Telah memenangkan trofi di AC Milan, Chelsea, PSG, dan Real Madrid, Jerman jadi satu-satunya negara top Eropa yang belum Carlo Ancelotti taklukan. Tapi siapa sangka perjalanan singkatnya di Bundesliga akan diwarnai dengan pengkhianatan.
Bagi pecinta sepak bola khususnya madridista, Carlo Ancelotti adalah sosok pelatih yang istimewa. Tentu saja, karena ia adalah orang yang membawa gelar La Decima ke Bernabeu di tahun 2014. Setelah final epic di Lisbon melawan Atletico Madrid, los blancos akhirnya kembali merasakan jadi raja Eropa setelah 12 tahun lamanya.
Tapi semusim kemudian, Ancelotti didepak dari Bernabeu setelah gagal mendapatkan satupun gelar bergengsi di musim itu. Meskipun Ancelotti bisa membawakan Super Cup dan Piala Dunia Antar Klub, itu tidak cukup bagi Los Galacticos.
Bayern Munchen yang kebetulan mencari pelatih baru pun tertarik untuk merekrutnya. Pep Guardiola tidak ingin memperpanjang kontraknya di Bavaria. Pelatih asal Spanyol itu melihat kesempatan untuk membangun timnya sendiri bersama Manchester City. Dengan begitu, dimulailah musim 2016/17 sebagai musim pertama Ancelotti di Munich. Ia dikontrak sampai musim panas 2019.
Daftar Isi
Musim Pertama di Munich
Petualangan Don Carlo dimulai dengan laga German Super Cup melawan Borussia Dortmund. Arturo Vidal dan Thomas Muller mencetak gol di laga itu. Ancelotti pun berhasil mengakhiri laga dengan kemenangan 2-0. DFL Cup ini jadi trofi pertama Ancelotti di Jerman.
Carlo Ancelotti guided Bayern to the German #Supercup on Sunday – the 18th title of his coaching career. 🏆 #UCL pic.twitter.com/q1bozvuzwx
— UEFA Champions League (@ChampionsLeague) August 14, 2016
The Bavarians melanjutkan tren positif ke DFB Pokal. Melawan tim kasta keempat, Carl Zeiss Jena, pasukan Carlo Ancelotti berhasil pesta gol dengan skor 5-0. Awal musim yang menyenangkan untuk Don Carlo kembali berlanjut di sepanjang bulan September. Menang melawan FC Schalke di Bundesliga dan kembali pesta gol lawan FC Rostov di fase grup Champions league.
Bayern Munchen terus melanjutkan win streak mereka sampai dengan delapan pertandingan. Catatan kemenangan itu juga didapatkan dengan cara yang impresif. Yaitu 27 gol dan hanya satu kali kebobolan. Tapi semua hal baik harus berakhir. Ketika bertamu ke kandang Atletico Madrid di babak penyisihan grup Liga Champions, pasukan Ancelotti kalah lawan anak asuh Diego Simeone dengan skor tipis 1-0.
Itu jadi titik awal naik turunnya Bayern Munchen bersama Ancelotti. Baik di kompetisi domestik maupun Eropa. FC Hollywood sempat terpeleset dari puncak klasemen Bundesliga di pekan ke-11. Ancelotti dikalahkan oleh Dortmund yang saat itu dilatih oleh Thomas Tuchel dengan skor 1-0. Di pertandingan setelahnya, Lewandowski dan kolega kembali mendapat kejutan setelah kalah dari FC Rostov.
Kesuksesan yang Singkat
Tapi mereka bisa kembali bangkit di awal tahun 2017. Munchen kembali ke puncak, dan berhasil mengamankan tempat di babak 16 besar Liga Champions. Untuk di kompetisi tertinggi di Eropa itu, die roten masih kurang beruntung. The Bavarians hanya mampu melangkah sampai babak semifinal. Mereka kalah melawan Real Madrid di pertandingan kandang dan tandang babak perempat final.
Di piala liga DFB Pokal, Ancelotti juga harus menelan kekecewaan. Kalah dari rival mereka, Borussia Dortmund di semifinal membuat gelar Bundesliga jadi satu-satunya trofi yang dikoleksi Munchen musim itu. Ancelotti masih bisa mempertahankan gelar Bundesliga Munchen. Membawa gelar ke-26 sekaligus kelima berturut-turut die bayern.
Untuk musim pertama seorang pelatih, itu bukanlah musim yang buruk. Apalagi catatan yang diraih Munchen di liga luar biasa. Bavaria finis dengan selisih 15 poin dari Leipzig yang berada di peringkat kedua. Hanya tiga minggu mereka tidak menempati posisi puncak. Lewandowski mencetak 30 gol liga, sedangkan Bayern secara kolektif mencetak 89 gol dari 34 pertandingan. Ancelotti tidak terkalahkan di kandang, dan total hanya kalah dua kali.
Carlo Ancelotti’s record at Bayern Munich:
— Squawka (@Squawka) September 28, 2017
60 games
156 goals
50 conceded
42 wins
9 draws
9 defeats
2 DFL-Supercups
1 Bundesliga
🤔 pic.twitter.com/aFvvHn0Hkv
Tapi itu jadi musim penuh pertama dan terakhirnya bersama Bayern. Di akhir bulan September 2017, kira-kira 15 bulan sejak ia datang, Ancelotti dipecat begitu saja. Meskipun kontraknya masih aktif sampai dengan musim panas 2019. Ini tentu jadi kejutan bagi semua pihak. Semua orang bertanya-tanya apa yang salah dari Don Carlo di Bayern Munchen.
Ia dipecat setelah Bayern Munchen mengalami kekalahan 3-0 melawan PSG di Liga Champions. Tapi normalnya, seorang pelatih tidak dipecat hanya karena satu kekalahan. Namun jika dilihat situasinya, saat itu Bayern Munchen sendang berada di peringkat ketiga Bundesliga.
Rasa Tidak Percaya
Sebelum kekalahan 3-0 lawan PSG, pasukan Carletto hanya bermain imbang 2-2 lawan Wolfsburg. Di awal bulan September, Bayern bahkan kalah dari Hoffenheim dengan skor 2-0. Ada yang bilang kalau Munchen tidak pernah kalah ketika Oktoberfest, festival tradisional Jerman yang diadakan di bulan September sampai awal Oktober. Karena itu lah, kekalahan FC Hollywood sebelumnya itu tidak bisa diterima.
Tapi itu tidak bisa jadi alasan. Bayern Munchen tidak punya sejarah memecat pelatih hanya karena rentetan hasil buruk saja. Kemudian muncul alasan lainnya kenapa Don Carlo gagal, adalah banyak pundit dan penggemar yang tidak percaya dengan Ancelotti.
Menjuarai Bundesliga memanglah hal yang membanggakan untuk Munchen. Tapi bukan itu alasan mereka merekrut Ancelotti. Ia diboyong ke Jerman dengan CV pernah menjuarai Champions League di tiga kesempatan yang berbeda sebelumnya. Jadi, pelatih kawakan asal Italia itu diharapkan bisa memberikan gelar Liga Champions keenam Munchen.
Tapi permasalahannya jadi lebih dalam dari itu. Ancelotti tidak mendapatkan dukungan yang pantas dari para pemainnya sendiri. Para bintang Bayern justru setuju melimpahkan segala kekalahan yang diterima mereka menjadi tanggung jawab Ancelotti.
Dan Don Carlo pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sudah kehilangan kontrol ruang ganti yang sudah terpecah belah. Presiden klub, Uli Hoeness pernah berkata langsung bahwa beberapa pemain yang memusuhi Ancelotti. “Ada lima pemain yang menentang Ancelotti. Tidak ada jalan keluar dari itu” ungkapnya dikutip dari Give Me Sport.
Tak Didukung Pemainnya Sendiri
Dilansir dari Marca, lima pemain itu adalah Arjen Robben, Franck Ribery, Thomas Muller, Jerome Boateng, dan Robert Lewandowski. Itu nama yang mengejutkan, mengingat mereka adalah pemain senior Munchen yang dihormati publik Allianz.
Bayern Munich stars' ultimate betrayal of Carlo Ancelotti revealed https://t.co/Ah11l8jBnC pic.twitter.com/pA9nzbCTsm
— Sun Sport (@SunSport) October 3, 2017
Robben pernah berkata kepada media Jerman, Kicker kalau pelatih di tim anaknya lebih baik daripada Ancelotti. “Pelatih yang melatih tim anak saya lebih baik daripada Carlo”. Banyak kabar mengatakan kalau mereka berdua sering tidak setuju satu sama lain. Ketika Munchen menelan kekalahan 3-0 lawan PSG itu, Robben enggan berpendapat apakah ia mendukung Ancelotti atau tidak.
Robben adalah pemain senior di Munchen. Jadi pendapatnya bisa mempengaruhi pemain lainnya. Begitu juga dengan Ribery. Kebijakan rotasi Ancelotti membuat Ribery jarang mendapatkan menit bermain. Itulah yang menyebabkan hubungan mereka juga renggang.
Padahal Ancelotti punya rencana lain untuk Ribery. Mengingat usia sang pemain, ia tidak ingin meningkatkan risiko cedera Ribery. Jadi bukan berarti Carlo tidak ingin memainkannya. Carlo bahkan pernah berkata “Ribery itu seperti Ferrari. Anda tidak menggunakan Ferrari tiap hari”
Carlo Ancelotti has a way with words when telling Franck Ribery about his reduced playing time 🚗 pic.twitter.com/S7DfKtDZ4E
— B/R Football (@brfootball) April 3, 2017
Pemain lain yang mengkhianati Ancelotti adalah Muller. Ia kecewa dengan sang pelatih yang memainkannya di posisi yang tidak ia sukai. Muller sering digunakan di posisi yang melebar, sedangkan dirinya lebih nyaman untuk bermain di belakang Lewandowski. Dikutip dari Marca, ia berkata “Saya tidak tahu apa yang diinginkan pelatih. Sepertinya saya tidak 100% diminati”
Jerome Boateng bahkan berkata bahwa Ancelotti membawa Bayern kedalam masa kelam. Ia juga tidak puas dengan cara Ancelotti melatih. Dikutip dari ESPN, bek Jerman itu berkata “Saya tidak tahu apakah ini berhubungan, tapi kami berlatih dengan cara yang berbeda. Ini adalah masa kelam, khususnya bagi saya karena hampir terbebas dari cedera”.
Enggan Keluar Zona Nyaman
Pemain terakhir yang diduga menjadi penyebab dipecatnya Ancelotti adalah Robert Lewandowski. Bomber Polandia itu terang-terangan berkata kalau Bayern harus keluar dari situasi ini. “Bayern harus mencari jalan keluar dan jadi kreatif jika klub ingin mendatangkan pemain kelas dunia.” Ungkapnya dikutip dari sky sport.
Sebelumnya ia juga sudah berselisih dengan Ancelotti. Lewandowski menuduh kalau Ancelotti membuatnya tidak bisa mendapatkan penghargaan sepatu emas. Ia juga secara terbuka mengatakan kalau dirinya marah dan kecewa terhadapnya.
Setelah hengkang, Ancelotti membeberkan sudut pandangnya terkait hal ini. Ia menilai bahwa Bayern tidak mau mengubah filosofi mereka. Dan itu jadi masalah utama kenapa masanya di Munchen tidak berlangsung lama.
Di era Pep Guardiola, Bayern Munchen diisi oleh pemikiran progresif dan ide-ide yang revolusioner. Pep memberikan kesempatan kepada pemain muda seperti Kingsley Coman untuk berkembang. Hingga Coman bisa jadi runner up golden boys musim 2015/16.
Sedangkan Carlitto punya caranya sendiri. Ia adalah pelatih dengan pembawaan yang tenang. Memang, di bawah Ancelotti Munchen tidak bermain se-intens seperti era Pep. Tapi ia punya caranya sendiri. Dan sudah jelas kalau Ancelotti butuh waktu lebih lama untuk bisa membuktikan dirinya di Munchen. Dipecat setelah 15 bulan, dan hanya karena beberapa pemain yang tidak menyukainya, rasanya tidak adil untuk pelatih manapun.
Sumber referensi: Sky, Bundesliga, Marca, Real Madrid, B/R, GMS, Planet, ESPN


