Ligue 1 menjadi salah satu liga yang paling terdampak pandemi Covid-19. Kompetisi kasta tertinggi Liga Prancis yang kerap dicap “Liga Petani” itu bahkan sampai menghentikan liga di musim 2019/2020. Meski masih bisa melanjutkan kompetisi di musim berikutnya hingga musim ini, tetapi dampak pandemi yang menggerogoti keuangan para klub kontestan masih terasa hingga sekarang.
Krisis Finansial dan Dampak Kedatangan Lionel Messi di Ligue 1
Tak bisa dipungkiri kalau klub-klub Ligue 1 menjadi salah satu korban terparah dari pandemi Covid-19. Selain karena jumlah penonton yang dibatasi, sumber keuangan para peserta Liga Prancis makin terkikis saat kontrak kerjasama hak siar TV dengan Mediapro senilai 815 juta euro per musim gagal terpenuhi. Bahkan di musim lalu, klub-klub Liga Prancis mesti merugi besar setelah Mediapro tidak membayar kewajibannya selama 4 bulan.
BREAKING:
Biggest broadcast partner of Ligue 1 & 2, Telefoot Chaine faces being SHUT DOWN in huge blow to French football, with clubs in danger of folding by February if parent company MediaPro are forced to pull plug on £2.5BILLION television deal. pic.twitter.com/4lxOkuLTDw
— Booster99 (@betBooster99) December 11, 2020
Imbas dari masalah tersebut, klub-klub Liga Prancis mendapat peringatan dari Ligue de Football Professionnel (LFP) selaku operator Liga dan badan pengawas keuangan sepak bola Prancis (DNCG) tentang kerugian yang akan mereka derita di musim 2020/2021. Menurut laporan AFP, klub-klub Ligue 1 akan mengalami kerugian kolektif senilai lebih dari 1,314 miliar euro.
Hal tersebut tentu membuat para kontestan Ligue 1 ketar-ketir, khususnya di awal musim 2021/2022. Pendapatan yang seret membuat beberapa klub terancam bangkrut. Aktivitas transfer antarpemain juga jadi tak seramai biasanya.
Secercah harapan kemudian muncul saat Amazon Prime membeli hak siar TV Ligue 1 Prancis senilai 275 juta euro pertahun. Sayangnya, angka tersebut masih sangat jauh dibanding nominal hak siar TV di Premier League, La Liga, Serie A, dan Bundesliga.
Ya, dibanding liga top Eropa lainnya, pendapatan klub Liga Prancis dari sektor hak siar TV masih jadi yang paling kecil. Meski begitu, setidaknya ada perusahaan yang mau menyiarkan Ligue 1 yang sebelumnya pernah dicap tidak cukup menguntungkan.
Kompetisi kasta tertinggi Liga Prancis itu kemudian mendapat secercah harapan lainnya. Apa lagi kalau bukan karena kedatangan mega bintang dunia, Lionel Messi yang bergabung ke PSG sebagai pelabuhan terbarunya pasca meninggalkan Barcelona.
Kedatangan Messi memberi berkah tersendiri. Selain menaikkan daya tarik kompetisi, nama besarnya juga sangat menjual di sektor komerisal. Buktinya, Kosmos Holding, perusahaan yang dimiliki Gerard Pique langsung membeli hak siar TV Ligue 1 Prancis di Spanyol hingga 2024 tak lama setelah Messi bergabung ke PSG.
Tak hanya perusahaan Gerard Pique saja, menurut laporan L’equipe, BeIN Sports juga dikabarkan telah menandatangani 50 kontrak hak siar internasional senilai 75 juta euro per musim untuk menyiarkan Ligue 1. L’equipe juga melaporkan bahwa jumlah penonton Ligue 1 mengalami peningkatan di beberapa negara pasca kedatangan Lionel Messi.
Sebagai pendatang baru, Messi juga langsung berhasil mengharumkan nama Ligue 1 di kancah dunia. Belum lama ini, La Pulga berhasil meraih trofi Ballon d’Or ketujuhnya. Ia adalah pemain Liga Prancis pertama yang meraih trofi tersebut setelah terakhir kali Jean-Pierre Papin meraihnya di tahun 1991.
Messi to PSG also means that the French ligue 1 will produce a first ballon d’or winner in 30 years. Last time was Jean-Pierre Papin in 1991. The Ballon d’or is staying home 😆.#Messi #MessiPSG pic.twitter.com/VplAUYYKUh
— Dr. Ernest Koranteng (@DrKoranteng) August 9, 2021
Kerusuhan dan Tawuran Antarsuporter di Ligue 1 Bikin Pemerintah Prancis Geram!
Sayang, citra baik yang sudah coba dibangun ulang tersebut langsung tercoreng di musim ini. Musim 2021/2022 jadi musim yang buruk buat Ligue 1. Sejak awal musim, berbagai rangkaian tindak kerusuhan dan kebrutalan suporter telah mencoreng nama baik kompetisi kasta tertinggi sepak bola Prancis tersebut. Ironis memang, sebab musim ini jadi pertama kalinya suporter diizinkan masuk stadion setelah 18 bulan lamanya.
Kerusuhan suporter sudah terjadi sejak pekan pertama. Pertandingan antara Montpellier dan Olympique de Marseille sempat dihentikan lebih dari 10 menit pasca terjadi pelemparan oleh ultras Montpellier saat pemain Marseille akan melakukan tendangan sudut di menit ke-89.
30′ ⚽️ Montpellier 1-0 Marseille
34′ ⚽️ Montpellier 2-0 Marseille
68′ ⚽️ Montpellier 2-1 Marseille
75′ ⚽️ Montpellier 2-2 Marseille
80′ ⚽️ Montpellier 2-3 Marseille
89′ ⛔️ Match suspended after projectiles were thrown onto the pitch pic.twitter.com/ROzYCXY14N— Football on BT Sport (@btsportfootball) August 8, 2021
Parahnya lagi, 10 menit sebelumnya pemain pengganti Marseille, Valentin Rongier mendapat luka robek di mulutnya setelah mendapat lemparan botol dari suporter lawan pasca Marseille mencetak gol kemenangannya. Usai pertandingan, dilaporkan bahwa 2 orang penggemar ditanggap pihak berwajib.
Kerusuhan kembali terjadi di pekan ketiga, tepatnya di pertandingan antara OGC Nice melawan Olympique de Marseille. Saat itu, Dimitri Payet mendapat lemparan botol dari suporter Nice saat akan mengambil sepak pojok. Payet yang sempat tersungkur kemudian bangkit dan membalas tindakan tersebut.
Akibat tindakan balasan tersebut, suporter Nice tersulut emosinya dan mencoba merangsek masuk ke lapangan. Kerusuhan pun tak terhindarkan dan membuat pertandingan perpaksa dihentikan di menit ke-75.
Komisi disiplin LFP kemudian menjatuhi hukuman pengurangan 2 poin kepada OGC Nice. Sanksi juga diberikan kepada 2 pemain Marseille, yakni Dimitri Payet dan Alvaro Gonzalez. Payet diskors satu pertandingan, sementara Gonzalez diskors 2 pertandingan.
Selain kedua pemain tersebut, fisioterapis Olympique Marseille, Pablo Fernandez mendapat sanksi larangan mendampingi tim selama 1 tahun setelah kedapatan memukul seorang suporter Nice hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Tak lama setelah setelah itu, Marseille membagikan gambar cedera pemain mereka di media sosial setelah invasi suporter di Nice.
Crazy scenes in Ligue 1 last night. The match between Nice and Marseille was eventually abandoned after chaos descended on the pitch.
OGC Nice ultras stormed the pitch and attacked Luan Peres, Guendouzi and Dimitri Payet, among others. pic.twitter.com/M48lr1dE30
— Don Robbie (@ItsDonRobbie) August 23, 2021
Belum genap sebulan, Ligue 1 kembali dinodai kerusuhan di pekan keenam. Kali ini terjadi di pertandingan derbi antara RC Lens vs Lille. Dalam laga derbi yang bertajuk Derby du Nord tersebut laga babak kedua sempat tertunda beberapa saat.
Saat turun minum, suporter tuan rumah merangsek masuk ke lapangan. Hal itu dipicu oleh provokasi suporter tamu yang terlihat sempat memanjat pagar pembatas dan melempari beberapa benda ke arah suporter tuan rumah. Tawuran pun tak terhindarkan di salah satu derbi terpanas di Prancis tersebut. Setelah dilerai petugas keamanan dan dilakukan evaluasi, pertandingan baru diizinkan kembali berlanjut.
Insiden serupa kembali terjadi di pertandingan antara Marseille vs Angers. Kedua suporter menyerbu lapangan dan sempat terlibat tawuran. Perkelahian juga terjadi antara penggemar Bordeaux dan Montpellier yang menyebabkan setengah lusin orang dirawat di rumah sakit. Sementara itu, pendukung FC Metz menyambut kedatangan pendukung PSG dengan lemparan botol.
Another game in Ligue 1 ends in chaos!
Marseille involved as they storms the pitch to confront Angers fans 💥😳
— Football Tipster (@Footy_Tipster) September 22, 2021
Kerusuhan yang melibatkan suporter kembali terjadi di bulan Oktober. Laga antara Saint-Etienne vs Angers di pekan ke-11 sempat tertunda akibat protes suporter tuan rumah yang melepas proyektil dan bom asap serta merusak jaring gol jelang kickoff. Insiden tersebut memaksa Saint-Etienne dihukum 2 pertandingan tanpa penonton.
Saint Étienne-Angers match has been delayed due to flares being thrown onto the field pic.twitter.com/JWMRnpGKOw
— FOX Soccer (@FOXSoccer) October 22, 2021
Terbaru, pertandingan derbi antara Olympique Lyon vs Olympique de Marseille dihentikan setelah Dimitri Payet terkena lemparan botol dari suporter tuan rumah saat laga baru berjalan 4 menit. Laga pun diputuskan ditunda hingga waktu yang belum ditentukan.
Itulah beberapa rentetan tindak kerusuhan dan kericuhan yang terjadi di Ligue 1. Dengan kompetisi yang masih menyisakan banyak pertandingan, bukan tak mungkin kerusuhan serupa bakal kembali terulang.
Lyon vs. Marseille is brought to a halt after Dimitri Payet was struck on the side of the head by a water bottle thrown from the stands 😳 pic.twitter.com/RHQtbE0VJK
— Football on BT Sport (@btsportfootball) November 21, 2021
Karena hal itu pula, pemerintah Prancis sampai geram. Menteri olahraga Prancis, Roxana Maracineanu menyatakan bahwa insiden memalukan yang terus berulang tersebut bakal mengancam finansial Ligue 1.
“Kita tidak bisa membiarkan mereka yang membeli hak siar harus terus membuat adegan percakapan selama lebih dari satu jam ketika semua tidak tahu pertandingan akan dilanjutkan atau tidak, ini adalah dunia di mana jutaan euro dipertaruhkan. Kami telah membantu dunia sepakbola selama krisis kesehatan untuk memungkinkan kembalinya suporter ke stadion, kami tidak bisa membiarkan kerusuhan terus terjadi,” kata Maracineanu dikutip dari Goal.
Rasisme dan Antisemitisme di Liga Prancis
Ya, berbagai masalah kerusuhan tersebut jelas merusak nama baik Ligue 1 dan akan jadi ancaman bagi finansial klub-klub Liga Prancis. Semua usaha untuk menghadirkan kembali suporter ke stadion dan mencari perusahaan yang mau membeli hak siar TV mereka akan terbuang percuma apabila masalah tersebut tidak segera terselesaikan.
Prancis memang menyimpin banyak keindahan, tetapi di balik itu mereka punya suporter yang sangat fanatik dan tergolong brutal dibanding suporter liga-liga top Eropa lainnya. Ini pula yang membuat pengelola liga pusing bukan main. Pasalnya, mereka tak hanya berperang dengan kericuhan antarsuporter, tetapi juga berperang dengan rasisme dan Antisemitisme yang terjadi di lingkungan Liga Prancis.
Antisemitisme sendiri merupakan suatu tindak kebencian atau rasisme terhadap kaum Yahudi sebagai kelompok ras, agama, maupun etnis dengan atau tanpa alasan tertentu. Sejak Maret lalu, Ligue 1 sudah bekerja sama dengan International League Against Racism and Anti-Semitism atau LICRA untuk meningkatkan kesadaran di kalangan penggemar dan masyarakat umum tentang perang melawan rasisme dan anti-Semitisme.
Namun hasilnya seperti yang kita lihat. Langkah mulia tersebut belum berdampak positif. Yang ada, tindak kerusuhan dan rasisme yang bahkan melibatkan pemain masih juga terjadi di lingkungan Ligue 1. Jika hal tersebut terus berlanjut, bukan tidak mungkin kalau Liga Prancis akan kehilangan daya tariknya.
Pihak pemerintah dan pengelola liga Prancis tentu dalam posisi dilematis. Membatasi jumlah penonton mungkin bisa meredam terjadinya kerusuhan antarsuporter. Namun, hal tersebut tentu berdampak negatif terhadap sumber penghasilan klub-klub Ligue 1.
Tanpa penonton berarti tak ada pemasukan dari uang tiket. Tak adanya penonton juga bisa mengurangi minat investor untuk mau membeli hak siar Ligue 1 yang sebenarnya sudah jauh lebih murah ketimbang liga-liga top Eropa lainnya. Imbasnya, mereka bisa ditinggalkan penonton internasional dan klub-klub Liga Prancis bakal makin menderita bahkan bisa jadi makin terancam bangkrut.
***
Sumber Referensi: Sportspromedia, SkySports, Goal, GFNF, Firstpost, Ligue 1, Goal, The Guardian.


