Meski pernah merasakan juara kompetisi level atas Liga Inggris, secara umum perjalanan Derby County di belantika sepak bola Inggris bisa dibilang tidak terlalu istimewa. Derby kerap kali naik turun kasta. Bahkan terakhir kali mereka berlaga di ajang tertinggi, Premier League adalah di musim 2007/08.
Sebelas tahun kemudian, Derby sebenarnya punya kesempatan emas untuk kembali mendapatkan tempat di Premier League, ketika mereka mampu lolos ke babak play off promosi ke Premier League. Sayangnya Derby yang kala itu masih dilatih oleh Frank Lampard, kalah di babak play off 2018/19 dari Aston Villa. Mereka dikalahkan Aston Villa dengan skor 2-1 dan impian untuk mencapai Premier League pupus.
Aston Villa memastikan diri promosi ke Liga Primer musim depan setelah menang 2-1 di laga final play-off melawan Derby County. pic.twitter.com/ju02KDhqVX
— PanditFootball.com (@panditfootball) May 27, 2019
Era Baru di bawah Wayne Rooney
Harapan para fans untuk melihat klub kesayangannya, Derby County berlaga di Premier League sempat membuncah saat klub merekrut Wayne Rooney, eks bintang Manchester United, pada Januari 2020. Tak hanya sebagai pemain, Rooney juga mengambil peran sebagai salah satu staf pelatih Derby di bawah pelatih kepala Phillip Cocu.
Malangnya, kehadiran Rooney belum mampu memberikan efek kejut untuk Derby. Derby hanya dibawanya berada di posisi ke-10 Championship musim 2019/20. Rooney sendiri hanya mampu mengemas 5 gol dari 20 pertandingan di musim tersebut.
Musim berikutnya, 2020/21, tepatnya pada bulan November 2020, Philip Cocu dipecat akibat performa tim yang buruk dan Wayne Rooney naik jabatan sebagai pelatih utama. Namun, naiknya jabatan Rooney sebagai pelatih utama diiringi juga dengan kondisi finansial klub yang tidak sehat. Ya, sama seperti beberapa klub lainnya di belahan dunia ini, Derby County mengalami krisis yang akibat pandemi Covid-19.
Awal Mula Derby Bangkrut
Permasalahan Derby County ini bukan tanpa sebab begitu saja. Masalah sebenarnya sudah terjadi sejak 2014, ketika seorang pengusaha lokal bernama Mel Morris membeli 22% saham klub. Sejak itu Morris perlahan-lahan mencaplok saham-saham yang ada di Derby hingga akhirnya, setahun kemudian, dia menjadi pemilik tunggal.
In 2014, Derby County were a club to be envied. Playing attractive football, a united team, sound financial base, it felt like a PL club in waiting.
Then along came Mel Morris. He gambled away that sound base, created a toxic atmosphere and tried to buy fans off with free tea.
— Paul Wright (@WrightStuff86) April 20, 2021
Sebagai pemilik klub, Morris punya cita-cita tinggi ingin membawa kembali Derby County berlaga di level tertinggi. Nah untuk mewujudkan impiannya itu, Morris rela merugi demi membangun skuad yang berkualitas. Menurut catatan BBC, Derby mengalami kerugian 14,7 juta pounds (Rp 287 miliar) di 2016 dan 7,9 juta pounds (Rp 154 miliar) di 2017.
Pada 2018, klub dengan jersey warna putih sebetulnya mengalami kerugian lebih besar lagi. Mestinya, dengan catatan kerugian tahun 2018 itu, Derby County sudah melanggar aturan finansial English Football League (EFL) yang hanya membolehkan sebuah klub merugi sampai 39 juta Pounds (Rp 743 miliar) dalam tiga tahun.
Akan tetapi, Derby lolos dari sanksi karena Morris membeli stadion Pride Park dengan nilai 80 juta pounds (Rp 1,5 triliun). Pembelian stadion tersebut membuat Derby mendapatkan keuntungan, meskipun yang membeli kandang mereka (Stadion Pride Park) adalah pemilik mereka sendiri.
Namun, upaya tersebut bukannya berdampak positif, tapi justru jadi senjata makan tuan. Sebab, menyusul review yang dilakukan EFL pada Januari 2020, penjualan stadion itu justru menjadi sebab Derby dikenai sanksi pelanggaran aturan finansial. Sampai akhirnya, pada 2021, Derby dinyatakan bangkrut dan harus masuk administrasi.
Morris sendiri mengalami kerugian pribadi sampai 200 juta pounds (Rp 3,8 triliun) selama menjadi pemilik Derby. Itulah yang mendasari mengapa sejak 2019, Morris sebetulnya sudah ingin melego klub kesayangannya. Sejumlah pihak dari beberapa negara sudah menjalin kontak.
Ada yang dari Swiss, ada yang dari Uni Emirat Arab, ada pula yang dari negeri paman sam Amerika Serikat. Namun, semua proses takeover itu gagal.
Dinyatakan Bangkrut
Karena tak kunjung punya pemilik baru, Derby pun masuk administrasi. Artinya, klub ini sekarang berada di bawah kendali pemerintah Inggris, meskipun sehari-harinya Derby dijalankan oleh sebuah firma bernama Quantuma.
Perusahaan tersebut akan mengupayakan berbagai cara supaya klub tidak jadi bangkrut, dengan usaha menjual aset, mencari investor, atau bahkan menjual klub ke pemilik baru.
Namun, sebelum secara resmi dijual keseluruhan, klub tersebut harus melunasi gaji pemain serta staf terlebih dahulu. Jika ada utang dengan pihak lain, harus dilunasi dulu dengan cara menjual aset atau properti yang dimiliki.
Sayangnya, di divisi Championship jika ada klub yang masuk pada “fase administrasi”, maka klub tersebut harus terkena sanksi pengurangan sebanyak 12 poin. Pengurangan 12 poin merupakan hukuman standar untuk klub yang melanggar secara administrasi.
Derby County dihukum minus 12 poin oleh English Football League (EFL) di tengah badai krisis finansial yang membuat mereka dinyatakan bangkrut. The Rams, yang dikepalai Wayne Rooney kehilangan lebih dari 1,3 juta pounds (Rp 25,3 miliar) per bulan menurut sang pemilik, Mel Morris.
Morris, yang mengklaim menggelontorkan uang hingga 200 juta pounds (Rp 3,9 triliun) dari kantongnya sendiri demi promosi ke Liga Primer, menyebut dampak finansial akibat pandemi Covid-19 sebagai biang kerok penyebab krisis keuangan klub.
Mendapat Pengurangan Poin Lagi
Pada bulan November 2021, Derby County resmi mendapat hukuman pengurangan 21 poin dari operator kompetisi sepak bola Inggris, EFL. Hukuman tersebut diberlakukan karena Derby telah mengakui kesalahan pelanggaran regulasi, sehingga EFL menjatuhkan hukuman tambahan pengurangan sembilan poin lagi disertai tiga poin yang akan ditangguhkan.
Derby County Dihukum Pengurangan 21 Poin, Ini Penyebabnya https://t.co/smTooHTju6 pic.twitter.com/EN22xgodPD
— BolaTimes (@bolatimesdotcom) November 18, 2021
Hukuman tiga poin yang ditangguhkan akan berlaku penuh apabila Derby gagal memenuhi persyaratan anggaran yang dituangkan dalam keputusan bersama untuk sisa kampanye 2021/22. EFL menyatakan hukuman total pengurangan 21 poin sudah berlaku final dan tidak bisa diganggu gugat berdasarkan aturan berlaku.
Derby sekarang harus menemukan pembeli di tahun ini yang bersedia membayar kreditur setidaknya 25 persen dari hutang mereka untuk menghindari hukuman tambahan penalti 15 poin.
Setidaknya ada kabar bahwa mantan pemilik Newcastle United, Mike Ashley bersedia untuk membeli Derby County.
Data terkini Quantuma menyebut, bahwa penawaran dari Mike Ashley nilainya lebih besar ketimbang penawaran mantan bos klub itu, Andrew Appleby dan mantan ketua eksekutif klub, Sam Rush. Ashley kabarnya akan mengajukan tawaran senilai 50 juta pounds (sekitar Rp 973,4 miliar) untuk mengambil alih kepemilikan Derby.
Apabila sukses mengambil alih kepemilikan Derby, Ashley juga dilaporkan siap membeli hak milik Stadion Pride Park kandang klub tersebut yang saat ini atas nama pemilik klub sebelumnya, Mel Morris. Perusahaan Sports Direct kepunyaan Ashley memiliki pusat distribusi yang berbasis di kawasan industri Pride Park, hanya sepelemparan batu dari stadion tersebut.
Derby County sendiri, meskipun telah mendapatkan pengurangan 21 poin, tetapi perlahan mulai kembali mengumpulkan pundi-pundi poinnya setelah tampil cemerlang dalam beberapa pertandingan terakhir. Derby County, tercatat sampai dengan pekan ke-32 Championship, sudah mengoleksi 21 poin dan kini duduk di tangga ke-22 atau urutan ketiga dari bawah.
https://youtu.be/NlapAY-e0yQ


