Erik Ten Hag punya misi yang lumayan berat di babak perempat final Europa League nanti. Misi itu adalah mengalahkan Sevilla, yang merupakan pemilik rekor juara Europa League terbanyak. Dalam kata lain, Sevilla itu Real Madrid-nya UEL. Ten Hag tentu punya tekad tersendiri. Ia ingin menambah koleksi pialanya di Old Trafford setelah menjuarai Carabao Cup bulan Februari kemarin. Dan berpotensi meraih mini treble dengan juga memenangkan FA Cup nanti.
Tapi bagi fans United, mengalahkan Sevilla punya makna lain. Dalam sejarah tiga kali pertemuannya, setan merah tidak bisa menaklukan los palanganas. Rinciannya adalah dua kali kalah dan sekali imbang. Jadi menang lawan Sevilla nanti adalah harga mati untuk kehormatan United. Mereka harus memutus kutukan itu.
Terlebih lagi, ini adalah misi balas dendam United. Pasalnya MU selalu tersingkir dari kompetisi Eropa jika bertemu dengan Sevilla. Terakhir adalah di tahun 2020. Di masa pandemi Covid itu, setan merah bertemu dengan los nervionenses di semifinal Europa League. Disitu anak asuh Ole Gunnar Solskjaer dikalahkan dengan skor 2-1. Gol awal dari Bruno Fernandes bisa dibalas oleh Suso dan Luuk de Jong.
Memori Kelam 2018
Itu adalah memori terakhir MU bertemu dengan Sevilla. Tentu itu pertemuan yang menghasilkan kekecewaan. Tapi kejadian lebih mengejutkan terjadi di pertemuan kedua mereka. Atau tepatnya di leg kedua babak 16 besar Liga Champions 2017/2018.
Saat itu Manchester United sedang dilatih oleh Jose Mourinho. pasukan setan merah sudah berkunjung ke markas Sevilla sebelumnya. Dihiasi permainan yang membosankan, pertandingan leg pertama itu berakhir dengan hasil imbang tanpa sebiji gol pun.
Itu adalah pertandingan yang buruk. Sumber hiburan hanyalah berasal dari penyelamatan-penyelamatan cantik De Gea. Meskipun begitu, sebenarnya masing-masing tim tidak ada yang benar-benar mengancam gawang lawan.
Tapi walaupun hasilnya imbang, masih banyak yang percaya United bisa jadi pemenang di leg kedua. Mengingat Sevilla dinilai tidak memiliki pencetak gol yang layak saat itu. Terlebih di leg kedua laga akan berlangsung di Old Trafford di depan puluhan ribu pendukung United.
Tapi yang tersaji di leg kedua itu adalah bencana. Itu sudah terasa bakal jadi malam yang panjang untuk anak asuh Jose Mourinho. Mereka tidak mampu mendominasi tim tamu dan menjaga penguasaan bola. Ada beberapa peluang tercipta tapi babak pertama berakhir dengan skor kacamata.
Masuk ke babak kedua, Sevilla lebih bisa memanfaatkan peluang. Permasalahan MU masih sama, yaitu kurangnya ketenangan. Ini lah yang jadi kelemahan terbesar Lukaku dan kolega di laga itu.
Di menit ke-72 Ben Yedder masuk menggantikan Luis Muriel. Pergantian ini akan jadi mimpi buruk United. Hanya dua menit Ben Yedder masuk ke lapangan, ia langsung bisa mencetak gol pertama. Kemudian, empat menit setelahnya atau tepatnya di menit ke-78 Yedder menggandakan keunggulan Sevilla.
Manchester United akurnya bisa membalas di menit ke-84 lewat gol dari Romelu Lukaku. Tapi itu hanyalah gol hiburan yang tidak berarti. Sampai wasit meniupkan peluit panjang tidak ada lagi gol tercipta. Manchester United pun tersingkir dari Champions League.
Bikin Mourinho Kesal
Ini adalah titik terendah yang serius untuk Mourinho sebagai pelatih setan merah. Jose Mourinho saat itu diharapkan untuk bisa membawa United sampai ke tahap final kompetisi. Tersingkir di babak 16 besar jelas jadi hal yang mengejutkan.
Ketika ditanya pendapatnya soal hasil mengecewakan ini, Mou dengan gaya khasnya berusaha meyakinkan media kalau kegagalan MU di Liga Champions adalah hal yang lumrah. Ia pun akhirnya bicara di depan awak media selama 12 menit penuh, seolah berusaha menegaskan kalau MU saat itu bukanlah tim yang pantas berada di Champions League.
“Saya tidak berpikir kalau ini adalah sesuatu yang baru untuk klub. Tentu, menjadi manajer Manchester United dan kalah di kandang adalah hal yang mengecewakan.” Ungkapnya dikutip dari express.uk.
Mourinho kemudian menegaskan bahwa itu karena apa yang ia sebut sebagai “warisan sepak bola.” Ia mengungkapkan, jika dilihat dari warisan yang diberikan Manchester United, hasil yang diraih Mourinho ini tidak terlalu mengecewakan.
“Para fans berhak untuk beraksi sesuka mereka tapi mereka harus paham dengan adanya warisan sepak bola. Terakhir kali MU juara Liga Champions adalah tahun 2008 dan terakhir ke final di tahun 2011.” Dikutip dari 90min.com.
Dari pernyataannya itu, Mou jelas tidak mau disalahkan atas kekalahan lawan Sevilla. Tapi apa yang dikatakan Mou juga tidak sepenuhnya salah. Ia menjelaskan kalau MU sudah lama tidak berjaya di Eropa.
Di tahun 2012 setan merah tidak lolos fase grup. 2013 MU tersingkir di babak 16 besar. 2014 bisa sampai perempat final tapi di tahun setelahnya bahkan tidak dapat tiket zona Eropa. Sedangkan di tahun 2016, mereka kembali ke kompetisi Eropa tapi kalah di fase grup.
Hasil terbaik MU di Eropa setelah era Ferguson adalah di tahun 2017. Dimana Mourinho saat itu berhasil membawa setan merah menjuarai Europa League. Setelah itu, MU kembali kesulitan di Eropa.
Yakin Siap Balas Dendam?
Menarik untuk disaksikan apakah MU bisa membalaskan dendam mereka ke Sevilla. Bisa dibilang red devils adalah tim yang berbeda dari tim yang membuat Mourinho sampai ngoceh marah-marah itu. Erik Ten Hag punya skuad yang bisa dibilang jauh lebih baik daripada milik Mourinho waktu itu. Dimana MU bermain tanpa visi dan kekurangan tujuan.
Situasinya sangat berbeda sekarang. Ten Hag punya pendekatan bermain menekan ke depan yang membuat mereka lebih sering bisa mendominasi permainan. Mereka tentu akan berharap kalau gaya pendekatan ini akan efektif melawan Sevilla.
Sudah ada dua korban tim La Liga yang menghadapi nasib buruk lawan United asuhan Ten Hag. Pertama Barcelona sang pemuncak klasemen sementara La Liga. Kemudian ada Real Betis yang merupakan rival abadi Sevilla.
Namun, Sevilla tidak akan membuat babak perempat final ini jadi babak yang mudah untuk United. Tidak seperti dua tim La Liga lanya itu, Sevilla adalah veteran di Eropa League. Sevilla sudah jadi juara enam kali dalam delapan belas musim terakhir. Itu adalah yang terbanyak dari tim manapun.
Bahkan Ten Hag juga mewanti-wanti aspek pengalaman yang dimiliki Sevilla. “Akan jadi sangat sulit, karena mereka punya banyak pengalaman. Mereka sangat sering jadi juara”
Selain balas dendam, ini juga bisa jadi pembuktian. Ketika kalah lawan Sevilla di tahun 2018, Jose Mourinho mengisyaratkan MU belum pantas diperhitungkan di sepak bola Eropa. Menang lawan Sevilla jadi pijakan awal United di kompetisi Eropa. Dan jika lolos sampai ke semifinal, ada kemungkinan juga bisa bertemu dengan AS Roma yang dilatih Mourinho.


