Setelah Dihabisi Jepang, Bisakah Jerman Bungkam Spanyol?

spot_img

Sebuah misi yang maha berat bagi Jerman di Grup E Piala Dunia 2022 kali ini. Setelah tersungkur oleh Jepang, apesnya mereka selanjutnya ditunggu raksasa Spanyol yang sedang mengamuk.

Tak ada cara selain menang. Harga diri Der Panzer kini akan dipertaruhkan. Partai yang sekaligus menjadi ajang pembalasan dendam yang sudah teramat lama terhadap Spanyol. Namun apakah dendam itu akan segera terbalas? Ataukah justru mereka akan tersungkur kembali?

Head To Head Kedua Tim Yang Disertai Dendam

Berkaca pada head to head kedua negara, Jerman dan Spanyol sudah 25 kali bertemu sejak tahun 1935. Jerman lebih unggul dengan 9 kemenangan. Sedangkan Spanyol hanya 8. Sisanya 8 kali berakhir seri.

Namun yang perlu dicatat, beberapa tahun ke belakang Spanyol ternyata lebih mendominasi Jerman. Jerman hanya menang dua kali, itu pun di pertandingan persahabatan.

Pertemuan terakhirnya di tajuk Nations League. Jerman sangat menanggung malu ketika mereka dibantai 6-0 tanpa balas. Sebuah kekalahan yang tak bisa ditolerir untuk tim sebesar Jerman.

Namun, lebih dari itu. Luka yang sangat mendalam Jerman masih membekas ketika mereka dihentikan La Furia Roja di dua turnamen besar. Jerman tak akan pernah lupa ketika mereka dipaksa merelakan gelar juara Piala Eropa 2008 kepada Spanyol. Ketika itu gol semata wayang Fernando Torres mengandaskan mimpi Klose dan kawan-kawan meraih mahkota juara.

Belum juga terobati luka di 2008, Spanyol kembali menambah luka lain kepada Jerman di Piala Dunia 2010. Lewat gol sundulan Carles Puyol di babak semifinal, Jerman kembali tersungkur dan merelakan Spanyol masuk final dan kembali menjadi juara.

Beberapa akumulasi luka itu membuat wajar kalau partai ini dijuluki sebagai ajang pembalasan dendam yang teramat penting bagi Der Panzer. Momentum bertemunya mereka di fase Grup Piala Dunia kali ini, seharusnya jangan disia-siakan oleh Jerman.

Beberapa Catatan Kedua Tim Di Laga Partai Pertama

Namun celakanya, keadaan semakin memburuk bagi Jerman tatkala melihat hasil yang diraih di partai pertama mereka di Piala Dunia kali ini. Tak terduga, skuad besutan Hansi Flick terkapar oleh serangan tim Samurai Biru dengan skor 2-1. Jerman dengan kekuatan skuad yang digadang-gadang sebagai calon juara, sepertinya kini mengalami masalah besar.

Berbanding terbalik dengan kondisi Spanyol. La Furia Roja yang selalu dicibir dengan banyak meninggalkan beberapa pemain seniornya, ternyata mampu tampil kesetanan melawan Kosta Rika. Anak asuh Enrique langsung tancap gas dengan melesakan tujuh gol tanpa balas. Sebuah rekor tersendiri bagi Spanyol di partai pembuka Piala Dunia. Dari segi mental pun kini Tim Matador semakin kuat.

Perang Taktik Enrique Vs Hansi Flick

Kalau berkaca pada kekuatan tim, keduanya sama-sama membuat perubahan kalau melihat partai pertama mereka. Jerman di bawah Flick, memberikan perubahan pada struktur skuadnya. Ia tak memasang seorang bek kanan murni dan juga striker murni.

Dengan memakai formasi 4-2-3-1, ia lebih memilih menempatkan seorang Sule yang notabene bek tinggi besar dan secara kecepatan lambat, sebagai backup bek di area kanan. Begitu juga di ujung tombak, ia hanya menggunakan false nine yakni Kai Havertz.

Hasilnya dengan kecepatan dan daya juang pasukan Jepang, Jerman beberapa kali dihukum melalui area flank. Di kiri mereka sering ditinggal jauh David Raum. Dan di kanan, Sule sering terlambat menutup.

Beberapa kali kelihatan area flank mereka dieksploitasi oleh pemain cepat lawan. Begitupun dari segi membangun serangan. Kombinasi para pemain Munchen yang biasa bermain bersama pun terbukti masih sering buntu.

Kelemahan itulah yang tentu harus dimanfaatkan Enrique. Mereka selain punya sayap yang cepat dan agresif, juga mempunyai lini pertahanan dan lini tengah yang cukup solid. Kalau Flick tidak mengubah struktur permainan, bisa jadi mereka akan dihukum lagi seperti melawan Jepang.

Lain Jerman, lain Spanyol. Enrique juga mengubah struktur tim dengan hanya meninggalkan Laporte sebagai bek murni. Ia ditopang Rodri yang notabene adalah seorang gelandang bertahan.

Di lini depan pun Enrique memakai jasa false nine dengan Asensio, ketimbang memasang the real striker seperti Morata. Hasilnya cemerlang, pergerakan tanpa bola serta kecepatan Asensio mampu menambah dimensi yang berbeda dari cara menyerang Spanyol.

Dengan fleksibilitas komposisi skuad Enrique tersebut, akan sangat sulit ditebak oleh Flick. Pakem 4-3-3 ala Enrique cenderung bergerak cair. Mereka tak lagi banyak mengandalkan passing satu dua dengan tempo maupun possesion football. Mereka kini lebih efektif dan cepat dalam membangun serangan dengan gaya direct football.

Kini tampaknya Flick harus punya jurus lain untuk meredam gaya baru Spanyol. Flick harus segera menemukan sisi kelemahan Spanyol.

Sama Sama Punya Permasalahan Di Penyerang Nomor 9

Sebenarnya kalau dilihat dari sisi kelemahan, kedua tim punya satu permasalahan yang sama. Mereka sama-sama tak lagi punya striker “nomor 9” yang haus gol layaknya Miroslav Klose maupun Fernando Torres.

Berkaca pada match pertama, Jerman yang terasa parah dampaknya. Pola false nine yang dijalankan mereka sebagai alternatif, ternyata mandek.

Alangkah baiknya di partai melawan Spanyol, mereka harus berjudi menggunakan striker “nomor 9” macam Niclas Fullkrug. Fullkrug bisa digunakan sebagai pembuka ruang atau pemantul bola yang setidaknya bisa membuyarkan konsentrasi bek Spanyol dengan duel-duelnya. Sesekali variasi dengan bola atas juga bisa dilakukan dengan menggunakan Fullkrug.

Berbeda dengan Spanyol, meskipun penyakit striker “nomor 9” mereka belum sepenuhnya sembuh, Enrique ternyata punya resep lain. Asensio bisa disulap menjadi senjata alternatif. Begitupun lini kedua mereka, semuanya terbukti pandai menjadi alternatif finisher.

Namun bagaimanapun, lini depan Spanyol baru dicoba dengan tim sekelas Kosta Rika. Bukan jaminan juga lini depan mereka akan semoncer ini ketika bertemu Jerman nanti. Enrique harus tetap hati-hati akan kejutan yang dilakukan oleh Flick.

Peluang Keduanya Untuk Lolos Dan Menjadi Juara Grup

Kini di Grup E, Spanyol dan Jepang sementara memimpin dengan 3 poin. Jerman yang berada di bawahnya, kalau masih ingin punya nafas untuk lolos rumusnya jangan sampai kalah melawan Spanyol. Minimal imbang.

Lalu di partai terakhir, berharap Jepang kalah atas Spanyol, dan mereka bisa mencukur Kosta Rika. Dengan begitu, peluang untuk Der Panzer melangkah ke babak selanjutnya masih tetap terjaga.

Skenario itu akan berubah, jika Jerman bisa menang atas Spanyol. Semua bisa terjadi di Piala Dunia kali ini. Tak ada jaminan Spanyol yang menang besar tak mampu kalah dari Jerman. Apalagi ini adalah partai yang tak biasa bagi Der Panzer. Ini partai hidup mati sekaligus balas dendam bagi mereka.

Namun kalau menurut Football Lovers, mampukah dendam Jerman terhadap Spanyol akan segera terbalas?

Sumber Referensi : transfermarket, theathletic, theathletic

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru