Rafael Benitez di Inter Milan: Ambisi Saingi Mourinho Malah Jadi Bencana

spot_img

22 Mei 2010, Javier Zanetti mengangkat trofi Champions League dihadapan para Interisti di Estadio Santiago Bernabeu. Inter Milan telah mengalahkan Bayern Munchen di final, menyudahi musim panjang mereka dengan gemerlap kejayaan. Si kuping besar bukan satu-satunya trofi bergengsi yang Inter dapatkan di musim itu.

Itu trofi ketiga Nerazzurri di musim 2009/10. Ya, di musim yang sama Inter juga merengkuh gelar scudetto dan Coppa Italia. Diego Milito dan kolega pun jadi yang pertama, dan sampai sekarang satu-satunya tim asal Italia yang bisa mendapatkan treble winner.

Special One Pergi

Itu semua tidak bisa dicapai tanpa tangan dingin dari Jose Mourinho. Pelatih asal Portugal itu tidak hanya membangun skuad yang kokoh dan bisa bertarung di segala sisi. Tapi juga berhasil menanamkan kepercayaan diri dalam tim. Itu membuatnya jadi pelatih ketiga yang berhasil menjuarai Champions League bersama dua klub yang berbeda.

Tapi itu jadi musim terakhir Mourinho di Inter. Tidak ada yang menyangka kalau pertandingan final Champions itu akan jadi laga terakhir Mourinho bersama Inter. Ia sudah menandatangani kontrak untuk melatih Real Madrid. Ini tentu keputusan yang sulit baginya. Mourinho sudah menganggap Inter sebagai rumah dan zona nyaman.

Tapi mimpi Mourinho bukanlah berada di zona nyaman. Ia punya mimpi untuk menjadi raja di semua liga top Eropa. Real Madrid adalah pintu masuknya untuk mewujudkan mimpi itu. Juga, tidak masuk akal kalau ada seorang pelatih menolak tawaran untuk menukangi el real.

“Saya ingin pergi ke Real. Mereka sudah mencoba mengontrak saya selama tiga tahun sebelumnya, sejak saya masih di Chelsea. Tidak ada yang menolak Madrid lebih dari tiga kali. Saya ingin jadi pelatih pertama yang menjuarai Liga Inggris, Liga Italia, dan Liga Spanyol.” Ucap Mourinho dikutip dari Daily Mail.

Dengan begitu, pergilah pelatih kesayangan Interisti ke ibu kota Spanyol untuk tantangan baru. Kesedihan para fans dan pemain pun mengiringi kepergian Mourinho. Beredar rekaman Mourinho memeluk Materazzi sambil menangis sebelum ia pergi dari markas Inter.

Datangnya Rafael Benitez

Mourinho memang meninggalkan skuad yang kuat di Inter. Tapi ia juga meninggalkan PR yang berat. Nerazzurri harus mencari pelatih yang cocok untuk menggantikan Jose Mourinho. Dan nama yang dipilih adalah Rafael Benitez.

Awalnya Benitez memang nama yang paling cocok untuk menjadi pengganti Mou di Inter. Kenapa? Karena Benitez punya pendekatan taktis yang pragmatis. Meskipun ia mendapat banyak kritik ketika menggunakannya di Spanyol dan Inggris, tapi itu adalah taktik yang cocok untuk Serie A yang bermain dengan tempo lambat, hati-hati, dan konservatif.

Benitez sendiri juga punya segudang prestasi di Liverpool. Salah satunya adalah secara ajaib menjuarai Liga Champions di tahun 2005. Saat itu anak asuh Benitez yang dipimpin Steven Gerrard berhasil menang lawan AC Milan setelah ketinggalan 3-0 di babak pertama. Selain Champions, bersama Liverpool ia juga telah menjuarai FA Cup, Community Shield, dan UEFA Super Cup.

Tapi musim terakhirnya di Anfield bukanlah sesuatu yang patut untuk dibanggakan. The Reds jadi tim yang hanya bisa bersaing di papan tengah Premier League. Sebenarnya performa Rafa bersama Liverpool sudah menurun sejak musim 2008/09. Tapi jadi makin parah di musim 2009/10.

Saat itu ia membawa Liverpool terdampar di peringkat ketujuh Premier League sampai akhir musim. Transfernya yang merugikan klub juga jadi kritik utama. Seperti membeli Robbie Keane dan membuang Xabi Alonso.

Itu membuat the reds merasa masa abdi Rafa di Anfield sudah cukup dan mendepaknya dari kursi kepelatihan. Setelah Liverpool, Inter adalah destinasi selanjutnya yang tepat untuk Rafa. Runtuhnya kedigdayaan Juventus karena kasus Calciopoli membuat Inter jadi penguasa di Italia. Mourinho juga telah membangun skuad yang berisi pemain kelas dunia seperti Samuel Eto’o, Wesley Sneijder, Javier Zanetti, dan lainnya.

Juga, dengan baru saja meraih gelar treble, Inter adalah klub terbaik di Eropa saat itu. Artinya ini akan menarik para pemain-pemain bintang lainnya untuk bergabung. Tidak ada alasan bagi Benitez untuk menolak tawaran Inter. Mereka cocok satu sama lain.

Rivalitas Rafa dan Mou

Tapi bagi Rafa, mungkin ada daya pikat lain yang membuatnya tertarik untuk bergabung bersama Inter. Adalah rivalitasnya dengan Mourinho. Dua pelatih itu punya persaingan toxic yang sudah berlangsung sejak Mou masih di Chelsea, dan Benitez di Liverpool.

Bisa dilihat pada tahun 2005, ketika Mou menjuarai Premier League bersama Chelsea, Rafa menyindir gaya bermain Chelsea. Ia berkata kalau Chelsea bermain membosankan. Ia bahkan bilang Arsenal dan AC Milan bermain lebih menarik dibanding anak asuh Mou.

“Menurut saya, Arsenal bermain sepak bola yang lebih bagus. Barcelona dan AC Milan juga sangat menarik untuk ditonton. Sedangkan Chelsea, bagaimana kalian bisa bilang Chelsea tim terbaik di dunia?” Ungkapnya dikutip dari Eurosport.

Kemudian di tahun yang sama, Liverpool berhasil mengalahkan Chelsea di babak semifinal Liga Champions dengan agregat 1-0. Satu satunya gol yang tercipta di dua leg itu adalah gol kontroversial milik Luis Garcia. Setelah laga usai, Mou yang timnya jauh diunggulkan pun marah dan mengkritik gaya bermain Liverpool.

“Gaya bermainnya selalu sama. Liverpool mencetak gol di menit awal lalu bermain bertahan. Hakim garis lah yang mencetak gol itu. Tidak ada yang tahu 100% apakah bola sudah melewati garis gawang”

Di tahun-tahun berikutnya, kedua pelatih itu saling lempar kritik satu sama lain. Dan masih berlanjut ketika Rafa mengambil alih tugas Mou di Inter. Ketika Rafa pertama kali datang ke Giuseppe Meazza di awal musim 2010/11, Ia mengklaim bisa mendapatkan trofi lebih banyak dari Mou.

“Pertama ada Mancini, lalu Mourinho, kemudian saya. Saya berencana untuk mendapatkan trofi lebih banyak dari mereka. Kami bisa mendapatkan enam trofi musim ini.”

Bagaimana Mou merespon komentar arogan ini? Ia hanya memberikan ramalan kalau Rafa tidak akan sesukses yang ia bicarakan. Mourinho saat itu sudah sangat percaya kalau Rafa tidak akan bisa lebih sukses darinya.

“Satu hal yang pasti, Benitez tidak akan lebih baik dari saya. Kebenaran lainnya adalah ia akan mengangkat Piala Dunia Antar Klub, tapi dia hanya akan punya dua kemenangan di Liga Champions. Trofi itu akan jadi punya saya, bukan miliknya” Ucapnya dari Daily Mail.

Benitez Jadi Mimpi Buruk Nerazzurri

Enam hari setelah Mourinho memberikan ramalan itu, Nerazzurri meraih hasil imbang tanpa gol melawan Bologna. Inter bisa menang dengan mudah jika Mou masih jadi pelatih. Rafa bisa membawa Inter juara Supercoppa Italia tapi beberapa hari kemudian kalah lawan Atletico Madrid di Piala Super UEFA.

Tiga pertandingan Serie A setelahnya berhasil mereka selesaikan dengan kemenangan. Tapi tanda-tanda ketidakpuasan para pemain dengan gaya kepemimpinan Benitez sudah mulai menguak. Inter kalah di tangan Roma pada pertandingan setelahnya sebelum kemudian imbang tanpa gol lawan Juventus.

Kemudian nerazzurri hanya meraih satu kemenangan sepanjang bulan November. Dengan dua kali kekalahan dan dua lainnya berakhir dengan hasil imbang. Itu membuat Inter jatuh ke peringkat lima Serie A.

Dari semua ramalan atau prediksi Mourinho ketika Benitez baru datang ke Inter di awal musim 2010/11, hanya satu yang salah. Mou tidak bisa kembali menjuarai Liga Champions. Ia membawa Real Madrid terhenti di semifinal Champions 2011. Lawannya, Barcelona jadi tim yang mengangkat si kuping besar musim itu.

Sedangkan untuk ramalannya soal Benitez, bisa dibilang benar adanya. Jangankan bisa menyamai prestasi Mou di Inter, Rafa bahkan tidak bertahan semusim di Italia. Inter medepak pelatih asal Spanyol itu sebelum memasuki tahun 2011. Boro-boro mau dapat sextupel, Inter Milan malah berada dalam mimpi buruk selama Rafael Benitez melatih.

Apa yang Salah?

Jadi apa yang salah dengan Benitez di Inter? Awalnya perkawinan Benitez dengan Inter rasanya sangat cocok. Tapi nyatanya banyak masalah yang terjadi di belakang layar. Pertama adalah kebijakan transfer Rafa yang sangat kacau. Ia telah ceroboh dengan membuang Mario Balotelli ke Manchester City dan Ricardo Quaresma ke Besiktas.

Juga, ia tidak jeli dalam mengincar pemain baru. Berbeda jauh dengan Jose Mourinho. Inter berhutang besar kepada Mou setelah berhasil mendatangkan Diego Milito dan Wesley Sneijder di tahun 2009.

Sedangkan Rafa malah memprioritaskan untuk mendatangkan pemain yang bisa mendukung keputusannya di ruang ganti. Pemain itu adalah Javier Mascherano dan Dirk Kuyt. Pada akhirnya ia tidak bisa mendapatkan dua pemain itu karena tidak dapat dukungan jajaran klub.

Kepemimpinan juga jadi masalah Rafa lainnya di Inter. Ia tidak bisa mendapatkan kepercayaan di ruang ganti. Setelah berada di bawah asuhan Mou yang membimbing anak asuhnya dengan penuh kehangatan, Benitez memilih gaya kepemimpinan yang dingin dan kaku.

Materazzi pernah berkata “Pelatih hebat seperti Marcelo Lippi dan Mourinho menggunakan peraturan tidak tertulis. Tapi Benitez seperti menuliskan semua aturan. Ini seperti kami kembali ke sekolah”

Maksud Materazzi masuk akal. Terkadang peraturan tidak tertulis menunjukan rasa hormat dan rasa percaya. Pelatih tidak perlu menegaskan apa yang tidak boleh kepada para pemainnya karena ia percaya pada anak asuhnya.

Lebih parahnya lagi, Benitez juga tidak menghormati pencapaian Inter bersama Mou. Berlandaskan rasa cemburu buta, ada kabar beredar kalau Rafa meminta untuk melepaskan foto-foto Mourinho di tempat latihan Inter. Tentu saja Benitez membantah berita itu, tapi beberapa pemain membenarkannya.

Kesalahan Terbesar

“Kesalahan terbesar kami adalah merekrut Benitez sebagai pelatih” Ungkap Presiden Inter saat itu, Massimo Moratti. Pilihan utama Moratti saat itu sebenarnya adalah Fabio Capello. Tapi Capello tidak tertarik dan masih ingin melatih timnas Inggris. Benitez adalah pilihan kedua dan dipandang sebagai pilihan yang aman untuk melanjutkan era treble winner.

Tapi melatih Inter justru jadi racun untuk Benitez. Menjadi pelatih yang menggantikan Jose Mourinho memang tugas yang sangat berat bagi siapapun. Apalagi ketika tugas itu diberikan kepada seorang rival yang hanya bernafsu untuk mengalahkan Mourinho.

Rivalitas tidak sehat Benitez dengan Mourinho itu juga membuat para pemain Inter jadi menentang Rafa. Wajar kalau para fans dan pemain masih tidak bisa move on dengan pelatih yang membawa timnya ke era paling gemilang sepanjang sejarah klub. Tapi Rafa terkesan meremehkan hal itu dan itulah yang membuat para pemainnya sendiri hilang respect terhadap Rafa.

Sumber referensi:

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru