, setidaknya setelah Chelsea yang sangat apa itu. Bak jatuh tertimpa tangga, musim lalu jadi musim yang berat bagai La Vecchia Signora. Dihujani sanksi sampai konflik internal jadi masalah klub. Salah satu yang terlibat dalam konflik internal adalah sang kapten, Leonardo Bonucci.
Sang pemain dikabarkan kembali tak akur dengan Massimiliano Allegri. Karena konflik ini pula Bonucci sampai didepak dari skuad utama Bianconeri. Ia merasa aneh melihat dirinya tak lagi menjadi pilihan utama sang pelatih. Sang pemain merasa dikhianati. Menurutnya sudah banyak keberhasilan dan rasa sesak yang dirasakan bersama dan itu layak untuk dihargai. Lantas, bagaimana ceritanya kok Juve sampai setega itu sama Bonucci?
Daftar Isi
Menyadari Cinta Sejatinya ada di Juventus
Hubungan Leonardo Bonucci dengan Juventus memang sangat kompleks. Kita tak bisa melupakan sejarah kalau sang pemain pernah berkhianat saat memutuskan untuk membelot ke AC Milan pada tahun 2017 silam. Namun, dari salah satu transfer paling mengejutkan itu, Bonucci telah mengambil hikmahnya. Toh ia terpaksa melakukannya karena berkonflik dengan pelatih Juve saat itu, Massimiliano Allegri.
Bermain dengan seragam merah hitam dan melawan Juventus setidaknya dua kali dalam semusim membuatnya gelisah. Selalu terasa aneh ketika ia terbangun di suatu kamar di Milan dan bukan lagi di Turin. Perasaan aneh itu pun memenuhi isi kepala Bonucci. Ia jadi tak bisa memaksimalkan performanya di Milan.
Di akhir musim 2017/18, akhirnya ia meminta untuk dikembalikan ke Juventus. Bonucci sadar kalau dirinya tak bisa jauh-jauh dari klub yang sudah membesarkan namanya itu. Ia memahami betul kalau hanya ada Juventus di hatinya. Klub asal Turin itulah yang membuatnya jadi salah satu bek terbaik di Italia seperti sekarang.
Bonucci tak pernah lupa saat dirinya pertama kali menginjakan kaki di Turin sebagai pemain Juventus. Berstatus sebagai pemain muda yang didatangkan dari klub kecil bernama Bari, ia bisa bersanding dengan pemain-pemain kelas wahid macam Giorgio Chiellini, Andrea Barzagli, dan Gianluigi Buffon.
Sejak saat itu, ia banyak belajar dari seniornya. Bonucci berevolusi menjadi versi terbaik dari seorang bek tengah di seluruh dunia. Ia jadi pemain belakang dengan kemampuan yang cukup komplit. Bonucci kuat dalam bertahan dan cakap saat memainkan bola. Ia juga tak pernah luput meski bermain dalam tekanan atau situasi sulit saat menguasai bola.
Kesetiaan Bonucci Pada Juventus
Membangun kemitraan yang solid dengan Giorgio Chiellini dan Andrea Barzagli di lini bertahan Si Nyonya Tua, Bonucci membawa klub kembali berjaya di kompetisi domestik. Sang pemain mengantarkan Juve meraih gelar Serie A selama enam tahun berturut-turut sejak 2012 hingga 2017.
Mantan pemain Inter Milan itu bahkan membawa Juve dua kali ke final Liga Champions tahun 2015 dan 2017. Dalam prosesnya, Bonucci selalu dilirik oleh klub-klub top Eropa. Karena mereka melihat Bonucci sebagai pemain yang istimewa. Di era itu, cukup sulit menemukan pemain belakang yang nyaman memainkan bola di kakinya.
Namun, Juve adalah cinta mati Bonucci. Untuk menunjukan kesetiaannya pada klub, Bonucci bahkan tak pikir panjang untuk menolak tawaran gaji yang berlipat ganda dari klub lain yang datang setiap tahunnya. Ia mengabaikan tawaran dari klub-klub macam Manchester United dan Chelsea hanya demi bisa bertahan di Juve selama mungkin.
Bahkan setelah pindah ke Milan karena emosi sesaat, ia tak mau menerima pinangan selain Juventus. Jika pada saat itu Juventus benar-benar tidak datang, mungkin ia memilih untuk tidak bermain sepakbola sama sekali.
Masalah Lagi Sama Allegri
Setelah musim yang buruk di Milan, Bonucci kembali tampil apik bersama Juventus. Namun, di tahun 2021, ia terpaksa kembali bereuni dengan Allegri ketika manajemen klub memutuskan untuk mempekerjakannya lagi. Tak ingin permasalahan di masa lalu terulang lagi, Bonucci cukup berhati-hati dengan pelatih asal Italia tersebut.
Namun, sepandai-pandainya tupai melompat ia pasti akan jatuh juga. Sepandai-pandainya Bonucci menghindar, masalah tetap datang menghampirinya. Sang pemain tak pernah memiliki visi yang sama dengan Allegri. Selalu ada saja perbedaan pendapat antara keduanya. Adu mulut pun sesekali tak bisa terhindarkan.
Puncaknya terjadi pada musim 2022/23. Bonucci dan Allegri berbeda pendapat soal pemilihan pemain di starting line up. Pelatih kawakan itu lebih mengutamakan pemain muda yang masih segar macam Federico Gatti untuk mengawal pertahanan Juve. Menariknya, kebijakan itu didukung penuh oleh manajemen klub.
Bonucci bahkan tak menjadi pilihan utama ketika Juventus menjalani tur pramusim 2023/24 di Amerika Serikat. Di tengah kisruh tersebut, Allegri dan direktur olahraga Juve yang baru, yakni Cristiano Giuntoli sepakat untuk memberi tahu Bonucci kalau waktunya di klub sudah berakhir. Di luar perkiraan, sang pemain tak terima dengan keputusan itu.
Semakin Runyam
Leonardo Bonucci menolak keras keputusan sang pelatih. Pemain yang identik dengan nomor punggung 19 itu menolak untuk hengkang dengan alasan masih memiliki sisa kontrak hingga 2024 dengan Juventus. Bonucci bahkan beberapa kali berbicara pada manajemen untuk meyakinkan mereka kalau dirinya masih bisa berkontribusi untuk klub.
Permasalahan ini kian runyam kala sang pemain dengan terbuka menyampaikan belum siap pindah dan melibatkan pengacaranya dalam masalah ini. Melalui kuasa hukumnya itu, Bonucci mengirimkan surat resmi agar dikembalikan ke skuad utama. Setidaknya hingga kontraknya habis akhir musim depan.
Dilansir La Gazzetta dello Sport, dengan memiliki sisa kontrak, Bonucci berusaha menuntut klub jika masalah tersebut tidak diselesaikan. Tapi Juve tampaknya tak menghiraukan ancaman Bonucci. Klub berniat untuk tetap berpegang pada keputusan awal untuk mengeluarkan Bonucci dari skuad.
Bonucci Masih Ingin di Juve
Padahal Bonucci telah menunjukkan kesetiaannya pada Juventus. Ia bukannya tidak laku di pasaran. Tak sedikit klub yang berminat pada bek berkepala botak itu. Salah satunya Sampdoria. Namun, Bonucci enggan bernegosiasi dengan klub yang baru terdegradasi ke Serie B itu. Ia ingin bertahan di Juventus. Titik.
Selain karena masih ingin di Juve, ia juga mengincar satu slot di Timnas Italia. Mengingat tahun depan Gli Azzurri berkesempatan bermain di EURO 2024. Akan tetapi sikap Bonucci ini dianggap kolot, bahkan oleh Alberto Ferrarini, pelatih mentalnya sendiri. Ferrarini berpikir Bonucci terlalu egois dan keras kepala. Karakternya memang kuat, tapi Bonucci juga harus menerima kenyataan kalau dirinya sudah tua. Performa dan staminanya sudah tak seprima dulu.
Mengalah
Di sisi lain, Bonucci justru mendapat dukungan dari aktivis HAM di Italia. Tidak mengindahkan tuntutan Bonucci, para aktivis HAM itu menilai Juve memiliki karakter buruk lantaran tak menghargai apa yang telah diberikan Bonucci selama ini. Namun, lambat laun ego Bonucci justru mulai melunak, terlebih saat tawaran dari Union Berlin datang.
Ia menyadari kalau tak mendapatkan waktu bermain yang cukup, kemungkinan untuk membela Timnas Italia di EURO 2024 semakin kecil. Toh, Union Berlin juga berlaga di Liga Champions, tak seperti Juve yang dilarang berlaga di kompetisi Eropa. Melalui postingannya di Instagram, Bonucci terlihat sudah muhasabah diri. Senyumnya kembali mekar. Tapi, isi hati siapa yang tahu.
Sumber: Goal, Daily Mail, Gazzetta.it, Football Italia


