Setiap pemain sepakbola tentu meniti karir sejak kecil. Pemain harus ingat ketika ia menempanya dari klub semasa kecilnya. Karena hal itulah mereka bisa malang melintang sebagai pesepakbola profesional.
Pepatah kacang tak lupa kulitnya kadang menjadi tren para pesepakbola. Pemain yang sudah mencapai titik karirnya setelah mendapatkan segalanya, sering menyempatkan untuk memilih membela klub masa kecilnya sekali lagi sebelum akhirnya gantung sepatu. Nah, berikut ini cerita para pemain itu.
Daftar Isi
Luis Suarez
Yang terbaru ada Luis Suarez. Teka-teki akan berlabuh ke mana El Pistolero musim panas ini akhirnya terjawab. Setelah diisukan akan menjadi pengganti sementara Haller di Dortmund, ia malah memilih untuk pulang kampung.
Luis Suárez returned to his boyhood club Nacional on Sunday 🇺🇾 pic.twitter.com/8akqn9xPoH
— B/R Football (@brfootball) August 1, 2022
Suarez yang kontraknya habis bersama Atletico Madrid memilih untuk kembali bergabung ke Nacional, klub uruguay yang notabene klub masa kecilnya. Pemain yang suka menggigit ini berada di Nacional sejak kecil. Ia memulai debutnya di Nacional junior di musim 2000 saat di masih berumur 13 tahun.
Karirnya kemudian berlanjut dengan merantau ke Belanda bersama Groningen kemudian bersinar semenjak di Ajax, Liverpool, Barcelona dan Atletico Madrid adalah tempat pelabuhan Suarez mengemas gol-golnya yang hingga 2022 ini sudah mencapai 440 gol.
Arjen Robben
Pemain lainnya, yaitu Arjen Robben. Si Kidal dari Belanda ini merupakan salah satu pemain bintang yang menjadi bagian dari era awal Roman Abramovich di Chelsea pada 2003/04. Karir Robben dimulai dari kecil di Groningen. Ia memulai karir di Groningen benar-benar dari usia muda hingga menembus tim senior di musim 2000/01.
Robben melalang buana setelah bakatnya mulai matang di PSV Eindhoven, Chelsea, Real Madrid, Munchen adalah kisah perjalanan Robben yang tak terlupakan sebelum ia menyempatkan diri kembali membela panji-panji klub yang menempa talentanya, Groningen di tahun 2020.
Uniknya Robben ini setelah memutuskan berhenti bermain di Munchen pada musim 2019/20, ia sempat break sebentar. Hal itu memunculkan spekulasi bahwa ia akan pensiun. Namun panggilan hati akan kecintaan klub masa kecilnya itu tak bisa dihindari.
Arjen Robben came out of retirement this season to play for his first team, FC Groningen.
After just 44 minutes of action he suffered an injury that ruled him out for six months.
He came back.
Today he made his first start, and provided two assists in a 4-0 win. pic.twitter.com/Xatzw6pInu
— B/R Football (@brfootball) May 9, 2021
Diego Milito
Kemudian ada Diego Milito. Striker Argentina yang pernah membela Inter Milan. Masih ingatkah dengan pemain yang sekilas mirip bintang film Rambo ini? Ia pernah mencetak 2 gol kemenangan atas Munchen yang membawa Inter meraih gelar Liga Champions.
Talenta moncer Milito ditempa di klub tanah kelahirannya yakni Racing Club di Argentina. Ia memulai karir sejak di Racing Club Youth sebelum akhirnya melancong ke Italia pada 2003/04 bersama Genoa. Real Zaragoza dan Inter Milan adalah beberapa klub pijakan dalam karir Milto selanjutnya.
Pada usia 34 tahun, Milito secara emosional memilih untuk menyempatkan kembali membela Racing Club. Setelah mencetak 21 gol dalam 59 penampilan terakhirnya untuk Racing Club, ia akhirnya memutuskan untuk gantung sepatu disana pada tahun 2016.
22/2/22. 22:22. DIEGO MILITO: No necesita explicación 💙🤍🎓 pic.twitter.com/t69HiUxkyw
— Racing Club (@RacingClub) February 23, 2022
Joaquin Sanchez
Contoh pemain lainnya yakni Joaquin Sanchez. Sayap agresif Spanyol ini sekarang usianya sudah kepala 4. Diumur yang sudah terlalu senior ini, dirinya pun belum memutuskan untuk gantung sepatu. Bahkan dengan sisa-sisa kekuatannya ia masih bisa berpengaruh membimbing rekan-rekan mudanya di Real Betis menjuarai Copa Del Rey musim 2021/22.
17 años después, Joaquín Sánchez volvió a levantar la Copa del Rey con el Betis. Con 40 años, podrá ponerle fin a su carrera con la satisfacción de haber ganado un título más. pic.twitter.com/qg8Nmyfimj
— EN TU CANCHA (@entucanchaof) April 23, 2022
Joaquin Sanchez di titik karirnya akhirnya memutuskan kembali ke klub masa kecilnya Real Betis pada musim 2014/15. Setelah dalam karirnya ia sudah malang melintang di sejumlah klub macam Valencia, Malaga maupun Fiorentina.
Joaquin ini bukan tidak mungkin cepat atau lambat akan gantung sepatu juga di klub masa kecilnya ini. Perlu diketahui juga bahwa Joaquin muda mulai diorbitkan di tim senior Betis pada musim 2000/01.
Daniel Agger
Masih ingat bek tengah jangkung yang penuh tato dari Liverpool asal Denmark? Ya, ia adalah Daniel Agger. Bek dengan kaki kidal ini memang populer setelah ia berseragam The Reds. Namun siapa sangka ia adalah talenta muda asli klub Denmark, Brondby. Dan siapa sangka juga bahwa hanya Brondby dan Liverpool lah klub yang dibela Agger semasa karirnya menjadi pesepakbola.
Daniel Agger has retired from football after playing for clubs Brondby and Liverpool pic.twitter.com/7XNGadI8ec
— EuropeanTransfers HQ (@EuroTransfersHQ) June 10, 2016
Ia direkrut Liverpool dari Brondby di musim 2005/06 oleh Rafael Benitez. Ia kemudian memutuskan untuk keluar dari The Kop ke klub masa kecilnya Brondby di umurnya yang masih 30 tahun. Uniknya ia ditebus kembali oleh Brondby dengan separuh harga berkat keringanan yang diberikan Liverpool. Ia hanya sempat dua tahun membela Brondby. Agger akhirnya memilih untuk gantung sepatu di klub masa kecilnya itu.
Dirk Kuyt
Teman Agger di Liverpool, Dirk Kuyt juga mengalami nasib yang sama. Striker berambut pirang asal Belanda itu mengawali karirnya sejak usia dini di klub amatir Belanda, Quick Boys. Bersama Quick Boys karir Kuyt ditempa sampai akhirnya ia naik level dengan bergabung ke Feyenoord. Bakatnya kemudian tercium Rafael Benitez. Ia pun akhirnya diboyong ke Anfield pada musim 2006/07.
Tak dipungkiri, puncak performa Kuyt memang saat dia berada di Liverpool. Meskipun ia setelah itu masih bermain di Fenerbahce dan kembali lagi ke Feyenoord. Namun, kisah Dirk Kuyt ini unik, sama halnya seperti Robben yang memilih pensiun akan tetapi membatalkannya.
Faktor kecintaan akan klub masa kecilnya yang mempengaruhi Kuyt membatalkan niatnya pensiun di usia 37 tahun. Ia memilih untuk kembali bermain di Quick Boys pada musim 2017/18. Pertandingan pertama Dirk Kuyt untuk Quick Boys terjadi pada partai menjamu Groningen II.
🇳🇱 Quick Boys’ most famous son is Dirk Kuyt – even after his fairytale return to win the Eredivisie with Feyenoord at the end of his career, he went back to play for his first love.
In 2006, Quick Boys built a new stand with proceeds from Feyenoord deal selling him to Liverpool. pic.twitter.com/5bV7S4h4sV
— FotMob (@FotMob) April 24, 2020
Carlos Tevez
Kemudian ada Carlos Tevez. Karir sepakbola El Apache ini juga dibilang unik. Mungkin saking cintanya di klub masa kecilnya, ia bahkan sempat berbaju Boca Juniors selama 3 kali. Ia pun juga akhirnya mengakhiri karirnya di Boca Juniors. Tevez resmi gantung sepatu pada musim lalu 2021/22.
Carlos Tevez has announced his retirement from football:
“I have retired, it’s confirmed. They offered me many things, including from the United States. But that’s it, I have given everything.”
Champion:
🏆 Argentina
🏆 Boca Juniors
🏆 Manchester United
🏆 Man. City
🏆 Juventus pic.twitter.com/NPSuLkkRxf— Roy Nemer (@RoyNemer) June 4, 2022
Banyak klub yang pernah dihinggapi Tevez. Mulai dari Corinthians, West Ham, MU, City, Juve, bahkan sampai ke negeri China bersama Sanghai Senhua. Selama perjalanan karir Tevez, musim 2015/16 adalah yang paling unik. Saat ia lagi moncer-moncernya bersama Juventus ia pun kebanjiran tawaran dari klub besar. Eh, akan tetapi ia malah memilih untuk kembali ke Boca Juniors.
Gianluigi Buffon
Kiper kawakan Italia, Gianluigi Buffon juga memilih klub masa kecilnya Parma sebagai pelabuhan terakhirnya. Meski sudah 44 tahun, ia sampai sekarang belum memutuskan untuk pensiun. Dan bukan tidak mungkin ia juga akan mengakhiri karirnya di Ennio Tardini.
Gigi Buffon is close to join Parma! He could come back to the club where he started his career 26 years ago. 🇮🇹 #Buffon
Talks ongoing – Buffon received more than five proposals, one from Besiktas too but he’s really tempted to sign for Parma with an ambitious project. 🧤 #Parma pic.twitter.com/YyWU7I3ZE2
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) June 12, 2021
Buffon memang identik dengan Juventus. Buffon dibeli Juve dari Parma di tahun 2001. Namun, setelah lama mengabdi di Juve ia malah dilepas secara gratisan ke PSG di 2018.
Karier Buffon di Parma dimulai sejak musim 1994/95. Talenta apik Buffon muda ketika itu sempat mencuri perhatian di era 2000-an ketika Parma mulai berisikan para pemain bintang macam Cannavaro maupun Thuram.
https://youtu.be/tty0Hd5sn1g
Sumber Referensi : foottheball, sportskeeda, fourfourtwo


