Romansa Legendaris Gabriel Batistuta Dengan Fiorentina

spot_img

Kala itu, tepat di kompetisi Serie A musim 2000/01, Gabriel Batistuta mengangkat trofi scudetto setinggi-tingginya. Dibarengi dengan sorak-sorai penonton yang hadir, ia terus meremas medali yang menggelantung di leher dengan sangat kuat.

Saat itu, Batistuta sedang tidak bermimpi. Ia benar-benar menjadi seorang juara di tanah Italia. Ia begitu bahagia karena telah melalui berbagai jalan terjal saat meniti karier di kompetisi paling bergengsi kala itu. Kisahnya yang coba temukan harta karun bernama scudetto dilalui dengan penuh jerih payah. Batistuta, bagaimanapun, tidak dapat disangkal, ia menjadi faktor penentu keberhasilan pelatih Fabio Capello dalam membawa AS Roma menaklukkan Serie A untuk kali ketiga.

Terlepas dari semua kegembiraannya, ada kesedihan yang tampak jelas di mata sang legenda. Tidak lain, kesedihan itu muncul dari kenangannya bersama Fiorentina.

Jika menilik kariernya di Negri Pizza, semua pasti setuju kalau Gabriel Batistuta punya dua kesedihan mendalam. Yang pertama adalah kepergiannya dari La Viola menuju klub Serigala. Saat itu, Roma menghadapi musim 2000/01 dengan persiapan tak main-main. Lebih dari 100 juta euro mereka gelontorkan untuk merekrut pemain baru, mulai dari yang berharga selangit sampai yang bisa dengan mudah ditebus tanpa merogoh kocek dalam-dalam. Sosok termahal yang didatangkan Roma pada saat itu adalah Gabriel Omar Batistuta.

Momen kesedihan sang legenda berikutnya adalah tentu gelar Serie A yang ia raih bukan dengan Fiorentina, melainkan bersama AS Roma. Di kedua momen tersebut, jelas dirinya telah menghancurkan hati para tifosi La Viola.

Selain menghancurkan hati klub yang membesarkan namanya, sang legenda juga telah menghancurkan hatinya sendiri. Hal itu terjadi pada laga AS Roma melawan Fiorentina.

Ada derai air mata yang mewarnai salah satu gol paling masyhur dalam sejarah sepak bola. Tahun 2000, pada tanggal 26 November di Stadio Olimpico, Roma menjamu Fiorentina. Tujuh menit jelang bubaran, sebuah momen indah namun menyesakkan terjadi.

Menit ke-83, menerima umpan sundulan Gianni Guigou, Batistuta melepaskan tembakan voli keras dari luar kotak penalti. Bola meluncur deras melewati kiper Francesco Toldo yang berdiri terlalu maju. Gol indah pun tercipta dan para pemain Roma langsung mengerubungi Batistuta.

Namun, alih-alih bahagia, Batistuta justru sedih bukan kepalang. Di tengah kebahagiaan yang menyelimutinya, Batistuta larut dalam air mata. Gol itu memang indah. Namun, justru keindahan tersebut yang membuatnya jadi kian menyesakkan bagi para suporter Fiorentina.

Saat itu, Batistuta merasa telah melakukan dosa besar. Ia tidak pernah mau menjebol gawang Fiorentina. Namun pekerjaan lah yang menuntutnya untuk melakukan tugas paling berat tersebut.

Meski berhasil raih mimpi menangi Serie A bersama Roma, Batistuta tetaplah legenda bagi Fiorentina.

Romansa legendaris Gabriel Batistuta dengan Fiorentina dimulai saat Vittorio Cecchi Gori, yang kala itu menjabat sebagai wakil presiden Fiorentina, disuguhi pemandangan luar biasa dari tribun penonton, dibawah langit Chile, untuk menyaksikan gelaran Copa America tahun 1991. Pemandangan yang membuat mata terbelalak itu adalah sosok langsing namun berotot bernama Gabriel Batistuta.

Melihat sang pemain beraksi diatas lapangan, Vittorio Cecchi terpesona dengan kibasan rambut yang tertiup angin milik Batistuta. Meski terlhat indah dan gemulai, kibasan itu mampu ciptakan tendangan roket super dahsyat yang digunakan untuk jebol gawang lawan. Di ajang tersebut, Timnas Argentina yang punya peluru bernama Batistuta sukses melibas perlawanan Venezuela, Chili, Paraguay, Brasil dan Kolombia.

Selain sukses menjadi top skor dalam ajang tersebut, Batistuta juga berhasil mengantar La Albiceleste meraih gelar juara.

Berkat suguhan fenomenal itulah, Vittorio Cecchi tak mau buang-buang waktu untuk menyelesaikan transfer pemain asal Argentina ini. Meski saat itu matahari di bagian selatan Amerika sudah tenggelam, selebaran kontrak legendaris milik Fiorentina dan Batistuta masih basah oleh tinta. Beberapa saat kemudian, Batistuta pergi meninggalkan Chile sebagai sang jawara dan penggawa La Viola.

