Saat The Dream Team AC Milan Akhiri Puasa Gelar Liga Champions

spot_img

Forza Milan. Selamat bagi AC Milan, setelah 11 tahun penantian akhirnya mereka kembali bisa lolos ke babak perempat final Liga Champions. Sebenarnya bagi publik Milan di seluruh dunia, mencapai sebuah kesuksesan di kancah Liga Champions itu sih sebuah hal yang lumrah.

Di mana mereka di awal 2000-an sempat menjadi tim yang mendominasi kompetisi itu.Tepatnya dimulai pada musim 2002/03. Rossoneri ketika itu memulai lembaran baru dengan pelatih baru dan semangat yang baru.

AC Milan Puasa Gelar Liga Champions

Sebelum musim 2002/03, Milan telah 9 tahun lamanya puasa gelar Liga Champions. Terakhir mereka meraihnya di musim 1993/94 bersama pelatih Fabio Capello dan pemain macam Jean Pierre Papin, Marcel Desailly, maupun Daniele Massaro.

Di kancah domestik pun, Milan sudah lama menantikan gelar juara Serie A. Pasalnya, mereka terakhir kali juara Serie A pada musim 1998/99 bersama pelatih Alberto Zaccheroni dan para pemain seperti George Weah maupun Oliver Bierhoff. Artinya Rossoneri juga sudah 5 tahun lamanya puasa gelar di Serie A.

Secara garis besar, AC Milan di bawah kepemimpinan Silvio Berlusconi dan Adriano Galliani itu belum lagi memiliki masa keemasannya.

Datangnya Carlo Ancelotti

Setelah gagal dengan gonta-ganti pelatih, Berlusconi akhirnya mempercayakan posisi pelatih kepada mantan gelandang mereka di era Arrigo Sacchi, Carlo Ancelotti.

Ancelotti datang ke Milan sebagai pelatih yang pernah membesut Parma dan Juventus. Ia ditunjuk Berlusconi untuk menggantikan Fatih Terim yang dipecat di pertengahan musim 2001/02.

Sebagai pelatih muda potensial, ia sebelum ke Milan telah dicampakkan begitu saja oleh Juventus. Ia dipecat di pertengahan musim setelah dianggap gagal dan hanya dicap sebagai pelatih spesialis runner up. Tapi di Milan ia mendapatkan dukungan penuh dari sang presiden Silvio Berlusconi.

Dukungan Klub

Paruh musim Ancelotti memang belum berhasil. Ia masih meraba kekuatan dengan pemain ala kadarnya peninggalan Terim. Berlusconi pun masih percaya dan mempersilakan Ancelotti untuk mencari formula yang tepat bagi permainannya. Ia juga menjanjikan Ancelotti untuk merekrut pemain yang dibutuhkannya.

Berlusconi kemudian memberi perintah pada wakilnya, Galliani untuk bergerak di bursa transfer. Yang pertama, sang presiden merasa Ancelotti butuh staff dan asisten yang mumpuni untuk menjaga konsistensi.

Maka ia langsung memerintahkan Galliani untuk mendatangkan 16 staf untuk membantu kinerja Ancelotti. Selain itu, Ancelotti akan didampingi Mauro Tassotti, mantan rekannya di Milan sebagai asistennya

Pembelian Pemain

Lalu Berlusconi juga memerintahkan Galliani untuk melobi dan bernegosiasi dengan tim yang mempunyai pemain yang diincar Ancelotti. Galliani pun bergerak. Hasilnya, Jon Dahl Tomasson, Alessandro Nesta, Samuelle Dalla Bona, Clarence Seedorf, Dario Simic, hingga superstar Rivaldo berhasil didaratkan ke San Siro.

Akhirnya Ancelotti mendapatkan skuad yang dibutuhkan. Skuad yang tergolong mumpuni secara kedalaman. Dari segi kualitas pun tak jauh beda antara pemain inti dan pelapis. Di lini belakang, sang kapten Paolo Maldini menemukan duetnya yakni Alessandro Nesta yang baru saja didatangkan mahal dari Lazio.

Duet bek tengah ini diapit oleh Dario Simic bersama Kakha Kaladze. Kuartet lini pertahanan ini saling bahu-membahu menggalang pertahanan di depan gawang yang dijaga oleh Nelson Dida.

Di lini tengah, terlihat jelas kekayaan materi pemain Milan musim itu. Ada Clarence Seedorf, Andrea Pirlo, Gennaro Gattuso, Rui Costa maupun Rivaldo. Barisan gelandang inilah yang menjadi otak bagi permainan Ancelotti.

Dari segi penyerangan, AC Milan juga tak kalah mentereng. Ada striker oportunis Filippo Inzaghi yang berduet dengan Andriy Shevchenko serta dilapisi rekrutan anyar mereka, Jon Dahl Tomasson.

Selain itu, masih ada pelapis macam Christian Abbiati, Roque Junior, Massimo Ambrosini, Samuele Dalla Bona, Thomas Helveg, serta pemain gaek, Alessandro Costacurta.

Sentuhan Ancelotti

Lalu dengan skuad melimpah itu, apa yang dilakukan oleh Ancelotti? Apakah ia bisa memanfaatkannya? Ancelotti dikenal tipikal pelatih yang berusaha memainkan pemain di posisi terbaiknya.

Ancelotti ketika di Milan tidak hanya memakai pola dasar andalan 4-4-2 yang pernah ia dapatkan ilmunya dari Arrigo Sacchi. FYI aja, Ancelotti ini di Parma dan Juventus dulunya sering memakai formasi itu.

Setelah di Milan, ia mulai mengubahnya dengan formasi 4-3-1-2 atau 4-1-2-1-2. Ancelotti menemukan sistem formasi yang berfungsi untuk memanfaatkan seorang playmaker atau trequartista di belakang dua penyerang.

Maklum Ancelotti punya banyak stok di posisi itu. Awalnya ia pun dipusingkan ketika harus menentukan siapa yang akan bermain terlebih dahulu di posisi tersebut. Rui Costa, Seedorf, Rivaldo, atau Pirlo?

Akhirnya, ia secara mengejutkan memainkan Pirlo, Seedorf, dan Rui Costa secara bersamaan. Lalu peran mereka bagaimana? Dalam formasi 4-1-2-1-2, Rui Costa lah yang tetap bermain di posisi trequartista di belakang Inzaghi dan Shevchenko.

Sedangkan Seedorf diposisikan sebagai gelandang tengah sebelah kiri menemani Gattuso. Yang menarik adalah karya masterpiece Ancelotti menjadikan seorang Andrea Pirlo sebagai regista atau deep lying playmaker yang posisinya berada di depan empat bek persis. Pirlo tiba-tiba nyaman dan gacor di posisi barunya itu.

Kenangan Drama di Old Trafford

Lalu apakah dengan beberapa sentuhan itu, Milan berhasil meraih kesuksesan? Di Serie A, faktanya Milan inkonsisten, terutama di pertandingan akhir musim. Dari pekan 27 hingga 34, tepatnya di bulan April dan Mei, Rossoneri hanya bisa menang 3 kali.

Ancelotti ternyata pada bulan itu mengaku kewalahan dengan jadwal kompetisi yang padat. Berkat itu Milan akhirnya finish di posisi 3 klasemen. Di saat gelar Serie A sudah tak diharapkan, Milan fokus mengincar dua gelar tersisa, yakni Coppa Italia dan Liga Champions.

Di Liga Champions, langkah Milan yang diawali dari babak kualifikasi tak disangka mampu terus melaju hingga babak gugur. Klub-klub hebat seperti Super Depor, Munchen, Ajax, Real Madrid, semua sudah dilewatinya.

Sampai akhirnya Derby Della Madonnina dipertemukan di babak semifinal. Melawan Inter ini adalah ujian sebenarnya bagi Ancelotti. Namun syukur hasilnya memuaskan. Milan di tengah alotnya laga mampu melewati tetangganya itu, meskipun hanya dengan agregat gol tandang.

Sampai akhirnya Rossoneri kembali merasakan indahnya final. Uniknya final di Old Trafford itu mempertemukan All Italian Final. Ancelotti akan bersua kembali dengan tim yang membuangnya, Juventus.

Saking alotnya laga, drama adu penalti pun tak terhindarkan. Dendam Ancelotti pun akhirnya terbalas berkat tendangan penalti terakhir Shevchenko. Malam yang indah bagi Milan dan Ancelotti. Satu target tercapai. Sedangkan satu target lainya Coppa Italia juga akhirnya berhasil diraih setelah itu kala mengalahkan Roma.

Dua final dan dua trofi adalah sebuah pencapaian hebat pelatih baru. The Dream Team AC Milan racikan Ancelotti ini bahkan mampu bertahan hingga beberapa musim sebagai kekuatan utama Milan. Gelar demi gelar pun akhirnya mengalir sendiri. Inilah musim yang menandakan bahwa era kebangkitan AC Milan kembali dimulai.

Sumber Referensi : acmilan.com, morethanagame, fourfourtwo, uefa, transfermarkt

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru