Tahun 2021 mungkin menjadi yang terburuk bagi FC Barcelona. Betapa tidak? Di tahun ini, mereka melewati banyak sekali hal yang tidak diinginkan. Mulai dari penurunan performa, kehilangan pemain andalan, sampai mendapat masalah dengan pelatih yang sebelumnya dipercaya untuk angkat prestasi tim.
Pada bahasan kali ini, Starting Eleven akan sajikan ulasan tentang momen-momen yang membuat tahun 2021 menjadi yang terberat dalam sejarah klub berjuluk Blaugrana.
Kalah dari PSG Dengan Skor Agregat 5-2
Kekacauan kubu El Barca pada tahun 2021 ini dimulai ketika mereka tersingkir di babak 16 besar Liga Champions Eropa musim 2020/21. Berhasil melaju hingga ke fase gugur usai menjadi runner up Grup G di bawah Juventus, Barca bertemu dengan raksasa Prancis.
Mulanya, pertandingan ini diprediksi bakal berjalan sengit. Apalagi Barcelona masih diperkuat Lionel Messi dan pemain pilar lainnya, ya walaupun pertanda kekalahan terpancar karena pelatihnya masih Ronald Koeman. Benar saja, di leg pertama yang digelar di Camp Nou, Barcelona secara mengejutkan kalah telak dengan skor 1-4.
Barca sebenarnya berhasil unggul lebih dulu setelah mendapat voucher penalti. Lionel Messi yang menjadi eksekutor sukses menuntaskan tugasnya dan mencetak gol menit ke-27. Namun, kubu Koeman seolah lupa kalau PSG punya Kylian Mbappe.
Pemain berpaspor Prancis itu menampar Blaugrana dengan mencetak hattrick. Barcelona tambah suram setelah Moise Kean menggenapi kemenangan PSG dengan skor 4-1. Kekalahan tersebut tentu saja menyakitkan sekaligus merepotkan bagi tim sekelas Barcelona. Paling tidak, di leg kedua, Barca harus unggul dengan selisih empat gol untuk bisa lolos, dan itu seperti mimpi.
Pada kenyataannya, alih-alih membantai raksasa Prancis, Barca hanya bisa bermain imbang 1-1 di leg kedua. Pasukan Koeman pun mesti rela tersingkir usai kalah dengan agregat 5-2.
Les grands moments de sport des Français en 2021 : Barça 1-4 PSG (LDC, 8e aller) https://t.co/dIIuEVUecF pic.twitter.com/RH9iasSWZH
— WF PSG (@WYN_PSG) December 24, 2021
Skandal Barcagate
Pada awal Maret 2021 lalu, penggeledahan dilakukan di kantor Barcelona dan sejumlah penangkapan dilakukan oleh kepolisian atas kasus Barcagate. Di hari itu, empat orang ditangkap, termasuk Presiden FC Barcelona, Josep Maria Bartomeu.
Skandal ini mulai terangkat pada pertengahan Februari, ketika media Cadena SER mengungkap bahwa Barcelona mengontrak konsultan media, I3 Ventures sejak 2017. Konsultan ini diduga direkrut untuk menyerang pihak-pihak yang tak sejalan dengan presiden klub saat itu, Josep Maria Bartomeu.
Korbannya sendiri diketahui mencatut nama Lionel Messi dan Gerard Pique. Setelah menggelar audit pada Juli, segala tudingan dalam skandal tersebut terbukti. Kasus tersebut akhirnya memasuki babak baru usai ternyata, di situ juga terdapat tudingan korupsi.
Marca melaporkan, kepolisian Catalunya menilai ada tanda-tanda korupsi dengan dugaan ongkos jasa yang dibayarkan ke I3 Ventures digelembungkan 600% lebih. Agar tak terdeteksi, pembayaran-pembayaran itu dipecah menjadi sejumlah tagihan di bawah 200 ribu euro atau Rp 3,2 miliar supaya tak perlu persetujuan direksi.
Setelah diungkap, bukan cuma I3 Ventures yang menerima pembayaran itu. NSG Social Science Ventures SL, Tantra Soft SA, Digital Side SA, Big Data Solutions SA, dan Futuric SA, yang mana semuanya terkait dengan satu orang, Carlos Ibanez, sang pemilik I3 Ventures.
Kasus itu kemudian menjadi pendesak bagi Bartomeu untuk mundur. Apalagi setelah muncul kabar bahwa Lionel Messi mengancam pergi dari Camp Nou.
The BarcaGate scandal has cost the club €1.2m. This is the amount paid by the club to improve their own image and defame and discredit rivals, club legends and even current players on the Internet.
— RAC1 via Tribuna pic.twitter.com/wEMiGyYYmw
— Barça Universal (@BarcaUniversal) March 3, 2021
Luis Suarez, Dilepas dan Juara Bersama ATM
Bukan hanya kasus Barcagate dan performa yang tidak bagus, Barca juga melakukan blunder setelah menjual Luis Suarez ke Atletico Madrid. Penjualan itu bahkan dilakukan Ronald Koeman ketika Barcelona tengah membutuh sosok penyerang andal. Pria Uruguay itu didepak Barca karena dianggap terlalu uzur.
Namun, ketika bergabung dengan skuad asuhan Diego Simeone, Suarez justru berhasil membuktikan kualitas terbaiknya. Dia berhasil mempersembahkan trofi La Liga, dan seolah membuktikan bahwa Barcelona salah karena telah melepasnya.
Suarez sendiri mengakui bahwa gelar tersebut terasa sangat manis baginya. Dia merasa senang dan mengaku bersyukur karena Atletico telah bersedia menampungnya. Ia bahkan mengatakan kalau dirinya telah berhutang budi kepada Los Rojiblancos.
Bayangkan! Alih-alih berterima kasih ke Barcelona, Suarez justru berhutang budi pada Atletico Madrid. Barca sendiri hanya sanggup gigit jari melihat kesuksesan pemain yang dibuangnya itu.
August 2020: Koeman told Luis Suarez he was too old to perform at the top level.
May 2021: Helps Atletico Madrid win their first La Liga title in seven years, finishing as their top scorer.
October 2021: Scores a goal, gets an assist and defeats Barcelona. pic.twitter.com/m0Q6utmimC
— ESPN FC (@ESPNFC) October 2, 2021
Ditinggal Pergi Lionel Messi
Awal Agustus lalu menjadi momen terkelam bagi seluruh penggemar FC Barcelona. Klub mengkonfirmasi bahwa pemain andalan mereka, Lionel Messi, resmi mengucapkan selamat tinggal pada Camp Nou.
Meski sempat dilakukan berbagai cara untuk bisa mempertahankan Messi, pada akhirnya, kesepakatan tidak pernah terjalin dan membuat Barcelona mengeluarkan pernyataan.
“Meski FC Barcelona dan Lionel Messi hari ini saling sepakat dan ingin menandatangani kontrak, persetujuan tak dapat dilanjutkan karena hambatan finansial dan struktural (peraturan Liga Spanyol).
“Karena itu, Messi tak akan bertahan di FC Barcelona. Kedua belah pihak sangat menyesali harapan klub dan sang pemain akhirnya tidak bisa terpenuhi.”
“FC Barcelona berterima kasih dengan sepenuh hati kepada sang pemain atas kontribusinya dalam mengangkat nama baik klub dan mendoakan yang terbaik bagi masa depan personal dan profesionalnya.”
Messi yang sudah berusaha untuk rela dipotong gajinya pun tetap tidak bisa menolong. Karena memang, Barcelona masih memiliki masalah keuangan.
Setelah resmi pergi dari Barcelona, Messi akhirnya bergabung dengan Paris Saint Germain, klub kaya raya asal Prancis yang memang memiliki finansial cukup untuk memenuhi gaji La Pulga.
Lionel Messi in tears as he says goodbye to Barcelona 🥺 pic.twitter.com/El0MBEvOw8
— B/R Football (@brfootball) August 8, 2021
Kalah di 4 El Clasico Terakhir
Bertanding melawan Real Madrid menjadi sesuatu yang sangat spesial bagi FC Barcelona. Pertandingan antara kedua tim memang sangat dinantikan. Drama, gol terbaik, sampai aksi panas dari setiap pemain nyaris selalu terjadi dalam setiap El Clasico yang digelar.
Akan tetapi, di tengah merosotnya performa FC Barcelona, El Clasico kini resmi dikuasai oleh Real Madrid. Klub asal Ibukota Spanyol itu bahkan berhasil memenangi empat laga El Clasico terakhir.
Real Madrid berhasil menaklukkan Barca pada sepasang pertemuan di La Liga Spanyol musim lalu (2-1, 3-1) dan duel kedua di musim 2019/20 dengan skor 2-0. Los Blancos menutup empat win streak usai melucuti Barcelona dengan skor 2-1.
Gol Real Madrid berasal dari David Alaba pada menit ke 32 dan Lucas Vazquez pada menit ke 90+4′. Satu lesatan Sergio Aguero pada menit ke 90+7′ tak cukup menyelamatkan Barca dari kekalahan. Ini sekaligus menjadi rekor kemenangan Real Madrid terbanyak di laga El Clasico sejak 1965.
Real Madrid have won 4 consecutive El Clasico matches for the first time since 1965.
✅ 20𝟭𝟵/𝟮𝟬: Won 2-0 (H)
✅ 20𝟮𝟬/𝟮𝟭: Won 3-1 (A)
✅ 20𝟮𝟬/𝟮𝟭: Won 2-1 (H)
✅ 20𝟮𝟭/𝟮𝟮: Won 2-1 (A) pic.twitter.com/ZYjLouUYVn— Real Madrid News (@onlyrmcfnews) October 24, 2021
Gagal Lolos ke Babak 16 Besar UCL
Untuk kali pertama dalam lebih dari dua dekade, Barcelona gagal lolos ke fase gugur Liga Champions Eropa. Hal itu bertambah menyakitkan karena di laga pamungkas yang harusnya menang, Barcelona justru kalah telak 3-0 atas Bayern Munchen. Sementara, Benfica berhasil meraih kemenangan 2-0 atas Dynamo Kyiv.
Di babak pertama, Barcelona sudah ketinggalan 2-0 atas Bayern lewat gol Thomas Muller. Muller sukses menjebol gawang Marc-Andre ter Stegen pada menit ke-34. Beberapa menit berselang, Leroy Sane berhasil menggandakan keunggulan The Bavarians.
Memasuki babak kedua, Barcelona bukannya memperkecil ketertinggalan, melainkan kebobolan lagi pada menit ke-62. Adalah Jamal Musiala yang kini mengoyak jala Blaugrana. Catatan buruk tersebut juga membuat Barcelona tidak lolos dari fase grup untuk kali pertama sejak musim 2000/01.
Tahun 2021 memang menjadi tahun terburuk bagi Barcelona. Tapi tiada mengapa, toh masih ada tahun 2022. Masih ada kesempatan bagi FC Barcelona untuk berbenah atau mencicipi kompetisinya tim-tim medioker, UEFA Conference League.
Barca – Bayern 0-3 😩
• Unfortunately they were too strong. We simply don’t have good enough players to compete.
• Positives: Balde, Coutinho & Gavi were great coming on ⭐️
• Memphis left alone too often.
• Araújo solid defensively 1v1 in 99% of the game. pic.twitter.com/SmvtspqFKt— BadBarcaOpinions (@BadBarcaOpinion) September 14, 2021