Sebelum resmi menjadi pemain Fiorentina, Batistuta lebih dulu beraksi di Newell’s Old Boys dan melanjutkan kerier di River Plate. Setelah hanya semusim membela River Plate, Batistuta pun menyelesaikan karier di Argentina dengan bergabung bersama Boca Juniors.

Meski baru lakoni laga perdana diluar Italia, mental Batistuta sudah terbentuk dengan sangat kokoh. Maklum saja, Batistuta kecil terbiasa hidup dengan penuh perjuangan. Ia lahir dari ayah yang mencari nafkah dengan menjual roti, serta seorang ibu yang meraup pundi-pundi uang dari hasil menjadi sekertaris sekolah.

Dengan tekad kuat, Batistuta jalankan perannya dengan baik. Di musim pertamanya bersama Fiorentina, ia sukses lesatkan 13 gol. Meski begitu, ia langsung mendapat ujian setelah gagal membawa Fiorentina bertahan di Serie A. Tepat di musim itu, 1992/93, Fiorentina terdgradasi ke kompetisi Serie B setelah hanya tempati posisi ke 16 klasemen akhir.

Meski Fiorentina terdegradasi ke Serie B, Batistuta rela bertahan bersama klub yang bermarkas di Stadion Artemio Franchi. Padahal, saat itu dirinya berstatus sebagai penyerang utama Tim Nasional Argentina dan diburu klub-klub top Eropa, termasuk AC Milan dan Real Madrid. Namun, pemain yang memiliki darah timur tengah itu tidak bergeming dan tetap bertahan bersama Fiorentina.

Diperkuat pemain sekelas Batistuta menjadi berkah bagi Fiorentina. Terbukti, La Viola hanya bertahan satu musim di Serie B dan langsung promosi ke Serie A setahun setelahnya. Bahkan di musim 1993/94 itu, Fiorentina dinobatkan sebagai kampiun Serie B.

Di musim 1994/95, saat kembali ke Serie A, Gabriel Batistuta benar-benar menobatkan diri sebagai penyerang paling mematikan. Hal itu terbuktinya dengan munculnya julukan “Batigol”. Di musim tersebut, Batistuta keluar sebagai top skor Serie A karena sukses torehkan 26 gol. Namun sayang ia hanya mampu bawa Fiorentina bercokol di posisi 10 klasemen akhir.

Musim berikutnya, Batistuta jalani musim yang terbilang luar biasa. Dibantu pemain sekaliber Rui Costa dan Francesco Baiano, Fiorentina sempat tidak terkalahkan dalam 15 laga beruntun Serie A. Meski akhirnya tidak menjadi juara, Fiorentina mampu finis di posisi empat dengan koleksi 59 angka.

Selain tampil apik di Liga Italia, Fiorentina juga berjaya di Coppa Italia 1995/96. Mereka keluar sebagai kampiun setelah menang agregat 3-0 atas Atalanta di partai puncak. Hal luar biasa disini adalah, dua dari tiga gol Fiorentina dicetak pemilik tendangan gledek, Gabriel Batistuta.

Bahkan, kesuksesan Fiorentina pada 1996 tidak berhenti sampai disitu saja. Mereka melanjutkannya dengan keluar sebagai kampiun Piala Super Italia 1996. Bertemu jawara Liga Italia musim 1995/96, AC Milan, Fiorentina menang dengan skor 2-1. Di laga itu, Batistuta berhasil lumpuhkan pemain legendaris I Rossoneri seperti Franco Baresi, Paolo Maldini, Alessandro Costacurta, hingga Marcel Desailly, dengan sukses sarangkan semua gol yang dicetak oleh kubu La Viola.

Setelah musim hampir mencapai millenium baru, tekanan mulai tertuju pada kubu Fiorentina, khususnya Batistuta itu sendiri. Para supporter menuntut tim untuk segera raih gelar scudetto. Namun alih-alih meraih gelar scudetto, Fiorentina pada musim 1996/97, justru hanya bercokol ditangga ke 9.

Di masa-masa terakhirnya bersama Fiorentina, Batistuta tetap gagal membawa klub yang bermarkas di Artemio Franchi menjadi jawara Italia. Di usianya yang sudah mencapai angka 30, Batistuta mulai pikirkan jalan keluar untuk bisa raih mimpi mengangkat trofi Serie A.

Pada akhirnya, Batigol memilih jalan terakhir. Musim 2000/01, ia resmi menjadi rekrutan termahal AS Roma dengan nilai 36 juta euro.

Meski bersama AS Roma sukses raih mimpi untuk menjadi jawara Serie A, Batistuta tetaplah pemain yang lekat dengan Fiorentina. Berkat kesetiaan dan dedikasi luar biasanya terhadap Fiorentina, Batistuta berhasil masuk ke dalam Hall of Fame klub tersebut. Pria yang memiliki julukan Batigol itu diberi kehormatan oleh pihak La Viola usai membukukan 207 gol dalam 332 pertandingan selama berada di Firenze.

Bagi penyerang asal Argentina itu, Fiorentina bukanlah apa-apa, kecuali cinta.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru