Roberto Firmino Barbosa de Oliveira barangkali tidak akan pernah berkembang, andai ia memilih ngendon saja di tanah kelahirannya, Brasil. Dia hanya akan menjadi pesepakbola amatir jika melanjutkan kariernya di klub amatir pula. Firmino juga bakal kehilangan kesempatan untuk mengangkat trofi Liga Champions Eropa.
Itu semua hanya angan-angan yang sangat tidak mungkin bakal terwujud. Karena alih-alih menjadi pesepakbola amatir yang hanya bermain di negaranya sendiri, Firmino justru menunjukkan bahwa dirinya tak sekadar jago kandang. Roberto Firmino kini menjelma sebagai pemain yang penuh talenta di skuad Liverpool.
Trofi Liga Champions Eropa, Liga Primer Inggris, dan Piala Super Eropa yang mungkin dulu tak pernah terbersit sedikitpun di benak Firmino, justru sudah ia peluk dan cium. Tiga trofi bergengsi di Eropa itu tak mungkin ia dapatkan kalau tidak terbang ke Benua Biru.
Sayangnya, untuk terbang ke Eropa pun sebetulnya tidak terpikirkan oleh Firmino. Apalagi dia adalah sosok pesepakbola amatir yang tidak percaya dengan kemampuannya sendiri. Bagi Firmino, bermain di Brasil saja sudah cukup, mengingat kemampuan olah bolanya yang dia anggap cupu.
Hal itu terbukti ketika Firmino masih berusia 15 tahun. Dia yang kala itu masih bermain di klub lokal, Clube de Regatas Brasil (CRB), tak ada satu klub besar Brasil yang mau memungutnya. Firmino sempat berada di titik nadir. Sampai ia bertemu seorang dokter gigi, Marcellus Portella.
Pertemuan dengan Portella
Portella kala itu ditugasi sebagai ahli bedah di Clube de Regatas Brasil. Ketika bertemu dengan Firmino sekitar tahun 2006, Portella merasa Firmino hanya insekyur. Dokter gigi itu merasa ada bakat hebat di dalam diri Roberto Firmino yang bodoh kalau disia-siakan.
Si dokter gigi sudah seperti ayah kandung Roberto Firmino. Portella ikut mendorong agar Firmino tidak putus harapan. Dia pun mendaulat diri sebagai agen Firmino, dan merelakan waktunya untuk menjajakan sang pemain ke klub-klub di Amerika Latin.
Portella bahkan tak keberatan disebut gila ketika ia mengatakan nama Roberto Firmino bakal moncer di Tim Nasional Brasil. Semua orang menertawakan Portella, dan tentu saja tak ada yang percaya kalau Firmino akan menjadi pesepakbola hebat.
Throw back Monday to when Roberto Firmino Barbosa de Oliviera was a teenager in Brazil. Started out with Figueirense’s youth system in 2008 after being discovered by the dentist Marcellus Portella. He started his career as a defensive midfielder. pic.twitter.com/BGrkNljKSs
— Moby (LFC Views) (@Mobyhaque1) October 22, 2018
“Ketika saya melihatnya bermain untuk pertama kalinya, saya dapat melihat bahwa dia adalah pemain yang sangat berbakat,” kata Portella dikutip Mirror.
“Tapi tidak ada yang tertarik padanya. Ketika saya mengatakan bahwa suatu hari dia akan mewakili tim nasional, mereka mengatakan kepada saya bahwa saya gila,” tegasnya lagi.
Jerih payah Portella keliling menjajakan Firmino akhirnya berbuah. Tahun 2009, Klub profesional asal Brasil, Figueirense pun memungut Firmino. Hanya butuh waktu satu jam bagi Firmino untuk mencetak dua gol di sesi latihan pertamanya bersama Figueirense.
Alih-alih senang, Firmino masih pula malu atas penampilannya di sesi latihan. Saking malunya, Firmino tidak pernah menegur sang pelatih ketika keliru memanggilnya dengan nama “Albert”. Itu berlangsung selama dua minggu pertama bersama Figueirense.
Menemani Firmino Sampai ke Eropa
Namun sosok Portella tetap memberikan motivasi kepada Firmino. Portella terus meyakinkan sang pemain bahwa ia hebat. Ia mampu bersaing dengan pemain-pemain top. Hal itu membuat semangat Firmino makin terlecut. Ditambah dengan motivasi keluarga, Firmino pun makin lama, tampil makin persisten. Dia bermain 38 pertandingan untuk Figueirense dan mengemas 8 gol.
Firmino sempat dibeli Tombense 31 Maret 2010. Meskipun setelah itu Tombense justru meminjamkan Firmino kembali ke Figueirense. Sementara, Portella sendiri masih menemani Firmino. Kemanapun si pemain berlabuh, Portella akan manut.
Keinginan Portella untuk membawa Firmino ke tempat semestinya pun terwujud. Dia akhirnya mampu membawa Firmino ke Eropa. Tahun 2011, pelatih TSG Hoffenheim kala itu, Ralf Rangnick kepincut dengan bakat si pemain muda.
I don’t think I will ever get over that Roberto Firmino was discovered by a dentist, Marcellus Portella. He said in an interview “When I said that one day he would represent the national team, they told me I was crazy”. pic.twitter.com/UyZPmgmpWk
— Moby (LFC Views) (@Mobyhaque1) December 19, 2019
Si dokter gigi yang kala itu menjadi semacam agen Firmino langsung mengiyakan tawaran Rangnick. Sang pemain dibeli Hoffeinheim dengan banderol Rp 69,53 miliar. Bersama Hoffeinheim kualitas Firmino makin moncer. Ia menjelma sebagai striker kreatif yang produktif.
Musim 2013/14 ia berhasil mencetak 16 gol di Bundesliga. Torehan tersebut membuat nama Firmino menempati posisi keempat daftar top skor Bundesliga. Bukan sekadar itu, dalam 66 caps yang ia jalani bersama Hoffenheim, Firmino sudah mengoleksi 45 gol.
Merapat ke Anfield
Kepak sayap kecemerlangan Firmino mulai kelihatan mulus ketika eks pelatih Liverpool, Brendan Rodgers tertarik mengangkutnya ke Anfield. Bobby akhirnya mendarat ke Anfield tahun 2015. The Reds mesti mengeluarkan dana 29 poundsterling atau sekitar Rp 548 miliar kurs sekarang untuk memboyongnya dari Hoffenheim.
Awalnya, pembelian Firmino dianggap sia-sia oleh banyak orang. Bahkan Liverpool, dalam kasus ini Brendan Rodgers dinilai buang-buang duit untuk pemain yang belum terbukti kualitasnya. Rodgers mungkin tertarik karena statistik Firmino di Bundesliga cukup bagus, dan iya, tentu ditambah dengan bumbu-bumbu negosiasi dari si dokter gigi.
Namun, perjumpaan Firmino dengan Brendan Rodgers hanya sebentar. Musim berikutnya Liverpool sudah menunjuk pelatih anyar, Jurgen Klopp. Kedatangan Klopp bikin masa depan Firmino cerah. Apalagi Klopp punya ikatan khusus dengan Ralf Rangnick.
Jika Rangnick pernah percaya pada Roberto Firmino, dan hasilnya tokcer, kenapa Klopp tidak? Begitulah. Klopp pun mempercayakan lini serang Liverpool pada Bobby.
Firmino, Mane and Salah all deserve new contracts at the club, they all deserve to end their careers at Liverpool. pic.twitter.com/F4YQ9wdwAN
— . (@Thiago_vision) December 2, 2021
Bobby membuktikan kepercayaan yang ditaruh Klopp di pundaknya. Bersama dua rekannya, Mohamed Salah dan Sadio Mane, lini serang Liverpool jadi makin trengginas. Trofi Liga Champions musim 2018/19 menjadi bukti otentik keganasan trio Mane-Firmino-Salah. Meskipun belakangan ini posisi Firmino kerap digantikan Diogo Jota.
Namun untuk si dokter gigi, Marcellus Portella selalu punya tempat di hati Firmino. Apalagi sampai hari ini Portella masih saja mendampingi Firmino. Itu Portella lakukan mungkin sekaligus untuk membuktikan omongannya sendiri, yang ia ucapkan lebih dari satu dekade lalu.
Kelak, saat Firmino hanya bisa bermain sepak bola di gim FIFA, ia tak akan pernah melupakan sosok Marcellus Portella. Seorang dokter gigi yang mengubah mantan penjual kelapa menjadi striker hebat. Kini, walaupun Firmino sudah punya agen resmi, Portella tetap akan menjadi pendamping sekaligus penasehatnya.
Sumber referensi: mirror.co.uk, sportskeeda.com, empireofthekop.com


