Mengapa Timnas Brasil Sekarang Dianggap Terburuk Sepanjang Sejarah?

spot_img

Brasil kalah dari Bolivia di laga terakhir Kualifikasi Piala Dunia 2026. Kekalahan ini, walau cuma 1-0, terasa menyakitkan. Carlo Ancelotti dan sang presiden federasi, Samir Xaud marah-marah karena merasa dicurangi wasit, polisi, dan… ball boy. Agak lucu memang. Meskipun bisa dipahami kenapa mereka sampai menyalahkan pihak lain atas kekalahan itu.

Namun, Timnas Brasil, termasuk segala yang terlibat di dalamnya, malah semestinya menyadari diri sendiri. Betapa mereka sekarang dicap sebagai Timnas Brasil terburuk sepanjang sejarah. Kamu pasti bingung, kenapa kok sampai ada anggapan semacam itu?

Bagaimana mungkin Selecao asuhan Carlo Ancelotti yang belum lama ini melatih, sudah dicap sebagai yang terburuk sepanjang sejarah? Ketimbang menerka-nerka, yuk kita lihat apa yang terjadi pada Selecao sekarang.

Lolos ke Piala Dunia 2026, Namun….

Brasil bukannya tidak lolos ke Piala Dunia 2026. Dan untungnya itu tidak terjadi. Carletto masih menyelamatkan muka Selecao di Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona CONMEBOL. Tiket ke Amerika Serikat pun digenggam, walaupun kalah dari Bolivia di laga pamungkas.

Bersama Argentina, Ekuador, Kolombia, Uruguay, dan Paraguay, Brasil mewakili Amerika Latin di turnamen empat tahunan itu. Sebetulnya masih ada satu lagi calon wakil dari benua ini. Ia adalah Bolivia. Namun tim nasional yang berjuluk La Verde ini hanya finis di posisi tujuh, dan mesti melakoni babak play-off antarkonfederasi.

Lalu, apa yang salah? Toh Timnas Brasil tetap lolos ke Piala Dunia 2026. Betul. Itu berarti Selecao tak pernah absen bermain di Piala Dunia sejak pertama kali diadakan pada 1930. Namun, yang jadi soal bukan lolos atau tidak, melainkan hasilnya di babak kualifikasi. Memangnya ada yang salah dari kualifikasi yang dilakoni Brasil?

Kualifikasi Terburuk Timnas Brasil

Jawabannya ada. Kualifikasi Piala Dunia edisi kali ini menjadi Kualifikasi Piala Dunia terburuk yang pernah dilakoni Timnas Brasil. Ada banyak faktor yang mendasari hal itu. Pertama, mari kita lihat pada poin yang diperoleh pasukan Carlo Ancelotti.

Selecao meraih 28 poin di babak kualifikasi. Angka itu saja menjadi yang terburuk sepanjang sejarah Timnas Brasil di babak Kualifikasi Piala Dunia sejak 1996. Poin yang didapat Brasil itu juga sama dengan poin Paraguay yang finis di belakangnya.

Tak perlu jauh-jauh untuk melihat bahwa Brasil mengalami kemerosotan. Pada Kualifikasi Piala Dunia Qatar lalu saja, Brasil finis dengan meraih 45 poin, 17 poin lebih banyak dari yang mereka dapatkan di kualifikasi yang baru saja berakhir. Poin yang didapat Brasil ini bahkan lebih buruk saat mereka melakoni babak Kualifikasi Piala Dunia 2002 lalu.

Brasil memang juara di edisi itu, tapi di babak kualifikasi hanya sanggup mengumpulkan 30 poin. Ini poin terendah sepanjang sejarah, hingga poin terendah ini lalu dipecahkan pada Kualifikasi Piala Dunia 2026. Akibat poin yang rendah, Brasil cuma finis di posisi kelima. Negara-negara seperti Uruguay, Ekuador, bahkan Kolombia berada di atas Brasil.

Jika ada satu tim besar yang diuntungkan atas penambahan kuota peserta Piala Dunia menjadi 48 negara, itu adalah Brasil. Betapa tidak? Sang juara lima kali ini hanya finis di posisi kelima dan di format lama, posisi tersebut tak akan membuat Brasil langsung lolos ke Piala Dunia.

Mereka harus melakoni babak play-off antarkonfederasi terlebih dahulu. Coba bayangkan itu yang terjadi. Ancelotti akan dirujak. Timnas Brasil yang semula kebanggaan Amerika Latin akan dicibir banyak orang. Selecao benar-benar akan menjadi aib bagi warga Brasil itu sendiri.

Banyak Wajah Baru, Andalan Tidak Dipanggil

Saat datang ke Brasil, Carlo Ancelotti sedikit bereksperimen pada pemanggilan pemain. Sejumlah nama baru masuk. Nama-nama seperti Douglas Santos, Wesley Franca, Hugo Souza, Estevao, Samuel Lino, hingga Vitinho yang hampir tidak pernah dipanggil atau bahkan tak pernah dipanggil sama sekali, justru dipanggil oleh Carletto.

Sebaliknya, pemain-pemain yang biasa mengisi skuad Brasil malah tak dipanggil. Ambil contoh Neymar. Ancelotti beralasan tak memanggil Neymar karena cedera minor. Selain Neymar, Ancelotti juga tak memanggil barang satu saja pemain Real Madrid ke Timnas Brasil. Apa alasannya?

Endrick Felipe dan Eder Militao tak dipanggil karena menurut Ancelotti, keduanya sedang cedera. Oke, nama-nama tadi tidak dipanggil karena alasan cedera. Namun, bagaimana dengan Vinicius Junior dan Rodrygo Goes? Ancelotti tak bisa memakai alasan cedera untuk kedua pemain. Inilah yang bikin publik terkejut.

Kedua pemain terlibat dalam kemenangan 3-0 Real Madrid atas Real Oviedo. Vinicius Junior bahkan mencetak satu gol di laga tersebut. Tapi Ancelotti tak memasukkan keduanya dalam daftar 23 pemain di Kualifikasi Piala Dunia zona CONMEBOL bulan September ini.

Apakah ini berarti Ancelotti sinis sama Real Madrid? Ah, berlebihan itu mah. Yang dikatakan Ancelotti hanyalah ia ingin bertemu dengan pemain-pemain baru di Timnas Brasil. Don Carlo ingin mengenal pemain lain yang bisa membantu Timnas Brasil meraih hasil lebih baik.

Buat Vini, sebenarnya juga karena ia kena skorsing. Tapi bagaimana dengan Rodrygo? Ada makna lain di balik itu. Barangkali Ancelotti punya masalah sama pemain yang satu ini. Tapi pada intinya, memanggil pemain baru memang bisa membuka peluang bagi pemain yang belum pernah memperkuat timnas.

Hanya saja ini bisa berisiko. Pemain yang belum punya caps di tim nasional lalu dipanggil ke ajang sebesar Kualifikasi Piala Dunia akan sedikit kikuk. Don Carlo boleh jadi telah menimbang betul akibatnya. Mau tak mau, ia pun harus menyadari, dengan kualifikasi yang buruk, itu berarti dirinya kini mendapat tekanan besar.

Bukan Salah Ancelotti

Sejujurnya apa yang terjadi pada Brasil sekarang bukan salah Ancelotti. Mantan manajer Chelsea ini baru melatih dalam empat pertandingan. Selecao sudah terpuruk sejak sebelum Carletto datang. Ingat bagaimana mereka kalah 4-1 atas rivalnya, Argentina, pada Maret 2025 lalu?

Waktu itu Brasil masih dilatih Dorival Junior. Tim Samba tak bisa menguasai permainan. Justru Albiceleste yang dimotori Enzo Fernandez dan bermain tanpa Lionel Messi, sekali lagi, tanpa Lionel Messi, justru menguasai permainan hingga membombardir gawang Brasil empat kali.

Dalam beberapa hal, kekalahan ini disebut lebih buruk dari kekalahan 7-1 atas Jerman di semifinal Piala Dunia 2014. Tidak cukup sampai di sana, kekalahan itu juga merupakan kekalahan terburuk Brasil dari sang rival sejak 1964. Kekalahan ini memperpanjang rekor Brasil yang tak pernah menang atas Albiceleste dalam lima pertemuan terakhir.

Kehilangan Identitas

Fakta lainnya, Selecao telah kehilangan identitasnya. Orang-orang Brasil biasanya menganggap bola sebagai teman dansa, bukan masalah yang harus dipecahkan. Maka dari itu muncul jogo bonito. Visi itu tak hilang, tapi bergeser. Kenapa bisa terjadi?

Banyak talenta Brasil keburu pergi dari tanah kelahirannya sebelum benar-benar menyadari dirinya sebagai “orang Brasil”. Tim-tim Eropa sekarang dengan cepat kepincut pada talenta Brasil, meski usianya masih jauh dari kata matang. Lihat apa yang terjadi pada Vitor Roque dan Endrick Felipe, misalnya.

Karena para talenta keburu pergi dari tanah kelahiran, mereka tidak lagi memperlakukan bola sebagai teman dansa. Semangat semacam itu terkikis oleh kebakuan taktik khas sepak bola Eropa. Sejak usia muda, para talenta Brasil ini sudah dicekoki latihan ala Eropa yang tidak mengedepankan kualitas individu, melainkan kolektivitas tim.

Nah, Don Carlo sebetulnya datang untuk mengembalikan identitas itu. Ia tipe pelatih yang percaya pada kualitas individu dan tidak terpaku pada taktik. Kebiasaan Ancelotti yang memberi kebebasan ke pemain, seperti pada Kaka di AC Milan atau Vinicius di Real Madrid, dipercaya bisa mengembalikan identitas jogo bonito.

Barangkali karena itu pula sekarang di Timnas Brasil tak sedikit diisi oleh mereka yang bermain di Liga Brasil. Kita tunggu, apakah Selecao bisa membalikkan rekor terburuk di babak kualifikasi menjadi sebuah trofi Piala Dunia seperti yang pernah dilakukan pada lebih dari dua dasawarsa lalu?

Sumber: Mirror, TheGuardian, DailyMail, YahooSports, AS, SI, ESPN, TheWiderPitch

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru