Skandal Pengaturan Skor: Punchline PSSI yang Akhirnya Muncul

  • Whatsapp
Skandal Pengaturan Skor Punchline PSSI yang Akhirnya Muncull
Skandal Pengaturan Skor Punchline PSSI yang Akhirnya Muncull

Penggemar sepak bola Indonesia baru saja berduka karena kekalahan Timnas Indonesia U-23 asuhan Shin Tae Yong di kualifikasi Piala Asia, beberapa waktu lalu. Kita tak perlu membahas lagi hal tersebut. Karena makin dibahas, kita makin yakin kalau kemajuan sepak bola dalam negeri sebatas hampir.

Apalagi belum berapa lama setelah itu, sepak bola tanah air kembali membuat hati masyarakat sakit. Muncul dugaan skandal pengaturan skor di kompetisi Liga 2 Indonesia. Kasus tersebut tentu mengagetkan banyak pihak. Setidaknya, bagi Raffi Ahmad dan Atta Halilintar, dua pemuda tajir yang baru saja terjun ke dunia sepak bola.

Namun, bagi yang sudah hafal dengan induk sepak bola Indonesia, PSSI, tentu tidak terkejut atas mencuatnya kasus dugaan pengaturan skor. By the way, dari perkembangan kasus tersebut, lima pemain Perserang Serang telah mendapat hukuman. Kelima pemain itu di antaranya Fandy Edy, Eka Dwi Susanto, Ade Ivan Hafilah, Ivan Juliandhy, dan Aray Suhendri.

Dilansir situs detikcom, kasus bermula saat salah satu pemain Perserang, Eka Dwi Susanto awalnya dihubungi oleh pelaku. Si pelaku pengaturan skor akan memberikan imbalan Rp 150 juta ke para pemain Perserang. Ia meminta agar Perserang kalah 0-2 ketika menghadapi RANS Cilegon FC di babak pertama. Kemudian mungkin karena tergiur, Eka Dwi mengajak teman-temannya.

Komisi Disiplin (Komdis) PSSI pun memutuskan untuk menghukum lima pemain Perserang karena diduga terlibat dalam skandal match fixing. Fyi aja nih, salah satu dari mereka, Eka Dwi dijatuhi hukuman dilarang bermain dan memasuki stadion selama lima tahun dan denda Rp 30 juta. Eka Dwi dijatuhi hukuman terberat karena dianggap terlibat secara aktif, yaitu mengajak.

Sementara, teman-temannya yang lain dianggap terlibat, namun secara pasif. Sehingga hukumannya pun sedikit lebih ringan. Seperti Fandy Edy yang dihukum tidak boleh bermain dan memasuki stadion 48 bulan atau sekitar 4 tahun, dan denda Rp 20 juta.

Panggung Stand Up Comedy

Dari kasus tersebut, kita ibarat bukan sedang disuguhkan panggung sepak bola yang bermartabat oleh PSSI. Tapi justru PSSI sedang melakukan stand up comedy, dengan premisnya adalah kemajuan sepak bola Indonesia. Mari kita masuk satu persatu set up-nya, sebelum masuk ke bagian punchline yang kalau kata Om Indro Warkop, kompor gas!

Pertama, soal tarik ulur gelaran kompetisi. Memang betul sekali, bahwa kondisi pandemi mengubah segalanya. Termasuk, tentu saja kompetisi sepak bola tanah air. Jangankan di Indonesia, di luar negeri pun kompetisi sepak bola ditunda, misalnya EURO.

Namun, tarik ulur kompetisi dalam negeri punya dramanya sendiri, dan tentu saja lucu. Dilansir CNN Indonesia, kompetisi Liga Indonesia sempat ditunda dua pekan mulai 14 Maret 2020. Namun, pada kenyataanya kalender dua pekan PSSI jauh lebih lama dari kalender pada umumnya. Lalu pada 28 Juni 2020, sebetulnya liga mau berencana jalan di bulan Oktober 2020, tapi masih belum memperoleh restu.

Pada 20 Januari 2021, PT Liga Indonesia Baru (LIB) malah menyatakan Liga 1 2020 batal karena force majeure dan kelamaan vakum. Pada 21 Maret, akhirnya kompetisi digelar juga, tapi sebatas Piala Menpora. 3 Juni 2021, PSSI dan PT LIB sudah berencana menggelar kembali Liga 1 musim 2021/2022, sudah mendapat dukungan Menpora, tapi izin keramaian masih sebatas niat.

Karena terlalu lama dan nggak jelas, kita skip saja hingga Liga 1 musim 2021/2022 pun akhirnya bergulir pada 27 Agustus 2021. Laga antara Persik Kediri vs Bali United menjadi laga pembuka. Bagaimana sudah ingin segera menenggak paracetamol? Itu baru satu set up saja.

Format Liga 2 yang Tidak Jelas

Nah, yang kedua, seiring berjalannya Liga 1, tentu membuat kompetisi kasta di bawahnya ikutan juga dong ingin digelar. Jadilah, kompetisi Liga 2 Indonesia juga diselenggarakan. Yang menarik, dari situ muncul nama-nama seperti Raffi Ahmad, Atta Halilintar, sampai Kaesang Pengarep yang mengakuisisi klub lokal.

Munculnya nama-nama tersebut paling tidak melahirkan harapan. Minimal di tangan mereka, sepak bola tanah air makin menggeliat karena pemilik klub tidak hanya dikuasai politikus dan purnawirawan. Kita, jadi nggak terpingkal-pingkal lagi menyaksikan sepak bola tanah air.

Namun, stand up comedy tetaplah harus lucu. Giliran format Liga 2 lah yang bikin kita semua ragu kalau itu kompetisi sepak bola, bukan ajang pencarian bakat. Bagaimana bisa liga tapi formatnya dibikin fase grup?

Okelah, dulu juga gitu. Tapi dulu cuma dibagi dua grup yang disesuaikan wilayahnya. Sedangkan Liga 2 sekarang formatnya mirip Konami Cup. Belum lagi, dalam satu grup hanya akan bermain di dalam satu stadion. Dari formatnya saja sudah aneh, ya, nggak heran kalau ujung-ujungnya begitu.

Pemain Brutal dan Wasit Ngawur

Eits, kita masih belum sampai ke punchline. Masih ingat tendangan kungfu pemain PSG Pati ke pemain Persis Solo beberapa waktu lalu? Begitulah cerminan pemain sepak bola dalam negeri. Seolah pemain tidak hanya dilatih bermain bola, tapi juga teknik kungfu.

Belum lama ini, aksi brutal pemain lokal juga terjadi di Liga 3. Saat laga PPSM Sakti Magelang kontra Persak Kebumen, Senin (1/11) kemarin, seorang pemain PPSM diinjak oleh pemain Persak.

Pemain PPSM, Santino Berti sudah seperti adonan tempe diinjak oleh pemain Persak, Tri Hartanto di babak kedua. Berkat kejadian itu, Santino pun kabarnya dilarikan ke rumah sakit. Ajaibnya, wasit yang memimpin laga itu hanya menghukum Tri dengan kartu kuning. Sungguh mulia sekali wasit kita yang satu ini.

Tentu, kalau dirunut, bukan tidak mungkin kejadian-kejadian brutal pemain lokal kembali ada. Pun kalau serius didaftar, satu video tidak nyukup memaparkan tindakan-tindakan brutal pemain lokal. Akan tetapi, sebetulnya, aksi UFC para pemain bisa dihindari apabila wasit berlaku tegas.

Sayangnya, mengharapkan hal itu terjadi sama seperti berharap Jose Mourinho mau melatih PSG Pati. Bisa jadi sih, tapi kemungkinannya hanya 0,99 persen.

Wasit Indonesia sering kali ngawur dalam memberikan keputusan. Misalnya, ketika laga Persebaya vs Persela, 21 Oktober 2021. Di mana pada menit 35, gol Persebaya dari Jose Wilkinson dianulir padahal bola sudah melewati garis gawang. Sementara, gol pemain Persela, Ivan Carlos beberapa saat berselang disahkan, padahal Ivan Carlos terlihat berada di posisi offside.

Akibatnya, ultras Bajul Ijo, Bonek bahkan punya rencana untuk melakukan demo besar-besaran. Dengan catatan, wasit yang memimpin pertandingan tersebut tidak disanksi. Kasus tersebut, sekali lagi, hanya sebagian kecil saja.

Puncaknya, nah ini, munculnya skandal pengaturan skor. Mencuatnya kasus pengaturan skor di Liga 2 yang menyeret beberapa pemain bagai punchline di sebuah pertunjukan stand up comedy, dengan PSSI sebagai komikanya.

Kasus match fixing semacam itu sesungguhnya sudah lama terjadi. Para petinggi PSSI juga sudah gonta-ganti, tapi kasusnya masih belum berhenti. Bahkan program televisi terbaik, Mata Najwa sudah menguliti PSSI sampai 6 jilid.

Meski begitu, PSSI nggak usah cemas berkepanjangan. PSSI bagaimanapun masih tetap di hati pencinta sepak bola tanah air. Walaupun masyarakat mencintainya sebagai sekumpulan komika, bukan induk sepak bola.

Sumber referensi: detikcom, kompas.tv, okezone.com, bola.com, cnnindonesia.com, goal.com

Pos terkait