Meski belum bermain, pemberitaan soal Lisandro Martinez sudah digoreng oleh beberapa media Inggris. Mereka mempermasalahkan tinggi badan Martinez yang tak lebih dari 175 cm, di mana itu jauh di bawah rata-rata tinggi bek tengah Liga Inggris yang biasanya memiliki tinggi badan sekitar 183 cm hingga 195 cm.
Menariknya lagi, pemain 24 tahun itu menjadi pemain kedelapan asal Argentina yang pernah membela Setan Merah. Jika Martinez diremehkan karena tinggi badannya, Tujuh pemain asal Negeri Tango sebelumnya juga punya ceritanya masing-masing selama bermain di Old Trafford. Siapa saja, dan bagaimana kisahnya?
Daftar Isi
Sergio Romero
Sergio Romero didatangkan Louis Van Gaal dengan status bebas transfer dari Sampdoria, untuk menjadi pelapis bagi David De Gea di bawah mistar gawang Manchester United. Kedatangannya juga untuk mengantisipasi kepergian De Gea ke Real Madrid yg tinggal menghitung jam. Meski akhirnya transfer itu gagal dan De Gea tetap bertahan di MU hingga sekarang.
We’ve seen four of the best #MUFC goals from 2017 – now it’s time to check out the top stops!
First up: Sergio Romero’s superb penalty save against our next opponents, Southampton, back in May… pic.twitter.com/xDd054PICf
— Manchester United (@ManUtd) December 29, 2017
Romero dipandang sebagai kiper cadangan terbaik di Liga Inggris. Meski hanya mengantongi 7 caps di liga, penjaga gawang asal Argentina itu diandalkan di kompetisi lain seperti piala domestik dan Europa League.
Sergio Romero berperan penting menjadi palang pintu terakhir bagi pertahanan United di kompetisi Eropa. Ia bahkan membawa United era Jose Mourinho juara Europa League musim 2016/2017. Sayang, pergantian kursi kepelatihan ke Ole Gunnar Solskjaer membuat Romero terpinggirkan, Ole lebih memprioritaskan De Gea untuk bermain di semua kompetisi.
Meski demikian, Sergio Romero berhasil mengemas 39 clean sheet dalam 61 penampilan. Ia juga berhasil menambahkan satu trofi Piala Liga dan FA Cup ke lemari kaca Manchester United.
Angel Di Maria
Tahun 2014, ketika klub ingin membangun kembali tim di era pasca Sir Alex Ferguson, United sampai menghabiskan 75 juta euro atau Rp1,1 miliar untuk mengontrak Angel Di Maria. Kesepakatan ini awalnya berjalan normal, hingga berbagai permasalahan pun mulai muncul.
Pemain asal Argentina itu dianggap gagal. Ia tak mampu menyesuaikan intensitas permainan sepakbola Inggris. Ia hanya mencetak 3 gol, sebelum akhirnya menyepakati transfer dengan PSG.
Di Maria dianggap sebagai salah satu pembelian gagal Manchester United kala itu. Setelah berpisah dengan United, hubungan Di Maria dan MU tak begitu baik, terutama dengan para fans. Maka dari itu, ketika PSG bertandang ke Old Trafford dalam ajang Liga Champions 2018/2019, Di Maria tak disambut baik oleh fans Setan Merah.
Marcos Rojo
Didatangkan bersama Angel Di Maria, Marcos Rojo ditebus United dari Sporting Lisbon dengan harga 20 juta euro (Rp306 miliar). Selama karirnya di Inggris, Rojo bukanlah pemain yang istimewa. Ia pemain yang biasa-biasa saja bahkan cenderung inkonsisten.
Momen yang bisa diingat dari Rojo adalah ketika ia memakan buah pisang di tengah-tengah pertandingan melawan Rostov pada leg kedua babak 16 besar Liga Champions. Hal itu dilakukan untuk menjaga staminanya agar mampu bertahan hingga 90 menit.
Di samping itu Rojo memang mempersembahkan masing-masing 1 gelar Piala FA, Piala Liga, dan Europa League. Namun, di pertandingan final ia harus absen lantaran cedera. Rentetan cedera pula yang membuat penampilannya tak konsisten dan akhirnya ia dilego ke Boca Juniors 2021 lalu.
Alejandro Garnacho
Alejandro Garnacho jadi satu-satunya pemain Argentina yang tampil di skuad utama Manchester United musim lalu. Ia mendapat kesempatan debut di level tertinggi sepakbola Inggris setelah namanya viral karena mencetak gol solo run yang luar biasa saat mengalahkan Everton 4-1 pada laga FA Youth Cup Februari lalu.
Alejandro Garnacho really hit the Ronaldo celebration for @ManUtd in the #YouthCup Final 🤩 pic.twitter.com/Repee7s8z9
— Emirates FA Cup (@EmiratesFACup) May 11, 2022
Pemain yang berusia 18 tahun ini menjalani musim yang luar biasa bersama tim muda Manchester United. Selain mendapat kesempatan untuk tampil di skuad utama, Garnacho menjadi bintang utama ketika Manchester United U-18 menjadi juara FA Youth Cup. Garnacho mencetak 14 gol sepanjang turnamen, termasuk 2 gol pada laga final melawan Nottingham Forest.
Tak hanya itu, bakatnya yang menjanjikan mengantarkan Garnacho menembus skuad Argentina asuhan Lionel Scaloni dalam agenda internasional beberapa bulan lalu. Betapa beruntungnya Garnacho bermain untuk Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo di waktu yang bersamaan. Di usianya yang masih sangat muda, ia dipercaya akan memiliki masa depan yang cerah bersama Manchester United.
Juan Sebastian Veron
Jauh sebelum nama-nama di atas, pada tahun 2001, Juan Sebastian Veron lebih dulu datang datang ke Manchester United dengan status sebagai pemain termahal dalam sejarah Liga Inggris dengan bandrol 42 juta euro atau sekitar Rp644 miliar dari klub Italia, Lazio.
Veron luar biasa di Serie A, namun ia kesulitan ketika bermain di Inggris. Veron tak mampu menanggung ekspektasi besar selama di Old Trafford. Ia gagal bersaing dengan Roy Keane dan Paul Scholes di lini tengah. Veron total hanya bertahan 2 musim dengan sumbangan 11 gol.
Meski begitu, nasibnya tak separah Di Maria. Veron masih menikmati kejayaan Manchester United dengan mengantongi satu gelar Liga inggris musim 2002/2003.
Gabriel Heinze
Datang dari Paris Saint-Germain pada 2004, Gabriel Heinze langsung menjadi pujaan para fans Setan Merah. Heinze dianggap sebagai bek serba bisa di jamannya. Kemampuannya itu membuat ia piawai memainkan peran sebagai bek kiri maupun bek tengah.
Gabriel Heinze. Player of Year in his 1st Season at Manchester United. pic.twitter.com/ZFvkn4y1UB
— Man Utd Collectors (@MUFCMemorabilia) June 3, 2022
Selain menjadi andalan Sir Alex Ferguson untuk mengawal pertahanan Manchester United, Heinze langsung memenangkan Player of the Year di musim pertamanya di Manchester. Sayang, cedera lutut serius yang ia alami pada September 2005 membuatnya absen di sepanjang musim 2005/2006.
Serangkaian cedera dan masa penyembuhan yang tak sebentar menghambat karier Heinze di United. Ia tak mampu kembali ke performa terbaiknya, dan akhirnya pemain Argentina itu benar-benar kehilangan tempatnya ketika Manchester United mendatangkan Patrice Evra pada Januari 2006.
Carlos Tevez
Kepahlawanan Carlos Tevez dalam menyelamatkan West Ham dari jurang degradasi pada musim 2005/2006 membuat Sir Alex Ferguson kepincut untuk menambahkan pemain yang tak kenal lelah itu ke skuad Setan Merah musim berikutnya.
Musim pertamanya bersama Setan Merah, Tevez langsung membentuk koneksi yang solid bersama Wayne Rooney dan Cristiano Ronaldo. Trio ini memiliki peran besar saat Manchester United berhasil mengawinkan gelar Liga Inggris dengan Liga Champions pada musim 2007/2008.
Tevez jadi pemain Argentina yang sukses di Manchester United. Total ia telah mengantongi 5 trofi bergengsi termasuk dua trofi Liga Inggris dan satu Piala Dunia Antarklub. Selama berseragam MU ia juga menyumbang 34 gol dari 99 pertandingan.
Namun, setelah rangkaian kesuksesan tersebut, Tevez justru berkhianat. Ia memilih pindah ke rival sekota, Manchester City dan merusak reputasi apik yang telah ia bangun selama di Manchester Merah. Ia jadi salah satu mantan yang paling dibenci oleh fans United.
https://youtu.be/5EmZvEW4cms
Sumber: Thesefootballtimes, Footballfaitfull, Unitedinfocus, PorosHalang


